
Setelah pulang dari resto dan mengantarkan kedua sahabatnya. Xena langsung menghubungi Ray, namun teleponnya tidak di angkat.
Xena bisa menebaknya jika kekasihnya itu masih syuting, jadi ia hanya mengirimkan Chat dan meminta Ray menghubunginya kembali saat ia tidak sibuk atau saat beristirahat.
Karena gerah karena cuaca di luar sangat panas. Xena kemudian bergegas mandi agar tubuhnya kembali segar.
....
Sedangkan di rumah Dirgantara, Olive yang merasa lelah setelah berebut posisi kedua dengan Arsy sebagai Fans garis keras Xena.
Tapi ia juga masih kepikiran dengan kejadian sabotase motor milik sahabatnya itu, ia berjalan sambil melamun dan tidak sadar jika ia menabrak kakaknya yang tengah berjalan ke arahnya.
"Aduh!" pekik Olive saat ia menabrak kakaknya.
Untungnya ia menabraknya dengan pelan hingga ia tidak terjatuh, tapi tetap saja ia merasa kaget.
"Ih kakak, kenapa berdiri di sini, halangin jalan tahu" ucap Olive cemberut
"Yeee, kamu yang nabrak sendiri malah nyalahin kakak, jalan itu jangan sambil ngelamun Dek" ucap Vano.
"Masa sih?" ucap Olive.
"Masa sih?" Vano mengikuti nada bicara adiknya itu.
"Ihhh kakak, aku serius" ucap Olive memukul bahu kakaknya kesal karena di ledek oleh kakaknya.
"Ya iya lah dek, ngapain coba kakak bilang, kalau kamu nggak ngelamun sambil jalan? Eh salah Kebilak!" ucap Vano
"Kebalik!" ucap Olive kesal.
"Ha-ha-ha, iya-iya maaf deh. Kamu kenapa bisa ngelamun gitu? Mikirin apa sih?" tanya Vano terkekeh
"Lagi mikirin Arsy" ucap Olive jujur.
Vano mengerutkan kening saat adiknya menyebut nama Arsy. Tapi ia diam saja tidak berkomentar apapun.
"Tahu nggak kak?" ucap Olive
"Nggak tahu, kan kamu belum ngomong" potong Vano
"Kakak!!!" teriak Olive kesal.
"He-he, iya kakak dengerin. sok lanjutin!" ucap Vano senang menjahili adiknya itu.
"Duduk dulu Napa, ekhhmmm haus nih. M
Ambilin minum dong kak" ucap Olive mengedipkan matanya dan tersenyum semanis mungkin.
"Ya elah dek, kamu ini kalau ada maunya manis beeettt kaya pare. Ya udah duduk dulu, kakak ambilin minum" ucap Vano mengalah dan beranjak ke dapur mengambil minum untuk adiknya itu.
"Sekalian bawain kue pie yang ada di kulkas kak!!!" teriak Olive sambil terkekeh.
"Yaaaaaa!!!" jawab Vano dengan berteriak juga.
Setelah beberapa saat, kakaknya kembali dengan segelas air dan juga satu box pie susu, yang di beli Wenda saat ia ke luar kota beberapa hari yang lalu.
"Wah, terimakasih banyak kakakku yang paling tamvan" ucap Olive.
"Ya, makasih juga atas pujiannya adikku yang jelek" ucap Vano terkekeh.
"Cih... Segini cantiknya di katain jelek" gumam Olive cemberut.
Ia kemudian minum air itu hingga tandas, lalu makan sebungkus pie susu. Moodnya seketika kembali baik setelah ada makanan yang masuk ke perutnya.
"Kak aku lagi mikirin Arsy" ucap Olive lagi
"Hmm kakak tahu" ucap Vano
"Loh tahu dari mana?" tanya Olive terkejut
"Ya dari kamu lah oneng, masa lupa kalau kamu bilang lagi mikirin Arsy, jadinya ngelamun terus nabrak kakak" ucap Vano gemas.
"Eh masa sih?" ucap Olive memikirkannya, lalu dia terkekeh saat menyadari ucapan kakaknya benar.
"Oups sorry lupa" ucap Olive menutup mulutnya
"Dasar nenek pikun, ingetnya makanan mulu" ucap Vano
"Hmm kakak mulai deh, tapi serius deh kak aku lagi mikirin Arsy. Tadi tuh ada kejadian yang buat aku mendadak ngeri tahu nggak kak. Jadi ke inget aku di tabrak sama Yani. Karena tadi tuh ada orang yang menyabotase motor Arsy loh kak" ucap Olive
"Hah? Sabotase?? Apa temanmu terluka? Apa dia tidak apa-apa?" tanya Vano terkejut saat mendengar itu, entah kenapa ada rasa sakit menyelusup di hatinya saat ini.
"Syukurlah...." ucap Vano lega saat tahu Arsy tidak kenapa-napa.
"Eh, lega gitu? Ayo loh, seperti nya ada bau-bau cinta bermekaran rupanya" ucap Olive.
"Apaan sih dek, ya jelas lega lah. Kan denger teman kamu selamat setelah ada yang sabotase motornya. Masa iya harus jingkrak-jingkrak gitu?" ucap Vano
"Ngeles aja Lo kak, kaya bajaj" ucap Olive
"Kata kamu Xena yang maksa Arsy, kok bisa?" tanya Vano mengabaikan ucapan adiknya dan bertanya lagi karena penasaran.
"Ya emang gitu. Saat di resto, Arsy menelepon orang yang bawa motornya ke bengkel. Eh ternyata saat di periksa ada yang ngerusak rem dan juga kopling motornya, kan jelas-jelas itu pembunuhan berencana kan kak. Mekipun entah motifnya beneran mau bunuh Arsy atau cuma kasih pelajaran aja" ucap Olive
"Apa kalian sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Vano lagi, Olive mengangguk.
"Tahu, itu mantan teman Arsy dulu saat di SMA" ucap Olive
"Kok langsung tahu? Itu dugaan atau memang bener dia yang lakuin?" tanya Vano.
"Itu lah gunanya Xena. Kakak tahu kan kalau Xena itu the best banget pokoknya, dia udah kaya punya Indra keenam gitu. Dia tahu semua apa yang terjadi dan mencegah semuanya agar hal buruk agar tidak terjadi.
Ternyata Xena sudah mencari tahu tentang orang itu saat melakukan pertandingan dengan Arsy di semi final. Eh ternyata Xena malah nemuin bukti, kalau dia membayar orang untuk merusak motor Arsy. Jadi Xena memaksa Arsy ikut dengannya dan meminta Arsy buat suruh orang membawa motornya ke bengkel" jelas Olive
"Hmm, Xena memang selalu bertindak lebih cepat. Untung saja tidak ada yang terjadi dengan Arsy" ucap Vano
"Cie cie yang khawatir cie...." ucap Olive meledek kakaknya
"Apaan sih Liv, udah ah. Kakak mau ke ruang kerja, besok ada meeting" ucap Vano beranjak dari duduknya.
"Kalau suka kejar kak, jangan sampai menyesal yang kedua kalinya!!!" teriak Olive.
Vano mendengar itu, ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Sesampainya di ruang kerja, ia tidak bisa tidak memikirkan kata-kata adiknya itu.
Apakah dia memang sudah mulai tertarik dengan Arsy? Entahlah....
....
Xena sudah selesai mandi, saat ia merebahkan dirinya ia sudah terlelap. Bahkan ia tidak terbangun saat ponselnya berbunyi dan bergetar.
Di kota lain, Ray yang baru saja menyelesaikan take adegannya, segera menelepon Xena saat ia tahu jika kekasihnya meneleponnya saat itu.
Namun teleponnya tidak di angkat juga, Ray khawatir terjadi apa-apa, akhirnya ia menelepon Tiger untuk memastikan sesuatu.
"Hallo bos" ucap Tiger
"Hallo, apa ada sesuatu dengan Xena?" tanya Ray langsung.
"Aduh bos, orang telepon itu nanyain dulu kabar yang di telepon kek. Langsung to the point amat ya" ucap Tiger
"Aku nggak mau ulangi ucapanku, Tiger!" ucap Ray Datar
"Ya-ya-ya, tidak ada sesuatu dengan nona bos. Tapi memang ada masalah dengan dua sahabatnya" ucap Tiger.
"Olive? Arsy?" tanya Ray mengerutkan keningnya
"Yaps betul. Jadi nona bos terlibat di dalamnya saat ada acara di turnamen Arsy di stadion" ucap Tiger.
"Masalah apa yang membuat Xena terlibat?" tanya Ray.
"Aku akan mengatakannya, tapi bos..." ucap Tiger
"Tapi apa? Jangan bertele-tele kalau ngomong" ucap Ray kesal karena ia tidak sabar.
"Ya sabar atuh bos, Ya Tuhan, nggak sabaran amat ya punya bos satu ini. Aku mau ceritain semuanya asal bos janji mau bantu aku juga gimana?" ucap Tiger.
"Bantuan apa?" tanya Ray tidak sabar
"Janji dulu bos" ucap Tiger
"Ya, asal bukan yang tidak-tidak" ucap Ray.
"He-he beneran janji ya bos. Aku mau bos bantu aku deket sama Olive, gimana?" ucap Tiger
"Bantu kami Deket sama Olive? Kamu mau jadiin Olive korban PHP kamu? Nggak! Gila ya kamu? Apa kamu nggak takut Xena benar-benar jadiin sosis kamu daging cincang ham? Aku juga bakalan kena kalau Xena tahu aku terlibat" ucap Ray marah.
"Aish bos seram amat ngomongnya, ngilu aku bos kalau denger tentang itu" ucap Tiger mendadak ngilu dan merinding.
Entah mengapa nama Xena menjadi sugesti buatnya dan selalu merinding saat ia mengingat. Apalagi jika ia ingat ancaman Xena, nyali Tiger mendadak menciut.
...••••••...