
Tak lama kemudian, pintu terbuka bersamaan dengan keluarnya nenek Gloria dari dalam rumah. Dia menatap Aiden seraya menyimpan keranjang cucian yang dia bawa.
"Ada tamu rupanya." Ujarnya sedikit heran melihat kedatangan Aiden yang datang sepagi itu ke rumahnya.
"Selamat pagi nek!! Sapa Aiden ramah.
"Selamat pagi!! Balas nenek Gloria.
"Maaf kalau saya datang sepagi ini. Saya kesini karena cucu nenek, Xena yang mengundang saya untuk sarapan bersama disini." Ujar Alaric berbohong, membuat Xena tersentak dan refleks menatapnya tajam. "Apa?." Gumam Xena tak senang.
Nenek Gloria menatap Xena sekilas, membuat Xena kembali tersentak lalu berkata" Tidak nek!! Ini tidak...."
"Kenapa kalian berdiri saja? Ayo, masuklah!! Kata nenek Gloria memotong perkataan Xena. Xena masih berdiri ditempatnya, menatap dengan tatapan tajam pada Alaric.
Nenek Gloria meminta Xena mengajak Alaric masuk, sedangkan dia sendiri melangkahkan kakinya menuju halaman samping, sambil membawa keranjang cucian yang dia simpan tadi. Dengan cepat Xena merebut keranjang cucian itu.
"Kenapa nenek yang membawa keranjang ini?. Kemana Audrey?." Tanya Xena.
"Kakakmu sedang mandi. Biar saja nenek yang menjemur pakaian, kamu masuk saja, bawa tamu kita ke dalam." Jawab nenek Gloria.
"Tidak nek, biar aku yang menjemur pakaian ini. Nenek masuk saja." Balas Xena.
"Baiklah." Sahut nenek Gloria lalu mengajak Alaric masuk, tapi Alaric menjawab kalau dia akan menunggu dan masuk bersama Xena.
Xena mulai menjemur pakaian dengan perasaan kesal pada laki-laki dihadapannya sekarang. Rasanya Xena ingin sekali menghajarnya saat itu juga, tapi dia tidak melakukannya.
Alaric menatap Xena dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya, membuat Xena semakin kesal. Alaric berniat akan membantu Xena menjemur pakaian, tapi Xena menolak dan menepis kasar tangan Alaric. "Seumur hidup aku baru pertama kali bertemu orang menyebalkan seperti kamu" Kata Xena.
"Oh ya? Sungguh?. Aku juga. Seumur hidup aku baru pertama kali bertemu gadis secantik kamu." Sahut Alaric.
"Aku sangat berharap kamu secepatnya meninggalkan desa ini, dan tidak pernah kembali lagi." Ujar Xena.
Alaric terkekeh. "Aku tidak akan pergi dari sini. Mana mungkin aku akan meninggalkan kekasih secantik kamu. Hanya lelaki bodoh yang akan melakukannya." Jawab Alaric, membuat Xena semakin kesal karena dia tidak benar-benar menganggapnnya sebagai kekasih. Dia mengatakan iya, hanya karena terlanjur berjanji, tapi sama sekali dia tidak menganggap semua ini serius.
"Dengarkan aku pria asing. Aku tidak menganggapmu benar-benar kekasihku, jadi jangan pernah coba mengatakan yang tidak-tidak pada keluargaku. Mengerti!! Sergah Xena. "Kali ini aku memaafkanmu, tapi tidak lain kali. Jika kamu melakukannya lagi, kamu akan tahu akibatnya." Ucap Xena mengancam Alaric lalu masuk kedalam rumah, diikuti Alaric.
Kakek Abraham mempersilahkan Alaric duduk di meja makan sederhana di dekat perapian. Dia lalu duduk tepat disebelah Xena, "Hey ini tempat kakakku. Duduk di kursi lain." Protes Xena, seraya menunjuk kursi kosong didepannya, tepat disebelah kursi neneknya. Alaric hendak beranjak pindah ke kursi itu, tapi kakek Abraham mencegahnya. "Tidak apa. Duduk saja disitu Audrey tidak akan keberatan." Ucapnya.
Tak lama kemudian Audrey datang kesana. Dia terkejut melihat Alaric(Aiden) duduk ditempatnya. "Ada tamu." Ucapnya seraya duduk didekat nenek Gloria. Dia menyapa Alaric sekilas, lalu mereka pun sarapan bersama, karena hari ini keluarga itu memang tidak pergi ke ladang.
Kakek Abraham dan nenek Gloria memperlakukan Alaric dengan baik, karena bagi mereka dia adalah tamu yang harus dihormati. Berbeda dengan Xena yang sangat kesal dan mengacuhkan Alaric. Sedangkan Audrey, dia seperti tidak terlalu terpengaruh dengan kehadirannya.
Setelah sarapan, kakek Abraham mengajak Alaric mengobrol. Dia menanyakan asal-usul Alaric, membuatnya tersentak dan diam sesaat. Namun kemudian, Alaric menjawab pertanyaan kakek Abraham walau sedikit ragu, karena dia berbohong.
"Kalau boleh tahu, kenapa kamu ingin membeli bunga-bunga kami?." Tanya kakek Abraham.
"Saya akan menjualnya ke istana kek. Saya....saya mempunyai seorang teman disana, dan saya akan menjual bunga itu padanya. Karena kebetulan ratu sangat menyukai bunga mawar, dan dia senang menghias istana dengan bunga mawar." Jawab Alaric.
"Istana?." Seru kakek Abraham
"Istana?." Timpal Audrey.
Mereka kompak menoleh ke arah Alaric, membuatnya sedikit terkejut melihat reaksi ke empat orang dihadapannya.
"Jadi kamu mempunyai teman di istana?." Tanya Audrey antusias.
"Apa kamu bisa membantuku......."
"Ehmmm....." Suara deheman kakek Abraham menghentikan perkataan Audrey. Dia tahu kakeknya tidak ingin dia melanjutkan kata-katanya.
"Jadi kamu seorang zephyrus?." Selidik Xena, dengan nada dan tatapan tidak suka.
"Oh tidak, bukan. Aku....aku hanya pengembara. Tapi aku memang mempunyai seorang teman baik disana." Jawab Alaric berbohong.
"Kalau begitu kami tidak akan menjual bunga-bunga itu pada kamu." Ujar Xena.
Semua tampak terkejut dan kompak menatap ke arah Xena.
"Kenapa?. Apa harga yang aku tawarkan terlalu rendah?." Tanya Alaric.
"Kamu tidak perlu tahu kenapa, yang jelas kami tidak akan menjualnya padamu." Jawab Xena dengan nada sinis.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan bayar dua kali lipat dari harga yang aku tawarkan kemarin." Balas Alaric
"Dua kali lipat?." Gumam Audrey sedikit melotot.
"Sudah ku katakan aku tidak akan menjualnya padamu." Tegas Xena. Audrey menarik tangan Xena, membawanya ke ujung ruangan.
"Apa kamu sudah gila Xena?. Apa yang kamu pikirkan?. Dia mau membeli bunga kita dengan harga tinggi, dan kamu menolaknya?. Kamu sehat kan?." Tanya Audrey seraya menyimpan telapak tangannya di dahi Xena, dan Xena langsung menepisnya.
"Aku tidak suka kalau dia menjual bunga-bungaku ke istana." Jawab Xena.
"Kenapa?. Aduh Xena kamu jangan seperti anak kecil begini. Memangnya kenapa kalau dia menjual bunga-bunga itu ke istana?. Apa salahnya?. Menurutku justru ini adalah sesuatu yang bagus. Bunga-bunga kita bisa menghias istana kerajaan, bukankah itu suatu kehormatan?. Apa kamu lupa, kalau dulu kita juga pernah tinggal di istana?. Jadi....."
"Tentu saja aku tidak lupa itu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa apa yang sudah mereka lakukan pada ayah dan ibu kita." Jawab Xena mulai emosi.
"Dengarkan aku Xena. Aku tahu kamu mungkin membenci mereka. Tapi menurutku, ini hanya tentang bunga. Kamu jangan menyangkut pautkannya dengan kebencian kamu itu. Setidaknya pikirkan kakek dan nenek. Kalau kita menjual bunga kita pada laki-laki itu, dengan uang itu, kakek dan nenek bisa membeli apa yang selama ini mereka inginkan." Ujar Audrey. Xena nampak berfikir. Audrey terus meyakinkan Xena, hingga Xena akhirnya mengatakan." Terserah." Lalu dia pergi dari sana.
💚💚💚
Esoknya
Audrey yang ingin meminta bantuan Aiden untuk masuk ke istana, diam-diam pergi menemuinya. Dia mengatakan keinginannya pada Aiden untuk mengenalkannya pada teman Aiden di istana. Audrey mengatakan kalau dia ingin sekali masuk atau bekerja di istana. Aiden mengatakan dia akan membantunya dengan satu syarat.
"Apa syaratnya?." Tanya Audrey.
"Aku ingin tahu, kenapa saudaramu itu sepertinya sangat tidak suka dengan kerajaan Zephyra?." Tanya Alaric.
"Kenapa kamu berkata begitu?." Audrey balik bertanya.
"Aku bisa melihatnya kemarin. Saat aku mengatakan aku akan menjual bunga itu ke istana, adikmu langsung menolak menjual bunganya padaku." Jawab Alaric yang penasaran pada Xena. Dari awal pertemuannya dihutan dan saat ini, sepertinya benar Xena sangat membenci kerajaan Zephyra. Itulah yang dipikirkan Alaric.
.
.
Bersambung❤️