Xena

Xena
123. Kabar duka



Teguh membawa Istrinya ke rumah sakit terdekat, yakni rumah sakit Bhayangkara, Dokter langsung menanganinya di UGD. Namun karena ketersediaan alat medis yang terbatas, Melati di rujuk ke rumah sakit yang lebih bagus.


Dokter di sana hanya mengobati luka melepuh di badannya saja. Namun sel kanker terpicu karena tekanan yang berlebihan, hingga Melati harus segera di tangani dengan dengan baik.


Tak menunggu lama Melati langsung di larikan ke rumah sakit lain. Sudah setengah jam Melati di periksa oleh dokter di ruangan ICU.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Teguh.


"Sel kanker sudah menyebar dengan cepat, kondisi ibu Melati tengah kritis, bahkan nyawanya terancam" ucap Dokter


"Ya Tuhan, tolong lakukan apa saja Dok, tolong selamatkan istri saya" ucap Teguh memohon dengan tangisnya.


"Kami akan berusaha Pak, Kami akan melakukan operasi darurat. Hanya saja presentasi keselamatan ibu Melati sangat kecil, hanya ada 10% saja" ucap Dokter.


"Apapun itu, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya. Dok" ucap Teguh lagi.


"Baik, kalau begitu kami akan menyiapkan Operasinya segera" ucap Dokter.


Teguh masuk ke ruangan ICU, ia melihat istrinya terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat. Tubuhnya sangat kurus, bahkan melati terlihat lebih tua dari usianya karena hanya tulang terbalut kulit. Tubuhnya di gerogoti sel kanker yang ganas, hingga habis.


"Sayang tolong jangan tinggalkan aku, kamu harus selamat, kamu harus sembuh, oke" ucap Teguh mencium tangan istrinya, ia sangat mencintai sang istri.


Tak lama kemudian Ferry dan kedua orang tuanya datang ke rumah sakit. Mereka mencoba untuk menenangkan Teguh yang masih terguncang karena kondisi istrinya yang kritis.


Dokter sudah menyiapkan segalanya untuk operasi dan langsung membawa Melati ke kamar operasi tersebut. Mereka berempat menunggu di depan dengan gelisah, mereka juga berdoa untuk keselamatan Melati.


Sudah dua jam, lampu di kamar operasi masih menyala. Teguh masih menunggu dengan cemas, ia juga menceritakan pada keponakan, adik dan iparnya apa yang terjadi di penjara.


Mereka semua terkejut saat tahu Yani masih belum berubah, bahkan semakin menjadi dan membuat Melati kritis. Ferry diam, bagaimana pun ia merasa bersalah, karena ia yang paling dekat dengan sepupunya itu.


Namun ia tidak bisa mengajari Yani atitude yang benar, tapi dia malah memanjakannya dulu karena sudah menganggapnya adiknya sendiri.


Tap!


Lampu tanda berjalan operasi padam, semua orang berdiri menunggu dokter keluar.


Ceklek!


Pintu terbuka dan Dokter pun keluar


"Bagaimana Dok?" tanya Teguh.


"Maafkan kami Pak, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi Tuhan berkata lain. Ibu Melati tidak bisa kami selamatkan karena sel kanker sudah menyebar sepenuhnya. Saya turut berduka cita" ucap Dokter menunduk menyesal


"Tidak!" ucap Teguh langsung terduduk lemas, air matanya mengalir begitu saja, rasanya sangat sesak.


Ferry terkejut dan menangis, kedua orang tua Ferry menopang Teguh masuk ke ruangan ICU, jenazah Melati sudah tertutup kain di sana.


"Sayang! Kenapa kamu pergi tinggalkan aku!! Apa yang harus aku lakukan tanpa kamu Melati, Hiks.... Aaakkhhhhhhhh....!!!!" teriak Teguh terguncang


Tiba-tiba saja ia merasakan jantungnya seperti di remas, rasanya begitu sakit hingga ia jatuh tidak sadarkan diri.


"Mas!!!" teriak Lina dan suaminya


"Om Teguh" teriak Ferry saat melihat Teguh ambruk tidak sadarkan diri.


"Fer, cepat panggil dokter!" ucap Lina menangis


Ferry langsung memanggil Dokter yang belum pergi jauh, Dokter dan perawat langsung berbalik dan menghampiri ruang ICU lagi.


Mereka kemudian membaringkan Teguh di brankar lain.


"Maaf, sepertinya Pak Teguh juga sudah tidak ada. Beliau meninggal karena mengalami serangan jantung secara mendadak" ucap Dokter.


"Apa? Mas Teguh!!! Tidak!! Mas, bangun mas!" teriak Lina histeris, ia tidak menyangka akan kehilangan kakak ipar dan juga kakak laki-lakinya di hari yang sama. Ia menangis begitu keras meratapi kepergian keduanya kemudian pingsan.


Ferry terduduk lemas, ia tidak menyangka om dan tantenya meninggal di hari yang sama. Namun ia dan papa-nya segera menopang mama-nya yang pingsan,


....


Tentu saja Vano terkejut saat mendengar itu, Arsy pun yang saat ini bersama dengan Vano juga terkejut. Akhirnya Vano mengabari keluarganya mengenai berita duka itu.


Meskipun mereka membenci Yani, tapi mereka juga turut berduka mendengarnya dan memutuskan untuk melayat.


Xena juga mendengar kabar itu, ia terkejut mendengarnya. Meski pun ia membenci Yani tapi tidak dengan orang tuanya.


"Apa kakak mau melayat?" tanya Arsy


"Hmm, meskipun aku membenci Yani, tapi Ferry tetap sahabatku. Aku tetap datang ke sana, apa kamu mau ikut?" tanya Vano menatap Arsy lembut.


"Apa Olive juga melayat?" tanya Arsy balik


"Ya, mama, papa dan olive juga ke sana" ucap Vano


"Kalau begitu aku ikut" ucap Arsy.


"Kalau begitu ayo" ucap Vano.


Dia menggenggam tangan Arsy menuju mobilnya. Sedangkan Arsy memerah malu karena Vano sekarang sudah tidak sungkan menggandeng tangannya.


....


"Kenapa yang?" tanya Ray melihat Xena yang syok.


"Tadi Olive meneleponku, katanya kedua orang tua Yani meninggal" ucap Xena


"Yani? Oh wanita gila yang cacat itu?" tanya Ray, Xena mengangguk


"Terus kamu mau melayat ke sana?" tanya Ray, Xena menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak terlalu mengenal keluarganya. Aku hanya memikirkan bagaimana perasaan si hati batu itu saat mendengar orang tuanya tiada. Aku dengar dia yang menyebabkan mama-nya kritis" ucap Xena


"Entahlah, aku tidak peduli" ucap Ray mengangkat kedua bahunya.


.....


Di dalam penjara, Yani tengah menangis tersedu-sedu saat mendengar berita kematian kedua orang tuanya dari polisi penjaga. Dalam hatinya ia merasa sangat bersalah, ia menyalahkan dirinya sendiri akibat kematian kedua orang tuanya.


Ia menyesal memperlakukan orang tuanya dengan buruk. Bahkan tidak pernah berkata baik pada orang tuanya.


"Maafkan Yani mah, Pah huhuhu. Yani menyesal" tangis Yani.


"Wooy, bisa diem nggak!! Berisik tahu nggak sih!" teriak teman satu selnya.


"Tahu nih, berisik mulu dari tadi" ucap yang lain.


"Eh, kalian denger nggak yang di katakan polisi penjaga? Katanya emak sama bapaknya meninggal! Makanya dia nangis tuh, nyesel kali" ucap yang lain.


"Alah, sok nyesel, padahal dia sendiri yang buat orang tuanya metong! Dasar anak Dajjal!" ucap temannya


"Tapi kasihan loh emak bapaknya, padahal mereka baik dan sayang sama anak Dajjal nya ini. Tapi dasarnya anak Dajjal ya, di baikin malah meludah, memang benar dia anak durhaka" sahut rekannya


"Biarin aja dia nyesel seumur hidup, anak modelan gitu, nggak perlu di kasihani" ucap lainnya lagi sinis


Yani mendengar cacian itu, ia terus menangis meratapi kematian orang tuanya, ia mengingat betapa sayangnya kedua orang tuanya. Meskipun mereka hanya memberikan ia sedikit waktu, namun sebisa mungkin keduanya tidak membiarkan ia hidup kekurangan.


Keduanya selalu memberikan apa yang dia mau, bahkan saat ia marah. Mamahnya selalu membelanya dan juga menyayanginya.


Apalagi Tante, om dan sepupunya Ferry juga sangat menyayanginya.


Namun karena pengaruh pengasuhnya dulu, ia menjadi orang yang tidak punya perasaan dan tidak bisa di kendalikan. Ini adalah rahasia yang orang lain tidak tahu, kecuali Xena tentunya karena ia sudah melacak semuanya.


Sifat Yani yang buruk itu tidak lain karena perilaku pengasuhnya dulu saat ia masih kecil.


Ada apa dengan mantan pengasuhnya? Apa yang sudah ia lakukan sampai membuat Yani mempunyai sifat seperti ini?


...•••••••...