
Olive beranjak untuk memeluk Xena, ia juga ikut menangis. Entah mengapa ia ikut merasakan sakit yang sama saat mendengar Xena menceritakannya, meskipun ia tidak mengerti yang Xena ceritakan itu mimpi atau bukan.
Xena tidak bisa mengendalikan traumanya yang sedikit timbul, karena ia menceritakan masa lalu di depan Vano secara langsung. Rasa sakit itu kembali muncul meskipun hanya sebentar.
"Xe...." ucap Olive terpotong karena ia terkejut melihat kakaknya saat ini tengah berlutut di lantai di depan Xena. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa kakaknya berlutut tiba-tiba?
Brugh!
Vano mendaratkan lututnya di lantai, ia berlutut karena rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Ternyata mimpi yang selama ini terus datang berulang kali adalah peringatan atas kesalahannya di masa lalu yang sudah ia lakukan.
"Maafkan aku Xe, aku bersalah. Tidak seharusnya aku menghakimi kamu tanpa aku mencari tahu lebih jelas tentang pelaku yang sebenarnya membunuh Olive saat itu. Maafkan aku sudah membuatmu merasakan sakitnya penyiksaan batin dan fisik kamu. Aku minta maaf, aku menyesal, aku sangat bersalah padamu" ucap Vano dengan menundukkan kepalanya dan menitikkan air mata nya.
Ia tidak berani mengangkat kepalanya, ia tidak berani bertatapan dengan Xena. Ia tahu yang di ceritakan Xena sama persis dengan mimpi yang terus ia alami beberapa waktu yang lalu.
Pantas saja ia seperti di ingatkan sesuatu saat mimpi itu terus berulang, ia menyadari kesalahannya sangat besar. Meskipun ia sangat mencintai Xena, ia juga saat ini tidak berani berharap Xena membalas cintanya setelah apa yang ia lakukan pada Xena di masa lalu. Ia terlalu malu, ia sangat bersalah karenanya.
Di sini Olive yang bingung sebenarnya apa yang terjadi, tapi ia tidak ambil pusing. Setelah Xena meminta Vano untuk berdiri dan duduk kembali ke kursinya.
"Sudahlah kak, Aku juga sudah memaafkan kakak, tapi aku minta maaf tidak bisa mencintai kakak seperti dulu lagi. Aku harap kakak mengerti itu dan tidak lagi mengharapkan aku" ucap Xena
"Aku sudah memilih untuk bersama dengan pria lain yang saat ini aku cintai. Aku harap kakak juga bisa segera bangkit dan menjalani kehidupan kakak dengan bahagia bersama wanita yang juga mencintai kakak, tapi bukan aku orangnya. Aku minta maaf" ucap Xena menghapus air matanya.
"Hmm, aku mengerti" ucap Vano dengan serak,bia juga menghapus air mata di pelupuk matanya.
Setelah tahu kenyataan jika ia sudah melukai Xena dengan begitu sadisnya, ia tidak bisa lagi berharap Xena membalas cintanya. Ia terlalu malu dan dirinya merasa sangat bersalah jika ia memaksakan cinta Xena yang saat ini sudah mati padanya.
"Aku sudah tidak membenci kakak, aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi dulu. Jadi aku harap kakak juga bisa belajar melupakan rasa cinta kakak padaku. Kita bisa berteman, bukankah kita teman sejak kecil? Tapi meskipun begitu, aku tidak bisa terlalu dekat dengan kakak ataupun dengan pria lain. Karena saat ini ada seseorang yang harus aku jaga perasaan nya" ucap Xena.
"Makasih sudah memaafkanku Xe. Aku akan menyerah sekarang. Aku harap kamu bahagia dengan Ray, semoga dia tidak menyakiti kamu di masa depan. Kalau tidak, aku yang akan menghabisinya jika ia melakukan hal itu padamu. Aku tidak ingin kamu mengalami luka yang sama seperti yang aku lakukan padamu dulu" ucap Vano dengan tulus.
Xena tersenyum dan mengangguk. Ia lega Vano menyerah tentangnya.
"Xe...." panggil Olive.
"Kamu pasti bingung" ucap Xena tersenyum ke arah sahabatnya, Olive mengangguk mengiyakan.
"Aku akan menjelaskan dengan pelan agar kamu mengerti" ucap Xena lagi.
Setelahnya mereka pulang, Olive menelepon supir untuk datang dan membawa mobil kakaknya. Ia tahu jika kakaknya sudah tidak ada tenaga dan tidak bisa fokus untuk mengemudi.
.....
Di tempat syuting, Ray baru saja menyelesaikan take adegannya hari ini. Ia langsung berjalan menuju Galang yang sudah menyiapkan tempat duduk dan juga sebotol air mineral.
Ray langsung mengambil botol itu dan menenggaknya hampir habis.
"Mana ponselku Lang?" tanya Ray
"Hmm" jawab Ray dengan berdeham dan mengangguk.
Ia lalu melihat pesan dulu sebelum menelepon Tiger. Ia mendapati beberapa pesan dari Tiger yang menyuruhnya untuk meneleponnya karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
Ray lalu membuka pesan dari kekasih tercintanya yang ia beri nama contact My Future Wife siapa lagi kalau bukan Xena.
Isi pesan itu mengingatkan dia untuk makan dan meminum vitamin seperti biasanya, mbuat Ray tersenyum sendiri. Namun satu pesan Xena yang membuatnya uring-uringan. Xena mengatakan jika ia ingin pergi menemui Olive dan Vano di restoran hari ini.
Meskipun Xena memintanya jangan salah paham, tapi tetap saja Ray merasa cemburu. Karena ia tahu jika Vano mencintai kekasihnya itu.
^^^💬Sayang aku sudah selesai syuting hari ini. Kalau sudah tidak sibuk kabari aku. -Ray^^^
Setelah mengirim pesan kepada kekasihnya, Ray menelepon Tiger.
"Hallo bos" ucap Tiger di ujung telepon.
"Ya, apa yang ingin kamu katakan" ucap Ray dingin, tanpa basa-basi.
"Jangan dingin-dingin napa bos, bisa beku aku" ucap Tiger.
"Jangan banyak omong, cepat katakan!" ucap Ray yang sedang bad mood karena pesan Xena yang ingin menemui Vano.
"Ya elah sensi amat sih bos. Gini loh, siang tadi aku mengecek keseluruhan yang terkait dengan bos. Aku melihat ada beberapa resume masuk ke perusahaan induk. Bos tahu siapa salah satunya yang melamar ke perusahaan?" ucap Tiger.
"Mana aku tahu dan aku tidak peduli. Apa kamu sudah tidak punya kerjaan mengatakan hal tidak berguna itu padaku?" ucap Ray kesal.
"Yeeee si bos, kalau nggak mau denger ya udah. Yakin nggak nyesel?" ucap Tiger lagi
"Kalau tidak ada yang penting lagi aku tutup teleponnya" ucap Ray makin kesal.
"Ya sudah tutup saja Telepon nya, padahal aku mau bilang kalau pacar bos yang melamar untuk magang di peru...." ucap Tiger terputus karena teleponnya langsung di matikan oleh Ray.
Sedangkan Ray yang baru saja mematikan teleponnya tertegun sebentar. Ia sekilas mendengar jika pacarnya yang melamar untuk magang.
"Astaga...." gumam Ray menyadari sesuatu. Ia mengingat jika ia menyarankan Xena untuk melamar di perusahaannya.
Ia langsung menghubungi nomor Tiger kembali, namun sudah beberapa kali ia menelepon. Tiger tidak menjawab panggilan teleponnya membuat Ray kesal.
Di sisi lain Tiger tersenyum setelah mengumpat ketidak sopanan Ray yang menutup teleponnya. Setelah melihat Ray meneleponnya kembali, ia dengan sengaja mengabaikan itu.
"Rasain, emang enak di cuekin!" ucap Tiger terkekeh senang dapat mengerjai bosnya itu.
Sifat jahilnya muncul lagi, ia yakin jika bosnya tengah kesal sekarang. Tiger kemudian tertawa saat membayangkan bagaimana kesalnya bos nya itu.
...•••••...