
Dengan pandangan sedih ia menatap kekasihnya yang ia pikir sedang marah karena hubungan mereka tercium publik.
"Sayang, apa kau marah padaku?" tanya Ray dengan raut wajah sedih.
"Ya aku marah padamu" ucap Xena masih menatap tajam ke arah Ray, ia pun mendengus kesal.
"Sayang aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kamu belum siap jika hubungan kita go publik. Apa aku harus membuat klarifikasi di akun pribadi ku agar kamu tidak marah lagi?" ucap Ray dengan lembut ke arah kekasihnya.
Ia sejujurnya kecewa saat tahu Xena tidak ingin hubungan keduanya di ketahui publik, namun ia juga tidak bisa marah adanya. Tidak mudah meluluhkan hati wanita yang sangat ia cintai itu.
Jadi Ia hanya Perlu bersabar lagi agar hati Xena terbuka sepenuhnya untuk dirinya. Ia akan menuruti apapun keinginan gadis tercintanya.
Mendengar itu Xena mengerutkan keningnya. Bukan itu yang ia maksudkan! Ia hendak mengatakan jika Ray salah paham tentang yang di maksud dirinya tadi. Namun pelayan datang membawakan pesanan mereka, membuat Xena diam sebentar sampai pelayan pergi.
Melihat Ray ingin mengetik sesuatu di akun sosial media miliknya, sontak membuat Xena menahan tangan Ray.
"Kamu mau ngapain?" tanya Xena datar
"Mengklarifikasi berita tadi, aku nggak ingin kamu marah lama-lama." ucap Ray polos
"Letakan ponsel itu!" ucap Xena
"Tapi..." ucap Ray bingung
"Aku bilang letakan ponsel itu, Ray! Atau aku akan pulang sekarang dan benar-benar marah padamu" ucap Xena dengan nada yang serius.
Ray mendengar itu langsung menaruh ponselnya seketika di meja. Ia menatap Xena dengan tatapan iba dan kesedihan di katanya, hal itu justru membuat Xena gemas.
"Astaga, dia benar-benar bucin akut. Dia nurut banget, astaga dia menggemaskan" ucap Xena dalam hati.
"Sayang, jangan marah lagi hmm. Aku akan lakuin apa aja buat kamu, asal jangan marah padaku atau meninggalkan aku, oke" ucap Ray mengenggam tangan Xena.
Xena menghela nafas dan melepaskan tangan Ray, ia ingin mengambil ponselnya untuk memberitahu Ray tentang Yuri. Namun Ray mengira jika Xena masih marah padanya, hingga tidak ingin dia menyentuhnya.
"Sayang..." ucap Ray gelisah dan khawatir.
"Aku marah bukan karena berita tentang hubungan kita yang tersebar di internet" ucap Xena memotong ucapan Ray.
Ray mendengar itu terkejut dan menatap Xena dengan ekspresi mata yang bingung, karena keduanya masih mengenakan masker.
"Aku marah karena kamu bergerak sangat lambat, Hama satu itu ingin membuat masalah denganku lagi, tapi kamu belum menyadarinya" ucap Xena kesal.
"Hah? Aku nggak ngerti sayang" ucap Ray benar-benar bingung.
"Bukannya kau bilang akan mengurus hama yang mengklaim kamu adalah tunangan dia. Sekarang aku tanya, apa kamu tahu apa yang hama itu rencanakan untukku?" tanya Xena lagi.
Ray mengernyitkan keningnya mencoba berpikir, ia kemudian teringat tentang orang yang mengancam Xena dan membuat postingan palsu di internet. Ia mengingat jika itu adalah Yuri, cucu teman kakeknya.
"Memang apa yang dia rencanakan yang?" tanya Ray lagi
"Bukannya kamu suruh anak buah kamu buat awasin dia, kenapa tidak tanya mereka?" ucap Xena
Ray mendengar ucapan Xena terkejut sejenak, namun ia kembali tenang lagi setelahnya. Ia menyadari jika kekasihnya itu sangat ahli dalam komputer, dan Ray juga sempat berpikir jika kemungkinan Xena juga ahli dalam meretas atau mencari informasi.
Xena juga tahu jika Ray pasti sudah menebak jika ia ahli dalam komputer. Karena ia pernah mengatakan jika ia dan Vierra pernah membuat perangkat lunak dan anti virus bersama, saat bertemu dengan Galang dan Ray ada di sana juga.
Ray menatap ke ponselnya lalu menatap ke Xena lagi. Xena mengeri itu jadi ia mengizinkan Ray menggunakan ponselnya. Setelah itu Ray langsung menelepon seseorang.
"Hallo, apa kamu menemukan sesuatu tentang gerak gerik wanita itu?" tanya Ray
"......"
"......"
"Oke, Aku tunggu informasinya dalam 5 menit, laporkan semuanya pada..." ucap Ray.
"Tidak perlu, itu terlalu lama" potong Xena mendengar obrolan Ray dengan anak buahnya.
"Nanti aku telepon lagi" ucap Ray dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Sayang, kenapa?" tanya Ray
"Pakai ini!" ucap Xena menyerahkan salah satu earphone miliknya.
Ray hanya mengikuti ucapan Xena tanpa bertanya, ia kemudian mendengar sebuah rekaman percakapan seseorang di telepon.
Mendengar suara rekaman telepon itu, Ray mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal kuat menahan amarah.
Tanpa ba-bi-bu, ia memeluk erat tubuh Xena, ia bahkan lupa jika ia tengah berada di tempat umum. Yang paling ia lupakan adalah banyak paparazi yang mengikuti mereka setelah berita tentang kencan keduanya tersebar..
Tentu keadaan itu membuat paparazi memiliki tema untuk berita utamanya saat melihat Ray memeluk Xena.
Yang di pikiran Ray saat ini adalah ketakutan. Dirinya sangat takut, jika apa yang Yuri rencanakan berhasil menyakiti wanita yang sangat ia cintai.
Jika itu terjadi, dirinya juga akan menjadi gila karena melihat orang yang ia sayangi hancur, itu kerena ia tidak bisa melindungi orang yang paling berharga untuknya.
"Maaf aku membuatmu masuk dalam keadaan yang membuatmu bahaya seperti ini" ucap Ray
Xena menghela nafas, meskipun ia tahu ia di tempat umum. Namun Xena tetap membalas pelukan kekasihnya itu.
"Apa yang akan kamu perbuat? Apa kau akan meninggalkanku hanya karena kejadian ini?" tanya Xena bebisik.
"Meskipun aku tidak ingin kau dalam bahaya karena aku, tapi aku juga tidak ingin melepaskan kamu. Kau tahu jika aku sangat mencintaimu, bukan? Karenanya Aku bisa menghancurkan wanita gila itu, aku akan membuat orang yang berusaha menyakitimu lebih menderita dan hidup bagai di neraka" ucap Ray dengan wajah memerah menahan amarah.
"Hmm, aku mengerti. Tapi biarkan dulu ia menikmati hidupnya" ucap Xena
Ray melepaskan pelukannya, ia menatap lembut kekasihnya. Namun ia masih marah dengan apa yang di rencanakan Yuri.
"Sayang, kita tidak bisa melepaskan wanita gila itu begitu saja" ucap Ray tidak rela melepas orang yang hendak melukai kekasihnya.
"Siapa yang bilang aku akan melepaskannya" ucap Xena
"Lalu?" tanya Ray
"Aku hanya membiarkannya sebentar dan ingin sedikit bermain dengannya" ucap Xena dingin membuat bulu kuduk Ray berdiri.
....
Di sebuah cafe, Yuri dan kedua temannya tengah berkumpul. Meskipun ia tengah dalam kondisi marah, karena berita tentang Ray yang justru lebih condong ke hubungan nya dengan Xena. Dia menahan diri sekuat mungkin agar amarahnya tidak meledak.
Setidaknya ia menunggu sebentar lagi, hasil dari orang yang ia bayar dan membawa berita baik untuknya.
"Ri, kamu sangat tenang. Padahal di internet tengah heboh loh. Kamu nggak kesal?" ucap Ema
"Tentu aja aku sangat kesal, tapi aku juga tidak akan tinggal diam melihat wanita j*Lang itu hidup bahagia bukan? Aku akan memberikan pelajaran tak terlupakan untuknya" ucap Yuri menyeringai.
Ema yang mendengar itu hanya mengerutkan kening bingung, ia juga menoleh dan bertemu mata dengan Kiki. Keduanya penasaran, apa rencana Yuri yang akan ia lakukan pada Xena. Namun keduanya hanya diam, takut jika ia terkena imbas kemarahan Yuri.
...•••••...