Xena

Xena
103. Menceritakan semuanya



Xena sudah sampai lebih dulu di restoran, ia meminta Citra untuk menyiapkan makanan untuk mereka bertiga nantinya di ruangan pribadi milik Xena.


Di sisi Vano, ia sudah pulang kerja, ia langsung mandi dan bersiap lalu menemui adiknya untuk segera berangkat ke restoran.


Kini Vano dan Olive sudah berada di depan restoran, setelah mengatakan jika ia ada janji dengan Xena. Pelayan langsung mengantarnya ke ruangan pribadi milik bosnya itu.


"Bos, tamu anda sudah datang" ucap pelayan pada Xena.


"Terimakasih mbak" jawab Xena sopan


"Ayo masuk Liv, kak Vano. Silahkan duduk" ucap Xena tersenyum lembut.


Vano yang melihat senyum lembut itu jantungnya berdetak dengan kencang. Ia sangat merindukan senyum itu, senyum yang dulu selalu Xena berikan padanya.


"Hai Xe" sapa Vano dengan senyum yang lembut juga


"Hai kak, bagaimana kabar kakak?" tanya Xena sopan


"Cukup baik" jawab Vano menatap lekat ke arah Xena.


Xena tahu tatapan itu, namun ia tidak repot-repot membalas tatapannya dan beralih ke Olive. Meskipun ia sudah tidak membenci Vano namun ia tidak ingin Vano berharap lebih.


"Bagaimana kakimu Liv?" tanya Xena beralih ke Olive.


"Sudah lebih baik Xe, makasih" jawab Olive tersenyum.


"Wah, ruangan ini sangat luas dan indah. Kita bisa lihat pemandangan dari jendela besar ini" ucap Olive kagum.


"Ya, ini ruangan pribadiku, kalau kau mau kau bisa datang kapan saja nanti. Ayo pesan makanan dulu, kita harus makan dan mengisi energi kita sebelum berbicara banyak" ucap Xena terkekeh.


"Kamu bisa aja Ha-ha" Olive tertawa.


"Ini menunya kak, jangan ragu pesan saja" ucap Xena menyodorkan menu ke Vano.


"Makasih Xe" ucap Vano lembut.


Ia merasa senang Xena sudah tidak lagi datar padanya.


Sebenarnya Xena sudah berhasil menata hatinya sejak kehadiran Ray. Ia sudah tidak lagi trauma berdekatan dengan Vano, jadi dia sudah bisa rileks saat berbicara dengan Vano.


Mereka kemudian pesan beberapa menu favorit yang memang banyak di pesan orang-orang karena rasanya sangat lezat. Mereka juga mengobrol ringan sambil menunggu makanan datang.


"Liv, kamu jadi aku jemput lusa nanti?" tanya Xena


"Jadi dong, kita harus jadi suporter terdepan untuk Arsy biar dia semangat dan mempertahankan gelar juaranya" ucap Olive antusias.


"Kalau gitu nanti aku jemput lebih pagi deh, biar kita jalan-jalan dulu di sana. Wisata kuliner dulu" ucap Xena


"Nyari jajanan ha-ha-ha" sahut Olive.


Tak lama makanan mereka datang, pelayan menata makanan lezat itu di atas meja. Olive melihat itu hampir meneteskan air liurnya. Lalu ia mengambil ponselnya dan mengambil banyak gambar makanan yang akan ia posting ke media sosialnya.


Xena hanya terkekeh melihat tingkah Olive, yang memang dasarnya Olive adalah seorang Foodie, jadi ia tidak heran karena itu.


Mereka bertiga makan dengan lahap, sesekali mereka melemparkan pujian tentang masakan yang mereka makan.


"Xe..." suara Vano memecah keheningan setelah ketiganya selesai makan.


"Ya kak" sahut Xena


"Maafkan kakak karena belum bisa menerima kalau kamu bersama orang lain, kalau kamu yakin dengan pilihan kamu bersama dengan Ray. Kakak tidak bisa melarangnya, tapi bolehkah kakak tahu alasan kamu menyerah tentang perasaan kamu pada kakak di tengah jalan? Agar kakak bisa meyakinkan diri kakak untuk berhenti mencintai kamu" tanya Vano.


Olive tetap diam, ia menjadi pendengar di sini, ia juga tidak bisa keluar karena Xena menginginkannya tetap di tempatnya duduk saat ini.


Xena menghela nafas karena tidak bisa lagi menghindar. Ia juga tidak ingin Vano terus menerus berharap padanya meskipun ia sudah menolaknya beberapa kali.


Mungkin alam bawah sadar Vano menyadari jika masih ada alasan mengganjal dirinya dan dia tidak bisa berhenti. Jadi Xena memutuskan untuk jujur pada keduanya.


"Baiklah, aku akan menjelaskan pada kalian berdua alasannya" ucap Xena menoleh menatap ke arah Olive dan Vano bergantian.


Keduanya hanya diam menunggu Xena melanjutkan ucapannya.


"Hah, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, tapi karena kakak merasa ada yang mengganjal. Aku akan menceritakan sesuatu" ucap Xena.


"Percaya atau tidak, aku pernah mengalami situasi khusus. Di mana aku pernah menjalani kehidupan lainnya, aku tidak tahu apa ini yang di sebut orang reinkarnasi ataukah ini hanya sebuah mimpi panjang yang aku alami" ucap Xena menghela nafasnya.


"Di kehidupanku saat itu, aku masih mencintai kak Vano seperti biasanya. Cintaku sangat besar pada kakak meskipun kakak selalu mengabaikanku, tapi rasa cintaku tidak pernah luntur sama sekali. Sampai akhirnya Olive meninggal karena dia di lecehkan lalu di bunuh. Aku merasa kehilangan saat itu, aku jatuh terpuruk hingga aku tidak ingin makan selama berhari-hari" ucap Xena menatap Olive dengan tatapan sedihnya.


Meskipun Olive tidak mengerti apa ini tentang mimpi atau hal lain yang di ceritakan Xena. Tapi Olive merasakan sakit juga saat Xena mengatakannya.


"Sampai akhirnya aku bangkit lagi, tak lama kemudian Kak Vano mendekatiku. Dan keluargaku saat itu hampir bangkrut dan keluarga kalian yang menyuntikkan dana dan menjodohkanku dengan kak Vano. Aku merasa senang saat itu, aku adalah orang yang paling bahagia bisa menikah dengan orang yang aku cintai saat itu. Tapi...." ucap Xena memejamkan matanya untuk bisa meneruskan ceritanya.


Vano tersentak mendengarnya, ia merasa gelisah. karena ia juga mengalami mimpi yang terus menganggunya.


"Saat itu aku dan kak Vano menikah selama dua tahun, aku heran mengapa setelah menikah sikapnya berubah bahkan tidak segan menampar dan membentakku. Sampai akhirnya aku mendapati kak Vano dengan Yani dalam satu kamar tengah bergumul" ucap Xena lagi.


Tubuh Vano bergetar mendengar itu, ia menunduk dan memejamkan matanya. Ia berdoa semoga akhir ceritanya bukan seperti yang ia bayangkan.


"Bukannya menyesal, kak Vano memukulku, menendangku, menghantam kepalaku ke tembok dan terakhir dia menembakku tepat di dada. Aku sudah tidak kuat lagi. Ak-aku.... hiks...." Xena tidak kuasa menahan tangisnya, rasa sakit itu kembali terbayang. Rasa sakit di siksa sebelum kematiannya.


"Rasa itu sangat nyata, aku merasakan sakitnya dengan begitu jelas. Rasa sesak, sakit di kepala, dada dan juga hatiku. Meskipun saat itu kak Vano menyadari kesalahannya dan tahu siapa pelaku sebenarnya yang tak lain adalah Yani. Tapi sudah terlambat, karena aku meninggal saat itu.


Aku terbangun kembali di 4 tahun sebelum kematianku sendiri, aku tidak tahu yang terjadi itu mimpi atau apa, tapi rasanya begitu nyata, rasa sakitnya masih aku ingat dengan jelas hiks.... Maafkan aku kak, Liv... Aku nggak bisa lagi mencintai kak Vano setelah aku merasakan itu. Aku sudah bertekad untuk menyerah.


Dan kehadiran Ray sudah menjadi obat untukku. Trauma tentang sakit itu perlahan mulai hilang karena cinta dan perhatian yang ia berikan. Yang membuat aku luluh dan akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi pada seseorang dan itu adalah Ray" ucap Xena


...•••••...