
Kalla membawa Xena ke tempat dimana biasanya para pelayan berkumpul, sebelum mereka melakukan tugasnya masing-masing. Semua pelayan itu sudah berbaris rapi dan menundukkan kepala seperti biasa, saat mereka akan menyambut Kalla atau petugas kerajaan lainnya.
Kalla memperkenalkan Xena kepada semua pelayan.
"Aku sengaja datang, karena ingin memperkenalkan calon pelayan baru yang akan bekerja di istana ini." Ujar Kalla. "Namanya Xena. Dia akan jadi teman baru kalian disini." Imbuhnya.
Mendengar nama Xena, Audrey sedikit terkejut, karena nama yang disebutkan tadi sama dengan nama adiknya, tapi itu tak mungkin dia. Mungkin saja Xena yang lain. Pikir Audrey.
"Xena!! Sekarang kau boleh bergabung dengan mereka. Hari ini juga kau harus langsung bekerja. Tapi sebelum itu, aku ingin membuktikan kemampuanmu. Aku ingin tahu apa benar kau bisa menangkap ikan?." Ujar Kalla, lalu membawa Xena ke kolam ikan yang ada di taman belakang istana, sedangkan para pelayan kembali melakukan tugasnya masing-masing.
Sampai saat ini, Audrey belum mengetahui kalau Xena yang di perkenalkan oleh Kalla tadi benar-benar adiknya, karena dia berada dibarisan paling belakang, jadi dia tidak bisa melihat wajah Xena.
Setelah Kalla meninggalkan ruangan, para pelayan saling berbisik, mengatakan kalau pelayan baru itu katanya sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Audrey.
"Di atas langit masih ada langit. Makannya jadi orang jangan sombong. Jangan merasa paling segalanya." Kata salah satu pelayan.
"Iya benar. Pelayan baru itu memang cantik. Tadi aku juga sempat melihatnya. Dan sepertinya dia juga tidak sombong seperti pelayan baru sebelumnya." Timpal pelayan lain seraya melirik ke arah Audrey.
Mendengar itu, Audrey merasa tidak senang sekaligus penasaran. Dia ingin melihat wajah pelayan itu. Sedangkan Matilda, dalam hati dia membenarkan ucapan teman-temannya tadi. Matilda juga sudah melihat wajah Xena, karena dia berdiri dibarisan paling depan.
Gadis itu memang sangat cantik. Dia bisa jadi saingan aku selanjutnya, setelah si Audrey. Bagaimana kalau sampai pangeran atau pejabat penting melihat dia dan menyukainya. Kesempatan aku untuk menjadi pelayan khusus akan semakin terancam. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun juga aku yang harus terpilih menjadi pelayan khusus, bukan Audrey, atau gadis itu. Kata Matilda dalam hati.
***
Di kolam Ikan.
Xena sangat senang, saat melihat kolam ikan yang ada di taman belakang istana. Kolam itu sangat besar dan tidak terlalu dalam. Airnya jernih dan ditumbuhi berbagai tamanan air, seperti water lily atau teratai, melati air juga tanaman lainnya, membuat kolam itu terlihat sangat indah.
"Sekarang kau turun, dan tangkap ikan-ikan itu sebanyak yang kau bisa." Titah Kalla.
"Baik nyonya." Sahut Xena, lalu dia turun kedalam kolam itu. Menangkap satu persatu ikan-ikan di dalam kolam dengan begitu mudahnya. Tentu saja ini sangat mudah baginya, karena dia sudah terbiasa menangkap ikan di sungai yang jelas arus airnya sangat deras. Sedangkan air di kolam ini sangat tenang, tak heran jika dia bisa menangkap ikan dengan mudah.
Ekspresi wajah Kalla yang tadinya terlihat tak percaya dan meremehkan, berubah menjadi rasa takjub dan memuji kepintaran Xena, walau itu hanya di dalam hatinya "Cukup!! Sekarang kau bawa ikan-ikan itu dan bersihkan." Titah Kalla, Xena menurut.
Dia membersihkan ikan-ikan itu dengan sangat terampil dan cepat, membuat Kalla kembali memuji Xena dalam hatinya.
"Sekarang kau bumbui dan masak ikan ini sampai matang, untuk makan siang kamu dan teman-temanmu." Titah Kalla
"Baik nyonya." Sahut Xena. Lalu dia mulai membuat bumbu untuk ikan itu dengan resep yang dia ketahui dari neneknya, lalu menggorengnya, dan Kalla masih setia mengawasi, sedangkan para pelayan senior yang berada di dapur hanya menatap Xena sesekali, karena Kalla melarang mereka membantu Xena
Tak lama kemudian ikan goreng lezat buatan Xena pun sudah tersaji di meja yang ada di dapur istana. Tak hanya ikan, Zena juga membuat sambalnya sekaligus.
"Nyonya Kalla saya sudah selesai menggoreng ikannya. Apakah anda berkenan untuk mencicipinya?." Tanya Xena.
"Tentu saja aku akan mencicipinya. Bawakan untukku." Titahnya.
"Baik nyonya." Sahut Xena.
Xena meletakan ikan dan sambalnya di piring, lalu memberikannya pada Kalla. "Silahkan nyonya." Ucapnya.
"Terima kasih nyonya."
"Selain menggoreng ikan, apa kau bisa memasak menu yang lain?." Tanya Kalla.
"Saya hanya bisa memasak menu masakan yang biasa dimasak oleh rakyat biasa." Jawab Xena.
"Hemm...baiklah aku mengerti. Sekarang kau boleh beristirahat sebentar. Setelah itu aku akan kembali menguji keterampilanmu." Ujar Kalla.
...
Jam makan siang telah tiba. Sebagian pelayan mengantarkan makan siang untuk raja, ratu, pangeran juga semua penghuni istana. Setelah selesai dengan tugasnya giliran pelayan yang menikmati makan siang. Pelayan yang sudah tinggal lama di istana dan mendapat tugas tetap, sudah makan siang lebih dulu. Tinggal para pelayan yang berada diruang karantina, atau para pelayan muda yang masih dalam pengawasan Kalla yang akan menikmati makan siang.
Para pelayan muda itu makan di satu ruang makan yang dikhususkan untuk mereka. Menu makan siang hari itu salah satunya adalah ikan yang dimasak oleh Xena. Mereka makan dengan lahap karena memang sudah sangat kelaparan. Tidak ada nasi ataupun lauk yang tersisa di piring masing-masing, karena selain itu adalah peraturan kerajaan, menurut mereka makan siang kali ini jauh terasa lebih enak, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
...
Selesai makan, Audrey yang penasaran dengan pelayan baru itu, langsung membalikkan badan menoleh ke arah Xena yang duduk dua baris dibelakangnya. "Xena!! Gumamnya terkejut sekaligus tak percaya melihat ternyata Xena yang dimaksud oleh Kalla benar-benar adiknya. Rasa terkejutnya berubah menjadi rasa tidak suka dan tidak nyaman. Iya, dia tidak suka melihat adiknya sendiri ada disana. Entah apa alasannya, yang jelas dia tidak suka dengan kehadiran Xena.
Audrey mengambil kesempatan, saat semua pelayan mulai meninggalkan ruang makan Saat tidak ada satupun yang melihat ke arahnya, dia langsung menarik Xena ke sudut ruangan. "Apa yang kau lakukan di sini Xena?." Tanyanya dengan suara pelan.
"Seperti yang kakak dengar tadi, aku akan bekerja menjadi pelayan seperti kakak." Jawab Xena.
"Bohong!! Itu tidak mungkin. Aku tahu kau bagaimana kau sangat membenci kerajaan ini. Jadi bagaimana mungkin kau ingin jadi pelayan disini. Katakan padaku, apa maksud kamu sebenarnya?." selidik Audrey.
"Baiklah aku akan menjawabnya. Aku sengaja datang kesini, karena ingin melindungi kakak." Jawab Xena.
"Melindungi katamu?. Melindungi dari apa?. Dari siapa?." Tanya Audrey dengan nada mengejek
"Kakak tidak perlu berpura-pura. Aku tahu selama disini mereka memperlakukan kakak dengan buruk. Benar kan?."
"Jangan sok tahu kamu Xena. Kalaupun memang mereka memperlakukanku dengan buruk, memang apa yang bisa kau lakukan heh?." Tanya Audrey semakin meremehkan adiknya. " Sekarang sebaiknya kau cepat pergi dari sini." Titah Audrey.
"Tidak. Selama kakak tinggal di istana ini, aku juga tidak akan pergi. Kecuali kalau kakak mau ikut pergi bersamaku." Sahut Xena
"Tidak mungkin. Aku tidak akan pernah meninggalkan istana ini, sebelum keinginanku tercapai." Balas Audrey.
"Ehhhmmm......ada apa ini?." Suara seseorang mengejutkan kakak adik itu.
.
.
.
Bersambung🍁🍁🍁