
Satu minggu sudah Xena tinggal di istana. Selama itu pula dia tidak bertemu dengan Aiden, juga kakek neneknya. Xena sangat merindukan mereka, terutama Aiden. Satu minggu tidak bertemu, Xena benar-benar sangat merindukannya.
Dulu aku sangat membencinya, tapi sekarang aku sangat merindukannya. Dimana dia sekarang?. Kenapa tidak ada kabar apapun tentang dia?. Apa aku tanyakan saja pada jenderal Conrad. Dia pasti tahu dimana Aiden sekarang. Guman Xena dalam hati.
Tak hanya Xena yang tersiksa menahan rindu, tapi pangeran Alaric pun merasakannya. Mereka berdua sama-sama saling merindukan, dan ingin sekali bertemu. Walau pangeran Alaric sempat melihat Xena beberapa kali, tapi dia tidak bisa mendekati apalagi menyapanya. Saat ini dia adalah pangeran Alaric, laki-laki yang sangat Xena benci.
Karena rasa rindunya yang tak bisa dia tahan, Malam itu pangeran Alaric nekat menemui Xena dan menyamar sebagai Aiden. Mereka bertemu dibelakang kamar pelayan, setelah sebelumnya Aiden mengirimkan pesan pada Xena melalui sepucuk surat, yang saat itu tiba-tiba ada dibawah bantal Xena.
Xena tidak tahu siapa yang menyimpan surat itu, tapi dia tidak peduli, yang penting baginya dia bisa bertemu dengan laki-laki yang dia cintai dan sudah sangat dia rindukan.
"Xena!! Akhirnya kau datang. Aku sangat merindukanmu." Ujar Aiden saat Xena datang.
" Aiden. " Sahut Xena sambil tersenyum.
"Katakan padaku, apa kau juga merindukanku?." Tanya Aiden.
"Aku tidak akan datang jika aku tidak merindukanmu." Jawab Xena.
Aiden tersenyum bahagia, lalu menggenggam tangan Xena. Mereka mengobrol sebentar, laku Xena memainta Aiden pergi, karena takut ada orang yang melihat dan menangkap mereka.
"Tidak Xena, itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang bisa menemukan kita di sini."
"Oh ya!! Apa kau yakin?." Tanya Xena, Aiden mengangguk.
"Kenapa kau bisa sangat yakin?." Tanya Xena lagi.
"Aku.......aku." Aiden menggantung kalimatnya.
Mana mungkin aku mengatakan kalau aku sudah meminta Gwendolyn membuat kami tidak terlihat oleh siapapun. Kata Aiden dalam hati.
"Sebaiknya kau cepat pergi. Sebelum ada orang yang melihat kita. Aku tidak mau sampai mereka menangkapmu." Kata Xena.
"Apa kau mengkhawatirkanku Xena?." Tanya Aiden.
"Tentu saja." Jawab Xena, membuat senyum Aiden kembali mengembang.
"Kenapa kau malah tersenyum dan menatapku seperti itu?. Aku bilang cepat pergi darisini." Ujar Xena.
"Aku tidak mau. Aku ingin terus bersamamu." Sahut Aiden.
"Jangan membuatku tertawa Aiden." Balas Xena sambil terkekeh.
"Aku senang bisa membuatmu tertawa seperti ini. Kau tahu Xena, aku sangat suka melihatmu tertawa. Aku suka sekali melihat senyum manis diwajah cantikmu ini. Aku ingin selalu melihatnya setiap waktu." Unar Aiden.
"Bohong. Mana mungkin kau ingin melihatnya setiap waktu, karena kalau kau sering melihatnya, lama-lama kau akan bosan." Sahut Xena.
"Aku tidak akan pernah bosan." Balas Aiden.
"Sudah Aiden. Sebaiknya kamu cepat pergi. Jangan terus merayuku seperti ini, karena aku tidak akan tergoda dengan semua rayuan gombalmu itu." Tegas Xena.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Tapi kamu mau kan menemuiku lagi?."
"Pertanyaan apa itu Aiden, tentu saja aku tidak mau lagi bertemu denganmu. Kau tahu Aiden, ternyata apa yang kau katakan tentang pangeran itu benar. Aku sudah melihatnya. Pangeran Alaric ternyata benar-benar sangat tampan. Aku......aku jatuh cinta padanya." Ucap Xena berbohong. Dia hanya ingin menggoda Aiden, karena walaupun pangeran Alaric sudah melihatnya, tapi Xena belum pernah bertemu atau melihat pangeran Alaric.
"Benarkah itu?." Tanya Aiden.
"Tapi kau bilang kau sangat membencinya."
"Iya. Tapi setelah aku melihatnya, aku berubah pikiran. Dia terlalu tampan dan tak pantas untuk di benci." Jawab Xena.
Aku harap apa yang kau katakan itu benar Xena. Aku harap suatu hati nanti ucapan kamu ini menjadi kenyataan. Kau benar-benar akan mencintaiku sebagai Alaric bukan Aiden.
"Hey!! Kenapa diam?. Kau marah?. Haha....jangan marah aku cuma bercanda. Aku tidak mungkin berpaling secepat itu. Aku bukan tipe perempuan seperti itu. Lagipula aku belum pernah melihat apalagi bertemu laki-laki itu, dan aku harap aku tidak pernah bertemu dengannya. Kau tahu sendiri kan aku datang kesini karena ingin melindungi kakakku." Ujar Xena.
"Kenapa?. Apa kau takut jatuh cinta padanya?." Tanya Aiden.
"Tidak......Jika aku melihatnya, aku takut malah akan semakin membencinya dan bisa saja aku membunuhnya." Jawab Xena
"Tapi menurutku kau harus bertemu dengannya. Agar aku yakin kau tidak akan tertarik atau jatuh cinta padanya." Ujar Aiden.
"Sudahlah Aiden. Mending kamu pergi sekarang. Jangan bahas inj lagi." Titah Xena.
"Baiklah Xena. Aku pergi sekarang. Selamat malam!!
"Selamat malam." Balas Xena.
Cup...... Sebelum pergi, Aiden mengecup pipi kanan Xena sambil berbisik:" Aku akan selalu merindukanmu." Membuat Xena tersipu.
....
ππππππ
Hari-hari berlalu, tak terasa satu bulan sudah Xena tinggal di istana. Dia semakin terbiasa dengan kehidupan barunya sebagai pelayan kerajaan. Walau tak bisa dipungkiri dia juga merindukan kehidupan bebasnya saat tinggal di desa.
Kalla semakin senang dengan cara kerja juga sikap Xena yang sangat baik. Tak heran jika sikap Kalla sangat baik pada Xena, berbeda dengan sikapnya pada Audrey, dan itu membuat Audrey semakin tidak suka. Menurut Audrey adiknya terlalu mencari perhatian, padahal sebenarnya dialah yang seperti itu. Selain itu Audrey tidak bisa menyembunyikan sifat angkuhnya, oleh karena itu lah Kalla ataupun yang lainya tidak menyukai Audrey.
Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang karantina. Ellie dan Kalla mengumumkan kabar tentang pemilihan pelayan muda yang akan ditugaskan di istana ratu juga istana pangeran. Audrey sangat berharap dirinya bisa terpilih.
"Emma, Shopia, Olivia, dan Audrey, kalian akan bekerja di istana pangeran. Matilda, Emily, Camila, Evelyn, kalian akan bekerja di istana ratu." Ujar Ellie. Mata Audrey membola seketika, saat namanya disebut akan ditempatkan di istana pangeran. Harapannya itu menjadi kenyataan. Dirinya dipilih oleh Ellie menjadi pelayan di istana pangeran. Dia bersorak gembira dalam hati.
Akhirnya. Ini kesempatan bagus untukku. Tuhan memang baik padaku. Aku yakin aku akan terpilih, dan aku yakin suatu hari nanti aku bisa menjadi bagian penting dari kerajaan ini. Kata Audrey dalam hati.
Matilda sangat tidak senang saat dia tahu Audrey ditempatkan di istana pangeran, sedangkan dirinya di istana ratu. Dia ingin sekali ditempatkan di istana pangeran, tapi apa boleh buat, dia atau siapapun tidak bisa menentang keputusan Ellie.
Audrey tersenyum seraya menoleh ke arah Matilda. Matilda tahu apa arti senyuman itu. Audrey sedang mengejeknya, dan itu membuat Matilda semakin kesal.
Ellie masih menyebutkan nama-nama pelayan yang dia pilih dan dimana pelayan itu akan akan ditempatkan.
Senyum Audrey semakin lebar, saat Ellie mengatakan kalau adiknya Xena akan di tempatkan di dapur istana. Ini membuatnya sangat senang. Dengan begitu, Xena tidak akan menjadi penghalang baginya atau dengan kata lain dia tidak akan bersaing dengan adiknya sendiri di istana pangeran. Karena menurutnya tidak ada pelayan lain yang pantas dia takuti, selain adiknya sendiri, Xena. Secara fisik tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Audrey, kecuali Xena. Audrey mengakui itu.
Baguslah kalau Xena ditemoatkan di dapur istana. Jadi aku tidak perlu bersaing dengan adikku sendiri. Aku tidak perlu khawatir lagi, karena pangeran tidak akan pernah melihat Xena, dan dia pasti akan selalu melihatku. Haha Tuhan memang adil dan tahu yang terbaik buat aku dan kamu. Posisi kita sudah diatur dengan sangat baik. Xena, kau memang sudah terbiasa hidup di dapur, sedangkan aku, Tuhan tahu aku tidak pernah bisa memasak atau melakukan pekerjaan berat, jadi aku ditempatkan di tempat yang memang cocok untukku. Istana pangeran...ahh aku sudah tidak sabar ingin menginjakkan kakiku disana. Gumam Audrey dalam hati.
Mendengar dirinya akan ditempatkan didapur istana, Xena sebenarnya juga sangat senang. Karena dengan begitu, dia yakin tidak akan pernah bertemu dengan pangeran Alaric. Hanya saja yang ia khawatirkan adalah kakaknya. Xena takut Audrey melakukan hal yang tidak-tidak demi mencapai keinginannya itu. Salah satu yang Xena takutkan dari Audrey adalah dia membongkar jatidirinya. Xena pernah mendengar dari salah satu pelayan yang sekamar dengannya, kalau Audrey pernah mengatakan kalau dia adalah anak seorang jenderal besar, untungnya tidak ada yang mempercayainya.
.
.
BersambungβοΈβοΈβοΈ