Xena

Xena
XENA @BAB 8



"Kenalkan!! Namaku Aiden. Pengembara yang sedang bermalam di desa ini. Aku datang kesini mencari Audrey. Dan aku fikir tadi kamu itu Audrey." Jawab Alaric.


"Oh.....jadi kamu mencari Audrey?. Dia tidak ada disini." Jelas si gadis lalu melanjutkan pekerjaannya, tanpa mempedulikan keberadaan laki-laki bernama Aiden itu.


"Apa kamu tahu dimana dia?." Tanya Aiden(Alaric).


"Dia sudah pulang. Kamu cari saja dirumahnya." Jawab gadis itu yang tak lain adalah Xena.


Pangeran Alaric mematung disana, memperhatikan Xena yang sedang memasukan kentang kedalam keranjang kayu. Merasa diperhatikan, Xena lalu menatap ke arahnya, bertanya dengan sinis dan ketus." Kenapa masih disini?. Cepat pergi!! Hardiknya.


"Apa aku boleh membantumu?." Tanya Alaric.


"Tidak!! Aku tidak butuh bantuanmu. Cepat pergi saja darisini. Bukankah kamu ingin bertemu Audrey?." Jawab Xena ketus.


"Siapa nama kamu?."Tanya Alaric lagi. Xena tidak memberitahukan namanya walau pangeran Alaric terus menanyakannya. "Hey nona, aku bertanya siapakah namamu?. Apa kamu tidak mau memberitahukannya?." Tanya Alaric membuat Xena semakin kesal.


"Kenapa aku harus memberitahumu?. Cepat pergi darisini, karena aku tidak terbiasa bicara pada orang asing." Jawab Xena, tapi pangeran Alaric tidak juga pergi. Xena lalu memanggil anjingnya untuk mengusir pangeran Alaric, hingga akhirnya pangeran Alaric pun pergi dari sana. Dia menemui Audrey sebentar untuk meminta maaf dan menanyakan keadaanya lalu kembali ke tempat dia menginap.


Sepanjang malam pangeran Alaric memikirkan gadis cantik yang dia jumpai di ladang tadi siang. Wajah dan sosoknya terus menari-nari dipelupuk matanya. Dia sungguh ingin tahu siapa nama gadis cantik bermata indah itu. "Mata itu!! Ya Tuhan mata itu. Mata itu adalah mata yang sama. Apa mungkin gadis itu?????" Gumam Alaric seraya bangkit dari tidurnya, saat dia ingat ksatria dan gadis cantik itu memiliki mata yang sama. Dia berpikir mungkinkah gadis yang dijumpainya tadi siang adalah ksatria yang menyelamatkanya?. Aku harus memastikannya sendiri. Aku harus mencari tahu dimana dia tinggal. Aku yakin rumahnya tidak jauh dari rumah Audrey. Atau aku tanyakan saja pada Audrey?. Ah tidak....sebaiknya aku cari tahu sendiri. Batin pangeran Alaric.


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


Esoknya pagi-pagi sekali pangeran Alaric sudah melangkahkan kakinya menuju rumah Audrey, lalu dia bersembunyi saat melihat kakek Abraham menuntun satu ekor kuda hitam menuju sungai, untuk dia mandikan, disusul nenek Gloria yang membawa bekal makanan dan minuman seperti biasanya. Tak lama berselang, Xena juga keluar dari halaman rumah, menyiram bunga dan sayuran yang ada di halaman rumah.


Gadis itu!! Apa dia juga tinggal dirumah ini?. Kenapa aku baru melihatnya?. Apa mungkin dia dan Audrey bersaudara?. Ahh kenapa aku tidak berfikir kesana?. Kenapa aku baru sadar kalau wajah mereka memang mirip?. Dasar bodoh.!! Umpatnya dalam hati.


Setelah tahu Xena tinggal dirumah itu, Pangeran Alaric mencari tahu tentang keluarga kakek Abraham kepada petugas kerajaan. Dari petugas itulah dia tahu, kalau gadis cantik yang memiliki mata indah itu bernama Xena. Menurut mereka Xena adalah gadis pembangkang, yang selalu meracuni pikiran warga agar mereka tidak membayar pajak. Selain itu dia juga tidak mau mematuhi aturan yang dibuat oleh kerajaan Zephyra.


"Benarkah itu?." Tanya Alaric.


"Tentu saja itu benar. Gadis itu memang sangat cantik, tapi juga sangat menyebalkan." Kata petugas itu.


"Lalu kenapa paman tidak menangkapnya, atau melaporkannya pada kerajaan?." Tanya Alaric.


"Masalahnya tidak semudah itu. Kami tidak bisa sembarangan menangkap warga." Jawab si petugas


"Kenapa tidak bisa?. Bukankah paman bilang gadis itu pembangkang dan tidak mau menuruti aturan kerajaan?. Bukankah itu sama saja dengan memberontak?." Kata Alaric.


"Sudahlah, kamu tidak akan mengerti." Jawab petugas itu.


Pangeran Alaric semakin penasaran dengan sosok Xena. Selain penasaran, dia juga merasa yakin kalau Xena adalah ksatria yang telah menyelamatkannya dihutan itu. Keyakinannya semakin bertambah, saat dia melihat Xena sedang memandikan seekor kuda di sungai, walau kuda yang dia mandikan memang bukan kuda putih yang dinaiki ksatria itu


Saat ini pangeran Alaric bersembunyi dibalik batu besar dipinggir sungai. Dia memperhatikan Xena dan kuda yang dari sisi bentuk, dan besar kuda itu sama persis dengan kuda yang ditumpangi si ksatria misterius, hanya saja kuda ini berwarna hitam. Pangeran Alaric merasa sangat senang jika seandainya ksatria itu benar-benar Xena. Untuk itu, dia harus segera membuktikannya.


🌻🌻🌻


Dalam sekejap mata, Xena menghilang dari pandangan Alaric. "Kemana dia?. Kenapa cepat sekali dia pergi. "Alaric bergumam, seraya keluar dari persembunyiannya mencari sosok Xena yang tiba-tiba menghilang.


Sedetik kemudian dia dikejutkan oleh sesuatu yang menempel di antara tengkuk lehernya. Dia memutar kepalanya perlahan ke arah sebelah kiri dan seperti yang dia duga, itu adalah sebuah pedang, dan pelakunya adalah gadis itu, gadis yang dicarinya, Xena. "Siapa kamu?. Kenapa mengikutiku?." Tanyanya.


Pangeran Alaric segera mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan tidak akan melawan. "Jangan bunuh aku!! Aku bukan orang jahat."Jawabnya.


"Aku....aku tidak mengikutimu. Aku tadi hendak menemui kakek Abraham dan tak sengaja melihat kudamu, Jadi aku kesini." Jawab Alaric


"Bohong.!! Sergah Xena.


"Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mempunyai niat jahat, aku hanya menyukai kuda itu. Percayalah." Balas Alaric.


"Aku tidak semudah itu percaya pada orang asing."


"Aku bukan orang asing. Aku pengembara yang sudah beberapa hari bermalam di kampung ini. Namaku Aiden, aku tinggal di tempat petugas pemerintahan. Dan aku yang membeli bunga mawar dari Audrey. Kamu mengenalnya kan?." Tanya Alaric.


"Ohh,, jadi kamu yang sudah mengambil bunga-bungaku?." Tanya Xena dengan nada marah.


"Aku tidak mengambilnya. Aku membelinya." Sanggah Alaric


"Aku tidak pernah menjual bungaku pada siapapun, apalagi pada orang asing sepertimu." Sergah Xena.


Pangeran Alaric diam. Dia mengerti kalau bunga-bunga itu mungkin milik Xena.


"Maafkan aku!! Aku tidak tahu kalau bunga itu milikmu, karena Audrey tidak mengatakannya." Jelas Alaric.


"Aku tidak butuh maafmu. Enyah saja kau dari hadapanku." Ujar Xena seraya melemparkan pedang yang dipegangnya ke tanah, karena pedang itu memang pedang pangeran Alaric.


"Tunggu!! Suara Alaric menghentikan langkah Xena.


"Aku benar-benar minta maaf, karena sudah mengambil bunga-bunga itu. Katakan!! Apa yang harus aku lakukan, agar kamu mau memaafkan aku?." Tanya pangeran Alaric. Xena memutarkan sedikit kepalanya ke arah Alaric, lalu dia tersenyum miring dan kembali melangkahkan kakinya. Dan pangeran Alaric mengejarnya.


"Hei !! Tunggu nona!! Aku serius. Aku akan melakukan apapun, agar kamu mau memaafkanku." Ujar Alaric.


"Aku akan memaafkanmu, jika kamu bisa mengembalikan bunga-bunga itu seperti semula. Bagaimana? Kamu bisa?." Tanya Xena dengan senyum meremehkan. Lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alaric yang mematung ditempatnya.


"Baiklah. Aku akan melakukannya." Ucap Alaric, membuat langkah Xena terhenti sejenak. Namun kemudian dia kembali melangkah sambil tersenyum, karena merasa apa yang dikatakan lelaki yang mengaku bernama Aiden itu hanyalah sebuah omong kosong.


"Kalau aku bisa melakukanya, apa kau akan memafkanku?." Tanyanya.


Xena berbalik lalu berkata; "Bahkan aku bersedia menjadi kekasihmu, jika kamu bisa mengembalikan bunga-bunga itu seperti semula." Jawab Xena masih dengan senyum mengejek. Karena semua itu sangat mustahil menurutnya.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu nona?." Tanya Alaric.


"Tentu saja. Aku selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan." Jawab Xena.


"Baiklah. Aku pegang kata-katamu. Bersiaplah jadi kekasihku." Ujar Alaric dengan senyum smirknya.


"Hahh, teruskan saja mimpimu itu tuan Aiden." Jawab Xena dengan senyum meremehkan, lalu pergi.


.


.


BersambungπŸƒπŸƒπŸƒ