Xena

Xena
XENA @BAB 38



"Bisakah pangeran tidak terus menatap hamba seperti itu?." Tanya Xena.


"Tidak bisa. Aku sangat suka menatap wajahmu." Jawab pangeran Alaric.


"Apa anda ingin sarapan bersama hamba setiap hari?." Tanya Xena.


"Tentu. Bukan hanya sarapan saja, kau harus makan bersamaku saat makan siang dan makan malam." Ujar Alaric.


"Kalau begitu pangeran jangan terus menatap hamba. Hamba tidak mau makan bersama pangeran, kalau anda terus menatap hamba seperti itu." Kata Xena.


"Apa kau mengancamku Xena?.Kau berani mengancamku?. Kau tidak berhak melarangku melakukan apapun yang aku mau."


"Kalau begitu anda minta pelayan lain saja untuk menjadi pelayan pribadi anda."


"Sekarang kau berani memerintahku?. Goda pangeran Alaric yang sudah tahu bagaimana karakter dan sifat Xena.


"Hamba tidak bermaksud memerintah anda. Hamba hanya memberi anda saran pangeran." Jawab Xena.


"Aku tidak butuh saranmu."


Aku juga sebenarnya sangat malas memberi saran padamu. Kata Xena dalam hati.


"Baiklah!! Maafkan atas kelancangan hamba." Ucap Xena tidak sungguh-sungguh


"Aku akan memaafkanmu, jika nanti sore kau mau menemaniku mandi." Ujar Alaric dengan senyumnya.


"Apa?? Pekik Xena. Mata indahnya membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan pangeran Alaric barusan.


"Temani aku mandi. Jangan pura-pura tidak mendengar apa yang aku katakan."


"Itu tidak mungkin. Mana mungkin hamba menemani anda mandi pangeran."


"Kenapa tidak mungkin?. Bukankah kau ingin aku memaafkanmu?." Tanya Alaric.


Siapa yang mengatakan kalau aku ingin maaf darinya?. Aku hanya basa-basi saja.Dasar pangeran bodoh. Umpat Xena dalam hati.


"Sebenarnya aku tidak perlu memintamu karena itu memang sudah menjadi salah satu tugasmu sekarang sebagai pelayan pribadiku. Suka atau tidak, kau harus melakukannya. Kau mengerti kan?." Tanya Pangeran.


Aku mengerti sekarang. Kau memang benar-benar ingin aku menghabisimu pangeran bodoh dan menyebalkan.


"Kau mendengarku kan Xena?." Tanya Pangeran.


"Iya yang mulia, hamba mengerti" Jawab Xena.


"Jangan pernah menghambakan dirimu Xena. Aku tidak suka mendengarnya."


"Apa maksud anda pangeran, hamba tidak mengerti?." Tanya Xena.


"Kau jangan menyebut dirimu hamba di depanku. Aku lebih suka kau menyebut dirimu saya atau aku." Jelas Pangeran


"Baik." Sahut Xena.


"Bagus!!


"Apa sekarang saya boleh saya pergi pangeran?."


"Memangnya kau mau kemana?."


"Saya masih banyak pekerjaan." Jawab Xena.


"Pekerjaan apa?. Apa kau lupa kalau sekarang kau adalah pelayan pribadiku?. Tugasmu hanya melayaniku."


Kepala dan amarah Xena rasanya mau meledak menghadapi pangeran Alaric yang semakin menyebalkan, tapi dia tetap berusaha menahannya. Xena tetap bersikap tenang, walau amarah sudah bergejolak di dalam dadanya.


Memangnya apa yang harus aku lakukan disini? Apa dia mau aku terus menemaninya? Yang benar saja.


Untuk menghindari tatapan mata pangeran Alaric, Xena membereskan makanan yang masih ada di atas meja.


"Hamba akan membawa semua ini ke dapur istana." Ujar Xena.


"Tidak perlu. Biarkan saja pelayan yang membawanya." Sahut Alaric.


"Tapi kau pelayan pribadiku, jangan lupakan itu. Kau hanya harus menuruti semua perintahku." Tegas Alaric, lalu memanggil para pelayan lainnya, memerintahkan mereka membawa makanan sisa sarapannya tadi.


"Lalu apa yang harus saya lakukan disini pangeran?. Saya tidak mungkin hanya duduk diam saja." Tanya Xena.


"Kau hanya perlu menemaniku disini." Jawab Pangeran Alaric


Xena tidak mau mendengarkan perintah pangeran Alaric untuk menemaninya. Tak mungkin bagi Xena untuk terus berdiam diri berdua dengan lelaki yang sangat dia benci. Xena membereskan tempat tidur pangeran, mengelap semua debu yang ada disana, walau sebenarnya kamar pangeran sangat bersih. Karena kamar itu dibersihkan tiga kali dalam sehari, pagi, siang dan malam hari sebelum dia akan beristirahat.


Xena terus membersihkan kamar itu walau pangeran melarangnya, sampai terdengar suara seorang pengawal yang memberitahukan bahwa jenderal Conrad datang ingin bertemu dengan pangeran Alaric.


"Suruh dia masuk." Perintah pangeran Alaric.


Tak lama kemudian, jenderal Conrad pun sudah berada di ruangan pribadi pangeran. Dahinya sedikit mengerut, saat melihat Xena ada disana, karena dia belum mengetahui tentang Xena yang menjadi pelayan pribadi pangerannya.


"Ada apa paman?." Tanya pangeran Alaric, menyadarkan Conrad.


"Ada hal penting yang ingin hamba sampaikan pangeran." Jawab Conrad.


"Apa itu?." Tanya pangeran.


Mata jenderal Conrad melirik ke arah Xena, dan Xena mengerti maksud jenderal Conrad, yang tak mau dirinya mendengar pembicaraan mereka. " Saya permisi." Ujar Xena sangat senang, karena dia bisa keluar darisana. Namun baru saja Xena hendak keluar, suara Alaric menghentikan langkahnya.


"Kau boleh keluar dari kamarku, tapi kau tidak aku ijinkan keluar dari istanaku. Kau tunggu diluar kamarku, karena setelah pembicaraan kami selesai, aku akan mencarimu." Kata Alaric membuat kekesalan Xena memuncak, karena Alaric yang bersikap sesuka hati padanya. Xena menutup mata dan menghela nafas, mencoba meredam amarah yang dirasakannya.


"Baik yang mulia. Hamba tidak akan kemana-mana. Hamba akan setia menunggu yang mulia di luar." Ujar Xena lembut namun sarkastik.


Xena yang kesal, terus saja menggerutu, mengumpat dan memaki pangeran Alaric yang sangat menyebalkan baginya. Sepertinya dia memang benar-benar ingin aku membunuhnya. Orang menyebalkan seperti dia memang harus dilenyapkan. Gerutu Xena dalam hati.


Sudah cukup lama Xena menunggu, tapi jenderal Conrad tidak juga keluar dari kamar pangeran. Karena bosan, Xena melangkahkan kakinya menuju jendela yang terbuka, menghadap ke arah taman dan istana ratu. Rasa kesalnya tiba-tiba hilang saat matanya melihat beraneka bunga yang sangat cantik bermekaran di taman istana. Senyumnya langsung mengembang melihat indahnya taman bunga itu, rasanya ingin sekali dia menginjakkan kakinya disana.


Saking asiknya, Xena tidak menyadari kehadiran seorang pelayan yang memperhatikannya dari tadi, dan saat ini pelayan itu mendekatinya. "Siapa kau?." Tanyanya membuat Xena tersentak. Dia lalu membalikkan badan, dan pelayan itu terlihat sangat terkejut.


"XENAAA!! Sedang apa kau disini?." Tanya pelayan itu, yang tak lain adalah kakaknya sendiri, Audrey.


"Kakak!! Seru Xena senang.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kau disini?." Tanya Audrey.


"Tentu saja aku sedang bekerja disini." Jawab Xena.


"Jangan bohong padaku. Kau itu seorang tukang masak di dapur istana, lalu kenapa kau ada disini?. Apa yang kau lakukan?." Selidik Audrey.


"Aku...aku tadi hanya diminta mengantarkan sarapan ke sini." Jawab Xena.


"Lalu kenapa kau masih disini?." Tanya Audrey.


"Aku......aku.....aku....."


"Aku yang memintanya tinggal disini." Suara pangeran Alaric tiba-tiba terdengar membuat kedua gadis itu kaget, dan langsung menunduk.


"Kenapa?. Apa kau keberatan?." Tanya Alaric pada Audrey.


"Tidak pangeran. Hamba hanya bertanya saja padanya." Jawab Audrey.


"Aku lihat tadi kalian sepertinya sangat akrab. Apa kalian memang sudah saling mengenal sebelumnya?." Tanya Alaric pura-pura.


Xena dan Audrey saling pandang, lalu Audrey menjawab, "Tidak pangeran. Kami tidak saling mengenal sebelumnya. Oleh karena itu saya tadi bertanya padanya sedang apa dia disini, karena saya tidak pernah melihat dia di istana pangeran." Jawab Audrey, membuat Xena merasakan sesuatu dihatinya saat ini. Dia tidak mengerti kenapa Audrey tidak mau mengakui kalau mereka bersaudara.


Pangeran Alaric yang terkejut mendengar jawaban Audrey, menolehkan pandangannya ke arah jenderal Conrad yang juga merasa terkejut mendengar jawaban Audrey, yang menyebutkan kalau dirinya dan Xena tidak saling mengenal, padahal jelas-jelas mereka bersaudara.


"Kalau kau tidak mengenalnya, lalu kenapa kalian bisa tinggal dirumah yang sama?." Tanya Conrad, membuat Audrey tercekat. Audrey melupakan sesuatu. Dia lupa kalau jenderal Conrad tahu dirinya dan Xena adalah kakak adik.


Bodoh!! Kenapa aku bisa lupa, kalau jenderal Conrad tahu tentang aku dan Xena. Kenapa aku tidak ingat kalau dia lah yang membawa aku dan Xena ke istana ini. Dasar bodoh!! Apa yang harus aku katakan sekarang?. Gumam Audrey dalam hati


.


.


Berambung🌄*