Xena

Xena
ZENA @BAB 25



"Dasar wanita tua sialan. Awas kau. Suatu hari nanti aku pasti akan membalas semua perbuatanmu." Gumam Audrey penuh dendam.


"Berisik!! Apa kau sengaja mentertawakanku burung sialan?. Pergi kau dari sini." Teriak Audrey saat ada seekor burung berkicau hinggap di ranting pohon dimana dirinya diikat. Dia tidak tahu kalau burung itu adalah strobi, yang sengaja Xena perintahkan untuk mengawasinya


Audrey di ikat dipohon sampai menjelang waktu tidur dan dia sama sekali tidak beri makan dan minum. Setelah itu Kalla melepaskannya dan membawa Audrey ke kamar lain, dan dia dibiarkan tidur sendirian disana tanpa selimut apalagi alas tidur.


Audrey melihat ada satu piring makanan dan satu gelas air minum disana. Tanpa membuang waktu dia langsung memakannya karena memang sudah sangat kelaparan. Tak lama setelahnya dia pun tertidur dengan lelap.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di rumah kakek Abraham


Sore hari seperti biasanya, Xena sedang menyiram bunga dan tanaman lain dihalaman rumah. Sayup-sayup suara kicauan burung tersengar dari kejauhan. Xena tahu betul itu adalah suara strobi, burung peliharaanya.


Strobi hinggap di atas pagar rumah. Dia terus berkicau dan Xena mengerti apa maksudnya.


Strobi memberi tahunya kalau Audrey sedang tidak baik-baik saja di istana. Xena masuk dan memberitahukan kabar itu pada kakek dan neneknya.


"Aku harus kesana kek. Aku takut terjadi apa-apa pada kak Audrey." Ujar Xena.


"Tapi bagaimana mungkin kau melakukannya Xena. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam istana. Kau pasti tidak akan diijinkan masuk." Kata kakek Abraham


"Aku memang tidak akan masuk, aku bisa menemui dia diluar istana kan kek?."


"Entahlah Xena, kakek tidak yakin."


"Tidak ada salahnya kan kita mencoba. Aku juga tahu kakek dan nenek pasti mengkhawatirkan kak Audrey kan?. Jadi ijinkan aku pergi kesana untuk memastikan keadaanya."


Xena terus berusaha membujuk dan meyakinkan kakek Abraham, hingga akhirnya dia mengijinkan Xena untuk pergi.


"Baiklah, kakek ijinkan kamu. Tapi kamu jangan pergi sendirian. Kakek mau kamu pergi bersama paman Yacob."


"Tapi kalau paman pergi bersamaku, lalu siapa yang akan membantu kakek di ladang?." Tanya Xena. Kakek Abraham diam.


"Kakek tenang saja, aku akan meminta Aiden menemaniku ke istana, jadi paman tidak perlu pergi. Lagipula Aiden itu mempunyai teman di istana, jadi mungkin saja kami akan diijinkan masuk nanti." Ujar Xena.


"Baiklah, terserah kamu." Jawab kakek Abraham.


Xena lalu pergi menemui Aiden, memintanya untuk menemaninya pergi ke istana besok pagi, dan tentu saja Aiden mau mengantarnya.


πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„


Esoknya, pagi-pagi sekali Aiden dan Xena berangkat ke istana dengan menunggangi kuda. Ini adalah pertama kalinya Xena pergi jauh meninggalkan rumah kakeknya, tak heran jika kakek Abraham dan nenek Gloria sangat mengkhawatirkannya. Walau kakek Abraham tahu cucunya itu menguasai ilmu beladiri, dia tetap saja mengkhawatirkannya.


Sebaliknya dengan Xena yang tampak sangat menikmati perjalanannya ini. Dia tampak senang bisa menunggangi kudanya dalam jarak yang sangat jauh seperti sekarang.


"Kau capek Xena?. Apa kau mau istirahat sebentar?." Tanya Aiden.


"Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin cepat sampai di istana, jadi kita jangan buang-buang waktu." Sahut Xena.


"Kau sungguh tidak capek?." Tanya Aiden memastikan.


"Tidak. Kenapa?. Apa kau capek?." Xena balik bertanya.


"Kau yakin?." Tanya Xena lagi.


"Iya aku yakin." jawab Aiden.Tak lama kemudian, mereka pun tiba di dekat gerbang kastil. Xena tertegun melihat betapa kokoh dan menjulang tinggi bangunan kastil itu, memancarkan aura keagungan dan keamanan, juga pertahanan kerajaan tersebut.


Mata indah Xena menjelajahi setiap sudut kastil. Nampak para pengawal lengkap dengan baju baja memegang senjata dan perisai berdiri disetiap sudut kastil itu, menandakan kalau kerajaan ini memang di jaga dengan begitu ketat, dengan benteng pertahanan yang juga terlihat begitu kuat dan tak mudah dikalahkan.


Xena dan Aiden sudah berdiri di depan pintu gerbang kastil. Beberapa orang pengawal bersenjata lengkap, berbaris saling berhadapan.


"Apa kita akan diijinkan masuk?." Tanya Xena tiba-tiba.


"Menurut kamu?." Tanya balik Aiden sambil tersenyum.


Mereka lalu menghampiri dua orang pengawal yang berdiri paling depan.


"Selamat siang."sapa Aiden.


"siang!! Sahut penjaga itu."Siapa kalian?. Ada perlu apa datang kemari?." tanyanya.


"Saya Aiden, dan ini Xena. Kami datang kemari ingin bertemu jenderal Conrad." Kata Aiden.


"Jenderal Conrad?. Memangnya siapa kalian?. dan apa kepentingan kalian sampai ingin menemui jenderal besar Conrad?." Tanya penjaga itu


"Saya adalah bawahan tuan Frederick, Beberapa waktu yang lalu saya menitipkan saudara saya untuk bekerja menjadi pelayan di istana ini. Dan kata jenderal Conrad saya bisa menemuinya sesekali. Jadi kedatangan kami kesini ingin menemuinya, sebentar saja. Bolehkan tuan?." Tanya Aiden.


Para penjaga itu saling pandang. Lalu memandang Aiden dan Xena dari atas sampai bawah.


"Apa kau punya bukti yang bisa meyakinkan kami kalau kau benar-benar mengenal jenderal Conrad?." Tanya penjaga itu.


"Ada." Jawab Aiden lalu mengeluarkan sebuah koin emas dan menunjukannya pada si penjaga. Koin itu adalah koin identitas kerajaan yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya. Penjaga itu pun percaya dan membiarkan Aiden dan Xena masuk setelah mereka diperiksa terlebih dahulu. Aiden tersenyum dalam hatinya, karena senang pengawalnya itu sama sekali tidak mengenalinya. Selain itu di juga senang karena para penjaga melakukan tugas mereka dengan baik.


Gerbang kastil terbuka. Aiden dan Xena lalu masuk dan kembali berjalan menuju gerbang istana. Di sini tampak lebih banyak penjaga dibandingkan di luar gerbang kastil tadi. Aiden dan Xena kembali mendapatkan pertanyaan yang sama dari penjaga istana, Aiden pun menjawab seperti tadi, dan menunjukan koin itu, tapi kali ini penjaga gerbang istana tidak percaya begitu saja.


"Darimana kau bisa mendapatkan koin ini?. Apa kau mencurinya?." Tanya penjaga itu sarkastik.


"Tidak, aku tidak mencurinya. Jenderal Conrad sendiri yang memberikan koin itu padaku." Jawab Aiden.


"Kau jangan berbohong. Mana mungkin jenderal besar Conrad memberikan koin ini pada orang biasa sepertimu."


"Aku tidak berbohong. Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh menanyakannya langsung. Dan saya mohon sampaikan pada beliau kalau saya ingin menemuinya." Ujar Aiden.


"Baiklah. Kita buktikan. Kita lihat kebenarannya. Kita lihat saja apa jenderal besar Conrad benar-benar mengenalmu dan mau menemuimu." Kata penjaga itu dengan nada mengejek.


Sedetik kemudian, pintu gerbang istana terbuka. Semua penjaga menoleh dan langsung menunduk hormat saat mereka melihat jenderal Conrad keluar dari gerbang istana.


Aiden tersenyum lalu menundukan kepala. Sedangkan jenderal Conrad tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat dia melihat Aiden ada dihadapannya bersama Xena, pasalnya baru saja dia bertemu dengan pangeran Alaric di dalam istana dan dialah yang meminta Conrad pergi ke gerbang istana.Ternyata pangerannya yang asli datang, dan Conrad yakin dia sedang membutuhkan bantuanya.


.


.


Bersambung🍁🍁🍁