
Ray mengantar Xena ke rumah sakit. Ia menggunakan mobil yang ia pakai bersama Reno dan Galang. Ia menggenggam tangan Xena untuk menenangkan ke khawatiran kekasihnya itu.
Meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia percaya itu pasti darurat. Karena tidak mungkin Xena terlihat sangat cemas, kalau tidak ada apa-apa.
"Ray bisakah kau sedikit lebih cepat?" tanya Xena dengan nada cemas
"Ya" ucap Ray, ia menambah kecepatannya tanpa banyak bertanya.
Setelah sampai, Xena langsung bergegas ke ruangan rawat inap Olive. Ray mengikuti Xena dari belakang, bahkan mereka lupa menggunakan masker.
Untungnya tidak banyak orang di sana, jadi tidak ada yang menyadari keberadaan mereka. Melihat kedatangan Xena, Wenda mamanya Vano dan Olive terkejut. Namun ia lebih terkejut lagi saat ia melihat Ray, aktor papan atas tanah air yang kini ada di depannya.
Wenda menghela nafas, dalam hati ia berpikir. Wajar saja Xena cepat move on dari Vano. Kalau gantinya seperti Ray, semua orang akan cepat oleng dan melupakan Masa lalunya.
Bukannya merendahkan putranya sendiri, ia bangga dengan Vano yang tampan dan cerdas. Hanya saja Ray terlihat lebih berkarisma.
Wenda tidak menyalahkan Xena yang sudah beralih hati dan tidak lagi mencintai putranya. Karena ia tahu jika putranya yang telah membuang kesempatan di depan matanya, tanpa menyadari perasaan yang sebenarnya.
Ia hanya berharap Vano bisa segera mengikhlaskan Xena dan bisa bertemu dengan perempuan yang baik-baik lalu berjodoh.
"Sore tan" sapa Xena sambil Salim sopan, Ray juga melakukan yang sama melihat Xena yang berlaku sopan pada orang tua sahabatnya.
Xena menatap Olive yang sekuat tenaga menahan badan yang bergetar. Orang lain tidak begitu memperhatikan, namun Xena tahu itu. Xena hanya merasa sakit untuk Olive yang bisa terlihat begitu kuat di depan orang lain. Dan ia menyesal dulu tidak menyadarinya juga seperti yang lain.
"Tan, boleh aku ajak Olive ke taman belakang nggak? Biar Olive nggak bosen di kamar terus dan menghirup udara segar" ucap Xena
"Boleh, tapi gimana caranya bawa Olive ke sana?" tanya Wenda.
"Kan bisa Pakai kursi roda Tan" ucap Xena
"Emang kamu kuat gendongnya? Tante nggak kuat Xe. Olive kan keliatannya doang kecil aslinya ia berat loh" ucap Wenda terkekeh
"Kan ada Ray, dia bisa bantu pindahin ke kursi roda, ya kan Ray" ucap Xena sembari menatap Ray.
Ray tentu saja terkejut, ia tidak suka bersentuhan dengan wanita lain. Tapi kali ini yang minta tolong adalah pacarnya, ia tidak bisa mengatakan tidak Jadi ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kalau begitu kamu ajak saja tapi sebelum gelap harus sudah balik. Tante mau istirahat dulu, sambil nunggu om Danu dan Vano pulang" ucap Wenda.
"Iya Tan, beres" ucap Xena.
Xena lalu keluar mengambil kursi roda dan kembali setelah beberapa saat. Xena memberikan kode untuk Ray agar segera mengangkat Olive ke kursi roda. Ray hanya pasrah mengikuti kemauan kekasihnya itu.
"Hati-hati Ray, Olive patah tulang di paha sebelah kiri. Jadi hati-hati saat mengangkatnya" ingat Xena.
Ray mengangguk, ia mencoba menggendong Olive dan memindahkannya ke kursi roda dengan hati-hati. Ia sedikit terkejut saat mendapati tubuh Olive bergetar, padahal ia lihat sekilas Olive seperti baik-baik saja.
Tanpa mengatakan apapun, Ray memindahkan Olive ke kursi roda. Setelahnya Xena yang mendorong Olive keluar kamar dan Ray mengikutinya dari belakang.
Ray mengeryitkan dahinya saat Xena tidak membawa Olive ke taman. Karena arah Xena mendorong kursi roda itu berlawanan arah dengan arah taman, dan ia terkejut saat mereka berhenti di ruangan SpKJ alias Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa.
Namun Ray tidak mengatakan apapun setelahnya. Karena tidak baik menanyakan itu sekarang dan waktunya tidak tepat.
"Ray, Kamu bisa tunggu di sini, atau di bangku lorong sebelah" ucap Xena
"Hmm aku menunggumu di sini saja" ucap Ray
"Ini kamu pakai, takut ada yang ngenalin kamu" ucap Xena memberikan masker dan topi dari tasnya ke Ray.
Ia kemudian duduk di bangku depan ruang SpKJ. Di sana tidak ada orang lain selain dia.
Sedangkan Xena dan Olive sudah masuk ke ruangan Dokter yang bernama Ratna. Di kehidupan yang lalu, Xena mengingat jika Dokter Ratna adalah psikiater muda berbakat, yang memiliki banyak penghargaan dan pernah masuk majalah sebagai orang yang bisa menginspirasi banyak orang.
Saat itu dia berhasil menyembuhkan penyakit kejiwaan seorang wanita yang memiliki gangguan bipolar disorder dan anxiety disorder dengan waktu yang sangat cepat.
Dan penghargaan itu ia terima setahun dari sekarang, jadi saat ini ia belum terkenal dan blum banyak orang mengenalnya, karena masih baru menjadi seorang psikiater. Jadi Xena yakin Dokter Ratna mampu menyembuhkan Olive.
Dan kemarin setelah dari menjenguk Olive, Xena mengetahui Dokter Ratna praktek di rumah sakit ini dan langsung memutuskan untuk menemuinya lalu menceritakan keluhan Olive.
"Hallo Dokter Ratna" sapa Xena
"Hallo nona Xena, apa ini sahabat anda yang bernama Olive?" tanya Dokter Ratna
"Ya, tolong sahabat saya Dok. Traumanya kambuh sekarang dan badannya terus gemetar ketakutan" ucap Xena.
"Tentu" ucap Dokter Ratna.
Dokter Ratna tahu jika Olive baru melakukan operasi jadi ia tidak menyuruhnya turun dari kursi roda. Setelah melakukan analisis dan pemeriksaan, Dokter Ratna memberikan obat dan langsung di minum oleh Olive saat itu juga.
Olive merasa lebih baik setelah meminum obat itu, tubuhnya menjadi lebih rileks.
"Bagaimana dok?" tanya Xena
"Sepertinya kamu harus melakukan terapi khusus. Dan harus di lakukan seminggu dua kali agar hasilnya cepat membaik. Setidaknya butuh waktu 2 atau 3 bulan agar trauma kamu hilang sepenuhnya" ucap Dokter Ratna
"Bagaimana Liv?" tanya Xena pada sahabatnya
"Aku nggak masalah Xe, yang penting aku sembuh. Aku nggak mau repotin orang lain dan buat orang lain khawatir, aku juga nggak nyaman kalau terus-terusan begini" ucap Olive
"Baiklah kalau begitu kita buat jadwal kontrolnya ya, jadi jadwalnya setiap hari Senin dan Kamis jam 2 siang. Dan jangan lupa ini resep obat yang harus di tebus. Ada dua jenis, yang bentuk kapsul di minum setiap hari sebelum tidur, itu ada 7 kapsul. Kita lihat selama 7 hari apa ada perubahan atau tidak, baru di lakukan tindakan lain. Dan obat yang bulat hanya di minum saat gejala trauma muncul" jelas Dokter Ratna.
"Baik, terimakasih Dok" ucap Xena dan Olive bersamaan
"Sama-sama, semoga Tuhan mempertemukan kita sebagai perantara kesembuhan kamu ya Liv. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia, jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Jalani saja dan jangan di buat beban, oke" ucap Dokter Ratna memberi semangat.
"Iya Dok" ucap Olive mengembangkan senyumnya.
Setelahnya Xena mendorong kursi roda Olive keluar ruangan, Ray melihat keduanya keluar menghampirinya.
"Sudah?" tanya Ray
"Hmm, sudah. Tapi kita tebus obat dulu" jawab Xena
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kasir untuk menebus obat. Setelahnya berjalan ke taman sebentar sebelum kembali ke kamar inap. Setidaknya Olive tidak suntuk seharian di kamar.
Ray hanya diam saja, ia sesekali menyahut saat ia di tanya oleh Xena. Baginya cukup puas saat ia berada di sisi Xena dan melihatnya tersenyum.
Namun selalu ada saja penganggu yang datang mengacaukan kebahagiaan mereka.
"Wanita j*lang!!!" teriak seseorang yang tiba-tiba datang meneriaki Xena dan bergegas berlari menghampiri Xena.
...•••••...