Xena

Xena
XENA @BAB 31



Xena sangat peduli dan mengkhawatirkan Audrey, sebaliknya dengan Audrey yang seolah tidak peduli pada Xena. Bahkan sampai saat ini tidak ada satu orang pelayan pun yang mengetahui kalau mereka bersaudara. Audrey yang melarang Xena mengatakannya.


"Kenapa aku harus mengkhawatirkan dan mengawasinya?. Dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri."


"Tidak Xena. Walaupun dia sudah dewasa dan lebih tua darimu, kau tahu sendiri bagaimana sifatnya kan?. Jadi kau tetap harus tetap mengawasinya. Kau harus ingat, tujuan kamu datang ke istana ini, karena ingin melindungi dia?."


"Tapi dia sendiri tidak mau dan tidak suka dengan kehadiranku. Jadi apa yang harus aku lakukan?. Dialog Xena dalam hatinya.


....


Audrey dan ketiga pelayan lain sudah berada di istana pangeran, memulai pekerjaan pertamanya disana. Begitupun pelayan-pelayan lainnya yang juga sudah bekerja dibagiannya masing-masing.


Tak lama kemudian, pangeran Alaric, Conrad dan beberapa pengawalnya memasuki istana. Mereka semua baru kembali setelah hampir satu minggu lamanya meninggalkan istana untuk berburu.


Semua pelayan dan pengawal yang ada di istana itu menunduk hormat, termasuk Audrey. Melihat Audrey ada di istananya, pangeran Alaric sedikit terkejut dan refleks menatapnya. Audrey!! Kenapa dia ada disini?. Tanyanya dalam hati. Hampir saja pangeran Alaric menyapa Audrey kalau dia tidak ingat kalau saat ini dirinya adalah Alaric dan bukan Aiden. Dan keadaan ini membuat Audrey salah paham. Dia pikir pangeran Alaric tertarik padanya. Audrey tahu pangeran Alaric menatapnya cukup lama. Senyuman terukir di wajah Audrey mengingat hal itu.


Pangeran Alaric ternyata benar-benar sangat tampan. Aku harus bisa mencuri perhatiannya. Dan sepertinya dia juga tertarik padaku. Aku harus berterima kasih pada nyonya Kalla, karena dia sudah menempatkanku disini.


Selama ini aku pikir nyonya Kalla tidak menyukaiku, dan lebih menyukai Xena, tapi ternyata dugaanku salah. Kalau dia membenciku, dia tidak mungkin menempatku disini. Sedangkan Xena, dia tempatkan di dapur istana. Walau sama-sama pelayan, setidaknya tempatku bekerja lebih terhormat, jika dibandingakn dengan Xena yang hanya jadi pelayan di dapur istana. Gumam Audrey dalam hati.


Audrey tidak tahu, Kalla sengaja menempatkannya di istana pangeran, hanya karena ingin memastikan apa pangeran Alaric akan melirik Audrey atau tidak. Dan untuk Xena, Kalla juga sengaja menempatkan dia di dapur istana, karena menurutnya dan Ellie masakan Xena sangat enak. Audrey tidak tahu kalau Xena ditunjuk menjadi tukang masak di dapur istana. Kedudukan Xena jelas lebih tinggi dari Audrey.


πŸ”…πŸ”…πŸ”…πŸ”…πŸ”…πŸ”…


Di dapur istana, Xena terlihat sibuk membaca menu masakan yang akan dia dan beberapa tukang masak istana siapkan untuk makan siang semua penghuni istana. Ada petugas khusus yang selalu mengawasi mereka selama memasak.


Ada tiga orang tukang masak senior yang dipercaya memasak makanan untuk Raja, ratu dan juga pangeran. Ketiga orang itu sudah hapal dengan baik, makanan apa yang disukai atau tidak disukai oleh raja dan keluarganya. Masing -masing dari ketiga orang tersebut memasak diwaktu yang berbeda. Tukang masak pertama memasak untuk makan pagi. Tukang masak kedua untuk makan siang, dan tukang masak ke tiga memasak untuk makan malam.


Xena sendiri saat ini ditugaskan untuk membantu ketiga tukang masak senior tadi sekaligus memasak untuk para pelayan. Dibantu beberapa pelayan lainnya, Xena pun mulai mengerjakan pekerjaanya dengan semangat.


...


Jam makan siang sudah tiba. Para pelayan datang mengantarkan makan siang ke istana pangeran, dan menatanya di meja makan pribadi pangeran, setelah sebelumnya seorang petugas memeriksa dan mencicipi makanan tersebut.


"Kalian boleh keluar dan istirahat" Titah Conrad pada semua pelayan wanita yang ada di istana pangeran. Mereka pun keluar dari sana, termasuk Audrey.


"Apa paman tahu kenapa Audrey bisa ditempatkan disini?." Tanya Pangeran Alaric.


"Maafkan hamba pangeran!! Tapi hamba tidak tahu. Apa pangeran tidak suka nona Audrey ditempatkan disini?." Jawab sekaligus tanya Conrad.


"Tidak paman, bukan begitu. Aku hanya sedikit terkejut dan hampir saja aku menyapanya tadi." Jelas Alaric. "Oh ya, apa paman tahu dimana mereka menempatkan Xena?." Tanya Alaric lagi.


"Menurut anak buah kita, Xena ditempatkan di dapur istana pangeran." Jawab Conrad


"Dapur istana?." Ujar Alaric


"Benar pangeran!! Sahut Conrad.


"Menurut Kalla, masakan nona Xena sangat enak. Jadi dia menempatkannya disana." Jawab Conrad.


"Itu memang benar. Masakan Xena memang sangat enak." Sahut Alaric. Seketika dia teringat saat-saat dimana dirinya dan Xena sering makan bersama di rumah kakek Abraham. " Oh ya paman, apa dia yang memasak makanan ini?." Tanya pangeran Alaric seraya menolehkan pandangannya pada semua makanan yang sudah tersaji di meja makannya.


"Maafkan hamba pangeran. hamba tidak tahu." Jawab Conrad.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan mencicipinya. Kita lihat apa ini masakan Xena atau bukan. Ayo paman!! Kita makan." Ajak pangeran Alaric. Tentu saja Conrad menolaknya. Mana mungkin dia akan makan bersama pangerannya, karena itu jelas tidak sopan.


Setelah menikmati makan siangnya, pangeran Alaric tahu ini semua bukan masakan Xena.


.....


Xena dan beberapa orang pelayan lainnya juga sedang menikmati makan siangnya di dapur istana. Sedangkan Audrey dan para pelayan yang bekerja di istana, menikmati makan siang mereka di ruang makan khusus untuk para pelayan muda seperti biasanya.


Makan siang kali ini terasa lebih enak, membuat para pelayan lebih berselera. Ini adalah kedua kalinya para pelayan merasakan perbedaan itu, setelah mereka menikmati makan siang dengan ikan goreng buatan Xena waktu itu.


"Rasa masakan ini sangat enak. Beda dari sebelumnya."


"Iya benar. Sepertinya sekarang mereka tidak asal-asalan lagi memasak buat kita."


"Apa mungkin ya tukang masaknya diganti?."


"Kenapa kalian harus memikirkannya?. Makan saja makanan kalian. Mau enak ataupun tidak kita semua tetap harus menerimanya kan."


"Iya aku tahu itu. Aku hanya berpendapat saja. Apa tidak boleh?."


" Sudah-sudah. Mending cepat habiskan makanan kalian, sebelum nyonya Kalla datang dan memarahi kita."


Itulah percakapan yang terjadi diantara para pelayan muda di ruang makan. Audrey hanya mendengarkan dengan acuh. Dia juga mengakui rasa masakan siang itu memang enak, tapi dia tidak terlalu peduli karena yang penting baginya sekarang adalah dia sudah ditempatkan di istana pangeran. Dia tidak peduli lagi dengan hal lainnya. Dengan posisinya sekarang Audrey merasa dirinya lebih segalanya dari pelayan lain. Dia semakin angkuh dan tinggi hati.


Audrey sengaja memanas-manasi Matilda dan mengejeknya, membuat Matilda merasa kalah dan terpancing emosi. Dia menarik rambut Audrey dengan kasar dan kali ini Audrey berani melawan. Dia menarik baju Matilda lalu mencakar pipinya.


"Sudah, cukup!! Hentikan!! Kalian bisa dihukum kalau nyonya Kalla atau nyonya Ellie melihat semua ini. Sudah cukup Audrey, Matilda.!!" Ujar Barsha seraya berusaha memisahkan Audrey dan Matilda, dibantu pelayan lainnya.


"Awas kau Audrey!! Aku pasti akan membalasmu.'


"Kau pikir aku takut?. Aku tunggu pembalasanmu." Sahut Audrey dengan senyum miringnya.


.


.


.


Bersambung☘️☘️☘️