Xena

Xena
47. Merawat Ray



Xena langsung bergegas menuju ke alamat apartemen yang di kirim Galang. Setelah sampai, ia menyuruh supirnya untuk pulang, lalu ia mengirim pesan ke Galang jika ia sudah berada di lobby apartemen.


"Xena..." panggil Galang yang melambaikan tangan dari kejauhan sambil berjalan mendekat.


Xena yang mendengar namanya di panggil menoleh dan berjalan menghampiri Galang. Galang langsung membawa Xena naik Lift menuju apartemen Ray berada.


"Kenapa Ray bisa sakit?" tanya Xena cemas saat keduanya berada di lift.


"Dia melakuan adegan syuting di bawah guyuran hujan. Dan lawan mainnya selalu melakukan dialog yang salah, jadi itu memakan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan satu take adegan. Saat pulang, aku baru menyadari jika ia demam dan tidak sadarkan diri" ucap Galang.


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?" tanya Xena semakin cemas saat mendengarnya.


"Dengan identitas Ray yang seorang artis papan atas, itu akan membawa gosip yang tidak-tidak. Jika itu bukan keadaan darurat, aku tidak bisa mengambil resiko tanpa izin membawanya ke rumah sakit. Makanya aku memberitahu kamu, karena aku tidak tahu cara merawat orang sakit" ucap Galang.


TING!


Pintu lift terbuka, keduanya bergegas keluar dan masuk ke apartemen milik Ray.


Begitu masuk ke apartemen milik Ray, Xena terkejut saat matanya tidak sengaja melihat fotonya bersama Ray di pajang di atas meja dekat TV. Di sampingnya terdapat lemari kaca yang memajang berbagai penghargaan milik Ray.


"Xe, ayo masuk. Ini kamar Ray!" ucap Galang.


Xena pun masuk, ia semakin terkejut saat foto ia dan Ray tercetak besar dan di gantung di tembok kamar Ray. Perasaan Xena saat ini campur aduk, antara senang bangga juga terharu.


Melihat Ray yang berbaris di kamarnya, Xena mendekat dan meletakan telapak tangannya ke dahi Ray. Ia sangat terkejut saat tahu panasnya begitu tinggi.


"Apa dia sudah makan dan minum obat Lang?" tanya Xena.


"Belum, ia belum sadar sejak tadi dan terakhir makan saat siang tadi" ucap Galang.


"Tolong ambilkan Air hangat di baskom dan juga handuk kecil" ucap Xena


Galang langsung mengikuti arahan Xena, beberapa saat kemudian ia kembali dengan baskom dan handuk kecil di tangannya.


Xena mengecek suhu air, setelah di rasa pas ia memeras handuk yang ia celupkan ke air hangat itu lalu mengompres Ray.


"Apa ada obat? Dan bahan makanan di dapur?" tanya Xena


"Hmm, itu di sana ada kotak obat, semua bahan makanan ada di kulkas, kalau beras ada di rak bawah dapur" ucap Galang


"Hmm, nanti aku lihat dulu ada obat demam atau tidak. Aku juga ingin buatkan bubur dulu untuk makan Ray, tolong jaga Ray sebentar ya Lang. Tolong oleskan minyak kayu putih ke telapak tangan, kaki dan juga perutnya " ucap Xena yang di angguki Galang.


Xena kemudian keluar kamar menuju dapur. Ia bergegas membuatkan bubur untuk makan Ray. Setengah jam kemudian bubur sudah siap dan ia bawa ke kamar Ray dan Xena meletakannya di meja nakas.


Galang pamit keluar kamar, jadi hanya ada Xena dan Ray di dalam kamar. Xena mengambil obat demam dan juga minyak kayu putih di atas meja nakas yang tadi di gunakan Galang.


Dengan sigap Xena menuangkan minyak kayu putih di telapak tangan nya, kemudian dekatkan di hidung Ray. Dengan pelan ia menepuk dan memanggil Ray untuk bangun.


"Ray, bangun Ray" ucap Xena


Ia sebenarnya tidak tega membangunkan Ray, hanya saja Ray harus makan dan minum obat sebelum beristirahat.


Dengan pelan ia coba membangunkan Ray, perlahan mata itu terbuka. Ray terlihat tersenyum dan bergumam pelan, namun masih di dengar oleh Xena.


"Aku sangat merindukanmu, sampai-sampai bayangan kamu menghiasi mataku, atau aku sedang bermimpi bertemu kamu sayang" gumamnya lirih.


Mendengar itu hati Xena terenyuh, ia sangat terharu jika ada orang yang benar-benar mencintai dirinya sampai seperti ini.


"Kamu tidak bermimpi, aku ada di depanmu sekarang. Apa yang kamu rasakan, apa ada yang terasa sakit?" ucap Xena lembut.


Xena membantu kekasihnya itu duduk dan menyusun bantal untuk Ray menyandar.


"Sayang, jadi aku tidak mimpi?" tanya Ray dengan lirih.


"Hhm, ini nyata. Apa ada yang sakit?" tanya Xena lagi yang di jawab gelengan kepala Ray.


"Kalau gitu, Kamu makan dulu hmm, aku sudah buatkan bubur" ucap Xena lembut


Ray mengangguk patuh, ia memakan bubur yang dengan telaten di suapi Xena. Matanya terus menatap ke wajah cantik kekasihnya itu.


"Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Xena saat tahu Ray terus menatapnya.


"tidak ada, aku hanya melihatmu karena kamu sangat cantik" ucap Ray tersenyum lembut di wajah pucatnya.


Xena tersipu, ia heran mengapa mulut Ray sangat manis dan selalu mengeluarkan kata-kata rayuan untuknya.


"Sayang, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Ray


"Galang yang memberi tahu ku kamu sakit. Apa kamu tidak rutin meminum Vitamin, bisa sampai sakit gini? Lain kali jangan terlalu memaksakan jika tubuh kamu sudah merasa tidak enak" ucap Xena


Mendengar itu, Ray tersenyum, hatinya merasa hangat dan sangat senang dengan perhatian Xena. Ternyata mempunyai pacar sangat menyenangkan dan membuatnya terus bahagia.


"Terimakasih sudah datang, maaf merepotkan mu" ucap Ray


"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah kita pasangan? Bukankah sudah wajar jika aku menjaga dan merawat pacar sendiri?" ucap Xena tanpa sadar.


"Aku senang mendengar kamu mengakui hubungan kita. Aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai pacarku Xena, aku mencintaimu" ucap Ray tersenyum hangat menatap Xena.


Xena yang menyadari ucapannya hanya diam dan sedikit menunduk karena malu. Kenapa mulutnya begitu mudah mengatakan itu.


Melihat kekasihnya yang menunduk malu membuat Ray gemas.


Setelah selesai menyuapi Ray makan, Xena memberikan obat demam. Ray sama sekali tidak melepas pandangannya dari wajah Xena. Karena malu Xena hendak beranjak dari sana, namun tangannya di tarik oleh Ray dan jatuh di pelukan Ray dengan wajah saling berpandangan dan hanya berjarak beberapa senti saja.


"Mau kemana?" tanya Ray dengan berat dan serak, terdengar begitu seksi di telinga Xena.


"A-aku ma-mau membereskan peralatan makan" ucap Xena gugup.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Boleh aku mencium mu?" tanya Ray.


"Kenapa kamu menanyakannya? Bukannya kamu orang yang suka nyo...." ucap Xena terpotong.


Cup!


Ray mengecup ringan bibir Xena, membuat wajah Xena semakin memerah. Jangan lupakan jantung keduanya yang seakan berlomba untuk tahu siapa yang berdetak lebih kencang.


"Itu berarti kau mengizinkannya, jadi aku mengecupnya" ucap Ray tersenyum nakal. Xena hanya terdiam saking terkejutnya saat ciuman keduanya di ambil juga.


"Andai aku tidak sedang sakit dan takut menularkannya padamu. Aku pastikan bibirmu akan kebas karena aku l*mat sampai pagi" ucap Ray dengan senyuman dan kerlingan matanya nakal.


Blush!!!!


"Ray, kenapa kau senang sekali menggodaku... Ya Tuhan apa aku akan tahan dengan godaan maha dahsyat di depanku ini" ucap Xena dalam hati.


...•••••...