Xena

Xena
106. Kejadian di depan Stadion



Sesampainya di rumah, Xena melihat mobil miliknya sudah terparkir di halaman rumah, saat ia masuk ke rumah, kedua orang tuanya berada di ruang keluarga sedang menonton TV.


Melihat putri mereka pulang, Indra dan Utami memanggilnya untuk duduk bersama mereka.


"Sayang, apa kamu membeli mobil yang ada di depan?" tanya Utami


Meskipun ia tahu dari orang yang mengantar mobil itu, jika itu milik putrinya. Namun ia tetap menanyakannya pada Xena. Utami tahu jika mobil itu adalah mobil mahal, terlebih ia terkejut saat petugas itu menyerahkan tanda terima. Ternyata Xena langsung membayar penuh mobil itu.


"Iya ma" ucap Xena tidak menutupi apapun.


"Ya Tuhan, itu mobil mahal Xe. Kamu dapat uang dari mana untuk membelinya? Apa itu dari Ray?" tanya Utami lagi.


"Xena memakai uang sendiri kok mah, mama tenang aja. Penghasilan Restoran Xena cukup untuk membeli itu, apalagi Resto sedang ramai-ramainya" ucap Xena tersenyum


"Syukurlah, mama pikir itu dari Ray atau kamu meminta itu darinya. Tidak baik, kalian kan hanya pacaran belum bertunangan apalagi menikah. Mama takut nama baik kamu jelek dan di cap yang tidak-tidak oleh Ray dan keluarganya" ucap Utami.


"Xena tahu itu mah, tenang aja. Xena tahu mana yang baik dan yang tidak" ucap Xena menenangkan kedua orang tuanya.


"Bagaimana keadaan resto Xe?" tanya Indra


"Lancar pah, paling ada kendala kecil aja. Tapi Xena bisa mengurus semuanya kok" ucap Xena


"Kerja bagus nak, kau memang kebanggaan papa dan mama. Kalau ada masalah yang sulit di hadapi, kamu jangan ragu meminta bantuan papa" ucap Indra bangga pada putri satu-satunya itu.


"Tentu, terimakasih mah, pah, mah" ucap Xena terharu dan memeluk kedua orang tuanya.


.....


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Xena sudah berada di kediaman Dirgantara untuk menjemput Olive untuk melihat turnamen bela diri.


Vano yang melihat Xena datang ke rumahnya hanya menyapa Xena ringan. Ia masih canggung dan hatinya masih di liputi rasa bersalah.


Sedangkan Xena menanggapinya biasa saja, ia tidak masalah jika Vano masih canggung padanya. Itu adalah wajar, justru akan jadi pertanyaan kalau Vano bersikap biasa saja setelah Dara menceritakan semuanya.


"Hai Xe, udah lama?" tanya Olive yang sudah berpakaian rapih.


Olive memakai celana kulot agar ia nyaman bergerak. Ia juga masih memakai satu tongkat untuk berjalan.


"Baru kok, Kita berangkat sekarang?" ucap Xena


"Tentu, ayo!" ucap Olive


Keduanya kemudian pamit pada kedua orang tua Olive. Olive terkejut saat melihat mobil baru Mini Cooper milik Xena, ia menganga takjub. Xena hanya terkekeh saja melihat ekspresi sahabatnya itu.


Xena kemudian membantu mendorong bangku untuk Olive agar sedikit mundur. Itu ia lakukan agar olive nyaman dan kakinya bisa leluasa dan tidak sakit.


Olive terharu karena perhatian Xena, jika saja Xena adalah laki-laki, ia pasti menjadikan Xena pacarnya.


"Makasih Xe" ucap Olive


"Sama-sama, pakai sabuk pengamannya kita berangkat sekarang" ucap Xena lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan normal dan hati-hati.


Ia hati-hati bukan karena mobilnya baru, tapi karena ia takut ada polisi tidur dan membuat getaran yang membuat Kaki Olive sakit.


....


Setibanya di stadion tempat turnamen itu di laksanakan, Xena dan Olive mengirimi pesan di group trio mereka bersama dengan Arsy.


Baik Xena maupun Olive mengatakan jika mereka sudah ada di stadion untuk mendukung Arsy. Arsy membalas terimakasih dan minta maaf karena ia sedang ada briefing dengan coach dan tim yang lain. Jadi tidak bisa menghampiri mereka.


"Xe, ada Sempol. Ayo beli" ucap Olive langsung beranjak ke sana. Namun dari arah depan ada seorang wanita yang berbalik dan menabrak Olive hingga ia dan wanita itu berbenturan dan terjatuh.


Xena bergerak cepat untuk menahan Olive agar tidak terjatuh. Dan Xena untungnya Xena tepat waktu untuk menolong sahabatnya itu.


Buk!


"Akkhhhh..." teriak wanita tadi yang menabrak Olive jatuh terduduk.


"Liv, kamu nggak apa-apa?" tanya Xena khawatir.


"Tidak apa-apa Xe, makasih udah nolongin aku" ucap Olive memegang dadanya. Ia merasa lega dirinya tidak terjatuh, ia takut itu akan mempengaruhi kakinya yang patah.


"Apa kau tidak apa-apa? Maaf membuatmu jatuh" ucap Olive merasa bersalah.


"Aku bantu berdiri" ucap Xena ingin membantu wanita itu berdiri.


Namun tangannya di tepis kasar oleh wanita itu. Ia menatap tajam ke arah Olive dan Xena lalu berteriak marah.


"Dasar pincang!! Udah pincang nggak punya mata juga ya!!!" teriak wanita itu, berdiri sendiri sambil berteriak.


"Jaga ucapan kamu!" bentak Xena tidak terima saat wanita itu menghina sahabatnya.


"Gue ngomong apa adanya, dia emang pin..." ucap wanita itu terpotong karena tamparan keras Xena mendarat di pipinya.


PLAK!!!


Suara tamparan itu nyaring hingga membuat semua orang di sana menoleh dan menatapnya ngeri. Meskipun Xena cukup terkenal belakangan ini, namun semua orang masih kurang mengenalinya sebagai pacar dari seorang Ray. Karena mereka jarang muncul di publik, dan Xena hanya beberapa kali mengupload fotonya.


"Beraninya kau!" teriak wanita itu.


"Aku berani, lalu kau mau apa?" ucap Xena menantang.


"Gue akan melaporkan ini ke polisi! Kau tidak tahu gue siapa hah? Gue putri pemilik Hotel Amartha. Udah buat gue jatuh, nampar gue. Si*lan!!!" teriaknya lagi sombong.


Semua orang menatap ke arah Xena seakan ia menyalahkan ia atas apa yang terjadi.


"Nak, kamu keterlaluan menpar gadis ini!" ucap ibu-ibu di sana.


"Harusnya kamu minta maaf bukan malah menamparnya setelah membuatnya jatuh" ucap yang lain juga


Wanita itu tersenyum karena banyak orang yang membelanya.


"Hah... silahkan lapor polisi kalau begitu, kau pikir aku takut?" ucap Xena tidak takut.


"Jangan menghakimi kalau kalian tidak tahu yang sebenarnya" ucap Xena lagi dan menatap semua orang yang menyerangnya.


"Sahabatku berjalan ke arah sini dan wanita itu juga berjalan ke arah yang sama lalu ia berbalik arah secara tiba-tiba, hingga tabrakan dan keduanya terjatuh. Aku menyelamatkan sahabatku karena kondisi kakinya akan memburuk kalau sampai terjatuh ke tanah. Meskipun sahabatku tidak salah, ia tetap minta maaf dan aku juga hendak membantunya berdiri. Tapi wanita ini malah menolak bantuan ku dengan menepis tanganku.


Tidak hanya itu, ia juga memaki dan menghina sahabatku pincang dan buta. Aku menyuruhnya diam tapi ia tidak melakukannya dan ingin mengatai sahabatku lagi. Tentu saja aku marah dan menamparnya. Jika ada yang mau menuntutku silahkan aku tidak takut!!" ucap Xena lantang.


Semua orang yang mendengar ucapan Xena terdiam, mereka kini beralih menatap ke wanita itu. Mereka tahu mereka salah membela orang, saat mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa ini?" suara seorang pria terdengar di sana.


...••••••...