
"Jadi kita mau kemana sekarang, Xe?" tanya Arsy
"Ke resto, kita bicarakan di sana aja ya sekalian makan" ucap Xena
"Ya sudah ayo kita berangkat, perutku sudah berteriak minta di isi" ucap Olive semangat jika soal makanan.
"Makan aja gercep" ucap Vano
"Biarin dih, perut-perut aku, kakak yang repot" ucap Olive
"Lalu motorku gimana?" tanya Arsy
"Udah tenang aja, aku udah minta Gilbert ke sini buat anterin motor kamu ke rumah. Karena pastinya kamu di antar sama kekasih bucinmu ini kan" ucap Ray menunjuk dagu nya ke arah Vano, yang di jawab acungan jempol dari Vano.
"Makasih kak" ucap Arsy tersenyum
"Sesama bucin di larang saling sindir bro" ucap Vano, membuat yang lain terkekeh.
Mereka berlima pun masuk ke dalam mobil berbeda. Xena tentu saja bersama Ray, sedangkan Olive dan Arsy ikut ke mobil Vano.
Di kejauhan Zico mengepalkan tangannya erat, ia mengikuti kemana perginya Xena dan lainnya. Dan itu menuju ke XR Restaurant, Zico mengerutkan keningnya saat mengingat di restoran ini ia juga pernah bertemu dengan Xena.
"Apa ini resto favorit Xena? Ini kali kedua aku lihat kucing kecilku ke sini. Kedepannya aku akan sering kesini" gumam Zico saat menduga jika restoran itu adalah Restoran favorit Xena.
Setelah melihat Xena dan lainnya masuk, Zico pun keluar dari mobil nya dan masuk ke dalam resto.
"Mba, di ruangan nomor berapa orang yang barusan masuk?" tanya Zico pada salah satu resepsionis. Ia yakin jika Xena dan lainnya pasti menyewa ruangan yang ada di restoran itu.
Sayangnya, resepsionis itu adalah resepsionis yang dulu pernah di tanya juga oleh Zico dengan pertanyaan yang sama, sayangnya Zico tidak mengingatnya.
"Maaf tuan, kami di larang memberikan informasi tamu kami pada tamu lainnya" ucap Resepsionis itu sopan.
"Aku adalah salah satu teman salah satu dari mereka dan aku lupa dia di ruangan mana mengajakku bertemu" ucap Zico berpura-pura
"Sekali lagi maaf tuan, tapi tamu barusan tidak mengatakan apapun pada kami, jika ada rekan lainnya yang belum ikut masuk. Beliau hanya memesan untuk lima orang dan yang baru masuk sudah pas lima orang. Kalau tidak, anda bisa menghubungi teman anda dan bertanya langsung" ucap resepsionis tetap sopan.
Ia ingat jika pria tampan di depannya pernah menanyakan hal yang sama padanya, tentu resepsionis itu tidak bodoh. Ia tidak mungkin membocorkan hal tentang bos besarnya.
Lagian resepsionis itu heran dengan pria di depannya, meskipun bisa di tebak jika pria di depannya sedang mencari tahu tentang bosnya. Resepsionis tak habis pikir dengan ketidaktahuan pria tampan itu.
Bukankah jika ia mengenal Bos atau temannya yang lain, harusnya ia tahu jika bosnya itu pemilik restoran ini. Kenapa tingkahnya seperti tidak mengetahui apa-apa tentang bosnya. Begitu pikir resepsionis.
Zico mengeram kesal karena tidak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia juga kesal dengan sistem di restoran yang sangat ketat. Ia memilih meninggalkan Restoran setelah berpura-pura telepon dan tidak di angkat. Ia pun memutuskan untuk menunggu di mobil, sayangnya dia juga tidak beruntung kali ini.
Tok! Tok! Tok!
Kaca mobilnya di ketuk security restoran, Zico pun membuka kaca mobilnya itu.
"Ada apa?" tanya Zico
"Maaf pak, jika tidak ada kepentingan untuk masuk ke Resto, lebih baik bapak mencari tempat parkir di luar area resto" ucap Security dengan nada sopan.
Zico tidak bisa tidak mengerutkan keningnya mendengar ucapan security itu, karena secara tidak langsung ia sudah di usir dari sana.
"Kau mengusirku??" ucap Zico mengetatkan rahangnya menahan emosi.
"Bukan begitu pak, tapi area parkir ini khusus untuk pelanggan restoran bukan untuk area parkir umum. Lihat di sebelah sana pak, sudah ada mobil pelanggan lain ingin masuk dan area parkir di sini sudah penuh. Jadi mohon kerja samanya pak, silahkan cari tempat parkir di tempat lain. Atau bapak mungkin mau masuk ke dalam?" ucap Security itu masih dengan nada sopan.
Semua karyawan Xena memang di wajibkan memiliki attitude yang baik. Karena attitude karyawan terutama Security dan Resepsionis adalah cerminan atau wajah dari Perusahaan atau tempat usaha itu sendiri.
"kalau begitu minggirlah, aku akan keluar sekarang" ucap Zico berusaha menahan kesal, ia tidak mungkin marah-marah dengan security yang sudah menegurnya dengan cara halus.
Terlebih alasan security itu benar adanya, karena Zico melihat tidak ada lagi tempat parkir yang kosong dan ada mobil lain yang masuk.
.....
"Ada apa sebenarnya Xe?" tanya Vano, Setelah semuanya selesai menikmati makanan lezat di sana.
"Hmm aku cuma mau minta tolong aja sih sebenarnya sama kak Vano, tapi aku pikir aku juga harus mengajak Arsy biar nggak salah terjadi paham. Apalagi yang akan aku katakan terkait dengan Arsy" ucap Xena
"Aku? Memangnya kenapa Xe?" tanya Arsy
"Terus kenapa aku dan kak Ray ikut?" olive bertanya-tanya.
"Kamu ikut karena takutnya kamu juga terseret masalah ini Olive dan mas Ray ikut karena suami bucinku ini, aku tebak cemburu saat aku mengatakan ingin membahas sesuatu dengan kalian dan kak Vano" ucap Xena terkekeh mengingat suami bucinnya itu mudah cemburu
"Aku cuma jaga-jaga sayang" ucap Ray menggembungkan pipinya.
"Isshh, meskipun sudah sering lihat dia merajuk sama kamu. Aku masih saja belum terbiasa melihat wajah dingin kakak sepupuku ini, kok bisa jadi seperti ini Xe?" ucap Arsy di sahut gelak tawa oleh semua orang, kecuali Ray yang menatap tajam ke adik sepupunya itu.
"Udah, udah, aku bahas sekarang soal kenapa aku mengajak kalian bicara di sini. Kalian ingat kan kejadian di kantin siang tadi?" ucap Xena, menghembuskan nafasnya.
Mau tak mau ia harus cerita meskipun saat ini ada Ray. Sudah di pastikan suami bucinnya itu pasti bakalan kaget dan marah saat mendengar ada laki-laki yang mengejarnya.
"Oh, soal tuh cowok ganjen yang deketin kamu Xe? Yang di hajar sama Arsy di kantin?" ucap Olive
"APA???" Suara lengkingan itu berasal dari dua orang laki-laki di sana.
"Ada yang deketin kamu? Siapa cowok itu Yang?" tanya Ray mengetatkan rahangnya saat mengetahui ada yang berusaha mendekati istrinya.
"Siapa cowok itu? Kenapa kamu pukul orang yang? Bagaimana kalau tangan kamu terluka? Apa kamu nggak apa-apa?" ucap Vano yang langsung memegang tangan Arsy dan memeriksa keadaan kekasihnya itu.
"Astaga, pemandangan apa ini. Kenapa silau sekali, membuatku buta... Tiger aku jadi merindukanmu, pulang dari sini pokoknya harus ketemu" Decih Olive memutarkan matanya jengah melihat kebucinan dua laki-laki tampan di depannya itu.
"Aku nggak apa-apa Bang, tenanglah. Aku sama sekali tidak luka" ucap Arsy tersenyum menatap Vano, karena yang harusnya di tanya seperti itu adalah Zico yang sudah di hajarnya.
"Mas jangan marah dulu, nanti aku jelasin di rumah, oke" ucap Xena menggenggam tangan suaminya dan mengelus rahang suami lalu mengecupnya dengan lembut. Cara itu sangat ampuh, terbukti amarah Ray langsung mereda setelahnya.
"Oke, Jadi masalahnya tuh gini...." ucap Xena mulai menjelaskan pada mereka. Di mulai dari dirinya yang meretas akun Zico dan mengetahui rencana Dicky.
"Si*lan!!! Akan ku hajar dia!" teriak Vano marah saat mendengar penjelasan Xena dan sudah berdiri dari duduknya.
"Kak, tenang dulu. Jangan bertindak gegabah" ucap Arsy mencoba menenangkan kekasihnya yang di liputi amarah dan menarik Vano untuk kembali duduk.
Xena juga melihat Ray berusaha mengontrol emosinya, bagaimana pun Arsy adalah adik sepupunya tentu ia juga emosi. Sama seperti Olive yang juga terkejut saat mendengar apa yang di rencanakan asisten Zico itu pada sahabatnya.
"Aku harap kalian jangan ke pancing emosi, aku mengumpulkan kalian untuk membahas masalah ini dan membicarakan solusinya. Jadi aku harap kalian bisa bekerja sama" Ucap Xena
"Tapi aku tidak terima Xe, Arsy kekasih ku. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya" ucap Vano emosi.
"Aku tahu, tolong jangan pakai emosi saat menghadapinya, karena justru akan jadi bumerang bagi diri kita sendiri. Kalau kakak langsung menyerang orang itu sekarang, yang ada kakak yang di tuntut mereka ke pihak berwajib. Pakai ini, jangan emosi aja di gedein, ngerti!" ucap Xena menunjuk ke kepala nya dengan nada naik satu oktav.
Ucapan Xena membuat Vano bungkam dan ia sadar jika emosi tidak akan menjadi solusi untuk masalah.
"Maaf Xe, aku terlalu emosi saat mendengar itu" ucap Vano
"Aku paham, aku juga sama emosinya. Tapi tolong biasakan berpikir sebelum bertindak, karena salah-salah bisa berbalik pada kita" ucap Xena
"Jadi apa rencana kamu Xe?" tanya Olive yang lebih penasaran dengan rencana Xena, ia yakin Xena memiliki solusi untuk itu
"Aku jelaskan, tapi jangan ada yang memotongnya" ucap Xena
"Begini...." ucap Xena kemudian menjelaskan apa yang harus mereka lakukan, mereka semua pun mengangguk paham.
...••••••...