Xena

Xena
XENA@ BAB20



Audrey memegang pipinya yang terasa perih dan panas karena tamparan kepala pelayan tadi. Rasanya ingin sekali dia membalas wanita itu, tapi dia tahan karena semua itu percuma, dia tidak akan menang.


"Jangan mentang-mentang kau mempunyai wajah cantik, kau bisa besar kepala dan seenaknya. Ingat!! Disini kau hanyalah calon pelayan. Kau dengar itu?.Kau hanya calon pelayan. Dengan mudah aku bisa mengeluarkanmu sekarang juga. Jadi jangan banyak tingkah didepanku. Mengerti?." Sergah kepala pelayan bernama Kalla itu.


Tak ingin mencari masalah, Audrey menuruti semua yang dikatakan kepala pelayan itu, walau dalam hati dia terus menggerutu dan memaki si kepala pelayan. Audrey tahu apa yang dilakukan kepala pelayan itu memang peraturan yang harus mereka patuhi, dan itu adalah salah satu bentuk pendidikan yang harus dia atau siapapun lalui untuk menjadi seorang pelayan istana.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sepeninggal Audrey, kakek Abraham dan nenek Gloria nampak sangat sedih. Dia tidak benar-benar menginginkanya pergi, tapi dia juga tidak bisa terus menerus menahannya untuk tidak pergi. Kakek Abraham sangat mencemaskan cucunya itu. Dia takut musuh-musuh anaknya, Hector masih mencari mereka. Kakek Abraham berharap semoga Audrey tidak sampai menceritakan tentang siapa dirinya pada orang yang ada di istana. Karena dia tahu, tidak semua orang di istana benar-benar setia kepada raja mereka. Tidak sedikit yang berkhianat dan menjadi mata-mata musuh.


"Apa yang kakek pikirkan?." Tanya Xena.


"Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa." Jawab kakek Abraham.


"Kakek jangan bohong padaku. Aku tahu kakek pasti memikirkan kak Audrey kan?." Tanya Xena. "Kakek tenang saja. Dia pasti akan baik-baik saja. Dan kakek jangan khawatir, karena stroby selalu mengawasinya. Kalau ada apa-apa, dia pasti akan memberitahu kita, dan aku pasti akan menolongnya." Ujar Xena menenangkan sang kakek.


"Kamu memang anak yang baik Xena. Kamu berbeda sekali dengan kakakmu." Ujar kakek Abraham.


Xena hanya membalas dengan senyumnya.


Tak lama kemudian, Aiden datang dan meminta ijin pada kakek Abraham membawa Xena pergi. Dia membawa Xena ke dalam hutan, karena dia melihat sesuatu yang aneh disana. Seperti hal nya Xena, Aiden juga melihat cahaya itu. Cahaya yang keluar dari dekat danau yang ada di dalam hutan, menuntun langkah Aiden mendekati danau itu.


Aiden langsung menunjukan apa yang dia lihat pada Xena. Xena tercekat saat melihat sebuah rantai besar yang ada di ujung danau. Rantai itu benar-benar besar dan berkilau seperti kristal. Alaric mencari ujung rantai itu, dan sepertinya ada di dasar danau.


"Apa yang akan lakukan?." Tanya Xena saat melihat Aiden menanggalkan sepatunya.


"Aku akan menyelam, dan mencari ujung rantai itu." Jawabnya.


"Untuk apa kau melakukannya?. Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Kau jangan lupa kita ada ditengah hutan sekarang."


"Mana mungkin aku lupa. Kau jangan takut Xena, aku hanya ingin memastikan ada apa sebenarnya di dalam sana."


"Tidak!! Jangan lakukan itu. Apa kau gila?. Apa kau tidak tahu kalau dihutan ini ada makhluk menyeramkan yang bisa mengancam nyawa kamu."


"Apa kau mengkhawatirkanku Xena?." Tanya Aiden dengan senyumnya.


"Terserah apapun yang kau pikirkan. Yang jelas aku tidak mau kau melakukan apa yang kau katakan tadi. Jadi ayo!! Kita pergi dari sini." Ajak Xena.


"Aku akan pergi kalau kau mengatakan kau mengkhawatirkanku." Balas Aiden


"Jangan main-main." Ujar Xena


"Aku tidak main-main." Sahut Aiden, lalu dia menceburkan dirinya ke danau itu, menyelam kedalam danau, mencari dimana ujung rantai itu. Tak disangka, Xena juga ikut menceburkan dirinya, menyelam ke dalam danau itu, mengikuti Aiden. Mereka terus menyelam sampai ke dasar danau, dan menemukan ujung rantai tersebut. Aiden ingin melepaskannya tapi dia kesulitan. Dia mencobanya lagi, tapi tetap tidak berhasil.


Mereka lalu masuk, dan pintu itu langsung tertutup dengan sendirinya. Keadaan disana sangat gelap saat itu, tapi mereka tahu kalau saat ini mereka bukan berada didalam danau. Aiden dan Xena melangkahkan kakinya ke depan, karena mereka melihat setitik cahaya disana, entah dari mana asal cahaya itu.


Gelap yang mereka lalui perlahan menghilang, saat mereka dekat dengan asal cahaya. Dan keduanya tertegun melihat keindahan yang ada didepan mereka saat ini. Aiden dan Xena melihat pepohonan dan rumput yang hijau, juga bunga berwarna-warni. Banyak kupu-kupu berterbangan, juga sungai kecil yang airnya mengalir sangat jernih. Semuanya sungguh indah dan sejuk dipandang, bak disebuah negeri dongeng.


"Wawww....indahnya." Gumam Xena, seraya melangkahkan kakinya mendekati bunga-bunga cantik itu. Dia tersenyum manis seraya memegang satu bunga dan mencium aroma wangi dari bunga itu.


"Apa kau tahu kita ada dimana?." Tanya Aiden.


"Aku tidak tahu. Aku juga baru pertama kali ke tempat ini. Dan aku tidak tahu ada tempat seindah ini di bawah danau tadi." Jawab Xena lalu memetik satu bunga mawar berwarna merah yang dari tadi mencuri perhatiannya. Sesaat kemudian, senyum diwajah Xena memudar, saat dia teringat mungkin saja saat ini mereka ada di negeri atau dimensi lain. Mana mungkin ada kehidupan seperti ini dibawah danau. Rasanya ini sangat mustahil, pikir Xena.


"Apa jangan-jangan kita berada di alam lain?." Ujar Xena menduga-duga.


"Alam lain?. Maksud kamu?."


"Apa kau pernah mendengar kalau dihutan ini ada makhluk mengerikan yang tidak akan pernah membiarkan siapapun bisa keluar dengan selamat dari hutan. Apa mungkin sekarang ini kita sudah masuk kedalam jebakan makhluk itu, dan kita tidak akan kembali?." Tanya Xena


"Tidak mungkin. Rasanya itu sangat mustahil. Aku tidak yakin dengan keberadaan makhluk yang kau katakan tadi. Kalau makhluk itu benar-benar ada, sudah pasti dia akan membunuh kita." Jawab Alaric.


"Sebenarnya aku juga tidak percaya. Selama aku tinggal disini, aku sering sekali masuk ke hutan ini, dan sekalipun aku tidak pernah bertemu makhluk itu." Sahut Xena


Aiden dan Xena melanjutkan langkah mereka menyusuri tempat indah itu, dan saat ini mereka tengah berada disebuah tempat yang ditumbuhi banyak sekali pohon buah apel dan anggur. Dia lalu memetik satu buah apel merah dan memberikannya pada Xena sambil tersenyum. Xena membalas senyuman Aiden saat menerima apel tersebut.


"Makanlah!! Titah Aiden.


"Kau tidak meracuni buah apel ini kan?." Canda Xena yang dibalas senyuman tipis oleh Aiden.


"Baiklah aku akan memakannya lebih dulu." Sahut Aiden, membuat Xena tertawa kecil, membuat Aiden merasa gemas. Tanpa di duga Aiden menarik pinggang ramping Xena, merapatkan tubuh Xena ke tubuhnya, membuatnya tersentak dan langsung menatapnya.


Mereka saling menatap, dengan ekspresi yang berbeda. Aiden menatap Xena dengan senyum manisnya, sedangkan Xena, dia terlihat masih sangat terkejut, tapi tak sedikitpun Xena berpikir untuk melepaskan dirinya dari pelukan Aiden.


"Kamu cantik sekali, Xena." Ucap Aiden memuji Xena. Xena diam menatap manik mata indah berwarna biru milik Aiden yang sangat dia sukai.


"Aku mencintaimu Xena. Apa kau juga mencintaiku?." Tanya Aiden, dan Xena tidak menjawabnya.


Tangan Xena bergerak membelai wajah dan juga mata indah itu. Tangan Xena perlahan turun membelai hidung dan jambang Aiden. Untuk sejenak Aiden membiarkan dan menikmati sentuhan tangan Xena di wajahnya. Namun tiba-tiba, dia segera melepaskan tangan Xena dari sana, karena takut Xena tahu kalau jambang itu bukan jambang asli.


.


.


Bersambung☘️☘️☘️