
Xena saat ini baru saja sampai di rumahnya dengan naik taksi. Ia sedikit berdrama dengan Ray perihal pulang. Ray awalnya tidak ingin Xena pulang, ia masih merindukannya dan ingin menikmati waktu berdua dengannya. Namun hari sudah sore dan Xena harus pulang.
Tidak sampai di situ, Ray mendesak jika ingin mengantarkan Xena. Namun Xena menolaknya karena Ray baru saja sembuh dan memilih naik taksi untuk pulang.
Sedangkan Kakek Reksa hanya melihat interaksi yang langka itu dengan mulut terbuka. Ia tidak menyangka jika cucunya yang sedingin kulkas itu, sangat menempel pada calon cucu menantu nya.
Xena juga tidak menyangka jika kakek Reksa sangat antusias dengan hubungannya dengan Ray. Namun ia juga bersyukur dengan itu semua.
....
Kini ia sudah sampai di rumahnya, Xena mengerutkan keningnya saat melihat ada mobil Olive terparkir di depan rumah.
Saat masuk ke dalam rumah ia melihat orang tuanya duduk bersama dengan Olive dan juga Vano. Melihat Xena sudah pulang, mereka berempat memusatkan antensinya kepadanya.
"Kamu sudah pulang sayang?" tanya Utami menghampirinya, Xena mengangguk dan langsung mencium tangan Utami.
"Sayang, mereka baru datang lima menit yang lalu. Mama sudah bilang jika kamu keluar ada urusan. Tapi mereka mengatakan ingin menunggu kamu di sini" bisik Utami pelan dan hanya di dengar oleh keduanya.
Xena mengangguk paham, berarti kedua orang tuanya tidak mengatakan jika dirinya pergi ke Ray. Tentu mereka paham dengan identitas Ray, mereka tidak bisa sembarangan berbicara pada orang lain. Bagaimana pun seorang artis memiliki kehidupan yang cukup rumit dan penuh rahasia.
Jika memang hubungan mereka bukan rahasia, orang tua Xena membiarkan Xena dan Ray yang mengatakannya, jadi bukan ranah mereka untuk buka suara.
"Pah..." ucap Xena mencium tangan Indra dengan khidmat.
Untung dirinya sudah memakai pakaian wanita yang di belikan Citra yang di kirim ke apartemen Ray, kalau tidak pasti banyak pertanyaan pada mereka jika ia memakai pakaian laki-laki.
"Liv, kak Vano. Ada apa datang kemari?" tanya Xena dengan nada biasa saja tanpa raut keterkejutan di sana.
Entah mengapa, setelah ia berpacaran dengan Ray. Rasa takutnya pada Vano mulai hilang, bahkan ia sudah tidak lagi memikirkan orang yang yang dulu ia cintai itu.
"Aku ingin ngajak kamu makan malam di luar, aku telepon kamu dari tadi tapi nggak di angkat" ucap Olive cemberut
"Maaf Liv, tadi ponsel aku silent jadi nggak tahu kalau ada telepon masuk" ucap Xena tersenyum tipis.
"Kamu habis kemana Xe?" tanya Olive lagi
"Restoran" jawab Xena sekenanya.
"Aaa, jadi kamu mau ajak aku makan malam di mana Liv?" tanya Xena mengalihkan pembicaraan
"Di restoran kamu aja gimana, tapi kamu jadi bolak balik ya. Tahu kamu di sana aku langsung ke restoran aja tadi" ucap Olive nyengir kuda.
Vano yang mendengarkan mereka mengobrol hanya diam. Ia sudah tahu Xena memiliki restoran dari Olive, awalnya ia terkejut. Namun akhirnya ia percaya saat olive menceritakannya.
Ia juga lebih mengagumi Xena lagi, yang ternyata adalah seorang wanita mandiri dengan pola pikir yang dewasa. Ia berhasil membangun usahanya sendiri, itu patut di apresiasi.
Mengingat berita Xena dengan Ray yang gencar di internet, Vano merasa kesal dan cemburu. Ia ingin sekali berkomentar, jika Xena adalah miliknya. Namun ia urungkan. Karena selain ia bukan pacar Xena, dia juga belum mendapatkan maaf darinya.
"Kita berdua?" tanya Xena melirik ke arah Vano.
"Sama kak Vano bertiga, nggak apa-apa kan? Kasihan kak Vano di rumah sendirian" ucap Olive penuh harap.
Xena hanya mengangguk, ia sudah tidak lagi menggubris Vano, menghindar pun percuma jadi ia akan hadapi. Ia sudah memikirkannya masak-masak, ia sudah menghilangkan trauma itu secara bertahap. Jadi yang perlu ia lakukan hanya bersikap biasa saja, bagaimanapun kedua keluarga mereka adalah teman.
Mendengar itu Vano tersenyum, ia merasa senang Xena sudah tidak lagi menghindarinya.
....
Setengah jam kemudian, mereka bertiga berangkat ke XR Restaurant. Dan dalam dua puluh menit mereka sudah sampai.
Mereka langsung masuk ke room private, yang kebetulan baru saja kosong. Meskipun sebenarnya Xena memiliki ruangan pribadi, tapi ia tidak menggunakannya saat ini.
"Ayo silahkan pesan, tenang saja kali ini biarkan kak Vano yang bayar. Makan malam ini juga termasuk perayaan atas naiknya kak Vano jadi CEO mengantikan posisi papa" ucap Olive.
"Oh ya, selamat kalau begitu" ucap Xena, ia tulus mengucapkan selamat itu.
Bagaimana pun di kehidupan yang lalu, Vano termasuk orang yang sangat kompeten dan sukses saat memegang perusahaan papa nya saat itu.
"Terimakasih Xe" ucap Vano tersenyum lebar, ia senang akhirnya Xena tidak lagi dingin padanya. Bahkan mengucapkan selamat padanya.
"Xe, aku ke toilet dulu" ucap Olive
Xena tahu jika Olive sengaja melakukan itu karena ingin mereka berdua menyelesaikan masalah mereka. Jadi Xena hanya mengangguk tidak masalah.
"Xe, Ak-aku minta maaf atas kejadian di puncak. Aku tidak bermaksud merendahkan kamu, saat itu entah apa yang aku pikirkan. Aku rasa aku cemburu karena kedekatan kamu dengan pria lain hingga tidak sadar berkata yang tidak seharusnya dan menyakitimu" ucap Vano tulus.
"Hmm aku sudah melupakannya" ucap Xena cuek
"Benarkah, berarti kita..." ucap Vano terpotong.
"Ya, kita bisa berteman, meskipun itu tidak sedekat dulu lagi" ucap Xena
Mendengar itu ada rasa kecewa dalam hati Vano, ia tidak ingin hanya di anggap teman.
"Xe, aku ingin mengatakan sesuatu, aku sebenarnya sudah sadar, jika aku ternyata juga mencintai kamu. Xe bisakah..." ucap Vano penuh harap.
Xena yang mendengar itu mengerutkan kening, kenapa Vano bicara seolah-olah ia masih menyukainya.
"Maaf kak, aku nggak bisa. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya, jika perasaan ku padamu sudah hilang" ucap Xena dengan yakin.
"Tapi Xe, kenapa? Apa salahku? Bukankah kamu mencintaiku?" tanya Vano bingung, ia memang tidak mengerti kesalahan apa yang ia perbuat hingga Xena seperti enggan untuk dekat lagi dengannya.
"Sejak aku memutuskan aku menyerah, rasa cintaku pada kakak sudah hilang seiring dengan berjalannya waktu. Mungkin karena aku sudah lelah selama 10 tahun belakangan ini. Jadi tolong kakak juga lupakan perasaan kakak padaku!" ucap Xena lagi.
Dirinya tidak mungkin kembali pada Vano, ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama yang berujung kematiannya. Perasaan nya pada Vano juga sudah tidak ada lagi, kini di hatinya sudah di tempati orang baru.
Orang tulus mencintainya dan keluarganya juga sudah menerima kehadiran dirinya. Jadi ia tidak akan menyia-nyiakan anugrah terindah yang Tuhan berikan pada nya.
"Aku tidak akan menyerah Xe, aku akan terus memperjuangkan kamu. Sama seperti kamu yang memperjuangkan aku selama bertahun-tahun" ucap Vano tidak menyerah
Xena menghela nafasnya, memang susah berbicara dengan orang yang keras kepala seperti Vano.
"Maaf kak, tapi itu akan percuma. Karena di hatiku saat ini sudah di tempati orang lain" ucap Xena yang membuat Vano terkejut.
...•••••...