Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Segeralah pergi



🌾🌾🌾🌾🌾


Meski Dadang, Agus dan juga Kipli sangat tergiur dengan penawaran Tuan Alex tapi nyatanya di juga tidak setuju kalau Bimo melaporkan tentang keberadaan Tasya begitu saja. Mereka bertiga hanya sebatas tergiur bukan benar-benar menginginkan.


Persahabatan mereka dengan Bimo sekarang hancur karena keegoisan Bimo yang secara tidak langsung ingin menyerahkan Tasya kepada Tuan Alex, mereka memang tidak begitu dekat dengan Tasya tapi dia juga punya hati dan bisa membedakan mana yang baik dan juga tidak.


Meski Tuan Alex berbicara dengan sangat lembut tetapi mereka tau kalau dia bukan orang baik-baik, ada sesuatu yang dia inginkan dari Tasya atau Faisal.


Ketiganya melangkah dengan cepat mencari keberadaan Tasya di dalam pasar, jelas mereka ingin memberitahu akan apa yang telah di lakukan oleh Bimo. Mereka tidak akan biarkan Tasya celaka atau dalam masalah besar.


"Loh ke sana, loh ke sana dan gue akan ke sana. Kita harus berpencar supaya lebih cepat menemukan keberadaan Tasya. Siapapun yang lebih dulu menemukannya katakan kalau dia harus cepat pergi dari sini," ucap Agus memberikan pengarahan.


"Hem," Dadang dan juga Kipli mengangguk dengan bersamaan mereka juga langsung bergegas melangkah untuk mencari keberadaan Tasya.


Mereka berpencar, dengan cara seperti itu mereka sangat yakin akan bisa menemukan Tasya lebih cepat. Kalau tidak! Mereka sangat takut jika Tuan Alex sampai datang lebih cepat dan akan berhasil menangkap Tasya.


Mereka terus berjalan memutari pasar, bertanya pada para pedagang yang jelas mereka juga sangat mengenal Tasya.


Ada yang memberikan arah karena memang mereka sempat melihat tapi ada juga menggeleng dan tidak mengatakan apapun karena memang tidak melihat Tasya dan Faisal lewat di sana.


Tak mudah mencari orang di pasar yang begitu besar, meski sudah terus berjalan namun salah satu di antara mereka belum ada yang menemukan di mana perginya Tasya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya dan juga Faisal yang tengah di cari ternyata tengah duduk bersantai di warung soto sembari menikmati akan cita rasa dari makanan yang sangat segar yang penuh dengan rempah-rempah itu.


Sesekali keduanya tersenyum sesekali keduanya saling menyuapi dan saling memberikan komentar akan rasa soto yang ada di mangkuk masing-masing.


"Enak kan punyaku," bangga Tasya dengan rasa yang ada di dalam mangkuknya.


"Enak sih enak, Sya. Tapi ini terlalu pedas, bagaimana kalau sampai kamu sakit perut? Sini biar aku saja yang makan ini sementara kamu makan punyaku saja."


Faisal menawarkan untuk bertukar mangkuk dia sangat takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Tasya. Lagian terlalu pedas juga tidak baik untuk kesehatan. Memang rasanya sangat enak tapi bagi yang tidak kuat akan menyebabkan masalah pada pencernaan.


"Nggak ah, Tasya suka yang pedes lebih mantep," Tasya menarik lagi mangkuk yang ada di hadapannya menjauhkan dari tangan Faisal yang bergerak ingin menukar.


"Ayolah, Sya." Faisal tetap kekeuh meminta di tukar tapi Tasya juga lebih kekeuh lagi. Tasya memang suka dengan makanan pedas jadi sedikit sambal tidak akan bermasalah baginya, tapi entah kalau dengan Faisal.


Selama bersama Faisal Faisal sendiri kalau masak tidak terlalu pedas yang penting pakai cabai itu saja sudah cukup, bisa jadi dia tidak suka dengan masakan yang terlalu pedas atau mungkin dia memang lebih memperhatikan kesehatan.


"Tidak, Mas. Kalau Mas memang mau yang pedes tambah aja sambalnya," Tasya tak mau bertukar meski Faisal yang memintanya, dia sudah merasa pas dengan rasanya.


"Bukan seperti itu, Sya. Tapi..."


"Tidak, pokoknya Tasya tidak mau bertukar," Benar-benar seperti anak kecil yang tengah berebut mainan nih mereka berdua, padahal kenyataannya hanya karena soto yang terlalu pedas saja yang mereka perebutkan.


Faisal menghembuskan nafasnya yang sangat panjang, pasrah dengan keinginan Tasya yang sebenarnya sangat tidak dia ingin. Dia sangat takut juga khawatir, tapi mau bagaimana lagi?


Keduanya kembali menikmati soto masing-masing Tasya terlihat begitu lahap sementara Faisal doa masih sesekali menoleh ke arah Tasya yang keringat mulai keluar.


"Tuh kan," Faisal mengambil tisu lalu dia gunakan untuk menghapus keringat Tasya yang keluar.


Begitu merah wajah Tasya juga dia yang terus menahan kepedasan dan mengab-mengab seperti mulut ikan.


"Akhirnya, ketemu juga kalian," Kipli langsung menyerobot duduk di tengah mereka berdua, memisah kedua insan yang tengah saling menatap dengan tangan sang pria menyentuh wajah si wanita untuk mengusap keringat.


"Hey, apa-apaan sih kamu, Kipli!" Tasya langsung protes sementara Kipli malah dengan santainya mengambil minuman Faisal yang sama sekali belum di minum.


"Hey! Ngadi-adi ya kamu, Kip," kembali Tasya protes menyadari minuman suaminya yang di minum hingga tandas. "Kamu haus atau doyan, Kip?"


Kipli masih terdiam, mengelap bibirnya yang basah. Akhirnya, tenggorokannya yang kering bisa basah juga dengan minuman yang dia yakini punya Faisal.


"Maaf ya, Bro. Haus banget," ucap Kipli sekenanya.


Faisal hanya menggeleng karena perbuatan satu teman Bimo ini. Benar-benar gak punya etika semua.


"Kip, kenapa sih kamu? Datang-datang cari gara-gara begini?" jelas Tasya akan sangat kesal dengan perbuatan Kipli barusan.


Baru Kipli menoleh ke arah Tasya setelah tangannya juga mengambil gorengan yang ada di hadapan mereka. Enak banget ya kan, tinggal ngambil-ngambil gitu saja entah siapa nanti yang di suruh bayar.


"Sya, ini gawat." Beri beberapa kata daja dia sudah berhenti di lanjut memakan gorengan itu dan mengunyahnya.


"Gawat kenapa sih, nggak jelas banget kamu! Ada masalah lagi?"


Belum Kipli menjawab sekarang giliran Faisal yang beranjak dan berganti menyerobot di tengah-tengah antara Kipli dan juga Tasya. Jelas gak akan dia izinkan ada laki-laki dekat dengan istrinya.


"Idih, gitu amat sih kamu Sal. Aku hanya pinjem sebentar kali ini pun juga sangat genting banget," ocehnya.


"Halah, bilang aja loh cembukur." emang kalau orang suka bicara ceplas-ceplos kalau bicara ya akhirnya seperti kipli saat ini. Tak melihat dia bicara dengan siapa.


"Cemburu atau tidaknya itu urusan saya. Yang terpenting apapun alasannya kamu tidak boleh lagi mendekatinya."


"Udah-udah, kenapa malah mau berkelahi! Sekarang katakan apa yang genting?" Tasya cepat memisah pembicaraan mereka kalau tidak mungkin akan berlanjut entah sampai kapan. Mungkin akan sampai orang yang di takutkan datang.


"Enak kali kamu, Kip, kita muter-muter bingung nyari kamu malah asik makan gorengan di sini!" seru Dadang akhirnya datang juga bersamaan dengan Agus.


"Hehehe, maaf. Lagian masak udah ketemu mau nyariin kalian nanti nggak akan kelar-kelar dong," dan hanya meringis saja Kipli karena ucapan Dadang.


"Gimana? Kamu sudah mau pergi kan? Kalau tidak bisa bahaya loh, Sya." Kini Agus yang bicara.


Keduanya ikut bergabung di duduk di bangku dengan mereka yang hanya di batasi meja.


"Sebenarnya ada apa sih, kalian itu kalau ngomong yang jelas dong jangan bikin orang pusing," Tasya belum mengerti jelas kan?


"Sya, kamu ada masalah dengan Tuan Alex? Dia sebentar lagi akan datang. Sepertinya dia adalah orang yang berbahaya jadi kamu mending pergi saja deh sebelum dia datang." Dadang yang berucap.


"Tuan Alex?" Tasya terkesiap begitu juga dengan Faisal.


Inilah yang Faisal khawatirkan dan ini juga sebagai jawaban akan siapa yang telah menghajar Ilham waktu itu. Dan ternyata pelakunya adalah Tuan Alex.


"Kok kalian bisa tau kalau dia akan datang?"


"Sebenarnya... Bimo yang mengatakannya kepada dia. Dia marah, dia sangat kecewa, dia tak terima kalau kami menikah dengan Faisal," Agus tertunduk lemas.


"Bi_Bimo? Emangnya kenapa kalau aku menikah dengan mas Faisal, apa salah?"


"Bagi kita tidak salah, Sya. Tapi bagi dia yang salah, karena... karena Bimo sebenarnya suka padamu, Sya," Agus terlalu jujur membuat kedua sahabatnya langsung memukul lengannya.


"Kenapa, memang begitu kan kenyataannya?" Agus beralih menoleh ke arah Dadang juga Kipli.


"Dia tidak suka kami bersama Faisal karena dia menyukaimu, Sya. Dia cinta sama kamu," jelasnya.


Tasya terdiam, seolah gak percaya kalau Bimo menyukai dirinya. Dari segi mana dia suka pada Tasya. Lagian dia juga selalu menganggap Bimo hanya sebatas teman saja tidak lebih. Tapi..., ternyata kebaikan Tasya sepertinya di salah artikan oleh Bimo.


"Kamu pasti bohong kan?" Tasya masih tak percaya karena memang sangat sulit dirinya untuk bisa mempercayai.


"Benar, Sya. Bahkan dia pernah menghajar Faisal karena tidak boleh dekat-dekat dengan kamu. Benar kan, Sal?" Imbuhnya lagi.


Sontak Tasya melihat ke arah Faisal yang terdiam. Bagi Faisal itu sudah lama dan juga tidak perlu di ceritakan jadi dia hanya terus diam dan tak mengatakan apapun pada Tasya. Faisal juga tidak mau kalau hubungan pertemanan mereka akan hancur.


"Benar, Mas?" Tasya langsung memastikan.


"Itu sudah lama, Sya," jawabnya.


"Kenapa Mas tidak pernah cerita?"


"Buat apa. Kejadian itu sudah sangat lama Sya tidak pantas kan untuk di ingat-ingat lagi."


"Tapi seharusnya mas cerita pada Tasya kan?"


"Eh, silahkan selesaikan masalah kalian di rumah. Mau dengan cara apapun terserah yang terpenting sekarang kalian harus segera pulang. Kalau tidak kalian akan berada dalam masalah. Cepat cepat."


"Oh ya, sebelum pulang jangan lupa bayar ini dulu. Kami tidak ada uang, hehehe," Imbuh Kipli di sambung fei meringis begitu manis.


"Dasar perut karet," Gerutu Tasya.


Bukan hanya Kipli saja yang meringis tapi juga Dadang dan Agus yang juga ikut-ikutan menikmati hidangan di depan mereka.


Tanpa berkata Faisal langsung membayarnya dan baru berbicara ketika uang itu sudah sampai di tangan penjual.


"Bu, apapun yang mereka makan itu uangnya. Kalau masih kurang ibu bisa hubungi saya."


"Baik, Mas. Terima kasih, ini cukup kok," Tentu pedagang itu sangat senang hannya makanan sederhana saja tapi bisa mendapatkan uang yang lumayan.


"Terima kasih, Bro." Dadang mengangkat tangan, dia sangat senang.


"Hem, terima kasih informasinya." Karena itulah Faisal berterima kasih.


Bersambung....


🌾🌾🌾🌾