
🌾🌾🌾🌾🌾
Miris. begitu miris kehidupan Tasya, saat kecil tak ada waktu untuk bermain bersama teman-temannya dia selalu membantu ibunya yang banting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Sementara setelah dewasa ibunya meninggal dan dia terus dipaksa oleh ayahnya supaya mau menjadi pelunas hutangnya, sementara sekarang setelah dia pergi dari rumah menjadi anak jalanan yang tak tahu arah tujuan apalagi tujuan untuk pulang.
"Langit sebagai atap rumah ku.. Dan Bumi sebagai lantainya.. di situ ku menyusuri jalan... sisa orang yang aku makan."
Dengan kaki melangkah Tasya mendendangkan lagu yang sesuai dengan apa yang dialami sekarang ini. langit sebagai atap dan bumi sebagai lantai itulah jalan hidupnya sekarang.
Menyadong rezeki dari orang-orang yang mau berbaik kepadanya. Tetapi bukan sisa orang lain yang menjadi makanan Tasya karena dia bisa membeli dengan uang hasil dari orang yang telah dia bantu, itu hanyalah sebagai perumpamaan.
Entah ke mana dia akan melangkah saat ini melangkah tanpa tujuan keluar dari pasar setelah tadi membantu orang lain dengan membawa barang-barangnya dan mendapatkan sedikit uang. Meski tidak seberapa tetapi Tasya bisa bersyukur setidaknya dia bisa makan untuk nanti.
Berencana untuk mencari pekerjaan yang layak siapa tahu dengan keluar dari pasar dia akan mendapatkan pekerjaan. Tetapi rencana hanyalah menjadi rencana karena sedari tadi dia terus berkeliling tetap tidak ada satupun orang yang membutuhkan pekerjaan.
Tasya terduduk di salah satu bangku yang ada di trotoar, mengamati sekitar rumah-rumah indah yang sangat besar dan entah siapa pemiliknya.
Tasya hanya bisa menatap penuh takjub namun tidak akan berandai-andai karena dia tahu itu bukan hal yang benar. Matanya menatap seorang wanita yang tengah membawa plastik kresek berwarna hitam dan langkahnya mendekati Tasya.
Terlihat kresek itu sedikit robek di bagian bawah, jelas terlihat apa yang ada di dalamnya sebuah kain batik.
Tasya masih diam namun terus mengamati hingga akhirnya orang itu membuang di tempat sampah.
"Maaf, Bu. Ibu membuang apa ya?" tanya Tasya setelah wanita itu kembali melewatinya.
Wanita itu berhenti dan sekali menoleh ke arah plastik yang sudah ada di tong sampah.
"Oh itu, itu baju yang sudah tidak terpakai. Karena saya kekecilan dan tidak ada orang yang mau jadi lebih baik saya buang," ucapnya.
"Baju?" ya hati Tasya terasa sakit kenapa takdir Tuhan seperti ini. Ada orang yang membutuhkan sebuah baju hanya untuk berganti saja Dia tidak punya apalagi untuk membeli satu saja dia tidak bisa, tetapi ada orang kaya yang memiliki baju lebih hingga dia bisa membuang begitu saja dengan mudah.
"Maaf Bu, Apa saya bisa mengambilnya? Kebetulan saya tidak memiliki baju untuk ganti," meski merasa sungkan tetapi Tasya tidak malu menjatuhkan harga dirinya sendiri karena dia memang tidak memiliki baju untuk ganti dan dia sangat menginginkannya.
"Astaghfirullah, maaf saya tidak tahu kalau kamu membutuhkannya jadi saya buang. Tetapi kalau kamu benar-benar menginginkannya lebih baik kamu ikut saya," ajak sang ibu.
"Ikut ke mana, Bu?" Tasya mengernyit bingung.
"Ikut saya ke dalam biar saya pilihkan baju saya yang lebih pantas dan masih enak jika dipakai. Itu masih bisa dipakai tetapi saya rasa sudah tidak layak, ayo."
Sang Ibu bersikeras mengajak Tasya masuk ke dalam rumah mewahnya bahkan dia tidak merasa jijik sama sekali dan menggandeng tangannya. Ternyata dia sangatlah baik.
Tak lama Tasya kembali keluar dari rumah mewah itu wajahnya begitu bersinar melihat kresek berwarna merah yang ada di tangannya dan tentunya ada baju-baju pemberian dari orang asing yang begitu baik dan tidak Tasya kenal.
"Ternyata orang kota juga tidak semuanya jahat juga sombong, ada di antara mereka yang baik hati. Terima kasih ya Gusti telah Kau beri nikmat untukku meskipun hanya berupa baju bekas." gumam Tasya.
Meski hanya baju bekas tapi itu sangat bermanfaat untuk Tasya setidaknya dia bisa mengganti pakaiannya dan tidak hanya itu itu melulu yang dia pakai.
Inilah nasib dari seorang anak jalanan yang tidak bisa membeli atau memiliki barang yang mewah atau pantas, dan sekali mendapatkannya dia akan sangat bahagia meski itu hanya barang yang sederhana juga dari bekas orang lain.
Tetapi Tasya tidak menyesal dia akan lebih menderita jika hidup dengan Bandit tua yang seorang rentenir dan juga sangat kejam.
Meski dia bisa memiliki apapun yang mewah dan juga semua yang diminta pasti akan diberikan tetapi hati tidak akan pernah bisa tenang dan bahagia, Dan inilah kebahagiaan Tasya sekarang.
Tasya kembali ke pasar dengan hati senang bahkan dia menenteng kreseknya dan terus diombang ambing di udara.
Tujuannya sekarang adalah sebuah ruko yang tidak terpakai dan pintunya juga sudah rusak di sanalah Tasya berada setiap malam. Menjadikan tempat yang tak layak itu sebagai tempat tinggal dan beristirahat untuk mengusir lelah.
Tak ada rasa takut meski ada ancaman yang bisa saja datang. bisa saja ada orang jahat dan berniat untuk menyakitinya atau hewan-hewan yang juga menjadi penghuni pasar dan akan selalu keluar di setiap malam dan bisa jadi akan menggigitnya.
"Meski hanya baju bekas tapi ini lebih bagus dari bajuku yang ada di rumah," Tasya duduk di dalam ruko, melihat dan mengeluarkan kembali baju-baju yang dia dapat.
Dia membuka satu persatu, mencobanya dengan menempelkan di tubuhnya.
Senyum Tasya semakin bersinar saat melihat baju itu sepertinya pas jika di pakai.
Tasya bahkan berdiri, menggerakkan badannya hingga baju itu ikut bergerak-gerak.
"Ya Tuhan. Apakah yang aku lakukan ini adalah salah satu dari meminta-minta?" senyumnya hilang kala mengingat itu.
Tasya tidak memintanya kan tadi, dia hanya berniat memungutnya tadi dan siapa tau bisa mendapatkan yang lebih seperti ini.
"Ini bukan meminta, Tasya. Tapi dia sendiri yang memberikannya," entah mana yang benar tapi Tasya berubah sedih.
Pesan ibunya dia lupakan dalam sesaat.
'Tasya, ibu minta. Jika suatu saat kamu berada di masa-masa yang paling berat jangan sampai kamu menjadi orang yang suka meminta-minta. Kamu harus tetap melakukan pekerjaan sesuatu untuk bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi apa yang kamu kerjakan juga pekerjaan yang baik, yang halal,' satu pesan dari ibunya yang benar-benar hilang barusan.
"Bu, apakah ini yang di namakan meminta-minta? bahkan Tasya sama sekali tak mengerjakan apapun untuk mendapatkannya." gumamnya sedih.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....