Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Tak Ikhlas



🌾🌾🌾🌾🌾


Hasan terus saja memperhatikan gerak-gerik Faisal. Dari awal masuk mobil bahkan sekarang sudah mau turun mobil. Mereka sudah sampai di pesantren sementara Faisal terus saja diam, biasanya dia sedikit cerewet tapi sekarang? entahlah.


Perubahan itu tentu terjadi setelah bertemu dengan gadis yang Hasan ataupun Faisal sendiri tidak tau namanya. Anastasya.


Entah apa yang Faisal pikirkan tapi terlihat jelas kalau ada sesuatu yang tengah bersarang di dalam benaknya. Apa mungkin di dalam benaknya sudah bersarang tuh cewek jalanan dengan penampilan yang nggak banget yang tadi Faisal beri jaket kesayangannya?


Aneh. Padahal dulu Hasan mau pinjem saja beribu alasan Faisal katakan, entah yang kotor, entah yang mau di pakai. Eh! sekarang di berikan begitu saja pada cewek itu.


"Ustadz ku yang paling santun, ustadz tidak apa-apa kan? tidak kesambet ama tuh cewek kan?" jelas Hasan merasa sangat penasaran di buatnya.


"Hem, makin ngelantur aja kamu kalau ngomong," bergegas Faisal turun dari mobil meninggalkan Hasan yang kini diam terpaku di dalam mobil.


"Kenapa dia sensitif sekali seperti gadis lagi pms?" gumam Hasan. Bingung dan semakin tak mengerti dengan perubahan Faisal.


Hasan pun bergegas turun dari mobil mengejar Faisal yang sudah agak jauh membuat Hasan harus berlari kecil.


"Ustadz, besok ada acara nggak?" tanyanya.


"Nggak, emang ada apa?" Faisal menjawab tapi tidak menghentikan langkah, dia ingin tetap bergegas ke kamar dan istirahat sejenak sebelum waktu ashar tiba dan setelah itu dia harus kembali mengajar para santri.


"Besok temenin aku ke pasar ya," entah ada udang di balik bakwan atau memang murni untuk minta di temani saja tapi yang jelas Hasan terlihat sangat berharap.


"Tumben, biasanya sendiri berani."


"Ya, kan hanya sesekali. Kalau ada temennya kan enak gitu. Mau beli sesuatu," Hasan meringis dia juga jalan dengan tidak benar.


Sesekali lurus ke depan tapi kadang miring dan menghadap ke arah Faisal.


"Mau ya, please," Hasan begitu memohon. Entah sesuatu apa yang akan dia beli sampai dia begitu kekeuh seperti sekarang ini.


"Insya Allah," jawab Faisal.


"Insya Allah nya itu iya atau tidak nih?" Mulai kumat bawelnya Hasan.


"Insya Allah iya, tuan Hasan terhormat. Udah jelas sekarang?" Faisal menoleh.


"Ustadz, ustadz lagi jatuh cinta atau lagi pms? kok uring-uringan gitu. Di tanya jawabnya juga judes amat," selidik Hasan.


Faisal menghentikan langkah, menghadap ke arah Hasan dengan tatapan mata bulatnya. Nih satu teman cerewetnya melebihi emak-emak komplek yang lagi arisan.


"Hehehe, maaf ustadz. Nggak akan lagi. Cius. Dah ustadz, selamat istirahat ya," Hasan meringis manis lalu berlari pergi, bisa-bisa akan di telan hidup-hidup kalau Faisal sudah seperti ini.


"Ustadz, jangan senyum-senyum sendiri ya kalau ingat dia. Berdoa saja semoga besok ketemu lagi, hahaha!" masih saja tuh anak menggoda Faisal padahal sudah jauh, sempat-sempatnya dia menoleh.


"Astaghfirullah hal azim," Faisal hanya bisa beristighfar kalau kegesrekan dari temannya itu dah kumat.


Faisal kembali berjalan, segera pergi ke kamarnya kalau tidak dia tidak akan bisa istirahat meski hanya sebentar saja.


Sampailah Faisal di dalam kamarnya sendiri, meletakkan apapun yang dia bawa juga mengeluarkan apapun yang ada di kantongnya.


"Hem?" Faisal mengernyit kala tangannya merogoh saku dan mendapatkan permen karet pemberian Anastasya beberapa hari yang lalu.


"Emangnya enak makanan seperti ini?" gumamnya.


Tak biasanya Faisal akan tertarik dengan makanan-makanan yang seperti itu. Apalagi jenis-jenis permen. Semua jenis permen dia belum pernah memakannya.


Tiba-tiba saja ada rasa ingin merasakan permen karet yang dari kecil benar-benar dia jauhi. Faisal membukanya, dia duduk di kursi, membolak-balikkan permen yang berbentuk persegi itu dengan rasa penasaran yang sangat besar.


Awalnya hanya di jilat saja, rasanya memang manis. Dan setelahnya di gigit-gigit kecil ujungnya dan semakin manis.


"Manis," ucapnya.


"Astaghfirullah hal azim, Sal. Apa-apaan kamu ini. Ini bukan makanan sehat," ucapnya yang kembali menolak untuk menikmati permen karet yang sudah dia cicipi barusan.


Faisal kembali membungkusnya dan menaruh di atas meja, dia menggeleng kasar karena perbuatannya ini benar-benar tidak masuk akal.


"Astaghfirullah hal azim," Lagi-lagi Faisal beristighfar dan kini langsung masuk ke kamar mandi meninggalkan permen karet yang tergeletak di meja.


🌾🌾🌾🌾🌾


"Bagus banget ya, Kak?" tanya Salwa pada Anastasya saat dia terus mengeratkan jaket di punggungnya.


"Sama saja," jawab Anastasya dengan acuh.


"Ah masak?" goda anak kecil itu. Rupanya kecil-kecil dia pintar menggoda juga. "Hem, Salwa panggil kak Tasya saja ya, lebih enak," katanya.


"Terserah," hanya sepatah saja Anastasya menjawab.


"Kak Tasya, kakak tadi tampan ya," keduanya terus berjalan entah mau kemana mereka yang jelas mereka berjalan di trotoar.


Tak ada tujuan tertentu karena mereka memang tak tau mau pergi ke mana. Di sanalah mereka berada, kesehariannya yang kini semua tempat seakan menjadi tempat tinggalnya.


Siang mereka terus berjalan mencari pundi-pundi recehan untuk bisa membeli sesuap nasi dengan membantu orang, mengamen atau mungkin dengan membersihkan kaca mobil dari para pengendara yang lewat. Benar-benar pekerjaan yang sangat tak patut untuk Anastasya.


Tapi dia juga belum pernah melakukan itu, itu hanya apa yang di lakukan oleh anak-anak. Sementara untuk Anastasya dia hanya akan membantu orang-orang saja yang kadang ingin menyebrang atau yang membawa barang banyak.


"Kak! kok nggak di jawab sih! Kakak tadi tampan kan?" Salwa menjadi senewen sendiri karena Tasya hanya diam saja.


"Ya, dia tampan," ups Tasya tak sengaja mengucapkan kata itu, dia mengagumi pria yang sama sekali tidak dia kenal.


"Berarti kakak menyukainya dong?"


"Hadeuh bocil, tau apa kamu tentang menyukai. Udah ya jangan aneh-aneh. Sekarang kita istirahat di sana setelah itu kita ke pasar lagi. Siapa tau kita akan mendapatkan pekerjaan di sana," ajak Tasya.


"Ah, kak Tasya nggak asik. Kak! Kak!" panggil Salwa tapi Tasya tak memperdulikan dan terus berjalan setelah sampai di depan bangku dia langsung duduk.


Tangannya kembali melihat jaket yang kini ada di bahunya itu, memegangnya dan merasakan betapa hangat juga sangat nyamannya ketika di pakai.


"Nih pasti sangat mahal," gumam nya.


"Dia pasti orang kaya, pakaiannya saja terlihat lembut-lembut dan bermerek. Seperti ini nih, aku yakin ini harganya bisa ratusan ribu. Astaga, ratusan ribu bisa buat makan berapa hari tuh, ck ck ck..." Tasya menggeleng.


"Kak, boleh pinjam nggak?" Salwa menyerobot duduk dan ingin mengambil jaket Tasya.


"Eh, jangan! enak saja main pinjem-pinjem. Kamu kan sudah dapat jatah sendiri," rasanya sangat tak rela jika jaket itu di ambil orang padahal hanya anak kecil yang ingin meminjamnya.


"Dasar pelit!"


"Biarin," Tasya menyungging sinis.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....