Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Berhasil Lepas



🌾🌾🌾🌾🌾


Suara peluit menghentikan laju sepeda mereka berdua dan sang polisi yang sudah menghadangnya.


"Mati aku," ucap Tasya.


"Katanya nggak mau mati," celetuk Faisal.


Hampir saja wajah Faisal terbentur punggung Tasya jika dia tak kuat menahan dirinya. Sungguh, jarak mereka begitu dekat membuat jantung Faisal berdegup kuat antara tegang juga karena jarak dekat dengan Tasya.


"Turun turun!" Tasya menoleh melirik ke arah Faisal yang jelas langsung turun dari sepeda. Tanpa di minta pun Faisal hendak turun tadi tapi pergerakannya kurang cepat di banding dengan perkataan Tasya.


Tasya juga ikutan turun, memarkirkan sepedanya dengan benar lalu meringis kepada pak polisi.


"Hehehe, maaf Pak," deretan giginya seolah menyala saking putihnya.


Terlihat pak polisi itu mengernyit-ngernyit melihat Tasya, jelas membuat Tasya bingung. Sepertinya penampilan Tasya yang membuat pak polisi itu bingung.


"Ada apa pak?" tanya Tasya dan semakin mendekat begitu dekat sampai Tasya seolah ingin berkaca pada mata pak polisi.


Tangan kekar itu langsung terangkat dan memundurkan wajah Tasya hingga semakin menjauh.


"Mundur mundur! apalagi sekarang. Bukan hanya melanggar laku lintas, menerobos lampu merah dan di tambah ini juga, nyuri sepeda dari mana kamu?" Pertanyaan pak polisi tentu di dengar oleh Tasya juga Faisal yang berdiri di belakangnya.


"Kamu benar-benar mau masuk penjara? apa peringatan yang kemarin masih kurang tegas?" imbuhnya lagi.


"Hehe, emangnya siapa yang mau masuk penjara sih pak. Kalau sekiranya masuk ke sana hanya untuk bekerja ngepel atau bersih-bersih mah oke-oke saja, kan dapat uang. Tapi kalau ke sana hanya untuk menginap ogah lah, Pak. Kan di sana bukan hotel bintang lima. Tapi hotel prodeo," bisik Tasya di akhir kalimat.


"Sebenarnya saya juga ogah berurusan sama cewek kayak kamu itu, tapi ikut prosedur kamu harus tetap ikut ke kantor polisi. Karena kamu telah mencuri."


"Eh, tunggu-tunggu! saya tidak mencuri loh pak! saya hanya pinjam ini mau saya kembalikan. Gini-gini saya juga tau hukum lah pak, kalau orang jahat nanti masuk penjara. Saya juga takut kena dosa."


"Sudah, sekarang kamu ikut dan jangan banyak bicara. Ayo ikut!" kekeuh pak polisi.


"Ih, pak polisi ini ya. Sombong amat nggak mau mendengar penjelasan dari rakyat jelata. Saya ini udah jujur loh, Pak. Saya mau kembalikan sepeda ini, tapi tadi saya di kejar-kejar orang jahat."


"Alasan!" tak mudah pak polisi menerima penjelasan dari Tasya. Ini sudah kedua kalinya Tasya berdebat dengan polisi itu.


"Bukan alasan, Pak. Kalau tidak percaya tanya saja sama dia. Dia juga ikut lari karena di kejar-kejar orang jahat. Benar begitu kan?" Tasya menoleh ke arah Faisal yang sedari tadi diam saja dan mendengarkan pak polisi juga Tasya yang saling beradu argumen.


"Apakah itu benar?" pak polisi sedikit miring karena keberadaan Faisal terhalang oleh Tasya. Melihat dengan jelas siapa orang yang ada di belakang Tasya sekarang.


"Sebentar, sepertinya saya mengenal anda?" pak polisi berjalan mendekati Faisal yang nampak tersenyum juga ketika melihat pak polisi itu, apakah dia mengenal juga.


Matanya terus melihat Faisal, seolah meyakinkan diri kalau yang di lihat? itu memang orang yang sama yang dia kenal.


"Assalamu'alaikum, Pak Hans" sapa Faisal dengan sopan, bahkan Faisal juga mengulurkan tangan pada Pak polisi itu yang Faisal panggil pak Hans.


"Wa'alaikumsalam, ustadz Faisal?!" nampak polisi itu begitu sumringah bisa bertemu lagi dengan Faisal. Mereka berdua juga terlihat akrab itu artinya mereka berdua memang sudah saling kenal.


Faisal mengangguk juga tersenyum, "Benar, Pak Hans. Saya Faisal, yang pernah bapak dampingi ketika akan mengisi pengajian akhbar di balai kota."


Semakin senang pak polisi itu, dia merasa mendapat sebuah keberuntungan bisa melihat dan bertemu langsung dengan ustadz yang menjadi idolanya.


Tapi masalahnya sekarang, kenapa Faisal bisa bersama dengan gadis ngeyel yang selalu ngajak ribut dan juga ngeselin si Tasya.


"Ustadz, kenal dedemit itu di mana?" Pak Hans melirik ke arah Tasya yang acuh dan sudah mulai bosan. Lebih baik Tasya pergi saja seandainya tidak bersama Faisal tadi.


Tetapi, dengan dia yang bersama Faisal sepertinya akan menjadi keuntungan besar untuk Tasya dia akan terbebas dari hukuman. Kemarin dia lari berputar taman tiga kali saat melakukan kesalahan sekarang apa lagi? tidak mungkin kan sekarang mendapatkan hukuman.


"Dia bukan dedemit, Pak Hans. Dia Tasya. Teman saya."


"Teman apa teman?" goda pak Hans.


"Teman," jawab Faisal dengan senyum.


'InsyaAllah teman dunia akhirat, pak Hans,' batin Faisal.


Semakin bosan Tasya sekarang, dia benar-benar seperti nyamuk bagi kedua pria beda usia itu. Dia terus bergerak tak sabar kakinya terus bergoyang dengan kedua tangan sudah memegangi sepedanya.


"Silahkan selesaikan acara gosipnya, wanita sholehah ini tidak mau ikut campur. Tidak mau kecipratan dosanya," tak mau di sana lagi Tasya bergegas pergi menuntun sepedanya dan tentu akan dia kembalikan.


Faisal menoleh dan ternyata Tasya sudah menaiki sepeda itu dan terus mengayuhnya.


"Maaf, Pak. Saya harus pergi. Saya ada urusan," pamit Faisal, "Assalamu'alaikum," bergegas Faisal berlari.


"Wa'alaikumsalam," mata Pak Hans seketika mengekor kepergian Faisal juga Tasya jelas dia merasa ada hal yang aneh di antara mereka berdua.


Pak Hans merasa Faisal juga Tasya bukan hanya teman biasa saja, pasti ada hubungan serius yang tengah mereka coba bangun.


Pak Hans tersenyum sendiri melihat Tasya yang pergi lebih dulu dan Faisal mengejarnya.


"Benarkah hanya teman?" Pak Hans merasa geli sendiri. Berpikir kalau saja perempuan bar-bar seperti Tasya bisa bersatu dengan pria kalem seperti Faisal. Bagaimana rumah tangga mereka berdua ya.


Semakin Pak Hans melihat mereka berdua yang sudah semakin jauh dan kini barulah dia tersadar.


"Astaghfirullah hal 'azim! bagaimana pun dia harus mendapatkan hukuman karena telah melanggar peraturan!" pekik pak Hans.


"Pak, pak Hans kalah lagi dengan cewek bar-bar tadi?" satu temannya datang dan menyadarkan pak Hans yang masih melotot ke arah Tasya dan Faisal pergi.


"Hah! ti_tidak," elaknya tak mau mengakui. Pak Hans memang tidak kalah kan karena dia hanya sedikit teralihkan saja karena menyapa Faisal.


"Tapi, kenapa dia bapak lepaskan?" tanya temannya itu begitu penasaran. Rasanya sangat kepo kan seorang pak Hans yang begitu keras dan disiplin bisa melepaskan pelanggar begitu saja. Bukankah itu sangat aneh?


"Bukan di lepaskan, tapi lepas sendiri dari jeratan." jawaban pak Hans terdengar kesal.


Satu temannya itu hanya terkikik karena mendengar suara pak Hans yang sangat kesal dan kini sudah berjalan menjauh tapi tak berniat untuk mengejar.


"Ada-ada saja," ucapnya.


...****************...


Bersambung...