Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Malu-malu tapi mau



🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya terus terdiam ketika berada di dalam mobil yang terus berjalan. Bahkan dia juga sama sekali tidak berani menoleh kearah Faisal.


Dia merasa begitu gugup setelah perkataannya sendiri tadi setelah Faisal berhasil mengalahkan kedua preman yang ada di tempat mereka makan malam.


Sementara Faisal, dia sesekali menoleh juga tersenyum karena merasa lucu dengan apa yang terjadi pada istrinya sekarang.


"Kenapa, apakah kamu berubah menjadi pendiam sekarang?" tanya Faisal begitu santai. Dia juga tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat begitu tegang tidak seperti biasanya.


Lucu saja, istrinya yang biasa begitu banyak bicara tapi sekarang berubah menjadi pendiam tanpa mengatakan apapun mulai dia naik mobil sampai sekarang hampir sampai di rumah.


"Ti_tidak," jawab Tasya tergagap.


Faisal menggeleng menanggapinya, semakin lucu saja wajah Tasya sekarang ini. Seandainya tidak sedang berada di dalam mobil yang berjalan kemungkinan besar Faisal akan melakukan hal yang lebih membuat Tasya terdiam, tapi itu tidak terjadi karena Faisal memikirkan keselamatan mereka berdua.


"Oh, tidak ya. Hem... tidak masalah," Faisal kembali fokus dengan jalan raya di tengah-tengah kegelapan malam. Jangan sampai karena begitu asyik dia malah mengalami hal-hal yang tidak di inginkan.


Sejenak keduanya terdiam, fokus dengan jalan raya dan juga bagus dengan pikiran masing-masing. Apalagi Tasya, pikirannya berkelana begitu jauh dengan kedua tangannya yang terus bergerak memijat satu sama lain.


Tetapi yang terjadi tentu tidak luput dari penglihatan Faisal, Faisal melihat semua pergerakan yang dilakukan oleh Tasya begitu juga dengan duduknya yang tidak tenang.


"Apakah kamu masih lapar? kamu baru makan sedikit karena makanan mu di buang preman tadi. Apakah mau berhenti di warung?" kembali Faisal berkata.


"Ti_tidak usah. Aku sudah kenyang," Tasya hanya melirik saja dan tidak berani melihat Faisal sepenuhnya.


Entah kenapa perasaan dari Dina tadi seakan ikut menyerbu hatinya sekarang. Tasya ikut merasakan gugup yang luar biasa padahal dia sudah terbiasa bersama dengan Faisal.


"Benarkah? Hem, apa perlu aku masakin nanti di rumah?" Faisal menawarkan.


"Ti_tidak usah. Aku benar-benar sudah kenyang kok. Aku hanya lelah dan ingin cepat sampai rumah untuk istirahat."


Faisal mengangguk, dia tau apa yang tengah terjadi pada istrinya. Dia gugup berhadapan dengannya dan sepertinya dia ingin menghindari dirinya.


"Baiklah, setelah sampai di rumah kamu boleh istirahat. Aku harus kembali membantu persiapan untuk acara yang sudah hampir sampai tiba waktunya."


Tasya bisa bernafas lega, setidaknya dia bisa terlepas dari Faisal untuk malam ini. Dia sendiri merasa bingung, ada apa dengan dirinya?


Kemarin dia selalu senang dekat dengan Faisal tapi kenapa sekarang dia menjadi begitu pemalu?


Faisal menoleh dia tersenyum dan Tasya pun juga melakukan hal yang sama, tersenyum begitu manis. Namun senyum itu tidak lama setelah Tasya sadar, cepat dia memalingkan wajahnya, dia benar-benar merasa sangat malu.


Seperti abg yang tengah mengalami masa puber Tasya terlihat malu-malu ketika melihat kearah Faisal. Dia malu, tapi dia mau. Dia juga sangat penasaran dengan setiap inci dari wajah suaminya, padahal setiap hari juga sudah menatapnya. Tapi sekarang? seperti ada yang lain.


"Kenapa?" lirikan mata Tasya kepergok oleh Faisal, dengan cepat Tasya memalingkan wajahnya, dia malu karena ketahuan.


"Ti_tidak," jawab Tasya mengelak.


Bukan hanya Tasya yang merasa lain, tapi Faisal pun juga sama. Ada yang lain dari Tasya, tapi apa?


Mereka sama-sama penasaran dengan pasangan masing-masing dan merasa sangat berbeda.


Keheningan akhirnya yang terjadi di tengah-tengah mereka, mobil terus melaju namun tak ada lagi suara dari keduanya yang keluar.


Sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di pesantren. Mobil terparkir di tempat biasa.


Keduanya sama-sama turun tanpa menoleh, entah karena sama-sama malu atau mungkin marahan, tidak mungkin kan?


"Hem, ka_kamu istirahat dulu saja, Aku akan menemui mas Ilham dan membantu beberapa pekerjaan," Bahkan Faisal pun juga ikut-ikutan gugup seperti Tasya. Sungguh menggemaskan mereka berdua saat ini, mereka sudah lama menikah tapi rasanya baru tadi pagi mereka menikah. Malu-malu tapi mau.


"I_iya," Tasya mengangguk halus dengan wajah yang terus menunduk dan tak berani melihat ke arah Faisal. Entah seperti apa wajah suaminya sekarang ini, Tasya ingin melihat tapi dia sangat malu hingga akhirnya berlalu pergi setelah mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum," ucap Tasya.


"Wa_wa'alaikumsalam," jawab Faisal.


Faisal masih berdiri di tempat, melihat kepergian Tasya yang semakin lama semakin jauh dan setelah hilang dari jangkauan mata barulah Faisal benar-benar pergi dari sana untuk menemui Ilham.


🌾🌾🌾🌾🌾


Jantung Tasya terus saja berdetak tidak menentu meski sekarang sudah sampai di dalam kamarnya. Dia duduk di atas ranjang dengan tangan yang mengelus dadanya sendiri juga dengan menghela nafas panjang untuk menetralkan detak jantungnya.


"Astaghfirullah, ini perasaan ku kenapa kacau begini? udah bukan pengantin baru tapi masih saja merasa seperti pengantin yang baru akan di temukan dengan suaminya," gumam Tasya.


Tidak lama Tasya berada di kamar mandi, tidak sampai lima belas menit dan dia sudah kembali keluar dengan keadaan yang sudah segar dan tentunya sudah berganti dengan pakaian yang lain.


"Ma_mas sudah kembali?" Tasya begitu terkejut ketika keluar dan ternyata Faisal sudah berada di dalam kamar dan duduk di sofa seperti sedang menunggunya.


Tasya merasa heran karena tadi Faisal pamit untuk pergi menemui Ilham dan juga ingin membantu mempersiapkan segalanya tapi kenyataannya dia sudah kembali dengan begitu cepat.


"I_iya. Mas Ilham sudah tidur, dan semua persiapan ternyata sudah selesai."


Faisal juga sama gugupnya.


Ini ada apa sih dengan mereka berdua? mereka berdua sama-sama gugup tanpa alasan. Mereka grogi juga sungkan untuk memandangi satu sana lain, aneh.


"Hem, apakah kamu lapar? apakah kamu butuh minum atau membutuhkan sesuatu?" tanya Faisal dengan usaha bersikap biasa-biasa saja namun ternyata tidak bisa.


"Ti_tidak, saya... saya mau istirahat. Yah! saya mau istirahat." Tasya juga salah tingkat.


Tasya langsung pergi ke ranjang, perlahan merebahkan tubuhnya dengan miring.


"Sa_saya ingin bersih-bersih dulu," Faisal juga bergegas masuk ke kamar mandi. Faisal terlihat begitu tergesa-gesa karena ingin secepatnya lari dari hadapan Tasya.


Tasya tidak menjawab, dia hanya diam di atas ranjang dan sudah menyelimuti setengah dari tubuhnya.


Tak lama Faisal keluar, dia sudah terlihat segar juga dengan pakaian yang sudah ganti. Kaus oblong berwarna putih juga sarung hitam saja yang dia pakai.


Faisal melihat ke arah Tasya, istrinya sudah tidur ternyata karena matanya sudah terpejam. Faisal bernafas lega, setidaknya dia bisa mudah membuat dirinya netral.


Faisal ikut menyusul di sebelah Tasya. Faisal terus berusaha untuk tidur, tapi kenyataannya tidak semudah yang dia pikir. Matanya terus menatap langit-langit dan terus berkedip-kedip.


Faisal menoleh kearah Tasya, istrinya hanya diam saja, jelas dia sudah tidur kan?


Kembali Faisal bernafas panjang, leher istrinya begitu menggoda dirinya. Faisal menggaruk kepalanya frustasi.


'Dia istrimu, Sal. Kamu bebas memeluknya jika kamu menginginkannya,' batin Faisal.


Perlahan Faisal menggeser dirinya, memberanikan diri untuk lebih dekat dengan Tasya. Tangan meraih selimut, dan dia ikut bergabung.


Ragu-ragu dia miring, tangannya perlahan bergerak untuk memeluk Tasya, 'tidak apa-apa, Sal.' batinnya lagi.


Dengan keberanian yang sudah memuncak akhirnya Faisal benar-benar berani memeluk Tasya dari belakang, dan ketika itu Tasya membuka mata ternyata Tasya hanya berpura-pura saja.


Jantung Tasya berdetak semakin tidak karuan.


'Ya Allah, ini sudah menjadi malam-malam yang kesekian kalinya untuk ku bersama mas Faisal, tapi kenapa rasanya masih seperti malam pertama?' batin Tasya.


Tasya semakin merinding ketika hembusan nafas Faisal menyapa telinganya. Wajah Faisal benar-benar tepat di belakang tengkuknya dan merasakan hawa panas itu menyapanya.


Tasya semakin gelisah.


'Tenang, Sya. Tenang. Selama janu tenang mas Faisal tidak tau kalau kamu masih terjaga.' batin Tasya.


Tasya memang diam tak mengatakan apapun, tapi detak jantungnya yang mengatakan pada Faisal kalau dia belum tertidur.


Faisal tau akan hal itu, tapi dia juga ragu untuk melihat wajah Tasya. Namun sesuatu yang bergejolak tidak bisa membuat dia tenang, hingga akhirnya dengan perlahan Faisal menarik Tasya untuk menghadap kearahnya.


Tasya masih setia menutup mata, tapi Faisal tau kalau Tasya hanya pura-pura.


"Sya," panggil Faisal dengan berbisik.


Tasya masih bergeming, tapi itu tidak menyurutkan keinginan Faisal.


"Sya, cup..." panggil Faisal lagi dan langsung dengan tindakan nyata, memberikan kecupan pada bibir Tasya dan seketika Tasya membuka mata.


"Boleh minta?" tanya Faisal tetap dengan begitu lirih.


Tasya terdiam sesaat seperti berpikir dan Faisal setia menunggu. Dengan pelan Tasya mengangguk dan membuat Faisal tersenyum, hatinya bersorak kegirangan karena mendapatkan izin untuk menyatukan cinta mereka.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...