Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Kekecewaan Tasya



🌾🌾🌾🌾🌾


Antara berontak juga pasrah? Hati Tasya begitu berperang dengan kedua keinginan yang berbeda. Hidup atau mati? Itupun juga pilihan yang terus berputar-putar di dalam kepalanya. Daripada harus menikah dengan siapapun tapi dengan cara di jual seperti ini bukankah lebih baik mati saja?


Harga diri sebagai seorang anak, harga diri sebagai seorang perempuan telah di hancurkan oleh ayah kandungnya sendiri. Ayah macam apa itu, sampai-sampai dia begitu tega menjualnya hanya untuk kesenangannya sendiri.


'Ibu, ajaklah Tasya bersama Ibu,' batin Tasya menjerit lebih baik pergi bersama ibunya daripada harus hidup penuh dengan kehinaan seperti sekarang ini.


Ingin dia menjadi wanita tangguh yang sangat kuat dalam keadaan apapun tapi nyatanya kali ini dia tak sekuat itu, dia rapuh, dia tak berdaya dan kini hanya bersamaan duka di tengah-tengah dirinya yang masih di tawar.


"Tiga ratus juta."


Mata Tasya membulat dengan berderai air mata, wajahnya mendongak melihat Faisal yang memberikan penawaran di atas yang di katakan oleh tuan Alex.


Tasya pikir Faisal tidak akan melakukan apapun dan akan menyerah begitu saja, tapi kenyataannya Tasya salah. Tapi, bukan lagi bahagia yang Tasya rasakan saat ini dia lebih terhina dan semakin merasa tak pantas untuk bersanding dengan Faisal yang begitu sempurna, apalagi harus menikah dengan cara yang seperti ini.


"Oke-oke, saya terima tiga ratus juta," begitu bahagia Sudiro mendengar penawaran Faisal, kapan lagi kan dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.


"Bagaimana tuan Alex, apakah masih bisa memberikan harga di atas tiga ratus juta?" tanya Sudiro, siapa tau harganya bisa bertambah lagi.


Tuan Alex tidak menjawab dan dia langsung pergi begitu saja. Berarti dia kalah dalam penawaran ini dan Faisal yang akan mendapatkan Tasya.


"Kapan saya bisa mendapatkan uangnya, kamu tidak berbohong kan?"


"Apakah saya seperti seorang pembohong?" Faisal balik bertanya.


"Seperti yang anda janjikan pada tuan itu untuk menikahkan di hari ini juga, saya juga mau anda menikahkan kami hari ini juga. Setelah selesai pernikahan baru anda akan mendapatkan uangnya. Setuju..."


"Setuju! lihatlah, Sya. Kamu benar-benar bisa menghasilkan uang banyak untuk ayah. Ayah akan puas ayah akan bersenang-senang dan kamu juga akan bersenang-senang."


Dengan senangnya Sudiro berjongkok di hadapan Tasya memegangi dagunya namun dengan cepat Tasya menghindar.


Kali ini, ada rasa kemarahan yang sangat besar di hati Tasya pada Faisal, kenapa harus dengan cara seperti itu, apakah tidak ada cara lain untuk bisa membuat pernikahan mereka berdua murni?


Tasya berdiri melangkah dan berdiri tegak di depan Faisal dengan mata yang begitu nyalang penuh dengan amarah. Bukankah sekarang Faisal juga sangat merendahkan harga dirinya? apakah itu artinya Tasya sama saja seperti wanita-wanita murahan seperti yang lain di mata Faisal?


"Kamu pikir saya senang karena kamu menang dan bisa menikahi saya dengan seperti itu? tidak! saya tidak ikhlas. Saya membenci mu, dan akan selalu membenci mu!" ucapan Tasya begitu melengking dan mengejutkan semua orang termasuk Faisal.


"Sya, saya hanya melakukan apa yang seharusnya. Saya tidak ada maksud apapun, sungguh," ucap Faisal.


Tangis Tasya pecah di hadapan Faisal. Tidak tau kalau Tasya akan berpikir seperti ini padahal apa yang Faisal lakukan hanya semata-mata untuk bisa melepaskan Tasya dari bandit tua itu, tapi ternyata Tasya malah berpikir hal lain.


"Sya. Bukan seperti itu," Faisal berusaha memberikan penjelasan tapi sepertinya Tasya sudah kadung kecewa dengan Faisal.


"Aku benci kamu, aku benci!" teriak Tasya lagi. Dia mendorong Faisal hingga mundur satu langkah lalu dia berlari masuk ke dalam rumah.


Faisal memandangi kepergian Tasya dengan perasaan pilu, dia ikut merasa terhina dengan semua ini. Dia sedih dengan kesedihan Tasya tapi mau bagaimana lagi, ini adalah caranya.


'Apapun yang aku lakukan hanya untuk mu, Sya. Aku hanya ingin kamu bisa secepatnya terlepas dari ayahmu juga dari orang-orang yang mengincar mu. Percayalah, pernikahan kita akan tetap murni,' batin Faisal.


"Pak, ini tugasmu. Kalau kamu mau uangnya pernikahan harus terjadi hari ini juga." ucap Faisal.


"Siap-siap, aku akan lakukan semuanya. Aku akan panggil penghulu," begitu bahagia Sudiro, dia langsung berlari pergi mungkin dia akan melakukan apa yang barusan dia katakan, memang harus itu yang dia lakukan kan?


"Sal," Keisha mendekat dan tersenyum di hadapannya.


"Anak-anak mama tidak pernah di ajarkan untuk merendahkan harga diri siapapun apalagi itu harga diri seorang perempuan. Kamu tidak melakukan itu kan, Sal?"


"Ma, ajaran mama dan papa akan selalu melekat di sini, Ma. Di hati Faisal. Jadi mana mungkin anak mama ini akan melakukan hal yang serendah itu. Mama tunggu saja apa yang akan terjadi, karena Faisal hanya ingin Tasya bisa terbebas dari ayahnya. Secepatnya," jawab Faisal.


"Papa yakin dan percaya padamu, Sal. Papa harap kamu tidak akan mengecewakan papa dan mama," Rayyan juga mendekat kepada Faisal. Memberikan kepercayaan sepenuhnya dengan apa yang di lakukan Faisal. Juga menyerahkan apapun yang akan terjadi kepadanya.


"Pasti, Pa," begitu yakin Faisal mengatakan hal itu, dia sangat percaya kalau apa yang dia lakukan adalah benar. Biarkan saja saat ini Tasya marah padanya tapi itu akan lebih baik daripada tidak di lakukan sama sekali.


Dalam waktu yang sangat singkat semua harus di persiapkan, meskipun hanya sekedar sah dulu menjadi suami istri itu tak menjadi masalahnya bagi Faisal yang terpenting semuanya berjalan dengan lancar.


Di dalam kamar Tasya hanya berdiri di depan jendela, melihat ke arah luar. Hatinya begitu sakit dengan air mata yang terus mengalir.


"Apakah aku dilahirkan hanya untuk mendapatkan penghinaan seperti ini?" gumamnya.


"Semua laki-laki sama saja, bukan ayah dan sekarang mas Faisal juga. Dia ternyata tidak sebaik apa yang aku pikirkan. Bahkan dia juga ikut-ikut merendahkan harga diri ku. Apakah dia juga akan sama seperti ayah setelah mendapatkan ku? apakah dia akan membuat ku menderita sama seperti ayah yang membuat ibu menderita? apakah aku juga akan mati perlahan-lahan seperti ibu?"


Tangis Tasya semakin pecah kala membicarakan tentang ibu yang juga sangat menderita karena laki-laki. Jelas, Tasya tidak mau nasibnya sama seperti ibunya, dia ingin bahagia sama seperti wanita-wanita lain yang bisa bahagia bersama pasangannya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung.....