
🌾🌾🌾🌾🌾
Rumah begitu sangat bagus bagi Tasya kini sudah ada didepan mata. Rumah yang di siapkan oleh Faisal untuk dirinya juga anak-anak jalanan yang selalu bersama dengannya.
Semua tampak terperangah tak mampu berkata-kata, benarkah mereka akan tinggal di sana dengan bebas? benarkah mereka bisa menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal dan akan menjadi tujuan untuk mereka pulang?
"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Faisal. Faisal ikut mengamati rumah itu meski masih dari luar saja tapi kemarin Faisal sudah melihat semua isi di dalamnya. Ternyata Faisal memang sudah menyiapkan jauh-jauh hari bahkan sebelum Tasya datang ke pesantren kemarin
"Ini sangat indah, ini beneran akan menjadi tempat kami semua, Mas?" masih terperangah Tasya memandangi rumah bercat putih bersih dengan berbagai macam tanaman di halaman rumah itu. Sengaja Faisal mencari rumah yang terdapat pintu gerbang yang tinggi supaya mereka lebih aman lagi.
"Tentu, ini untuk kalian semua. Tapi, aku harap ini hanya sebentar untukmu dan kamu akan ikut dengan ku kelak." ucap Faisal yang membuat Tasya tersenyum malu.
"Misalnya aku tidak mau, apakah mas akan mengambil rumah ini lagi?" Sekedar Tasya ingin memastikan siapa tau Faisal melakukan ini hanya karena lagi ada maunya saja.
Seorang yang memang tak mempunyai apapun seperti Tasya juga harus waspada dengan semua kebaikan orang lain dalam bentuk apapun. Segala kemungkinan bisa saja terjadi kan?
"Tidak, aku ikhlas. Rumah ini memang aku beli hanya untuk anak-anak yang tak beruntung. Biasanya mereka hanya tinggal di emperan toko, di bawah jembatan atau di manapun juga dan sekarang di sinilah mereka akan tinggal. Aku juga sudah menyiapkan ibu pengasuh, beliau akan terus membimbing semua anak-anak untuk menjadi lebih baik dan tentunya mereka semua bisa belajar dan sekolah seperti anak-anak pada umumnya," sungguh perbuatan yang sangat mulai.
"Apakah mas melakukan ini sejak kenal denganku saja?" nampaknya Tasya masih meragukan perbuatan Faisal yang sangat mulia ini.
"Tidak, sebenarnya aku beli ini sudah sangat lama. Tapi semuanya harus di perbaiki lebih dulu dan baru bisa di tempati sekarang. Kenal atau tidak dengan mu tempat ini akan tetap ada. Kenapa, apakah ada masalah?" Faisal menoleh.
"Ti_tidak," Tasya menjawab dengan gugup, ternyata apa yang dipikirkan adalah salah besar. Faisal memang sangat baik.
Kedua masih berdiri di belakang gerbang sementara anak-anak sudah berhamburan di taman dan bermain-main di sana dengan sangat bahagia.
Faisal dan Tasya terus mengamati pergerakan anak-anak. Faisal ikut tersenyum, merasa sangat senang karena akhirnya apa yang menjadi tujuannya sejak lama sudah berhasil dua wujudkan.
"Sudah sejak lama aku ingin melihat anak-anak tersenyum dengan bebas seperti sekarang. Menikmati masa kecil mereka tanpa harus bekerja keras mencari pundi-pundi uang dan melupakan masa-masa indah seperti ini."
Tasya masih terdiam, dia mengamati Faisal yang terus berbicara dengan melihat anak-anak. Apalagi yang Tasya cari? apalagi yang harus dia buktikan, semuanya sudah terbukti bahwa Faisal benar-benar laki-laki baik.
"Ayo kita masuk," Faisal menoleh sebentar lalu berjalan masuk untuk mengejar anak-anak yang sudah lebih dulu.
Tasya bergeming, dia tetap berdiri di sana dan lebih memilih untuk melihat Faisal yang sudah semakin jauh. Matanya begitu fokus pada Faisal saja, mengabaikan semua anak-anak yang sudah senang dengan semua permainan yang sudah tersedianya di sana.
"Kak Tasya! Sini!" teriak Salwa dari jauh tangannya terus melambai-lambai untuk meminta Tasya mendekat.
Tasya masih asyik dengan angan-angannya sendiri melihat Faisal yang sudah duduk di depan rumah dan ikut bermain dengan anak-anak. Siapa yang tidak akan menyukai laki-laki seperti itu, bohong kalau tidak ada rasa.
Begitu fokusnya Tasya pada Faisal sampai dia tak melihat Salwa yang sudah ada di depannya. Salwa mengikuti arah mata Tasya tentu Faisal yang Salwa lihat.
"dia tampan dan sangat baik ya, Kak. Bukan hanya wajahnya saja yang menarik tapi hatinya lebih menarik lagi," ucap Salwa.
"Hem," tak sadar Tasya mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu kita ke sana yuk, Kak. Kita samperin kak Faisal nya." ucap Salwa.
Tak mendapatkan jawaban dari Tasya Salwa langsung menarik tangan Tasya dan mengajaknya berlari, mereka berdua pun berlari mendekati Faisal.
Begitu canggung Tasya saat berada di dekat Faisal, dia terus diam seolah tak mampu untuk bicara. Dia bahkan menunduk dengan malu dan tak berani melihat Faisal.
"Tasya, sini," panggil Faisal.
Tasya melepaskan topinya dan rambutnya yang panjang jatuh begitu saja dan tergerai begitu indah.
Faisal tak sengaja melihat itu, Tasya memang terlihat sangat cantik dengan seperti itu. Wajahnya begitu jelas bagaimana kecantikannya dengan di tambah sempurnanya rambutnya yang hitam dan panjang.
Tetapi, apa yang terlihat dari Tasya sekarang malah membuat Faisal menunduk. Dengan hatinya yang menyerukan istighfar tapi juga memuji dengan membaca tasbih
Jelas Faisal melakukan itu karena tak mau melihat kecantikan Tasya dan akan mendapatkan dosa karena itu. Tasya belum halal untuk di lihat sesuka hatinya, mereka belum mahram.
🌾🌾🌾🌾🌾
Terdiam Tasya di dalam kamar yang kini menjadi tempatnya tinggal. Di bawah atap rumah yang benar-benar sangat nyaman dan bisa dia gunakan untuk berlindung dan berteduh dari apapun.
Semua anak-anak sudah tidur di tempat masing-masing dan hanya Tasya saja yang masih terjaga di kamar seorang diri.
Malam semakin larut tapi Tasya sama sekali tak merasakan kantuk. Bayangan Faisal dan hanya Faisal saja yang terus melintas di kepalanya.
"Hadeuh, kenapa kepalaku hanya di penuhi dia saja?" Tasya beranjak dari kasur melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tasya berdiri di depan wastafel menyalakan air dan membasuh wajahnya. Sekali air menyapa wajahnya Tasya mengaca pada cermin yang sangat besar di hadapannya hingga terlihat jelas wajahnya yang basah yang meneteskan sisa-sisa air.
"Astaga," Tasya menggeleng karena apa yang dia lihat di cermin bukan wajahnya melainkan wajah Faisal yang tengah tersenyum. Tasya kembali menunduk dan membasuh wajahnya lagi.
Tak mau melihat hal yang sama Tasya langsung keluar dia berjalan menghampiri nakas-nakas yang ada di sana dan terdapat banyak buku.
Semua buku yang tersedia adalah buku tentang pembelajaran agama sepertinya yang menaruh buku-buku di sana memang sengaja supaya Tasya mempelajarinya tapi entah yang menjadi niat sebenarnya.
Tasya mengambil salah satu dari buku itu dia kembali ke ranjang dan perlahan membukanya. Buku tentang pembelajaran Tauhid.
Selembar demi selembar Tasya buka, meski tak begitu pandai membaca tapi Tasya sedikit mengerti dan dia bisa membaca meski dengan cara di eja.
Begitu susah untuk Tasya memahami, tapi tetap berusaha dia membacanya.
"Ini sangat susah. Jika saja ada yang mengajariku pasti akan semakin mudah," gumam Tasya.
Tasya tersenyum dengan sebuah angan yang kembali datang, angan tentang Faisal dan dirinya jika benar-benar telah bersama.
"Seandainya benar pasti mas Faisal akan sangat senang mengajariku sampai aku benar-benar bisa pandai," gumamnya dengan tatapan mata yang kosong.
Kembali Tasya mengambil satu buku lagi, "Membimbing istri mendampingi suami," ucap Tasya seraya membuka buku baru yang ada di tangannya. Tasya kembali tersenyum dan begitu penasaran dengan isi di dalamnya.
"Memilih calon suami yang baik, laki-laki yang sholih." Tasya kembali membaca.
Membaca dan terus membaca hingga Tasya tak sadar sejak kapan dia terlentang dengan mengangkat buku dan membacanya.
Semakin lama rasa kantuk semakin besar menyerang hingga tak terasa dia tertidur dan buku yang dia baca terjatuh dan menutupi wajahnya.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....