
🌾🌾🌾🌾🌾
Berapa bahagianya Tasya, dia bisa mendapatkan teman baru yang seperjuangan di pesantren. Dia tak malu lagi karena ada teman yang juga baru awal-awal belajar mendalami ilmu agama, siapa lagi kalau bukan Dina.
Pendopo yang memang bersebelahan membuat mereka berdua sering bertemu. Bahkan setiap tak ada acara atau pekerjaan mereka selesai mereka selalu duduk bersama, entah di emperan pendopo Tasya atau Dina.
Apalagi ketika para suami mereka tengah menjalankan tugas mereka atau mungkin sedang pergi keluar untuk dakwah, mereka akan menghabiskan waktu saling berbagi cerita bahkan mereka belajar bersama. Entah belajar memasak atau mungkin belajar soal agama.
Untuk pelajaran memasak Dina memang lebih pintar daripada Tasya, jelas! Dina awalnya bekerja di rumah makan. Berbeda dengan Tasya yang pekerjaannya makan saja.
Dina akan mengolah apapun lebih dulu untuk bisa makan, sementara Tasya, dia akan langsung makan di warung jika ada uang kalau tidak ada ya berarti hanya permen karet yang dia jadikan pembasah lidah.
"Halo mbak, Tasya!" teriak Dina memanggil.
Tasya sudah lebih dulu berada di sebelah rumah untuk menjemur pakaiannya juga Faisal sementara Dina, dia baru datang dan dengan membawa ember hitam.
Buru-buru Tasya menoleh karena mendengar suara Dina, dia tersenyum setelah melihatnya.
"Iya, Mbak. Baru selesai nyucinya?" Tasya pun juga berteriak dalam menjawab.
Pendopo yang memang berada di bagian belakang bangunan pesantren tentu tidak akan banyak yang mendengar mereka berdua. Juga para suami mereka yang juga tidak ada di tempat jelas membuat mereka lebih leluasa untuk bicara.
"Iya nih, Mbak. Soalnya..." Dina tidak menyelesaikan perkataannya.
"Idih, mentang-mentang masih pengantin baru jadi masih betah ya di tempat tidur mulu. Sok lah di percepat biar nanti anakku ada temennya." Celoteh Tasya.
"Apa sih, Mbak!" Dina tampak malu-malu karena ucapan Tasya barusan. Meski memang benar tapikan tidak harus di perjelas begitu juga kan?
"Hahaha!" Tasya malah tertawa girang karena telah berhasil menggoda Dina, wajahnya seketika sudah langsung memerah. Meski dia sembunyikan dengan cara menunduk tapi tetap saja jelas dari jangkauan mata Tasya.
Keduanya terus saja sibuk dengan jemur pakaian masing-masing, hingga hampir sampai tak lagi ada suara yang terdengar. Tetap setelah Tasya sudah selesai dan dia sudah duduk di bangku yang tersisa dia baru kembali berteriak.
"Mbak sudah masak?" tanya Tasya.
"Belum, emang kenapa, Mbak?"
"Masak bareng dong, sekalian ajarin aku. Masakan mbak Dina pasti selalu enak-enak, aku belum bisa masak, Mbak. Kemarin saja belajar bikin sayur bening bayem malah keasinan, goreng tempe malah gosong."
Meski sebenarnya sedikit-sedikit sudah bisa tau Tasya kadang ada lupanya, dia masih selalu membuat kesalahan ketika memasak. Makanya dia tidak akan masak kalau tidak ada Faisal karena ujung-ujungnya rasanya pasti ancur banget. Kalau ada Faisal kan kayak ada gurunya.
"Iya deh, emang mbak mau masak apa?" Akhirnya Dina setuju dengan keinginan Tasya.
"Apa saja, yang penting mudah tapi enak," Tasya hanya tersenyum, mudah tapi enak? Beli aja Sya, pasti enak, mudah lagi.
Dina mengangguk tapi dia seolah langsung berpikir, mungkin dia tengah berpikir kira-kira apa yang ingin dia masak. Apalagi keinginan Tasya sangat aneh. Enak tspi gampang?
🌾🌾🌾🌾🌾
Tasya dan Dina benar-benar memasak bersamaan, mereka masak di pendoponya Tasya sesuai keinginannya.
Meski semua barang-barang dari Tasya mereka tetap memasak dengan porsi yang lebih, jelas! Kan akan di bagi nantinya.
"Ini benar kayak gini?" Tasya bertanya, memotong cabe hijau memang sesuai selera kan? Kadang suka ada yang potong kecil-kecil tapi ada juga yang besar-besar, dan Tasya lebih suka yang kecil-kecil.
"Iya, Mbak." Dina menoleh ketika dia tengah sibuk di depan kompor.
Begitu akur mereka berdua, jika saja para suami mereka melihat pasti akan ikut bahagia.
"Sebenarnya aku tuh kurang suka dengan memasak, aku lebih sukanya tuh yang tinggal makan," Tasya berucap sembari menoleh.
Dina pun tersenyum mendengar penuturan itu, siapapun pasti suka yang seperti itu. Yang tanpa bersusah payah tapi sudah langsung tersedia.
"Iya juga sih," Tasya tertegun sesaat dan mulai lagi dengan pekerjaannya.
"Sudah mbak motongnya?" Dina menghampiri.
"Sudah, seperti ini kan?" Kembali Tasya memastikan. Dina mengangguk dan mengambilnya.
"Iya, Mbak." Dina berjalan ketempat pencucian lalu mencuci cabe itu, setelah ya baru dia masukan ke atas wajan.
Tasya ikut melihat, olahan ayam dengan lombok ijo itu terlihat sangat menggiurkan, rasanya pasti enak.
"Tinggal tambah kecap sedikit matang deh," sebentar Dina menoleh.
Betapa bahagianya Tasya melihat olahan itu, meski bukan dia yang mengerjakan karena dia membantu dia juga merasa ikut puas, apalagi dia juga sudah sedikit belajar meski jika dia praktekan entah akan seperti apa rasanya.
"Tolong piringnya, Mbak." pinta Dina dan Tasya langsung mengambil dia piring. Satu untuk dirinya sendiri dan satunya jelas untuk Dina.
"Alhamdulillah, karena sudah selesai saya pulang ya, Mbak. Mau siap-siap dulu, sebentar lagi mas Ilham kembali untuk makan siang."
"Iya, terimakasih ya mbak udah mau ajarin. Besok lagi ya," Tasya pun juga ikutan girang.
Dua piring di tangan Dina, sari olahan ayam dengan cabai hijau dan satunya hanya oseng sawi.
Bukan hanya Dina saja yang langsung siap-siap tapi Tasya juga. Sebentar lagi Faisal pasti akan kembali karena dia biasanya akan pulang lebih awal karena membantu Tasya memasak.
"Assalamu'alaikum," Nah kan benar, tapi untungnya Tasya sudah selesai menyiapkan semua di meja makan.
"Wa'alaikumsalam!" Tasya langsung menghampiri, menyambut sang suami yang terlihat begitu semangat.
"Mau masak apa hari ini?" Setelah Tasya menyalami Faisal dia langsung mengikuti Faisal yang masuk ke kamar untuk menaruh semua buku-buku yang dia bawa. Dan setelah itu baru dia akan berniat ke dapur.
"Ayam lombok hijau sama oseng sawi," Tasya terus mengikuti.
"Baiklah, mari kita eksekusi." Faisal tersenyum, dia akan selalu setuju dengan keinginan Tasya.
"Tapi tinggal makan," ucap Tasya, dia langsung menggandeng lengan Faisal dan menuntun untuk berjalan ke arah meja makan daripada dapur.
"Loh, udah masak? Ini kamu yang masak?" Faisal terlihat sangat terkejut dengan apa yang ada si atas meja, semua sudah tersedia.
"Iya, tampil sambel kecap nya aja." Jujur lebih baik kan?
"Terus?"
"Tadi Tasya masak berdua sama mbak Dina. Aku hanya bantuin sih, kalau sambel kecapnya itu Tasya yang bikin."
Ingin sekali Faisal tertawa, pinter sekali Tasya. Pasti Dia berpura-pura ingin di ajarin lagi sama Dina supaya dia bisa menyiapkan semuanya, tapi Faisal juga senang karena Tasya jujur.
Dia tidak mengatakan dia yang masak kan? Kalau dia bilang seperti itu tapi kenyataannya yang melakukan adalah orang lain pasti Faisal akan sangat kecewa.
"Yuk mas makan, Tasya udah lapar banget," ucapnya dengan merajuk.
"Hem," Faisal mengangguk, dia juga langsung menggeser kursi untuk Tasya dann setelah Tasya duduk baru dia menggeser kursi yang lain.
"Bismillahirrahmanirrahim...,"
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....