Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Penampilan Lain



🌾🌾🌾🌾🌾


Baju biru, celana hitam ketat yang warnanya sudah mulai pudar itulah yang Tasya pakai sekarang ini. Di tambah dengan jilbab instan yang kekecilan dan dia masukan begitu saja di dalam bajunya.


Tak mau sampai ada yang mengetahuinya Tasya memakai jaket yang Faisal berikan waktu itu. Juga di tambah dengan topi yang dia gunakan untuk menutupi kepalanya dan dia terus menunduk.


Tasya hanya tak mau sampai Bimo cs melihat dirinya karena mereka pasti akan bertanya banyak atau mungkin malah menghalangi kepergiannya.


"Sepertinya aman," gumamnya.


Kakinya terus melangkah hendak keluar dari pasar. Alhamdulillah tak ada yang mengenalinya dan para pedagang yang biasanya bertanya-tanya mereka diam karena tidak tau.


"Astaga, kenapa aku seperti maling gini sih. Kenapa aku harus takut aku kan tidak melakukan kesalahan apapun?" gumam Tasya lagi.


Sebenarnya bukan hanya sebatas takut karena di lihat orang tapi lebih tepatnya Tasya masih malu dengan berpenampilan seperti itu. Entah bagaimana kata orang-orang jika melihatnya apalagi Bimo dan teman-temannya. Mereka pasti akan berkomentar.


Iya kalau hanya berkomentar, kalau sampai menertawakan bagaimana? Tasya masih lemah mental kalau urusan itu. Tasya mengenakan itu juga belum memiliki dasar yang jelas.


Belum ada niat positif yang pasti yang benar-benar mendorongnya untuk mengenakan pakaian tertutup. Semua itu semata-mata supaya dia lebih sopan saja saat datang di tempat Faisal.


Tasya bernafas lega setelah berhasil melewati Bimo dan teman-teman yang sedang nongkrong di depan pasar, ya meski ada rasa was-was tapi dia berhasil. Alhamdulillah.


"Untung saja mereka tidak sadar, kalau sampai dia sadar matilah aku. Mereka pasti akan bertanya ini itu kayak wartawan," sedikit menoleh ke arah Bimo dan dia tetap tak melihat. Bahkan dia tetap asik berbincang-bincang.


"Saatnya aku pergi," perlahan kakinya melangkah, menyusuri jalanan untuk bisa sampai di tempat Faisal.


Sengaja Tasya berangkat lebih awal karena dia tidak naik apapun, lebih baik jalan kaki karena sekalian olahraga. pikirnya.


"Mereka, kenapa bisa ada di sini? gawat, kalau sampai melihat ku," Tasya balik arah saat melihat beberapa orang yang terlihat sedang mencari seseorang dan Tasya jelas yakin dialah yang sedang mereka cari.


"Mana mereka banyak sekali lagi. Haduh mau lewat mana ya?" terlihat Tasya juga sangat bingung dia masih berdiri di tempat dengan memandangi jalanan yang mungkin bisa dia lalui tanpa dilihat oleh orang-orang itu, entah siapa mereka.


Tasya melirik ke belakang, dia begitu panik saat orang-orang itu berjalan mendekat. Tasya tidak mungkin lari begitu saja karena itu juga akan menimbulkan kecurigaan mereka tetapi sudah dia tetap berada di sana bukankah itu sama saja mereka akan melihatnya?


"Mbak, mau tanya. Mbak pernah lihat cewek ini tidak?" tiba-tiba saja salah satu dari mereka menyodorkan foto kepada Tasya dan benar saja foto itu adalah fotonya sendiri.


'Nah kan benar,' batin Tasya.


Sejenak Tasya terdiam, perkiraannya ternyata benar, dialah yang mereka cari.


'Dasar bandit tua nggak tau malu. Sudah punya bini empat masih saja ngejar-ngejar cewek lagi. Apa belum puas!' batin Tasya lagi.


"Mbak, apakah mbak pernah lihat cewek ini?" tanyanya di ulang lagi.


Jelas mereka yang berjumlah delapan orang itu saling lempar pandang karena Tasya tak kunjung bicara. Heran saja kan, mereka tanya baik-baik loh bukan pakai suara keras tapi kenapa tidak di jawab, apakah dia takut?


"Hem hem hem," jawab Tasya. Dengan pergerakan kelima jari tangan ke kanan dan kiri. Bukankah itu sudah mewakili kalau dia tidak tau?


"Heh, ternyata kita salah bertanya. Bagaimana mungkin dia akan jawab, dia aja bisu!" kelakar salah satunya lagi.


"Hahaha, ayo cari di tempat lain!" ajak yang lainnya lagi.


"Hem, untung saja mereka tidak mengenaliku. Ada untungnya juga berpenampilan seperti ini."


Tasya tersenyum senang karena merasa terselamatkan dengan penampilannya yang sekarang. Jelas penampilan yang sangat berbeda dari biasanya pantas daja mereka tidak kenal.


"Cari sana sampai ujung dunia. Hem Tasya di lawan," Tasya menyungging sinis.


Dengan senang hati Tasya malah meledek semua orang yang sudah semakin jauh, menjulurkan lidahnya dengan semangat. "Wek."


Tapi rupanya nasib Tasya tetap tak beruntung setelah itu. Ada salah satu di antara mereka yang menoleh karena merasa sangat penasaran.


"Bos, ternyata cewek itu adalah cewek yang kita cari!" serunya dengan tangan memberitahu kepada pimpinannya.


"Tangkap dia, jangan biarkan dia lolos!" seru yang pemimpinnya. Bahkan mereka semua juga langsung berlari untuk kembali dan menangkap Tasya.


"Mati aku," Tasya lebih memilih untuk lari saat ini daripada dia meladeni mereka yang berjumlah banyak.


"Wek, kejar aku kalau bisa paman! kalau ketangkep aku kasih permen karet, hahaha!" teriak Tasya yang menantang.


"Dasar bocah tengil! awas kalau sampai ketangkep!" serunya tak terima yang jelas dia sangat kesal mendengar tantangan Tasya yang terselip sebuah keraguan.


Tak akan mungkin mereka diam dan menyerah meski Tasya sudah berlari mereka juga ikut lari karena harus bisa mendapatkan Tasya yang sangat di inginkan oleh bos besar mereka.


"Hey, jangan lari kamu!" teriaknya lagi.


Mana mungkin Tasya akan berhenti meski di teriakin begitu. Bahkan seandainya di ancam pun juga tidak akan berhenti.


"Kejar dulu dong, Paman! masak baru mulai udah berhenti, kan nggak asyik. Makanya, Paman. Kecilin tuh perut balon, hahahaha!" tawa Tasya menggelegar bersamaan dengan langkah kaki yang tunggang langgang seperti kaki kuda.


Sementara di pasar, Bimo dan teman-temannya tengah sibuk mencari keberadaan Tasya. Sudah siang mereka tidak bertemu jelas mereka sangat penasaran.


Bimo dan semuanya datang di tempat biasa Tasya tinggal tapi sudah sangat sepi. Tak ada orang di sana.


"Kak Bimo mencari kak Tasya?" dan Salwa yang datang itupun dari arah lain.


"Iya, kamu tau di mana Tasya?" jawab Bimo sekaligus bertanya.


"Emang kak Tasya udah berangkat? padahal Salwa pengen lihat penampilan kak Tasya yang memakai jilbab. Kemarin dia pinjem jilbab Salwa loh." terang Salwa.


Pantesan jilbab yang Tasya pakai kekecilan ternyata dia pinjem punya Salwa. Bahkan jilbab itu adalah pemberian Faisal saat itu dan baru di pakai oleh Salwa sekali saja.


"Hah! Tasya pakai jilbab!" mereka berempati melongo memandangi Salwa yang kini langsung mengangguk.


"Apa, itu artinya cewek yang tadi ya, Bos. Yang pakai jaket... Yah! benar. Itu kan jaket pemberian tuh cowok," ucap Dadang.


Bimo dan yang lain terdiam, kenapa mereka bisa tidak tau?


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...