
🌾🌾🌾🌾🌾
Tasya sama sekali tak tau apa yang pernah Bimo lakukan pada Faisal. Juga tak ada satupun dari anak buah Bimo yang berbicara tentu semua itu karena di larang oleh Bimo.
Ternyata Bimo benar-benar takut kalau sampai Tasya menjauh darinya tapi dia juga akan marah jika ada orang lain yang mendekatinya. Benar-benar cintanya sangat luar biasa. Luar biasa terlalu.
Kini mereka berlima malah sedang berada di salah satu warung makan di pasar. Mereka makan bersama, menikmati makan siang di hari yang tinggal satu hari lagi Tasya harus menghadiri undangan.
"Tasya, kamu kenapa sih? kok terlihat gelisah begitu. Kayak banyak pikiran?" Tanya Dadang memulai.
Dengan mulut yang terus mengunyah Dadang bertanya dan sesekali melirik ke arah teman-teman juga Tasya sendiri.
Tentu, pertanyaan Dadang membuat semua menoleh ke arah Tasya dan memastikan bagaimana keadaan wajahnya sekarang ini. Apalagi Bimo, dia langsung memberikan tatapan serius pada Tasya.
"Iya, jamu terlihat bingung gitu loh, Tasya. Ada masalah?" kini Bimo yang bertanya.
"Kalau ada masalah cerita saja sama kami, Tas. Jangan di pendam sendiri nanti jadi penyakit loh," Kipli juga tak mau kalah.
"He'em," sementara Agus hanya mengangguk saja itupun dengan sangat malas. Agus lebih memilih menikmati makanannya karena dia sangat lapar.
"Nggak ada," begitu acuh Tasya menjawab itupun dengan mulut yang juga penuh.
"Jangan bohong, Tasya. Cerita lah. Bukannya kami semua adalah teman mu. Kalau jamu ada masalah kami pasti siap membantu lah," Bimo tetap tak mau berhenti berbicara dan mendesak Tasya untuk bercerita.
Tentunya Bimo sangat tak ingin melihat Tasya seperti ini.
"Hem, Mas Faisal kasih undangan," jawab Tasya.
"Mas? sejak kapan kamu manggil dia mas?" Seperti tak rela Bimo mendengar Tasya memanggil Faisal dengan panggilan Mas. Bukankah itu lebih bagus dan lebih sopan?
"Emang kenapa, dia lebih tua diriku," begitu santai Tasya menjawab, bahkan Tasya tak melihat ekspresi Bimo yang terlihat begitu kesal bahkan hampir marah.
"Aku juga lebih tua darimu, tapi kamu tidak memanggil ku dengan panggilan mas. Kenapa?" benar-benar Bimo tak menyukai itu.
"Tidak ada jawaban," lagi Tasya memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Sepertinya Tasya memang tidak tertarik dengan panggilan Mas untuk Bimo dan teman-temannya.
"Kenapa, sepertinya dia begitu spesial untukmu apakah jamu muka menyukainya?" Bimo lagi.
"Bukan urusan mu," Tasya bergegas beranjak setelah menjawab pertanyaan dari Bimo dan dia juga bergegas pergi dari hadapan mereka berempat.
"Tasya Kamu mau ke mana," tanya Bimo dengan wajah serius juga dengan tangan yang sudah mengepal sepertinya Bimo sangat marah karena Tasya tak mau menjawab apa yang menjadi pertanyaannya yang sederhana.
Tasya benar-benar tidak menjawab panggilan Bimo lagi dia terus melangkah entah ke mana dia akan pergi hingga kini semakin jauh dan hilang di balik para pedagang yang ada di pasar.
"Benar itu, Bos," Agus juga angkat bicara, mereka semua adalah sahabat sejak lama. Bahkan mereka bersama sejak kecil hingga sekarang dan terus berada di jalan raya.
Tidak ada mimpi untuk menjadi lebih baik bahkan hanya keinginan saja tidak ada pada mereka berempat, mereka melakukan apapun yang mereka anggap sangat menyenangkan dan tentunya dengan cara itu mereka semua akan bebas dari orang-orang yang akan mengekang mereka jika mereka bekerja pada orang lain.
"Hem," Hanya itu yang Bimo ucapkan. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh teman-teman. Tetapi, dia sangat tidak sabar ingin Tasya selalu bersamanya.
Mereka berempat masih setia di warung makan tersebut menghabiskan makanan yang belum habis, namun dengan Bimo dia makan dengan tidak semangat bahkan dia sesekali juga melamun karena terus memikirkan Tasya.
Sementara Tasya sendiri dia berjalan menyusuri pasar dengan rasa bingung, dia ingin memenuhi undangan tetapi dia tidak bisa datang dengan keadaan yang seperti sekarang ini.
Tidak punya baju yang pantas untuknya dan penampilannya juga sangat tidak cocok untuk masuk ke area pesantren pasti dia akan menjadi bahan omongan Jika datang dengan seperti itu.
"Bagaimana bisa aku datang dengan seperti ini?" gumam Tasya.
Matanya melirik ke arah penampilannya sendiri sungguh ini tidak akan baik dan tidak akan pantas masuk ke pesantren. Tasya sadar dia siapa, hanya seorang anak jalanan yang tak mempunyai apapun bahkan tidak pantas berada di tengah-tengah orang yang berpenampilan menarik dan sopan apalagi di sekitar pesantren.
Tetapi keinginannya begitu menggebu, bahkan jika diperbolehkan Tasya ingin datang hari ini juga tapi itu tidak mungkin karena undangan juga besok. Selain itu dia tidak pantas masuk ke sana dengan seperti sekarang.
"Darimana aku bisa mendapatkan baju yang pantas?" ucap Tasya yang semakin bingung.
Tasya menghentikan langkah melihat salah satu toko penjual baju. Baju-baju yang sangat indah sangat pantas jika dipakai ke acara keagamaan, tetapi dari mana Tasya bisa mendapatkan sejumlah uang untuk bisa membeli sepasang baju juga kerudung?
Tasya tidak memiliki uang sepersen pun, bahkan dia juga tidak punya pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dengan cepat.
Selama berada di pasar Tasya hanya membantu membawa barang-barang milik orang lain dan mendapat imbalan yang cuma-cuma dan itu hanya cukup untuk dia makan.
Lalu, dari mana dia bisa mendapatkan uang?
Matanya menatap tunik berlengan panjang berwarna biru, sangat indah Tasya sangat tertarik dengan baju itu. Seandainya dia punya uang maka dia akan membelinya dan akan dia pakai untuk besok. Tetapi tidak! dia sama sekali tidak memiliki uang.
Tasya pasrah mungkin memang dia tidak akan pernah ditakdirkan untuk bisa masuk ke pesantren yang sangat besar.
"Jangan bermimpi terlalu jauh, Tasya. Itu akan membuatmu merasa sedih dan kamu tidak akan bisa bersyukur dengan apa yang kamu punya karena kamu selalu melihat ke atas tidak ke bawah. Jika memang Tuhan menakdirkan kamu datang ke sana pasti besok kamu akan sampai di sana dengan apa yang kamu pakai, seperti apapun," gumam Tasya.
"Nak, bisa tolong bawakan barang-barang saya sampai ke tempat parkir?" ucapan seorang ibu-ibu mengejutkan Tasya membuyarkan lamunannya.
Tasya menoleh dia langsung tersenyum juga mengangguk. bukan waktunya untuk melamun apalagi berangan-angan hal yang tidak mungkin, jalani apa yang mungkin dan yang ada di depan mata, itulah yang Tasya pikirkan karena itu yang lebih baik baginya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....