
🌾🌾🌾🌾🌾
Ilham melangkah masuk ke dalam pesantren dengan sangat biasa, tetapi sesekali dia menoleh memastikan tidak melihat Faisal ataupun Hasan. Bukan karena mereka sedang marahan tetapi Ilham lagi malas kalau nantinya berbuntut dengan pertanyaan yang begitu banyak dari mereka berdua.
Ilham tersenyum ketika mengingat dia telah berhasil membujuk Dina untuk minum obat. Ternyata di balik dia yang sok berani dan juga begitu cerewet nyatanya dia sangat susah ketika berhadapan dengan obat, bukankah itu sangat lucu?
"Ada-ada saja," gumam Ilham.
Kakinya terus melangkah dan dia juga sekali menggeleng setelah mengatakan tiga kata barusan. Tetapi ternyata Ilham tidak melihat bahwa ada dua orang yang sedari tadi mengamati tingkahnya. Siapa lagi kalau bukan Faisal dan juga Hasan.
"Sepertinya Ilham sedang jatuh cinta ya," Hasan menoleh ke arah Faisal yang juga berpikir hal yang sama. Tidak mungkin kalau tidak jatuh cinta tetapi tersenyum sendiri seperti yang dilakukan Ilham sekarang.
"Sepertinya memang seperti itu," Faisal menjawab namun kakinya sudah langsung melangkah untuk mengikuti Ilham.
Hasan pun tak mau kalah dia juga berjalan menyusul Faisal untuk mengikuti Ilham, pastilah mereka berdua ingin menggoda Ilham memang apalagi kalau bukan itu yang akan mereka lakukan.
Ekhem ekhem...
Dengan sengaja Faisal berdekhem ketika Ilham akan membuka pintu kamarnya, suara itu memantik Ilham untuk cepat menoleh hingga akhirnya mata mereka saling bertemu.
"Mas, ada apa? Apa tugas yang saya lewatkan?" sontak Ilham langsung bertanya kepada Faisal yang menatap curiga kepadanya.
"Tidak ada, hanya saja? mas Ilham dari mana, sepertinya Mas Ilham sedang bahagia?" tidak ada kata basa-basi yang Faisal tanyakan dan langsung yang keluar dari bibirnya adalah pertanyaan yang sudah di tadi selalu berputar-putar di dalam kepalanya.
Sementara Hasan dia mengangguk membenarkan pertanyaan dari Faisal yang sejalan dengan pikirannya saat ini.
"Bu_bukan dari mana-mana kok, Mas," jawaban Ilham terdengar sangat gugup, jelas dia tidak ingin mengatakan bahwa dia baru saja pergi ke panti untuk menemui Dina yang tengah sakit.
"Kalau memang mas Ilham khawatir kenapa tidak segera dihalalkan dan di ajak pulang saja mas, kan dengan seperti itu Mas Ilham bisa merawat dengan baik dan tentunya tidak akan terjadi masalah atau timbul fitnah."
Awalnya Faisal memang tidak tahu kalau ilham pergi ke panti, tetapi ibu pengasuh yang bercerita kalau Ilham datang untuk bertemu dengan Dina.
Ibu panti juga tidak sengaja bercerita karena awalnya dia hanya bertanya kenapa Faisal dan juga Tasya tidak datang bersama Ilham ke panti. Anak-anak sangat merindukan mereka dan itulah akhirnya membuat Faisal mengetahui kalau Ilham pergi ke panti.
"Maksudnya Mas Faisal?" Ilham bertanya seolah dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Faisal saat ini bahkan dia juga terlihat bingung.
"Sudah lah Mas Ilham, jangan ditutup-tutupi lagi saya sudah tahu kok kalau Mas Ilham datang ke panti untuk bertemu dengan gadis itu. Dia sedang sakit kan?"
"Dan saya juga tahu kalau sebenarnya kalian berdua sudah jadian, benar begitu bukan? ingat loh Mas, dalam agama tidak ada kata pacaran lebih baik langsung halalkan saja. Setelah itu kalian bisa bebas mau melakukan apapun."
Ilham terkesiap, dari mana Faisal tahu tentang hubungan mereka berdua? Sebenarnya Ilham tidak bermaksud untuk menjalin hubungan dengan berpacaran, bahkan dia juga tidak menganggap seperti itu karena hal yang terjadi itu hanya karena Dina saja yang telah mengatakan bahwa mereka berpacaran.
Ilham tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini dan Faisal juga Hasan akan tahu tentang hubungan mereka berdua yang Ilham sendiri tidak pernah mengatakan kepada siapapun.
Ilham jelas tahu dan tidak akan pernah lupa kalau di dalam agama memang tidak dianjurkan untuk menjalin hubungan yang dinamakan pacaran, maka dari itu Ilham tetap menganggap sebagai teman meski Dina sendiri tidak menganggap seperti itu.
Memang, tidak disarankan pertemanan antara laki-laki dan perempuan dewasa karena takutnya akan menjerumus kepada hubungan yang menumbuhkan dosa. Tetapi tidak salah kan jika berteman sekedarnya saja, lagian mereka berdua juga tidak sering bertemu.
"Iya, lebih baik menjalin hubungan teman halalkan Mas," goda Faisal dengan tersenyum memberikan smirk kepada Ilham.
"Nah betul tuh, daripada hanya teman biasa kan lebih baik teman halal. Bisa diajak ngapa-ngapain," Hasan pun tak mau kalah membantu Faisal untuk anggota Ilham.
Faisal menoleh ke ke arah Hasan yang tersenyum karena telah berhasil menggoda Ilham dan membuat pipinya kemerahan. Faisal menatap lekat kepada Hasan yang masih saja terus meringis tidak sadar.
"Kenapa, apa yang aku katakan salah?" kening Hasan mengerut melihat ekspresi dari wajah Faisal yang menatapnya lain.
"Yang kamu katakan memang tidak salah, tetapi seharusnya kamu juga melakukan apa yang harus dilakukan oleh Ilham. Kamu kan sama saja seperti dia, punya hubungan dengan seorang gadis namun diam-diam."
Hasan terkesiap mendengar penuturan dari Faisal barusan, dari mana Faisal tahu?
"Darimana kamu tau?" Hasan terperangah karena hubungan yang dia sembunyikan dari siapapun ternyata diketahui juga oleh Faisal.
"Tidak perlu kamu tahu dari mana aku tahu semua yang kamu sembunyikan. Yang jelas kamu juga harus melakukan hal yang sama seperti Ilham. Resmikan hubungan kalian supaya tidak ada lagi masalah dan juga tidak akan terjadi fitnah. Bukankah itu hal yang lebih baik?"
Hasan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba merasa gatal, niatnya hanya ingin menggoda Ilham saja dan sekarang dia juga kena ceramah dari Faisal.
"Iya, Ustadz..." ucap keduanya bersamaan dengan menunduk hormat seperti seorang murid yang tengah mendapat nasihat dari Sang Guru.
"Bagus, secepatnya laksanakan. Atau kalau tidak aku yang akan melakukan sendiri. Aku tidak main-main dengan apa yang aku katakan jika kalian tak kunjung ada penjelasan selama satu minggu dari sekarang buktikan saja."
Faisal melenggang pergi dengan begitu santai dengan mengantongi kedua tangan di dalam saku kuku yang dia pakai.
Sementara Hasan setelah kepergian Faisal dia melangkah mendekati Ilham dan keduanya melihat kepergian Faisal dengan rasa tidak percaya.
"Apakah Mas Faisal akan benar-benar melakukan apa yang dia katakan barusan?" tanya Ilham yang masih tidak percaya. Bagaimana mungkin Faisal akan melamarkan kedua gadis sekaligus untuk mereka berdua.
"Mana aku tau, tapi kalau mengingat apa yang pernah dilakukan oleh Oma dulu bisa jadi Mas Faisal akan melakukan itu. Bisa saja kan ada sifat dari Oma yang menurun kepada Mas Faisal."
Mungkin saja bisa itu terjadi. Biar bagaimanapun ada darah yang mengalir di tubuh Faisal dari sang Oma yang tidak pernah main-main dengan apa yang mereka katakan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....