
🌾🌾🌾🌾🌾
"Di sini senang, di sana senang di mana-mana hatiku senang. Di sini senang di sana senang dimana-mana hatiku senang. Lalalala lalala lalalala lalala.. lalalala lalala lalalala lalala."
Suara nyanyiin terus terdengar di pinggiran jalan. Lebih tepatnya di atas trotoar yang sebelahnya begitu banyak aktivitas dari semua kendaraan yang melintas.
Suaranya beradu dengan gemuruh keramaian jalanan. Bunyi mesin mobil, motor, juga kendaraan lain juga bunyi-bunyi melengking dari klakson semua kendaraan tak mengalahkan suara nyanyian kegembiraan dari para anak-anak jalanan yang di ketuai oleh Tasya.
Semua berseru bersamaan, tertawa, tersenyum juga bertepuk tangan dengan girang. Tak ada keraguan juga tak ada ketakutan untuk bersenang-senang.
Tak takut akan ledekan, hinaan atau mungkin teguran dari semua orang yang datang dan melihat semua mereka lakukan demi kebahagiaan mereka sendiri.
Seperti inilah kebahagiaan mereka, dalam keterbatasan dalam semua hal kebahagiaan akan tetap di dapat. Semua orang punya cara sendiri-sendiri untuk bisa membuat hati mereka bahagia.
Di antara kerumunan anak-anak jalanan itu Tasya lah yang paling besar. Tasya lah yang seketika menjelma menjadi pelindung juga pengayom untuk mereka semua.
Sementara Bimo CS, mereka ada di jarak yang tidak terlalu jauh juga dekat tapi dengan terus menatap kebersamaan Tasya dengan anak-anak. Lebih tepatnya menjadi penonton gratis dari gadis yang kini berada di tengah anak-anak.
"Bos, kenapa. Apakah ada sesuatu yang lain yang telah datang dan menerjang seperti badai, Bos?" Dadang yang melihat ada hal lain dari Bimo sontak penasaran dan langsung menanyakannya hingga
membuat teman yang lain juga menoleh.
"Emangnya ada sesuatu yang seperti badai?" sahut Kipli setelah meneguk air mineral yang ada di tangannya.
Benar-benar hanya bersantai-santai mereka berempat ini, tak ada kerjaan dan tak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat kecuali hanya nongkrong depan santai.
"Ya ada lah, sesuatu yang datang dengan diam-diam tanpa permisi. Jika kelak pergi juga tanpa pamit. Tapi kedatangan sangat meresahkan dan membuat semua orang yang di datangi akan selalu gelisah," jelas Dadang.
"Idih sok puitis kali kau ini, Dang. Kalau boleh tau hal seperti apa itu yang datang. Sepertinya dampaknya sangat menakutkan," Agus berkomentar.
"Apa kalian mau tau apa nama badai itu?" kelakar Dadang dengan senyum meledek ke arah Bimo yang tetap terdiam.
Bimo hanya terus melihat ke arah Tasya yang terus tersenyum, tertawa dan bersenang-senang dengan anak-anak. Hingga tak sengaja keisengan Tasya pada anak-anak menarik ujung bibir Bimo untuk tersenyum.
Dan ya, badai itu benar-benar nyata di dalam diri Bimo. Entah dia sadar atau tidak tapi inilah hal baru yang akan membuat Bimo merasa sangat bahagia.
Ada sebuah permata yang telah menyita perhatiannya. Yang akan selalu membuat dirinya terasa begitu semangat dan akan terasa begitu berharga dalam menjalani kehidupannya.
"Badai itu adalah badai yang datang di titik terpenting tubuh seseorang. Di segumpal darah yang yang sangat berharga dari manusia. Yang menentukan kebahagiaan dan kesedihan seseorang. Yang menentukan kapan dia akan gelisah, bersedih juga bahagia." Ucap Dadang lagi.
"Kelamaan kamu, Dang! katakan lah cepat. Jangan berputar-putar begitu kami benar-benar tak mengetahuinya!" semakin tak sabar Agus.
"Badai yang akan mengendalikan hati seseorang dan berakhir pada pengendalian tubuhnya. Dia akan melakukan apapun yang di katakan hatinya yang sudah terkena badai tersebut. Dia akan bahagia tapi juga bisa dia akan tersiksa karena badai itu," Lagi-lagi Dadang hanya berkata.
Pletak...
"Sudah ya, jangan sok kebanyakan kata. Kebanyakan merebut ikan asin dari kucing kau ini jadi gini kan otak mu. Sedikit melenceng!" Satu jitakan mendarat di kepala Dadang setelahnya Kipli berbicara dengan kesal.
"Sabar kenapa sih, kalian ini mengganggu saja. Sesekali pengen lah jadi seorang pujangga," Dengan sedikit meringis Dadang menjawab tentu dia yang lebih kesal.
"Halah, sok pengen jadi pujangga. Nggak lulus kau jadi pujangga, Dang. Jadi preman pasar saja nggak lulus," ledek Kipli.
"Iya, bagaimana mau lulus lah emang nggak pernah sekolah." Dadang tetap tak mau kalah.
"Bikin aku, tapi kita semua yang memang tak pernah sekolah. Tak pernah mencicipi di getok pakai penggaris oleh pak guru. Juga tak pernah mencicipi manisnya kapur ajaib," kata Dadang lagi.
Pletakk....
"banyak kata kau, Dang. Katakan apa sebenarnya badai tadi!" kini jitakan datang dari Agus.
"Hadehh, seneng banget ya kalian bikin kepalaku botak. Rugi aku dekat dengan kalian, otak encer ku akan musnah kalau begini," gerutu Dadang.
"Makanya, cepat katakan. Kalau tidak benar-benar aku botakin tuh kepala." Agus benar-benar sudah tak sabar.
"Badai itu adalah badai Cinta. Yang datang tanpa permisi, menetap sesuka hati dan pergi tanpa pamit juga. Memang sadis sih. Tapi kalau di pikir-pikir kayak jelangkung ya. Datang tidak di jemput pulang nggak di antar," jelas Dadang.
Kini Kipli dan Agus memandang Bimo yang masih tetap dalam posisi yang sama seperti tadi. Melihat dengan serius benarkah badai itu benar-benar tengah melanda Bimo?
"Benar, sepertinya badai itu memang datang dan sangat kuat dampaknya. Bahkan sudah menjadi pengendali dari seluruh tubuhnya," celetuk Kipli.
"Benar, Pli. Sepertinya memang benar seperti itu," Agus berbicara dengan mata yang terus terpaku melihat wajah Bimo.
Matanya terus fokus pada pusatnya, bibirnya tersenyum manis.
Dadang, Kipli juga Agus mendekatkan telinga mereka ke depan dada Bimo. Benar, ada yang bekerja lebih keras di dalamnya.
Bimo benar-benar tak sadar dengan apa yang di lakukan oleh ketiga teman-temannya itu. Teman yg tengah mendengar irama indah di dalam dadanya.
"Ah, merdunya." Dadang begitu menghayati.
"Benar seperti melodi yang indah. jedak jeduk gitu ya." balas Kipli.
"Iya. Indah banget," Sahut Agus.
Siapa yang merasakan siapa juga yang bahagia. Ya, ketiga teman Bimo yang bahagia dengan ketidak sadaran Bimo dengan perasaannya sendiri.
Tiba-tiba Bimo beranjak dan membuat mereka bertiga hampir terjatuh karena terkejut. Ketiga sontak menyingkir dan hampir terjengkang.
Mata Bimo terbelalak, dia berdiri dengan tak suka. Apa yang terjadi?
Masalahnya adalah matanya yang tengah memandang keindahan di ganggu dengan kedatangan pria yang kini mendekati Tasya.
Faisal lah yang datang menghampiri Tasya, memang dia tidak sendiri ada Ilham bersamanya. Tumben saja sama Ilham biasanya selalu bersama Hasan.
"Weh, ada yang kebakaran jenggot nih," celetuk Kipli.
"Hus ngawur kalau ngomong. Itu bukan kebakaran jenggot. Tapi sedang cembukur dia," pendapat Dadang yang berbeda.
"Salah kalian berdua. Tapi itu lagi tersengat badai jadi matanya terbelalak begitu," ucap Agus.
Apapun yang di katakan oleh ketiga sahabatnya benar-benar tak di dengar oleh Bimo. Dia benar-benar tengah kehilangan dunia di sekitarnya dan hanya satu dunia yang kini tengah menjadi penguasanya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....