Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Berubahnya Status



🌾🌾🌾🌾🌾


Begitu lesu Tasya sekarang, dengan penuh amarah dia di make-up oleh perias yang di siapkan oleh ayahnya sendiri. Bahkan semua ayahnya yang menentukan akan seperti apa Tasya di saat pernikahannya.


Hanya terus diam tanpa kata apapun lagi Tasya terus mendapatkan polesan demi polesan di wajahnya, rambutnya masih di gerai begitu saja dan di biarkan menjuntai panjang hingga sampai bawah pinggangnya.


"Hey, kamu harus buat anak saya ini secantik mungkin. Dia harus cantik dan terlihat indah biar sepadan dengan harganya. Saya tidak mau calon suaminya itu kecewa dan mencabut lagi uangnya," ucap Sudiro dengan kasar.


"I_iya, Tuan." tentu perias itu sangat takut karena Sudiro. Dia terlihat menyeramkan sama saja seperti preman dengan tubuh kekarnya juga beberapa tato di bagian tangan dan lehernya.


"Cepat selesaikan pekerjaan mu, sebentar lagi pak Penghulu akan segera datang. Awas saja kalau sampai kamu terlambat," terdapat sebuah ancaman dari Sudiro, entah apa yang akan dia lakukan untuk perias itu jika sampai terlambat.


Begitu tak sabar Sudiro untuk segera menikahkan Tasya kepada Faisal, bukan karena sahnya hubungan mereka yang membuat bahagia melainkan karena uang banyak yang akan dia dapatkan.


"Sebentar lagi aku akan kaya," ucap Sudiro seraya melangkah keluar dari kami Tasya.


Sementara Tasya hanya diam tanpa kata, mendengarkan semua yang ayahnya katakan tanpa menjawab. Sebagian dari tubuhnya seakan hilang dan membuat dia tak berdaya, seakan tak ada kekuatan dan semangat untuk hidup apalagi untuk menikah.


Kekecewaan pada Faisal sudah sangat besar di hati Tasya entah apa yang akan dia lakukan setelah pernikahan tapi yang jelas segudang rencana telah Tasya siapkan. Dia tak mau menjadi budak sama seperti ibunya dulu. Dia ingin hidup layaknya seperti orang lain.


'Jika memang tak ada lagi jalan mungkin lebih baik aku mati dan ikut dengan ibu," batinnya.


Hanya riasan simpel saja yang di berikan untuk Tasya, rambut yang di sanggul kecil dan hanya di tambah cunduk jungkatan yang berwarna silver. Kebaya putih juga kain batik berwarna dasar cokelat itulah baju yang dia pakai. Di tambah dengan kalung kecil kw dari perias yang menjadi satu paket dengan riasannya.


Meski hanya riasan sederhana tapi Tasya sudah terlihat sangat berbeda, seperti bukan Tasya yang selalu berpakaian tomboy. Bahkan karena begitu cantiknya perias itu juga memuji akan kecantikan Tasya yang sangat luar biasa.


"Mbak sangat cantik," ucapnya sembari melihat wajah Tasya secara langsung lalu beralih ke arah kaca dan melihat pantulannya dari sana.


Tasya sama sekali tidak merasa tersanjung, dia tetap diam tak membalas dengan kata apapun, Tasya hanya di penuhi dengan amarah juga rasa kecewa saja sekarang ini.


Dia ingin kabur tapi sudah tidak bisa. Memang, jika di suruh milih menikah dengan bandit tua itu lebih baik menikah dengan Faisal, tapi karena terjadinya pernikahan dengan cara yang seperti itu sepertinya lebih baik tidak menikah pada siapapun di antara mereka.


'Kamu bisa senang karena bisa menikah dengan ku, tapi jangan harap kamu bisa memiliki ku seutuhnya. Aku tidak ikhlas, aku tidak ikhlas,' batin Tasya yang terus saja dalam amarah.


Seakan ingin mengutuk Faisal tapi apakah orang sepertinya kutukannya akan mujarab? yang pasti tidak kan, pikir Tasya. Hingga dia hanya bisa terus menjerit-jerit di hati dalam duka.


"Bagaimana, sudah selesai kan? sekarang kita cepat keluar pak penghulu sudah menunggu begitu juga dengan calon suami mu, ayo!"


Kedatangan Sudiro seakan menambah kemarahan Tasya semakin wajah cantiknya tertutup dengan kabut kemarahan yang sangat besar.


Sudiro langsung masuk dan menghampiri Tasya meraih tangannya dan menarik Tasya begitu saja untuk secepatnya keluar dari kamar.


Sementara di depan Faisal sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam dan kemeja yang berwarna putih. Dia sudah duduk di depan penghulu juga depan Rayyan dan para orang-orang yang akan menjadi saksi.


Ada rasa sedikit penyesalan di hati Faisal karena mimpi untuk menggelar pernikahan yang selayaknya yang dia ingin tidak terjadi. Kini hanya akan ada pernikahan sederhana dengan beberapa saksi juga penghulu dan wali saja yang di sana. Tidak ada keluarga besarnya bahkan tidak ada sang oma yang selalu menjadi pendukung utama hubungan mereka.


'Maafkan Faisal karena tidak melibatkan oma dalam pernikahan Faisal. Tapi Faisal percaya, oma tidak akan marah pada Faisal. Benar begitu kan oma?' batin Faisal seolah dia tengah berbicara dengan sang oma.


"Cepatlah, pernikahan harus secepatnya di langsungkan. Ini adalah hal kebaikan jadi jangan di tunda-tunda lagi," seru Sudiro.


Dengan kasar Sudiro menekan Tasya untuk duduk di samping Faisal sia juga bergegas duduk di samping penghulu.


Sebenarnya bukan pernikahan seperti ini yang Faisal ingin, dia menginginkan pernikahan yang sama seperti saudara-saudara yang lebih dulu menikah tapi masalahnya keadaannya yang berbeda dan yang mengharuskan untuk seperti ini.


Ketiga saudaranya yang bisa melihat pasangannya setelah benar-benar halal namun kini Faisal sudah langsung melihat dan duduk bersebelahan dengan calon istrinya.


Sejenak Faisal menunduk, dia masih enggan untuk melihat kecantikan yang jelas di tutup dengan amarah di wajah Tasya. Mungkin lebih baik Tasya sah lebih dulu baru Faisal akan melihat semuanya.


Faisal akan menerima bagaimana pun Tasya nanti. Kecantikannya juga kemarahannya. Faisal akan terima.


"Ayo pak kita mulai sekarang," Sudiro begitu tak sabar. Jelas dia akan sangat tidak sabar karena ingin melihat uang tiga ratus juta di depan mata.


"Baik, Pak." ucap pak penghulu.


Dengan penuh keyakinan pak penghulu menuntun Faisal untuk mengatakan ikrar suci pernikahan untuk Tasya.


Acara yang begitu sakral itu tetap Faisal rasakan karena baginya ini pernikahan yang murni yang hanya ingin dia lakukan seumur hidup sekali saja.


Tapi berbeda dengan Tasya, matanya semakin membulat tapi dengan sangat merah juga dengan gejolak air mata yang terus keluar. Hatinya benar-benar tidak ikhlas.


Ingin dia menghentikan pernikahan itu tapi dia tak bisa karena Sudiro terus saja mengancamnya dengan tatapan mata yang ingin membunuh.


"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Anastasya Binti Sudiro alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq."


Dalam satu tarikan nafas ikrar yang di ucapkan oleh Faisal kini telah mengubah hubungannya dengan Tasya, mengubah statusnya yang semula hanya teman dan sekarang menjadi suami istri.


"Sah?!" kata pak penghulu dengan lantang dan menoleh ke arah para saksi.


"Sah!" seru semua orang tapi Sudiro lah yang paling keras.


Mata Tasya terpejam, kini dia sudah bukan bagian dari Sudiro lagi, tapi bagian dari keluarga Saputra. Keluarga Faisal.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....