Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Tekat Belajar



🌾🌾🌾🌾🌾


"Kamu tidak akan pergi lagi kan hari ini?" sembari terus bergerak dan bersiap Faisal sesekali menoleh ke arah Tasya yang tengah sibuk berusaha memakai hijab yang tak kunjung dia bisa.


Ini bukan kebiasaannya, bukan apa yang biasa di pakai jadi akan sangat susah untuknya. Tapi dia masih terus berusaha dengan duduk di depan cermin.


"Ini bagaimana sih pakainya, kok susah banget," gerutunya dan mengabaikan pertanyaan dari Faisal.


Faisal menghampiri setelah selesai dengan persiapannya sendiri untuk aktifitas keseharian. Senyum terukir kala melihat Tasya yang begitu kebingungan saat mencoba memakai jilbab pasmina yang dia pilih sendiri waktu itu.


Jika melihat para wanita dengan jilbab pasmina itu terlihat bagus di matanya dan itulah yang membuat Tasya sangat ingin mencobanya sendiri namun ternyata susahnya luar biasa membuat dia begitu uring-uringan sendiri karena tak kunjung berhasil.


"Coba sini," Faisal berdiri di hadapan Tasya langsung menangkap jilbab pashmina yang sudah melekat di atas kepala Tasya dan mencoba untuk membantu.


Meski Faisal juga tidak bisa karena dia juga tidak pernah mengenakan tetapi dia pernah melihat adiknya yang begitu mudah memakai hijab pashmina seperti itu dan itu menjadi sebuah pelajaran untuk Faisal.


Perlahan tangannya bergerak memakaikan jilbab milik Tasya dan membuat gadis itu terdiam dengan begitu anteng dengan mata melihat ke arah wajah Faisal yang begitu serius.


Tasya yang memang sudah sangat terbiasa bersentuhan dengan laki-laki terlihat tidak sungkan atau canggung ketika Faisal menyentuhnya tetapi berbeda dengan Faisal, Faisal malah yang terlihat canggung Ketika harus berada dalam satu ruangan dan sesekali bersentuhan dengan seorang wanita meski sudah sah menjadi istrinya.


Perlahan Faisal juga mulai terbiasa dengan kehadiran Tasya dan perlahan bisa menghilangkan rasa rasa asing yang sama sekali belum pernah ada sebelumnya.


"Hati-hati Mas jangan sampai jarumnya mengenai leherku," ucap Tasya dengan sesekali mengernyitkan wajahnya karena sangat takut jarum yang Faisal bawa akan mengenai lehernya.


Faisal hanya tersenyum Bagaimana mungkin dia akan sengaja melukai Tasya dengan jarum tersebut jelas dia akan hati-hati karena dia harus selalu menjaga dan memastikan istrinya itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Tenang, aku tidak mungkin akan melukaimu." kembali Faisal fokus kepada apa yang dia kerjakan hingga akhirnya semua beres dan jilbab pashmina sudah melekat dengan indah di kepala Tasya.


"Alhamdulillah, sudah berhasil." Faisal melongok melihat Tasya yang terlihat semakin anggun dan cantik setiap memakai jilbab.


Faisal pikir akan sangat susah membuat Tasya memakai jilbab dan menutup auratnya tetapi ternyata apa yang dikatakan Tasya benar bahwa setelah menikah dia akan menutup auratnya.


Yah, meski pakaiannya masih sedikit ketat tetapi Itu tak masalah karena semua bisa berubah dengan pelan. Sudah mau seperti itu saja Faisal sudah sangat bersyukur dia tidak akan memaksa pada Tasya karena Faisal ingin Tasya berubah dengan sendirinya bukan karena paksaan.


Tatapan mata dari Faisal kembali membuat Tasya yang merasa malu, pipinya memerah dengan kini wajah yang menunduk. Sepertinya itu tidak ingin dilewatkan oleh Faisal dia berjongkok di hadapan Tasya dan melihat wajahnya.


"Kenapa harus malu, aku adalah suamimu bukankah aku bebas melihatnya bahkan melihat yang lain pun sudah halal," Faisal nyengir begitu saja seolah menggoda Tasya.


"Tapi sayang, belum mendapatkan izin jadi sabar saja semoga akan diperlihatkan dengan sendirinya," mata Faisal terus berkedip-kedip membuat mata Tasya membulat dengan hati yang dongkol.


"Apa sih, jangan aneh-aneh deh," protes Tasya.


Memang Faisal sudah bisa melihat apapun yang ada pada dirinya, itu sudah halal dan tidak akan berdosa. Tetapi Tasya masih sangat malu, bahkan melihat Faisal tidur bersama saja Tasya masih terus berusaha menjauh meski akhirnya ketika bangun mereka akan saling berpelukan.


"Nggak aneh-aneh, Sya. Tapi itu sebagian dari ibadah loh. Pernikahan itu adalah ibadah yang paling panjang karena di lakukan seumur hidup, dan tentunya akan banyak pahala di dalamnya apalagi kalau istri mau menyenangkan hati suami. Pahalanya akan berlipat-lipat. Jadi, Kira-kira kapan...?" Faisal kembali mengedipkan matanya.


"Kapan apanya?" Tasya bertanya.


"Ya, ya itu..." Faisal bingung sendiri untuk menjawabnya.


"Hem... hem, itu...? apakah harus?" Tasya masih sangat bingung.


"Hem, lebih baik kamu ikut ngaji bareng mama. Kamu akan tau semuanya."


"Kenapa bukan mas sendiri yang jelasin?"


"Karena mas nggak mau di kira membohongi mu dan hanya alasan mas supaya bisa melakukan. Dalam agama semuanya sudah di atur, dan di jelaskan bagaimana hukum-hukumnya. Ikutlah, nanti kamu akan mendapatkan jawabannya."


Benarkah Tasya harus ikut? apakah benar dia akan mengetahui segalanya?


"Tapi aku tidak mau memaksa. Tapi semua itu untuk kebaikan hubungan kita," Faisal beranjak.


Kedua tangannya langsung mengapit kedua pipi Tasya mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya.


"Jangan di kamar terus, ikutlah dengan mama dan kamu akan belajar segalanya. Kamu bukan hanya harus belajar dengan ku saja, tapi juga yang lain juga termasuk dengan mama," ucap Faisal setelah melepaskan kecupannya.


"Aku akan mengajar sampai jam sepuluh, kalau kamu mau pergi cari aku di kelas santri putra."


"Hem," Tasya mengangguk.


Kembali Tasya akan merasa sangat bosan setelah Faisal pergi. Dia akan kesepian. Benarkah dia harus menemui mama mertuanya dan ikut belakang bersamanya?


Dengan balutan celana hitam, tunik berwarna merah marun juga jilbab pasmina yang sama warnanya dengan tuniknya kini Tasya melangkah keluar.


Tekatnya sudah bulat untuk mengikuti saran dari Faisal untuk mengikuti ngaji bersama mamanya.


Berjalan terus dia mencari keberadaan sang mama dan ternyata dia tengah keluar dengan membawa kitab di dekapannya.


"Assalamu'alaikum Pagi, Ma," sapa Tasya penuh keraguan.


"Wa'alaikumsalam," begitu lembut Keisha menjawab salam dari Tasya dia juga tersenyum berjalan menghampiri.


"Ada apa, apakah ada yang bisa mama bantu?"


"Kata mas Faisal, aku di minta ikut mama. Emang boleh?"


"Tentu boleh dong, yuk," Keisha begitu antusias dia sangat senang jika Tasya ingin ikut dengannya.


Keisha langsung menggandeng Tasya untuk ikut bersamanya. Keisha yang ingin mengajar santri cewek tentang fikih wanita.


Mungkin itulah tujuan Faisal, Tasya akan tau tentang ilmu fikih wanita kalau ikut bersama Keisha. Faisal bisa saja menjelaskan tapi akan lebih enak jika yang mengajarkan adalah sama-sama wanita karena itu juga pembelajaran tentang wanita.


Tak malu Tasya untuk ikut, dia benar-benar sangat penasaran dengan semuanya. Dia memang sudah dewasa bahkan sekarang sudah menikah tapi dia tidak tau antara hak dan kewajiban dalam rumah tangga.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....