Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Syarat Mudah



🌾🌾🌾🌾🌾


Seperti biasanya ketika menjelang ashar Faisal langsung bergegas ke masjid. Seperti biasa dia datang untuk shalat berjamaah dan mengajar para santri.


Gema shalawat sudah menggema di dalam masjid seraya menunggu para ustadz yang belum datang. Sementara para santri pastilah sudah berkumpul di masjid.


"Assalamu'alaikum, Ustadz muda," Sapa seseorang ketika melihat Faisal yang baru datang namun belum masuk ke masjid.


"Wa'alaikumsalam, eh! Mas Ilham," Begitu sumringah Faisal kala melihat seorang yang begitu dia kenal.


Usianya hanya selisih beberapa bulan saja dengan Faisal namun lebih dulu Ilham.


"Mas Ilham kapan datangnya, kok nggak hubungi saya." Ucap Faisal. Benar-benar terkejut karena tak tau kedatangan Ilham.


Ilham Syarif salah satu anak dari tetua pesantren juga dan kini juga menggantikan ayahnya sama seperti Faisal. Tapi Faisal belum resmi menjadi pemegang pesantren karena masih di pegang Rayyan sang papa.


Sementara Ilham adalah salah satu anak dari ustadz juga yang ada di sana dan kini menggantikannya yang sudah tua.


"Tadi siang. Hem, bagaimana kabarnya? Hem, bagaimana hubungannya dengan yang dulu itu?"


"Ah, apa sih. Itu hanya masa lalu," Elak Faisal. Jelas yang di tanyakan oleh Ilham adalah hubungannya dengan Aira.


"Terus sekarang?"


"Menunggu jodoh dari Allah. Sudah yuk! sudah waktunya ashar," Faisal langsung mengajak Ilham masuk kalau tidak pasti obrolan mereka tidak bakal ada habisnya.


Kedatangan Faisal juga Ilham langsung di sambut baik oleh para santri, semua antri untuk menyalami. Bukan hanya mereka berdua saja tapi semua ustadz yang lain juga.


Setelah semuanya benar-benar datang suara iqamah langsung menggema dan shalat ashar berjamaah langsung di jalankan. Rayyan lah yang menjadi imamnya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Di pintu pasar kedatangan Tasya sudah di sambut oleh Bimo Cs. Mereka juga langsung berdiri, menyambut dengan begitu baik juga dengan cengengesan.


Ada yang terjadi ini pasti sangat membuat Tasya merasa sangat penasaran. Pastilah mereka ada maunya, kalau tidak mana mungkin mereka akan seperti itu, sok baik dah sok akrab dengan Tasya.


Sementara Salwa langsung takut melihat mereka berempat, Salwa langsung bersembunyi di belakang Tasya dan tak berani melihat mereka.


Ada yang aneh, mungkin dulu Bimo dan teman-temannya pernah berbuat sesuatu pada Salwa sampai dia begitu takut. Bahkan di depan Tasya dia masih takut.


"Salwa, kamu kenapa?" tanya Tasya dan sedikit melirik ke belakang. Melihat Salwa yang terus bersembunyi bahkan juga menutupi kepalanya dengan jaket Tasya pemberian dari Faisal.


"Kak, Salwa takut. Mereka sering gangguin Salwa," katanya. Nah kan benar. Mereka pasti dulu begitu buruk dan selalu menindas anak-anak juga.


Bukan hanya para pengunjung pasar juga para pedagang tapi para anak-anak juga mendapatkan kekerasan dari mereka. Sungguh, ingin rasanya Tasya menggetok kepala mereka satu persatu.


"Tidak usah takut, ada kakak di sini. Kalau mereka gangguin lagi biar kakak patahin tangan dan kaki mereka," ucap Tasya begitu mudah.


Ya, memang sangat mudah untuk melakukan itu. Membuat mereka semua patah tulang itu tidak sulit tapi kalau Tasya mau. Tapi tidak untuk sekarang, mereka sepertinya tidak akan berbuat seperti itu lagi.


"Iya, sudah jangan takut lagi," ucapnya.


Kini matanya memandangi Bimo dan teman-temannya yang sudah berdiri di hadapannya. Tidak terlihat menyeramkan sih, tapi malah sebaliknya. Mereka memasang wajah sok imut juga sok memelas. Emang siapa yang peduli?


Apa mereka pikir dengan cara itu Tasya akan menerima tawaran Bimo dengan mudah untuk menjadi bagian dari mereka?


Tasya ingin bebas, bisa melakukan apapun yang dia mau tanpa terikat oleh siapapun. Dia tidak mau mengendalikan siapapun dan yang pasti juga tidak mau di kendalikan.


"Anastasya, please. Mau ya jadi bagian dari kami. Kami janji tidak akan berbuat buruk dan jahat lagi. Kami semua akan melakukan apapun yang kamu mau, please," Agung begitu memohon tentu itu adalah perwakilan dari mereka semua yang di wakili olehnya.


"Apa untungnya untuk ku?"


'Ih, songong sekali sih nih cewek. Kalau saja tidak gara-gara takut di ganggu oleh orang yang belum tau dia siapa itu juga ogah memohon seperti ini padanya,' batin Agung.


Yah! mereka semua ketakutan dengan orang yang lebih berkuasa yang di katakan Sam saat itu. Mereka belum tau seperti apa orang itu, bisa lebih bahaya atau mungkin memang sangat bahaya.


"Untungnya, kamu bisa menyuruh pada kami apapun. Kami juga akan bersedia membelikan kamu makan setiap hari, jadi kamu tidak akan susah-susah cari uang untuk makan." Dadang yang berbicara.


"Heleh, sok-sokan mau belikan makanan setiap hari pekerjaan saja kalian belum punya. Tiap hari masih malak orang-orang dan juga nyopet, mau kasih aku makan dari uang haram? nggak!" jelas Tasya.


"Tidak kok. Kami tidak akan malak dan nyopet lagi. Kami akan mengikuti apapun, apapun yang kamu katakan."


"Kalau begitu sekarang kalian masuk ke selokan itu, dan bersihkan sampah yang menyumbatnya. Tuh airnya penuh kalau hujan bisa banjir," kata Tasya.


"Ma_masuk selokan? apa nggak ada yang lain?" jelas mereka tidak akan mau begitu saja kan.


"Tasya, berilah kami syarat yang mudah. Dan setujulah untuk menjadi bagian dari kami. Ya," kini Bimo yang sangat memohon.


"Katanya mau melakukan apapun yang saya minta. Nyatanya hanya permintaan kecil saja nggak mau kan? Ya sudah jangan bicara lagi dengan ku," kembali Tasya mengajak Salwa untuk berdiri. "Yuk Salwa."


"Baik, Kak."


"Bagaimana ini?" ujar Agung.


"Kamu saja, aku ogah masuk selokan," ujar Kipli.


"Aku juga ogah," susul Dadang.


"Ih! apa kalian mau mati di tangan orang yang sangat berbahaya di pasar ini. Kita hanya akan selamat jika berada di belakang Tasya," ucap Bimo.


"Iya, jadi kita harus baikin dia. Dan kita bisa selamat," sahut Agus yang satu sepemikiran dengan Bimo.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....