
🌾🌾🌾🌾🌾
Setelah mengetahui pesantren ada masalah besar membuat Faisal bergegas pulang. Padahal dia baru saja berangkat untuk mengisi acara pengajian. Tapi itu membuatnya membatalkan.
Dan benar saja, Faisal mendapati pesantren sudah sepi senyap dengan semua orang yang tertidur di tempat yang sembarangan. Bahkan mereka tidur di atas paving di luar ruangan.
Sepertinya memang ada yang merencanakan untuk semua ini. Faisal mencoba membangunkan satu persatu orang dan alhamdulillah mereka bisa bangun. Namun setelahnya dia mencari-cari anggota keluarganya tapi tidak di temukan.
Hingga akhirnya Faisal bertemu dengan adik iparnya yang sepertinya juga tengah panik karena melihat keadaan pesantren.
"Kita harus mencari mereka," ucap Faisal.
"Abang benar," kata orang itu yang tak lain adalah Rico. Sang adik ipar.
Akan mudah mencari keberadaan mereka karena Rico yang memang memiliki keahlian khusus bisa mudah menemukannya.
Di saat Faisal menghubungi seseorang Rico sudah pergi lebih dulu membuat Faisal menjadi buru-buru berbicara dan cepat menutup telfon lalu mengejar Rico sang adik ipar.
Perjalanan memang tak begitu jauh, hingga akhirnya mereka berdua sampai di depan gedung tua yang di perkirakan tempat yang menjadi penyekapan keluarganya.
"Bang, kita harus menolong mereka," ucap Rico.
"Iya, tapi bagaimana bisa kita menolong mereka. Lihatlah, mereka sangat banyak sementara kita? kita hanya berdua. Tunggu bang kembar sebentar lagi. Mereka sudah dalam perjalanan." ucap Faisal.
Benar, tak lama beberapa mobil datang ada dua laki-laki yang sangat mirip. Mereka adalah abangnya Faisal. Abang kembar, Akhsan dan Ikhsan.
Ya! Faisal memiliki tiga saudara. Dua abang kembarnya yang sudah menikah juga adik perempuannya yang juga sudah menikah hanya tinggal Faisal sendiri yang belum menikah karena belum bertemu dengan jodohnya.
"Bang, sepertinya mereka ada di dalam. Kita harus menolong mereka, Bang," ucap Faisal yang langsung menghadang kedua abangnya.
Ternyata tak hanya berdua saja abangnya datang melainkan beberapa orang juga yang bertubuh kekar.
"Cepat bergerak," pinta abang pertama Faisal. Dan semua orang-orang itu langsung bergerak.
Terlihat tak gentar mereka untuk melawan orang-orang yang telah menyekap keluarga Saputra, keluarga Faisal.
Perlawanan dan perlawanan terus terjadi dari pihak Faisal juga pihak orang-orang yang menyekap keluarganya. Mereka saling adu kekuatan untuk saling melumpuhkan.
Sementara di tempat yang sama Tasya masih saja mengamati orang-orang yang ada di dalam yang ternyata adalah keluarga Faisal.
"Hahaha! ternyata, jebakan ku berhasil. Hanya dengan membawa para orang tua mereka sekarang mereka sendiri datang. Keluarga Saputra akan benar-benar tiada, hahaha!" tanya orang itu yang lagi mengejutkan Tasya.
"Dasar nggak waras!" gerutu Tasya.
"Hem, aku harus lakukan sekarang," Tasya mengambil batu ingin dia mengecoh orang itu supaya dia bisa pergi.
Mengamati kaca depan jeli dan berusaha melemparkan batu dengan fokus. Tasya begitu yakin bisa mengenainya.
"Satu, dua, ti..."
Pyaar...
"Hey, siapa itu!" teriak orang di dalam dan dengan cepat dia langsung berlari. Entah kucing dari mana tapi ada kucing yang terus menempel kaki Tasya.
"Maaf ya, tenang. Kamu akan jadi pahlawan kok," kata Tasya dengan langsung melemparkan kucing itu ke arah orang itu mau menghampiri.
"Aw!" hampir saja dia kena cakar kucing terbang yang di lempar oleh Tasya. Tasya menahan mulutnya supaya tidak tertawa namun dalam hatinya dia terus meminta maaf pada sang kucing. Semoga saja kucing itu tidak jadi pelampiasan kemarahan nantinya.
"Hanya kucing," dia kembali.
"Kita keluar, dan tutup pintu ini kunci rapat dan kita ledakan sekarang juga!" perintahnya.
Detik-detik mendebarkan untuk Tasya, dia harus dengan cepat menolong semua orang yang masih pingsan itu sebelum bom meledak. Apalagi waktunya terus berjalan.
Tasya berusaha membuka jendela setelah memastikan tak ada yang ada di dalam.
"Hey, apa yang kamu lakukan!?"
Tasya hampir jantungan karena tiba-tiba Bimo CS datang.
"Dasar kucrut! kalian hampir membuat jantungku copot!" kesal Tasya.
"Maaf, apa yang mau kamu lakukan? lebih baik kita pergi dan jangan ikut campur. Ini urusan orang kaya, kita tidak perlu menolongnya," ucap Bimo.
"Kalau kalian mau pergi ya pergi saja sono! kalian nggak lihat tuh, di dalam ada bom yang sudah menyala, sebentar lagi akan meledak dan semua orang itu bisa saja mati."
"Tapi, Tasya. Ini sangat bahaya!" seru Bimo dengan suara tertahan.
"Emang gue pikirin!" tak mengindahkan kata-kata Bimo Tasya langsung masuk dengan cara memanjat jendela.
Bohong kalau Tasya tidak takut karena baru kali ini dia berhadapan dengan bom yang bisa saja langsung membunuhnya jika meledak. Tapi hatinya yang sangat baik tak akan mungkin membiarkan orang-orang di dalam itu mati begitu saja.
"Dasar keras kepala!" omel Agus.
"Kipli, ikut aku masuk. Kita bantu Tasya. Agus dan kamu Dadang kalian tetap di sini. Kalian jaga kalau ada orang yang datang kasih tau," perintah Bimo jelas semua menurut padanya.
Sementara Tasya sudah melepaskan ikatan mereka semua satu persatu dan mencoba membangunkannya.
Memang sedikit susah karena mereka berada di pengaruh obat tidur tapi dengan segenap usaha akhirnya Tasya berhasil membangunkannya.
"Ada apa ini?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Rayyan. Papa Faisal.
"Tidak usah banyak bertanya dulu, Pak. Yang terpenting kita keluar dulu dari sini. Lihatlah, ada bom yang hampir meledak. Waktu kita tidak banyak!" ucap Tasya.
"Kamu siapa?" tanya sang nenek tua.
"Tanyanya nanti ya, Nek. Sekarang kita harus keluar dulu." ucap Tasya.
"Astaga, masalah apa yang pernah kalian perbuat sampai-sampai mengalami hal seperti ini," gumam Tasya hampir tak terdengar.
"Bim, cepat tolong mereka semua untuk keluar," pinta Tasya.
"Lewat jendela?" Bimo mengernyit.
"Iya, emang lewat mana lagi. Kita tidak bisa lewat pintu nanti kita kembali tertangkap oleh penjahat itu. Cepat, Bim. Waktunya hampir habis!"
"Iya iya. Kipli, cepat," perintah Bimo.
Dengan saling bantu satu persatu dari mereka bisa keluar dari jendela. Juga ada Rayyan juga kakaknya yang juga membantu meski mereka terlihat lemah.
Tentu ada Agus juga Dadang yang membantu di luar jendela. Mereka harus gerak cepat kalau tidak bisa saja terlambat dan mereka akan celaka.
"Cepat-cepat!" Tasya menoleh ke arah belakang dan bom itu waktunya hampir habis. Tasya sudah sangat gelisah.
Bagaimana kalau bom itu meledak saat mereka masih di dalam pasti tubuh mereka akan hancur berkeping-keping.
"Tasya, ayo cepat!" dan hanya tinggal Tasya yang masih di dalam.
Kipli, Agus juga Dadang sudah mulai menjauh dari sana mengajak ke tempat yang lebih aman.
Sementara Bimo masih sibuk untuk membantu Tasya yang tiba-tiba saja seolah kehilangan tenaga. Mungkin dia sudah takut duluan karena waktunya yang sebentar lagi.
"Tasya, ayo!"
"Bim, kakiku kesemutan," ucapnya.
"Ah kau ini. Ini bukan waktunya bercanda. Tasya, cepat," Bimo benar-benar ketakutan.
Di saat Bimo semakin panik dan keringat terus mengucur deras Tasya langsung lompat begitu saja kayak kucing.
"Lah, kucingnya?" Tasya kembali masuk karena melihat kucing yang masih jalan-jalan dengan santai di dalam. Kucing yang tadi dia lempar, tentu sekarang tidak akan dia biarkan dia mati.
"Tasya, apa yang kamu lakukan! itu hanya seekor kucing. Ck.." Bimo semakin panik.
"Bimo awass!" teriak Tasya. Dia berlari dari tempat kucing itu dan langsung melompat dengan gesit. Sekali lompatan dia sudah langsung berhasil keluar dari ruangan.
"Bimo, lari!" bukan hanya memegangi kucing tapi Tasya juga menarik tangan Bimo dan mereka berlari bersama.
Bummmm.....
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....