Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Di hadang dua mobil



🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya benar-benar kembali ke depan tapi melewati samping dia sangat penasaran siapa sebenarnya yang datang dan sangat mencurigakan itu.


"Aku harus tau dia siapa," katanya dengan kaki yang terus melangkah untuk segera sampai di depan.


"Kak, tunggu!" teriak Salwa yang begitu menggema bahkan untuk bisa mengejar Tasya dia sampai berlari.


Suara keras Salwa tentu mengejutkan semua orang begitu juga dengan Faisal yang tengah ngobrol di dalam bersama pak pengasuh.


Keduanya juga langsung beranjak dengan cepat dan keluar untuk bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Salwa sampai berteriak begitu keras.


Faisal melihat Tasya yang sudah jalan lebih dulu sementara Salwa mengejarnya di belakang. Karena sangat penasaran Faisal akhirnya ikut berlari untuk melihat apa yang membuat Tasya sampai berjalan begitu cepat seperti itu.


Terlihat Tasya berhenti di depan gerbang dia melihat-lihat dan terlihat sangat bingung mencari-cari orang yang tadi Salwa lihat tapi nihil, dia tak bisa menemukannya sekarang. Lalu dia pergi ke mana?


"Sya, ada apa? Kamu mencari siapa?" Faisal ikut menoleh-noleh sama seperti yang Tasya lakukan saat ini, jelas dia sangat penasaran kan?


"Salwa, sebenarnya ada apa?" Tasya yang belum menjawab membuat Faisal bertanya juga kepada Salwa tentu karena dia sangat penasaran dan ingin segera tau.


"Tadi Salwa cerita kalau ada orang yang mencurigakan saat kakak datang, dan kak Tasya langsung ke sini untuk melihat siapa orangnya. Tapi sekarang orangnya sudah pergi ternyata," jawab Salwa menjelaskan.


"Orang mencurigakan?" Faisal semakin penasaran siapa orang itu dan kini dia ikut mencari tapi sama seperti Tasya dia tidak menemukannya.


'Apa itu orang suruhannya tuan Alex? Apakah mereka sudah tau sekarang kalau kami sedang berada di sini?' batin Faisal.


Tetap tidak ada siapapun yang mereka lihat.


"Sya, tidak ada siapapun di sini. Kita masuk?" ajak Faisal yang sudah mendekat.


"Tapi Tasya yakin tadi ada yang datang, Mas. Dia pasti orang yang punya niat buruk sama kita," Tasya menoleh sebentar lalu kembali mencari-cari orang itu.


"Mungkin memang tadi ada tetapi sekarang sudah tidak ada. Sekarang kita masuk dan kita segera ke tempat abang sebentar lagi," ucap Faisal begitu lembut.


Terlihat Faisal begitu tenang meski sebenarnya dia sendiri juga sangat was-was sama seperti yang Tasya rasakan sekarang. Tetapi Faisal tidak boleh terlihat gelisah di hadapan Tasya.


"Hem," Faisal merangkul Tasya dan mengajaknya masuk sementara Tasya sendiri dia kembali menoleh ke arah belakang dia masih merasa kalau ada orang yang terus memperhatikan mereka.


Faisal ikut menoleh namun itu hanya sebentar dan terus bersikap biasa-biasa saja. Kalau Faisal terlihat takut atau gelisah bagaimana dengan Tasya, dia pasti lebih merasa takut lagi nantinya kan?


Perasaan Tasya memang tidak salah orang itu masih berada di sekitar sana dia segera pergi dari sana tadi ketika mendengar suara Salwa yang terus memanggil Tasya.


Begitu juga dengan Faisal, dia juga sangat merasakan hal yang sama seperti Tasya dia sangat peka sebenarnya tapi dia tidak ingin Tasya semakin takut.


'Siapapun kamu dan segala niatmu tidak akan pernah aku biarkan terjadi. Aku akan tetap mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku,' batin Faisal.


Tekatnya sangat besar untuk selalu menjaga Tasya, menjaga apapun yang sudah menjadi miliknya. Entah seberapapun kuatnya orang yang akan merebut Tasya darinya tidak akan membuat dia takut dan mengalah. Dia akan terus berjuang.


Setelah beberapa saat di panti dan juga niatnya sudah tersampaikan Faisal dan Tasya undur diri dari sana. Mereka sudah di tunggu oleh abang kembar di rumah mereka tentu Faisal tidak ingin mereka menunggu terlalu lama lagi.


Mobil kembali berjalan meninggalkan panti bergegas dan begitu melaju dengan cepat namun penuh kewaspadaan. Meski buru-buru tapi keselamatan tetap di nomor satukan oleh Faisal, tentu dia tidak ingin terjadi apapun pada mereka berdua.


"Mas, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan keponakan mu," ucap Tasya.


"Keponakan ku juga keponakan kamu kan?" Faisal tersenyum, memang seperti itu kan?


"Hehe, iya," Tasya hanya meringis dia benar-benar tidak sabar untuk bisa segera sampai dan bisa bertemu dengan dua keponakannya yang sangat lucu.


Memang baru sekali saja dia bertemu pas di acara resepsi waktu itu tapi keponakan yang begitu imut sudah langsung mencuri hatinya.


"Hem, sepertinya kita harus lembur."


"Ya, untuk bekerja keras supaya cepat mendapatkan yang imut-imut seperti Alvaro dan Alvino," jawab Faisal.


"Ih, apaan sih!" pipi Tasya langsung merah karena ucapan Faisal barusan. Emang kurang apa coba mereka kan sudah selalu berusaha tapi memang belum tiba saatnya saja mereka di beri kepercayaan.


"Hehehe, kita bekerja keras lagi ya," ucap Faisal.


"Hem," Tasya hanya tersenyum tapi wajahnya berpaling dari Faisal, malu untuk melihatnya.


Keduanya sama-sama tersenyum dengan dengan harapan besar yang ada di pikiran mereka masing-masing namun dengan tujuan yang sama. Yaitu tentang keturunan.


Ckitt....


"Aww!" pekik Tasya setelah keningnya terbentur dasbor mobil karena Faisal menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.


"Sya, kamu tidak apa-apa kan?" Faisal sangat khawatir.


"Tidak apa-apa paling hanya sedikit benjol, emang ada apa sih maasss..." ucapan Tasya panjang di akhir ketika melihat ada dua mobil yang menghadang mobil mereka.


"Ini benar-benar masalah besar, Mas," ucap Tasya dengan mata melotot tak melepaskan pandangannya.


"Kamu benar. Biar mas yang turun, apapun yang terjadi kamu jangan turun," titah Faisal.


"Tapi mas!"


"Mas minta patuh dengan mas. Ini ponsel mas, kamu hubungi mas Hasan atau mas Ilham," pinta Faisal sebelum dia keluar dari mobil.


Terlihat orang-orang yang ada di dua mobil itu juga sudah turun dan berjalan mendekati Faisal yang sudah turun.


Mata-mata mereka terlihat sangat menyeramkan tapi Faisal terlihat sangat tenang.


Sementara Tasya, dia terus mengutak-atik ponsel Faisal dan mencari nomor Hasan dan Ilham yang di maksud Faisal tadi.


Tasya panik, dia ingin turun tapi peringatan Faisal tidak bisa dia langgar lagi. Tapi jika dalam keadaan darurat, tentu Tasya tidak akan diam saja.


🌾🌾🌾🌾🌾


Keenam orang terus berjalan dengan mata yang terus celingukan. Sudah dari tadi mereka berjalan untuk mencari keberadaan Bimo tapi sampai sekarang belum juga ketemu.


Haus tentu mereka rasakan, panas karena matahari pasti semakin menambah rasa haus mereka semua.


"Kemana lagi kita harus mencari Bimo?" Dadang menghentikan langkah tangannya langsung terangkat dan mengipas-ngipasi wajahnya sendiri.


"Lelah, Bro," Agus malah duduk di bibir trotoar.


"Kalau lelah ya sama saja tapi kita tidak bisa menyerah begitu saja, bagaimana kalau Bimo sudah menemukan Tasya dan sudah memanggil tuan Alex?" Kipli yang masih semangat.


"Benar-benar," Ketiga orang yang ada di belakang Kipli begitu membenarkan kata-katanya.


Kalau apa yang Kipli katakan itu benar bukankah sangat bahaya. Bagaimana kalau Tasya sudah di tangkap.


"Ayo-ayo kita jalan lagi. Kalau ketemu nanti kita minta traktir Faisal, dia kan kaya pasti tidak masalah hanya membelikan makan dan minum untuk kita," Kipli meraih lengan Agus dan menariknya supaya kembali berdiri dan itu cukup berguna.


"Iya iya," Agus langsung berdiri dan kembali berjalan.


Bukan hanya Agus saja tapi juga Dadang yang ikut berjalan lagi.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....