
🌾🌾🌾🌾🌾
Betapa bahagianya menikmati hari-hari untuk menjemput kedatangan sang buah hati tercinta. Semua terasa nikmat apalagi ada sang suami tercinta yang terus menemani dan juga memberikan apa yang selalu dibutuhkan.
Kasih sayang, perhatian dan juga semua kebutuhan dalam bentuk moril semua dia dapatkan siapa yang tidak akan bahagia dan merasa menjadi wanita paling sempurna.
Meski dengan keadaan perut yang membesar Tasya terus melakukan apapun yang menjadi kewajibannya sebagai istri, dia tidak mau kalau sampai suaminya merasa diabaikan meski suaminya atau bahwa dirinya tengah hamil anaknya.
Setiap saat segala kebutuhan Faisal selalu diperhatikan oleh Tasya, tidak pernah ada yang terlewatkan dan semuanya selalu cukup bahkan lebih dari sekedar yang dibutuhkan.
Faisal juga begitu siaga menjaga Tasya dan hanya akan keluar dari pendopo saja dan berada di sekitar pesantren tidak pernah dia pergi keluar meski ada urusan dakwah karena dia akan meminta temannya yang lain untuk menggantikan dia.
Faisal tidak mau kalau sampai Tasya akan melahirkan dan dia tidak ada di rumah, entah apa yang akan dirasakan oleh Tasya saat itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Faisal. Dia mulai masuk ke rumahnya setelah kembali dari perpustakaan pesantren.
Biasanya Faisal akan membaca kitab-kitabnya di dalam perpustakaan tapi tidak dengan akhir-akhir ini dia akan selalu membawanya ke rumahnya sembari menjaga Tasya.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Cepat sekali kembalinya." Tasya yang sedang rebahan di kursi langsung beranjak, menyambut kedatangan Faisal yang sudah masuk.
Tasya ingin berdiri namun dengan langkah cepat Faisal menghentikannya. Tasya yang mulai kesusahan untuk bergerak membuat dia tidak tega.
"Sudah, duduk saja. Biar aku yang datang." ucap Faisal.
Tasya tersenyum, dia kembali duduk di kursi dan menunggu suaminya itu datang. Setelah sampai Faisal langsung duduk di samping Tasya dan mendapatkan sambutan tangan Tasya.
"Kok cepat sekali, Mas?" Kembali Tasya bertanya, mengatakan pertanyaan yang tadi belum sempat Faisal jawab.
"Aku tidak bisa lama-lama pergi, Sya. Meninggalkan mu semenit saja sudah tidak tenang bagaimana mau berlama-lama."
Tasya tersenyum mendengar perkataan Faisal, alhamdulillah kalau Faisal senang rasa hatinya karena Faisal bisa berpikir seperti itu.
Rasanya benar-benar diperhatikan sehingga tidak ada sedikitpun kekurangan.
"Ah masak," Tasya mengerucut bibirnya begitu lucu.
"Iya, Sayang. Ih, manis banget sih kamu tuh. Semakin lama semakin penuh saja ini pipinya." Faisal mencubit gemas pipi Tasya dan membuatnya semakin mengerucutkan bibirnya.
"Lah, kan emang sudah penuh dari dulu tidak ada yang berlubang kan?"
"Iya, tidak ada lubangnya. Kan lubangnya ada di tempat yang lain?" Faisal semakin terkekeh saja.
"Maksudnya?"
"Iya, lubang hidung, lubang telinga dan masih ada beberapa lagi." Senang Faisal menggoda Tasya yang mudah kesal karena sedikit gurauannya.
"Iya iya, aku tau."
"Hem, mas. Kenapa aku pengen makan sesuatu ya?" Tasya terlihat berpikir mengatakan sesuatu yang ingin dia makan. Entah apa, tapi membuat Faisal mengernyit karena ini adalah pertama kalinya Tasya menginginkan sesuatu setelah kehamilannya.
"Emangnya kanu mau makan apa?" tanya Faisal.
Sebisa mungkin dia akan memberikan apa yang diinginkan oleh Tasya di saat kehamilannya. Lagian ini adalah pertama kalinya Tasya ingin meminta tidak mungkin dia tidak memberikannya, bahkan dia harus mencarinya meskipun itu akan susah dia dapatkan.
"Tasya pengen makan permen karet," ucapnya. Wajahnya memelas dengan mata yang berkedip memohon.
"Permen karet?" Faisal terperangah. Kenapa harus permen karet dari sekian banyaknya makanan.
"Iya, tapi maunya yang berbungkus kertas. Yang ada stikernya."
Bingung dah Faisal akan mencari ke mana permen karet seperti yang Tasya inginkan. Jika hanya sebatas permen karet saja dia akan mudah mendapatkan, tapi ini?
"Kenapa tidak yang lain saja?" Faisal mencoba menawarkan sesuatu siapa tahu Tasya akan menerima tawarannya dan mengganti keinginannya dengan makanan yang lain yang lebih mudah dicari.
"Tidak mau, maunya itu." Tasya merengek seperti anak kecil yang meminta mainan dan tak kunjung dikabulkan. Bahkan wajahnya terlihat begitu memohon kepada Faisal akan memberikannya.
"Pengen," kembali Tasya berucap. Kali ini matanya sudah berkaca-kaca.
"Iya iya, tapi jangan nangis ya Mas akan mencarikan dan doakan semoga cepat mendapatkannya."
Tasya mengangguk antusias dia begitu bahagia karena apa yang diinginkan akan segera diberikan oleh Faisal. Semoga saja Faisal cepat mendapatkannya, kalau tidak mungkin dia akan menangis seperti anak kecil yang tidak bisa mendapatkan mainannya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....