
🌾🌾🌾🌾🌾
Kedatangan Faisal yang terus tersenyum dengan masuk ke dalam kamar membuat Tasya penasaran. Dia yang sedang sibuk dengan bacaannya menghentikan dan menutupnya, jelas untuk menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas, ada apa?" bersamaan dengan kaki yang melangkah Tasya langsung bertanya meski akhirnya dia ikut kembali ke tempat semula karena Faisal yang menariknya dan duduk kembali.
semakin penasaran Tasya di buatnya, dia terlihat tak sabar untuk mendengar cerita apa yang di bawa oleh suaminya itu yang terlihat bahagia. Apakah ada kabar gembira?
"Mas, ada apa?" Tasya semakin tak sabar, dia terus melihat suaminya begitu juga dengan Faisal yang juga sudah menghadap ke arahnya.
"Apa kamu tau? mas saat ini sangat bahagia," Tasya semakin penasaran, apa yang membuat Faisal begitu bahagia. Sebenarnya ada kabar apa, kenapa Tasya tidak mengetahuinya sampai sekarang.
Apakah karena Tasya begitu fokus di kamar untuk mempelajari semuanya membuat dia terlewatkan berita yang membahagiakan.
"Ada kabar apa sih, Mas?" lama-lama Tasya bisa mati penasaran karena Faisal yang tak kunjung menjelaskan.
Tasya semakin fokus melihat ke arah Faisal, menatapnya tanpa berkedip dan juga duduknya yang sudah tidak tenang semua itu karena dia yang sudah tidak sabar.
"Begini, mas Ilham baru saja pulang dari panti."
"Terus?" semakin tak sabar bahkan Tasya sudah menyela ucapan Faisal.
"Hem," Faisal menggeleng karena Tasya yang sudah tak sabaran bahkan dia sudah langsung menyela karena Faisal yang berbicara dengan perlahan.
"Mas Ilham baru pulang dari panti, dan berita bahagianya adalah mas Ilham sudah meminang Dina dan di terima, mungkin sebentar lagi akan ada pesta pernikahan di sini."
Setelah mendengar berita itu Tasya juga jelas bahagia, dengan adanya Dina di sana dia juga akan mendapatkan teman yang sama seperti dirinya yang masih banyak belajar tentang agama.
Tasya memang lebih baik dari Dina karena Dina sudah mengetahui bagaimana akan ajaran agama meski belum seluruhnya, tapi Tasya? Tasya sama sekali belum tau sebelum kenal dengan Faisal.
Tapi bukan berarti Dina juga tidak membutuhkan belajar lagi dia masih harus dan Tasya akan bisa belajar bersamanya.
"Alhamdulillah kalau begitu, Mas. Jadi Tasya akan punya temen kan di sini? Dina sama Mas Ilham akan tinggal di sini kan kalau sudah menikah?"
"Kemungkinan besar iya. Mas Ilham juga harus tetap mengajar di sini kan jadi mereka akan tinggal di sini bahkan bisa jadi pernikahan juga akan di adakan di sini," terang Faisal.
Semakin senang Tasya sekarang. Hatinya begitu berbunga-bunga hanya karena sebuah berita yang Faisal bawa barusan.
Tasya melamun, entah apa yang sedang dia pikirkan.
Faisal yang melihat begitu gemas dan tangan bergerak menusuk pelan hidung Tasya.
"Hayo, mikirin apa?" di tarik tangan Tasya ke atas pangkuannya di tatap dengan tatapan mesra namun Tasya masih tidak memperhatikan. Tasya masih sibuk dengan dunia khayalannya yang entah sudah sampai mana.
Faisal semakin mengejutkan kening karena melihat Tasya yang tersenyum sendiri entah karena apa. Tapi jika sudah berhasil membuat Tasya tersenyum seperti itu pastilah karena yang dia pikir pasti hal-hal yang membuat dia bahagia.
"Hem, enggak! Tasya nggak mikir apa-apa," kilahnya tak mengakui apa yang sedang dia pikirkan.
'Seandainya kamu tau, Mas. Aku sedang memikirkan jika satu saat nanti mereka menikah dan kita bisa punya anak hampir bersamaan pasti anak-anak kita bisa berteman seperti mas Faisal dan juga mas Ilham,' batin Tasya.
'Mereka pasti akan sangat menggemaskan saat bermain. Hem, jadi tidak sabar,' imbuhnya lagi.
Semakin penasaran Faisal karena Tasya kembali diam dengan tatapan fokus ke depan dengan tersenyum juga. Aneh.
Namun Faisal tidak mau mendesak Tasya untuk mengatakan, mungkin memang Tasya belum mau cerita dan dia akan menunggu. Tidak sekarang pastilah nanti atau besok akan dia dapatkan jawaban dari rasa penasarannya sekarang ini.
🌾🌾🌾🌾🌾
Duduklah Ilham di hadapan Rayyan saat ini, mengatakan semua tujuannya pada Dina yang sudah di terima.
Dan benar, setelah mengatakan semua kepada Rayyan papa Faisal, kini Ilham di minta untuk melakukan acara pernikahan di pesantren.
Acara itu akan semakin memeriahkan pesantren dan akan semakin ramai. Semua para santri juga akan bahagia dengan acara itu.
"Kamu tidak usah khawatir, biar saya yang menyiapkan segalanya," ucap Rayyan.
Ilham tersenyum namun dengan perasaan tak enak hati, tentunya karena tidak mau merepotkan siapapun akan acaranya nanti. Keluarga Faisal ini sudah sangat baik kepadanya dan juga kada semua keluarganya, jadi dia tidak mau merepotkan lagi.
"Kamu siapkan saja apa yang seharusnya kamu persiapkan, sisanya biar saya yang menyiapkan. Kamu itu sama seperti Faisal jadi jangan merasa sungkan lagi. Kamu juga anak kami," ucapnya lagi.
Bahkan mereka malah menganggap Ilham sama seperti Faisal yang anak kandungnya sendiri, rasanya tak mampu berkata-kata lagi si Ilham sekarang ini.
"Sekarang kamu siapkan semua yang seharusnya kamu persiapkan, salah satunya kamu harus bisa benar-benar menyiapkan dirimu."
"Kamu sudah mengambil langkah untuk menikah itu artinya kamu harus bisa siap dalam segala hal, jadi bersiaplah mulai sekarang."
"I_iya, pak Kyai," jawab Ilham mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Kyai," pamit Ilham dan langsung di angguki oleh Rayyan.
Rayyan tersenyum mengantar kepergian Ilham dari pendopo_nya. Tentu Rayyan juga sangat bahagia sekarang dan setelah pernikahan Ilham hanya tinggal satu yang belum yaitu Hasan.
Adik dari menantunya itu juga tidak bisa di abaikan begitu saja, dia juga harus di perhatikan karena dia juga sama seperti Ilham kedudukannya di hati Rayyan.
"Setelah ini adalah giliran mu Hasan," gumam Rayyan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...