
🌾🌾🌾🌾🌾
Kedatangan Tasya benar-benar di serahkan pada Faisal. Oma sendiri yang sedari tadi terus meminta Faisal untuk menjemputnya, tentu dengan cara yang sangat tak sabar.
Oma tau itu tidaklah benar, tapi dia sangat menginginkannya. Faisal harus menjemput Tasya sendiri dan juga tentunya membawa baju khusus yang oma pilihkan untuk di pakai Tasya di acara itu.
Tak main-main, bahkan oma yang memilih sendiri baju seperti apa yang harus di pakai oleh Tasya nantinya.
"Sal, pokoknya kamu harus bisa bawa Tasya datang ke sini bersama mu. Kalau tidak, kamu tidak boleh masuk apalagi mengikuti acara," ucapan Oma begitu menegaskan seperti memang tak bisa di tawar-tawar lagi oleh Faisal.
"Harus saya ya, Oma?" Faisal bertanya dengan suara lemah tapi setelah mendapat anggukan dari sang oma Faisal hanya bisa pasrah dan tak berani berkomentar lagi.
"Ingat, harus datang bersama Tasya," peringatan terakhir dari oma sebelum Faisal benar-benar pamit.
"Iya, Oma. InsyaAllah Faisal akan berhasil mengajak Tasya, Assalamu'alaikum oma." Faisal menyalami lebih dulu sebelum dia pergi.
"Wa'alaikumsalam, cepat sana dan jangan lama-lama perginya," jawaban oma hanya di senyumin oleh Faisal.
Dengan mobilnya Faisal berangkat, kali ini dia memakai mobil lain karena yang biasa tengah di pakai orang lain untuk keperluan dari acara.
Sesuai apa yang di pikirkan Faisal pergi ke pasar dia sangat yakin akan menemukan Tasya di sana.
Faisal kembali mencari dan mencari Tasya di pasar, sangat susah memang untuk bisa menemui Tasya yang tak menentu berada di mana. Tetapi Faisal tetap melakukannya.
Kembali Faisal berkeliling di pasar. Padahal saat itu Faisal sudah mengatakan ingin menjemputnya dan Tasya di minta untuk menunggu di depan pasar tapi dia tidak ada di sana.
"Apakah Tasya lupa, tidak mungkin kan?" gumamnya dengan terus mencari-cari.
Sesekali Faisal menanyakan pada pedagang yang jelas tak asing lagi dengan Tasya. Dia adalah penghuni juga di pasar. Bahkan lebih tetap dari pada para pedagang yang hanya pas siang hari saja.
"Permisi, Bu. Mau tanya, apakah ibu melihat Tasya ya?" tanyanya dengan sangat sopan.
"Tidak, Mas. Seharian ini saya belum melihatnya, biasanya jam gini dia juga sudah meminta uang keamanan tapi entah sampai sekarang belum nongol juga," jawabnya.
Setelah keberadaan Tasya memang pasar lebih aman tidak seperti sebelumnya yang sering ada yang mengeluhkan kehilangan sesuatu, dan karena itu semua pedagang sendiri yang berinisiatif untuk memberikan uang keamanan untuk Tasya. Yah! meski tidak seberapa sih.
Tasya sendiri juga tidak memakan sendiri uang-uang itu, tentu di bagi dengan beberapa pihak termasuk pihak pasar untuk khas jika kelak ada perbaikan.
"Oh gitu ya, Bu. Maaf, saya permisi," pamit Faisal tetap dengan kesopanannya, bahkan dengan sedikit membungkuk.
"Iya, Mas," jawab orang itu.
Sejenak ibu pedagang mengamati kepergian Faisal yang semakin jauh, tak menyangka kalau Tasya yang seperti preman memiliki teman yang terlihat begitu alim juga sangat sopan.
"Pertemanan itu memang aneh," gumam nya yang memberikan opini dengan apa yang terjadi pada Faisal juga Tasya.
Kembali Faisal berputar-putar di sekitar pasar dengan membawa paper bag yang berisi baju dari oma. Faisal berhenti sejenak, membuka paper bag dan melihat baju yang berwarna peach yang terlihat begitu lembut. Entah seperti apa modelnya.
"Kamu di mana, Tasya," jelas Faisal sangat bingung karena tak kunjung menemukan Tasya. Gadis yang beberapa hari ini selalu saja menyita perhatiannya.
Namun, mata Faisal langsung tertuju setelah mendengar suara mungil yang sangat dia kenal siapa lagi sang pemilik suara kalau bukan Salwa.
"Emang kak Tasya udah berangkat? padahal Salwa pengen lihat penampilan kak Tasya yang memakai jilbab. Kemarin dia pinjem jilbab Salwa loh." terang Salwa.
"Hah! Tasya pakai jilbab!" mereka berempat melongo memandangi Salwa yang kini langsung mengangguk.
"Apa, itu artinya cewek yang tadi ya, Bos. Yang pakai jaket... Yah! benar. Itu kan jaket pemberian tuh cowok," ucap Dadang.
Mendengar itu Faisal langsung menghampiri mereka tentu untuk menanyakan apakah dia salah dengar atau tidak. Kalau Tasya sudah berangkat dari tadi kenapa belum sampai di pesantren?
"Assalamu'alaikum," sapa Faisal setelah sampai pada mereka.
"Wa'alaikumsalam," semua menoleh begitu juga dengan Salwa.
"Eh, kakak kenapa datang. Mau cari kak Tasya ya? bukannya dia sudah berangkat ke tempat kakak, apa belum sampai?"Salwa langsung bertanya.
"Belum, maka dari itu kakak datang untuk menjemputnya," jawab Faisal.
Mendengar itu langsung ada yang terbakar dalam amarah karena cemburu siapa lagi kalau bukan Bimo. Matanya sudah langsung melotot tak suka dengan tangan yang sudah mengepal.
Dengan gerakan cepat Bimo mendorong Faisal hingga mundur beberapa langkah. Sungguh di butakan karena cinta nih si Bimo.
"Bukankah saya sudah katakan untuk menjauhinya? hah! Apa kamu tidak berfikir kalau di dekat mu Tasya selalu saja mendapatkan masalah. Karena kamu adalah sumber masalah!" seru Bimo.
"Jauhi Tasya mulai detik ini, saya takut gara-gara dia dekat dengan mu dia akan berada dalam bahaya. Jauhi dia sejauh-jauhnya!" imbuh Bimo.
Faisal masih diam, mendengar apa yang Bimo katakan tentangnya.
"Dia itu anak baru di sini, jangan memanfaatkannya dengan maksud terselubung mu!"
Semua unek-unek Bimo keluarkan saat itu juga tapi Faisal masih diam. Salwa si kecil itu yang melihat begitu geram. Berani-beraninya Bimo melarang Tasya dekat dengan Faisal.
Tangan Bimo sudah terangkat karena kesal Faisal gak mengatakan apapun, lagi siap melayangkan pukulan pada Faisal. Tapi tidak, kali ini Faisal menghalau nya. Dengan gerakan cepat tangan Bimo sudah berada di cengkeraman Faisal.
"Maaf, seharusnya kamu ngaca sebelum bicara. Kamu mengatakan saya hanya memanfaatkannya? siapa di sini yang memanfaatkan, aku atau kamu?"
"Bukankah kamu yang menempatkan dia dalam bahaya, kamu bahkan berlindung di belakang wanita untuk keselamatan mu. Kamu pura-pura baik pura-pura menjadi teman padahal kamu ingin dia melindungi mu dari orang-orang yang memiliki niat jahat padamu."
"Katakan, sekarang siapa yang memanfaatkan. Aku atau kamu!"
Selesai bicara Faisal melepaskan tangan Bimo sedikit kasar. Dia diam bukan berarti takut. Tak semuanya harus di selesaikan dengan kekerasan tapi kalau sudah keterlaluan semut pun akan menggigit jika di pijak.
"Maaf saya harus pergi. Silahkan introspeksi diri lebih dulu sebelum mencaci dan menghakimi orang lain," Faisal berlenggang, meninggalkan tempat itu untuk mencari Tasya.
"Dasar kakak jahat! benar tuh kata kak tampan. Intropeksi!" tegas Salwa.
"Kak tampan, tunggu!" Salwa berlari mengejar Faisal dan saat itu Faisal menoleh dan tersenyum seraya menunggu Salwa.
"Buset tuh bocah, di suntik apa tuh sampai berani begitu?" Kipli berucap.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....