Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Terima



🌾🌾🌾🌾🌾


Faisal tersenyum saat melihat kedatangan Tasya bersama bu Yulia. Gadis itu terlihat malu tapi dia sembunyikan dengan bersikap seperti biasa. Tenang, dan bersikap tetap acuh. Semua itu dia lakukan karena tak mau terlihat gugup di hadapan semua orang.


Faisal tidak lah sendiri, dia bersama Ilham sekarang. Sepertinya bukan hanya Faisal saja yang sudah tak sabar Tapi juga Ilham yang sudah ingin tau apa jawaban Tasya. Apakah dia akan menerima atau mungkin sebaliknya. Tapi sepertinya di terima, Ilham sangat yakin itu.


Di dampingi bu Yulia Tasya terus berjalan hingga mereka berdua berhenti lalu duduk di kursi di satu lingkar meja yang sama dengan Faisal juga Ilham.


"Maaf, saya kelamaan," ucap Tasya mendahului.


"Tidak, tak masalah," Faisal menjawab.


Kini Tasya semakin gugup, dia terus menyembunyikan tapi kenapa semakin lama di sana perasaan itu semakin kuat.


Tangan Tasya saling menyatu dan saling memijat satu sama lain, bukan kah itu sangat jelas kalau Tasya sangat gugup?


"Mungkin kalian ingin bicara berdua?" tanya Bu Yulia.


Tak ada yang menjawab tapi Faisal juga Tasya hanya sama-sama menoleh.


"Nak Ilham, kita ke belakang dulu saja. Mungkin mereka akan lebih bebas bicara," ajak bu Yulia.


"Baik, Bu." jawab Ilham. Ilham juga Bu Yulia langsung beranjak dan berjalan pergi. Tapi sebenarnya mereka berdua tidak benar-benar pergi karena mereka ada melihat keduanya di pintu.


"Semoga di terima ya, Bu." harap Ilham.


"Amin," jawab bu Yulia.


Tasya juga Faisal yang hanya berdua saja semakin menambah gugup saja bagi Tasya, tapi dia juga merasa sangat malu untuk bicara kalau ada Ilham juga bu Yulia. Benar-benar membingungkan.


"Hem..."


"Hem..." keduanya memulai dengan bersamaan membuat keadaan semakin membuat Tasya tegang.


Ternyata berhadapan dengan orang yang di suka lebih menegangkan daripada berhadapan dengan musuh bagi Tasya. Kalau di depan musuh tak membutuhkan basa-basi dalam bicaranya semua bisa terucap dengan bebas dan leluasa tapi kenapa tidak dengan laki-laki yang di puja?


"Kamu dulu," Faisal menyuruh Tasya lebih dulu, dia siap mendengarkan apa yang ingin Tasya ucapkan.


"Mas dulu saja, kata bu Yulia laki-laki itu pemimpin bagi seorang perempuan. Jadi lebih baik mas dulu yang bicara," tolak Tasya


Faisal mengangguk juga tersenyum, Faisal sangat yakin dengan Tasya yang bersama dengan bu Yulia pasti sedikit banyak sudah belajar dengannya.


"Sya, apakah kamu sudah mendapatkan jawabannya?" Faisal bertanya dia sudah sangat tak sabar ingin mengetahui apa yang menjadi jawaban Tasya.


Dia sangat gelisah, jantungnya terus berdetak tak menentu. Rasanya begitu campur aduk antara takut juga was-was.


Faisal ingin jawaban Tasya tidak ada unsur paksaan. Semua harus keluar dari hati Tasya sendiri di terima atau di tolak Faisal akan tetap menerimanya.


"Mas, tapi..., tapi saya belum bisa langsung berubah untuk bisa seperti oma. Saya masih butuh tahap untuk menjadi lebih baik," ucap Tasya.


Maksudnya Tasya adalah seperti oma yang pakaiannya begitu syar'i. Hijabnya panjang, pakai gamis langgar-longgar juga mengenakan kaus kaki. Benar-benar tertutup semuanya dan juga bentuk tubuhnya tak dapat di lihat.


"Tasya kalau langsung harus seperti oma belum bisa, Mas. Ya, Tasya merasa belum pantas saja. Tasya belum tau apapun dan masih butuh banyak belajar," imbuh Tasya. Perasaan sangat gelisah, jantungnya juga begitu deg-degan saat mengucapkan itu.


Faisal hanya menanggapi dengan senyuman, Faisal menyukai Tasya yang selalu jujur seperti ini. Dia terlihat selalu apa adanya dan tidak di buat-buat. Kalau dia bilang tidak ya berarti tidak tapi kalau dia bilang iya ya berarti iya.


"Mas juga paham itu, Sya. Mas juga tidak akan memaksa untuk kamu bisa seperti oma semua itu memang membutuhkan proses. Sedikit sedikit, Sya. Aku yakin kelak kamu akan bisa." jawab Faisal.


"Mas akan mendampingi mu sampai kamu benar-benar siap untuk itu, kamu tidak usah khawatir," imbuh Faisal.


"Tapi Tasya akan tutup aurat kok setelah menikah," Tasya begitu antusias.


"Hem," kembali Faisal tersenyum meski Tasya belum mengatakan dia menerimanya tapi Faisal senang karena Tasya mengatakan itu. Bukannya itu sudah menjadi jawaban bahwa Tasya mau menikah dengannya.


"Eh," Tasya tersadar lalu dia cepat menutup mulutnya.


"Apakah itu artinya kamu menerima?" Faisal memastikan.


"Hem...?" Tasya menunduk dengan sangat malu lalu tak berapa lama dia mengangguk.


"Alhamdulillah," akhirnya Tasya menerima Faisal itu artinya sebentar lagi mereka akan resmi menjadi pasangan. Setelah menikah.


🌾🌾🌾🌾🌾


Senyum terus keluar di bibir Faisal ketika dia berada di mobil. Hanya sendiri karena Ilham pamit akan ke suatu tempat.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah. Engkau telah menjawab semua doa-doa ku.


Begitu bersyukur Faisal saat ini. Jawaban Tasya sungguh membuat dia senang padahal Tasya sebenarnya bukan gadis yang selalu ada dalam doanya, karena Faisal selalu meminta gadis yang akan menjadi pasangannya adalah yang mengenal agama dengan sangat baik. Dan itu sangat jauh dari Tasya. Mungkin itu adalah takdir Faisal, dia sendiri yang harus membantu gadisnya untuk lebih mengenal Allah dan agamanya.


"Ingat, Sal. Ini bukanlah akhir tapi ini adalah awal perjalanan mu. Awal perjuangan dari tujuan yang sangat besar," imbuh Faisal.


Tekatnya sudah sangat bulat, menerima semua kekurangan Tasya dan berusaha untuk menjadikan sebuah kekurangan itu supaya menjadi kesempurnaan dalam hubungan mereka.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....