Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Sayang?



🌾🌾🌾🌾🌾


Tasya begitu bingung ketika berada di dapur. Ingin dia menyiapkan makai siang untuk Faisal tapi sayangnya dia tidak bisa masak.


Kebetulan kamar Faisal ada di pendopo yang berbeda dengan orang tuanya dan yang lain. Seperti biasa setiap anak-anak yang sudah dewasa akan berada di pendopo yang berbeda dengan orang tua jadi mereka bisa mandiri dan tak melulu menunggu bantuan orang tua.


Pendopo yang tidak besar sih, hanya terdiri satu kamar, satu ruang tamu, juga dapur yang menyatu dengan meja makan. Ada juga ruangan khusus untuk belajar.


Faisal belum kembali dan kini Tasya hanya bingung sendiri di dapur. Sudah berbagai macam sayuran di hadapannya tapi dia tak tau mau masak apa. Dia tidak bisa.


"Kol, sawi, bayam, wortel, ayam, ikan, tahu, tempe... ini mau di masak apa?" ucapnya.


Semuanya sudah dia keluarkan dari kulkas dan di tumpuk menjadi satu di atas meja. Tentu akan semakin menambah kebingungannya kan?


Inilah hasil yang dia dapatkan dari kajian pertama pagi ini. Bahwa menyenangkan hati suami itu bisa dengan berbagai cara. Dan memasak masakan untuknya adalah salah satu di antaranya.


Seorang istri harus bisa membuat suami senang dan betah dengan masakannya juga. Karena, senikmat apapun makanan di luar sana masakan istri lah yang akan paling enak di lidahnya. Seperti itu sih kebanyakan.


Bukan karena itu sih sebenarnya, tapi dengan memanjakan suami dengan makanan akan membuatnya betah dan tak akan berpikir untuk mencari di luar sana. Kalau di rumah saja sudah di siapkan mana mungkin akan mencari di luar.


Memang, susah-susah gampang untuk membuat seorang laki-laki betah di rumah dan tidak akan melirik yang lain. Seorang istri harus pintar-pintar melakukan hal-hal yang akan membuat suaminya selalu lebih mementingkan dirinya bukan malah sebaliknya.


"Gini nih ya kalau orang bodoh. Mau masak aja nggak bisa, bagaimana mau buat suami bahagia? Tapi, kalau kata mama benar bagaimana? kalau laki-laki itu gampang berpaling karena istrinya gak bisa masak dan tak bisa membuatnya bahagia. Tapi masak iya hanya karena tidak bisa masak dia akan mencari wanita lain?"


"Ternyata ya, tak mudah menjalani semuanya. Aku pikir kalau udah menikah ya sudah nggak ngapa-ngapain lagi tapi ternyata? beban akan semakin bertambah, mana susah-susah semua lagi. Belum lagi... Hihh..."


Tasya sudah bergidik ngeri ketika membayangkan kewajiban lain yang seharusnya dia lakukan untuk Faisal.


"Ya Allah, sudah jam sebelas tiga puluh tapi aku belum juga ngapa-ngapain. Ini harus bagaimana?" ocehnya lagi setelah melihat ke arah jam dinding.


"Ternyata tak ada yang enak untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Mau makan pun juga harus berusaha lebih dulu."


Tasya mulai memotong sawi yang ada di hadapannya, entah apa yang ingin dia masak dia sendiri juga belum tau.


"Bagaimana kalau nanti nggak enak dan mas Faisal tidak menyukainya? bagaimana kalau malah menjadi racun?" angan-angan Tasya sudah menjalar kemana-mana sekarang.


Sementara Faisal sudah sedari tadi berdiri di belakangnya dengan menyandarkan punggung di dinding, mendengar semua yang Tasya katakan. Sesekali Faisal tersenyum bahkan dia terus menahan tawa dengan semua yang sudah di katakan. Sungguh, istrinya itu sangat lucu.


"Aku sudah berusaha, kalau nanti nggak di makan aku nggak akan masak lagi. Ogah kan, udah capek-capek dan bingung tapi tidak di hargai."


Sesekali Tasya juga memainkan pisaunya ke arah depan seolah dia ingin menusukkan pada sesuatu.


"Hem, ternyata susah juga ya untuk menyenangkan suami," ucapnya yang sudah lirih, mungkin Tasya sudah mulai lelah berbicaralah.


Faisal mendekat karena tak tega juga melihat Tasya yang terus bingung mau melakukan apa, dia berdiri di belakangnya dan langsung membantu memotong sawi dengan cara melingkarkan tangan dari belakang dan menangkap kedua tangan Tasya.


Jelas hal itu membuat Tasya sangat terkejut karena Faisal yang tiba-tiba di belakangnya. Meski dia membantu memotong sawi bukankah itu sama saja dia tengah memeluknya?


"Memang sangat susah menyenangkan suami, dan kamu harus bekerja keras untuk itu. Bahkan sebenarnya bukan hanya ini saja yang bisa membuat suami senang, kamu bisa melakukan yang lain yang lebih mudah," ucap Faisal.


"E_emangnya apa yang lebih mudah itu," Tasya begitu gugup bahkan dia tak berani menoleh ke belakang ke arah wajah Faisal.


Kedua tangan mereka terus bergerak memotong sawi dengan bersamaan. Tangan Tasya ada di bawah dan di atas ada tangan Faisal yang menjadi penggerak utama pergerakannya.


Perlahan Faisal mengambil pisau dan dia letakan, Faisal memegangi pundak Tasya dan menuntunnya pelan.


"Duduklah," pintanya.


Begitu pelan Faisal meminta Tasya untuk duduk, seolah tengah terhipnotis Tasya hanya diam namun terus menuruti apa yang Faisal inginkan.


Faisal duduk di hadapan Tasya, menatap wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan itu ketika dalam keadaan gugup.


"Bagaimana, apa saja yang kamu pelajari hari ini?" tanyanya.


Loh, bukannya tadi Faisal ingin mengatakan apa saja hal yang bisa Tasya lakukan untuk membahagiakannya, lalu ini?


"Hem..., ca_cara membahagiakan suami. Ta_tapi itu hanya kajian yang khusus mama berikan sih. Kalau pas bareng para santri bukan itu," begitu ragu Tasya menjelaskan.


"Apa saja yang mama katakan?" Meski Faisal tau tapi dia masih saja bertanya mungkin dia ingin Tasya yang mengatakan sendiri.


"Ya, ya itu." Tasya selalu saja gugup dan susah untuk berkata-kata kalau berhadapan dengan Faisal seperti ini. Dia mampu membuatnya diam, Tasya juga seperti di sihir hingga begitu susah mengalihkan perhatian.


"Hem?" mata Faisal memicing.


"Ka_kata mama... aku harus melakukan apapun yang suami minta. Asalkan hal yang baik harus di lakukan."


"Benarkah kamu mau melakukan apapun?"


"Ya, asal bukan hal yang menyakitkan," jawabnya.


"Kalau aku minta... kalau aku minta ini apakah kamu mau memberikan?"


"Hah! ini hanya satu, bagaimana Tasya bisa memberikan?" protes Tasya ketiga Faisal menyentuh bibir Tasya. Benar kan hanya satu, bagaimana mungkin dia akan bisa memberikannya.


Faisal tersenyum seraya menatap mata Tasya yang netra hitamnya terus bergerak karena bingung. Istrinya benar-benar polos.


"Aku tidak memintanya untuk itu, Sya. Tapi untuk ini..."


Perlahan bibir Faisal mendekat dan memberikan kecupan di bibir Tasya itu. Tasya melotot hingga mata keduanya bertemu.


Kembali Faisal membuat jantung Tasya senam di siang ini.


"Apakah ini bisa membuat suami bahagia?" tanya Tasya dan Faisal mengangguk.


"Kalau begitu nggak perlu masak dong," ucapnya.


"Hehe.., kalau tidak masak kita akan kelaparan sayang." jawab Faisal.


"Hah! Sa_sayang?"


"Hahaha..." Faisal malah tertawa melihat Tasya yang begitu terkejut di panggil sayang.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....