
🌾🌾🌾🌾🌾
Dua sejoli terlihat begitu bahagia juga sangat mesra. Bergandengan tangan dengan terus menggerakkan tangan mereka maju mundur di udara.
Senyumnya terpancar dengan sangat jelas dengan wajah yang sesekali menoleh dengan memberikan tatapan penuh cinta.
Berjalan-jalan bersama di sebuah taman. Bersama-sama menyatukan dua hati dan menyampingkan keegoisan dan perbedaan yang sangat nyata.
Dengan pakaian yang sangat kontras berbeda tapi keduanya tetap mesra. Si pria dengan balutan koko yang begitu islami sementara yang cewek masih tetap dengan pakaian kebanggaannya, pakaian selayaknya preman seperti biasa dengan ditambah aksesoris topi bergambar tengkorak untuk menutupi kepalanya.
Siapa lagi kalau bukan Tasya juga Faisal. Keduanya terlihat mesra selayaknya kekasih yang benar-benar tengah di mabuk asmara.
Saling mengikat dan tak ingin saling melepaskan. Aneh, tapi itulah kenyataannya.
"Duduk sini," ajak Faisal dengan sangat lembut, mengajak Tasya duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Tepat berada di bawah pohon yang menjadi pelindung dari panas.
"Hem," begitu menurut Tasya saat Faisal mengajaknya. Keduanya duduk berdampingan lalu tak berapa lama keduanya saling berhadapan.
"Kenapa, apakah ada yang aneh?" tanya Tasya bingung. Tatapan Faisal membuatnya grogi plus malu tak karuan tapi tetap dia usahakan untuk tak memperlihatkannya.
"Bukan aneh sih, hanya saja kamu terlalu cantik. Sayang jika di lewatkan," pintar juga nih Mas Ustadz bikin jantung Tasya jedak-jeduk tak karuan. Di samping pintar tentang semua ilmu agama rupanya dia pintar ngegombal juga membuat Tasya semakin klepek-klepek.
"Apa sih! biasa aja kali, Mas," Tasya melengos tentu dia sangat malu bukan main karena tatapan penuh kagum dari Faisal.
"Benar loh, kamu sangat cantik. Semakin membuat mataku tak bisa lepas dari wajahmu." Semakin intens Faisal melihat bahkan dia menyangga dagunya dengan tangan.
"Anastasya," panggil Faisal dengan suara yang mendayu-dayu mesra. Membuat Tasya terlena dan berujung memejamkan mata.
"Anastasya," panggilnya lagi. Dan kini Tasya menoleh dengan perlahan membuka matanya.
Matanya membulat karena melihat bibir Faisal yang sudah monyong dan semakin dekat.
'Oh maigod, mas Faisal mau mencium ku. Bagaimana ini? apakah aku harus membalasnya juga. Apakah harus aku bersedia memberikan ciuman pertamaku? sebentar, tapi mulutku bau permen karet, ini pasti akan sangat menjijikkan. Tapi... aku juga menginginkannya, Mas Faisal... jangankan hanya ciuman pertama ku. Jiwa raga ku akan aku serahkan. Nih...' batin Tasya.
Bibir Tasya ikut monyong menyambut bibir Faisal yang semakin dekat. Kedua mata mereka sama-sama terpejam dengan wajah yang semakin mengikis jarak dan kini semakin dekat hingga jarak itu habis tak tersisa.
"Anastasya..." panggil Faisal.
"Ya," jawab Tasya dengan suara bergetar.
"ANASTASYA!!"
Gluduk...
"Aww!" pekik Tasya yang kini jatuh dari bangku dengan tengkurap. Tangannya masih memeluk jaket Faisal yang semula dia gunakan untuk menyelimuti dirinya sendiri.
"Hahaha!" kak Tasya kayak katak mau nyelem danau!" begitu girang Salwa melihat Tasya yang sudah terjatuh karena ulahnya.
"Aw, dasar kucrut! berani-beraninya kamu mengganggu tidurku!" Dan ya, semua hanya sebuah mimpi yang datang di siang bolong dalam tidur Tasya.
"Habisnya dari tadi kak Tasya aku panggil nggak nyaut, sekalian saja aku pinjem pengeras suara punya om Cecep." begitu tak ada rasa bersalahnya Salwa karena sudah membuat Tasya rugi besar.
Tasya langsung bangun dengan kesal, tidurnya belum puas. Eh, mimpinya yang belum selesai. Hahaha!
"Nih om Cecep, makasih ya. Silahkan kalau mau ngamen lagi," pengeras suara Salwa berikan pada orang dewasa di hadapan Salwa.
"Siap, sama-sama Salwa," Om Cecep yang di maksud Salwa itu begitu senang bisa membantu dan kini berniat untuk melanjutkan ngamennya berkeliling pasar.
"Kak, kakak mimpi apa sih! sampai-sampai bibirnya monyong kayak bibir monyet," tanya Salwa.
Jelas, pertanyaan itu membuat Tasya terdiam dan menghentikan tangannya. Dia melamun sejenak dan memikirkan mimpi yang sangat tidak pernah terlintas dalam pikirannya itu.
'Astaga, oleng sekali otak ku. Kenapa bisa aku bermimpi seperti itu? aku, hampir berciuman dengan orang itu?' batin Tasya.
Matanya semakin membulat dengan tangan yang terangkat dan menyentuh bibirnya sendiri. Memang dalam mimpinya belum nempel sempurna sih tapi sudah bisa Tasya rasakan ada anget-angetnya gitu.
"Aku sudah nggak waras," celetuknya.
"Emangnya kak Tasya udah gila?" tanya Salwa dengan spontan.
"Kakak mimpi apa sih! padahal ya, tadi Salwa mau karetin tuh bibir kakak. Seandainya aku punya ponsel akan aku foto lalu aku pajang fotonya di pintu masuk pasar. Artis bibir monyet!" seru Salwa dengan kembali berdiri dan merentangkan tangan di hadapan Tasya.
Begitu girang Salwa mengerjai Tasya padahal dia sendiri tidak tau mimpi yang seperti apa yang Tasya alami. Kalau tau pasti lebih parah lagi tuh bocah ngerjain Tasya.
"Apa kamu bilang! Artis bibir monyet! cantik-cantik begini kamu katain monyet? astaga Salwa, apa nggak ada yang lebih bagus?" protes Tasya.
"Nggak ada, itu sudah sangat cocok. Pakai bingits." tangan Salwa terangkat jari telunjuk juga Ibu jarinya menyatu dan membentuk huruf O di hadapan Tasya.
"Ayo dong, Kak! ceritain sama Salwa, kakak mimpi apa!" begitu bersikeras Salwa ingin tau. Nih bocah keras kepala banget ternyata, dia selalu ingin tau apapun. Apapun.
"Udah ya, bocil tidak boleh ikut campur. Mending sekarang kamu kerja," Tasya langsung membalikan tubuh Salwa lalu sedikit mendorongnya.
"Nggak mau, Salwa pengen tau dulu!" sepertinya Salwa tak akan mau begitu saja. Jiwa penasarannya begitu besar meskipun dia hanya bocah kecil berumur 9 tahun.
"Oh, mau minta di hukum ya." mata Tasya sudah melotot tangannya sudah terangkat siap ingin memberikan cubitan pada Salwa.
"Tidak mau! kaburrr!!" teriak Salwa seraya berlari dari Tasya. Benar-benar akan di cubit sampai habis kalau dia tidak nurut pada Tasya.
Senyum terukir di bibir Tasya melihat Salwa yang sudah ngacir begitu saja karena takut. Siapakah yang paling di takuti sekarang? Anastasya!
Tapi senyum itu langsung pudar saat mengingat lagi mimpi yang sangat memalukan seperti itu. Padahal Tasya juga tidak memikirkan Faisal sama sekali. Bagaimana bisa tuh pria nongol dalam mimpinya bahkan dengan kejadian yang seperti itu lagi.
"Tasya, apa yang terjadi padamu. Apa kamu benar-benar tidak waras sekarang," gumamnya sendiri.
Tangannya terangkat dan memukuli pipinya sendiri dengan bergantian. Sangat tak percaya bisa bermimpi seperti itu.
Pipi Tasya terasa panas saat mengingat kejadian demi kejadian yang ada dalam mimpinya. Ini benar-benar gila menurutnya.
"Sadar Tasya, sadar. Itu hanya mimpi di siang bolong. Makanya kalau mau tidur itu berdoa dulu."
"Bentar, emang kamu tau bagaimana doanya?" suruh sendiri dan kini di protes sendiri. Ajaib.
Tasya beranjak, dengan membawa lagi jaket Faisal. Mencuci wajahnya lebih baik dan dia akan sadar sepenuhnya. Tapi...
"Assalamu'alaikum..."
"Wa_wa'alaikum sa_salam..." Tasya melongo memandangi orang yang datang. Jaketnya terjun bebas sendiri dan kini teronggok begitu saja di atad lantai karena Tasya begitu terpaku.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...