
🌾🌾🌾🌾🌾
Lelah juga Tasya berlari dari kejaran para anak buah bandit tua yang sangat menginginkannya. Lebih tepatnya terobsesi ingin memilikinya, benar begitu kan?
Tasya menoleh dan tak melihat orang-orang yang mengejarnya tadi apakah itu artinya mereka tak bisa menangkapnya? Apakah dia menyerah karena kelelahan, kan mereka semua rata-rata memiliki perut balon.
"Huff,, sepertinya mereka sudah tidak lagi mengejar ku. Astaga, capek sekali. Mana haus banget lagi," Tasya berdiri tegak memperlihatkan sekeliling dengan tangan menyentuh leher sendiri. Sepertinya kerongkongannya benar-benar tengah mengalami kekeringan.
"Cari minum dulu lah," katanya sembari berjalan tapi Tasya masih sempat menoleh sekali ke arah jalan tadi siapa tau orang-orang itu pada nongol.
"Pak, satu," ucapnya menyodorkan uang pada penjual cang ci men di hadapannya.
Tangannya juga sudah langsung mengambil satu botol air mineral, di buka di tempat juga di tenggaknya hingga tinggal separuhnya.
"Aku harus kemana? ke sana kembali lagi ke pasar, kalau ke sana pasti akan tertangkap. Hadeuh, seandainya aku bisa terbang," khayalan yang gak akan pernah mungkin menjadi kenyataan.
"Hey, jangan lari!" orang-orang itu kembali lagi.
Tasya panik, melawan pun pasti dia akan kalah karena sangat kecapean tapi belum di coba sih. Sepertinya Tasya tetap memilih langkah seribu untuk bisa mengalahkan mereka semua.
Dengan botol yang masih Tasya bawa dia kembali lari kejar-kejaran pun kembali terjadi di antara mereka.
Laki-laki bertubuh besar semua tetap belum bisa mengalahkan Tasya dalam urusan berlari Tasya masih menjadi pemenangnya hingga mereka belum bisa menangkap.
"Dasar orang perut balon! apa mereka tidak punya pekerjaan yang lebih penting daripada ngejar-ngejar seorang gadis!" umpat Tasya.
Terus Tasya berlari. Waktunya benar-benar telah di rugikan dengan kejadian saat ini. Dia seharusnya sudah sampai di pesantren dan sekarang dia masih terus berputar-putar di daerah sana.
Apakah memang belum di takdirkan untuk Tasya menginjak tanah di pesantren itu. Apakah Tasya tidak akan bisa memenuhi undangan hari ini?
Jika Tasya tak bisa lolos dari semua orang-orang itu tentu tak akan bisa datang, dan keinginannya akan gagal total.
"Kalau memang hari ini aku tak bisa lolos dari mereka, itu artinya Tuhan tidak menakdirkan aku untuk datang dan menjadi bagian dari acara mereka."
"Hey! berhenti!" Orang-orang itu tetap saja mengejar Tasya, sepertinya mereka tak akan berhenti sebelum mendapatkannya.
"Nah, itu dia!" entah rencana apa yang membuat Tasya terlihat begitu bahagia, sepertinya dia mendapatkan ide udah bisa meloloskan diri dari orang-orang itu. Tapi apa?
"Tak masalah sekarang tak bisa pergi ke sana. Mungkin memang Tuhan belum ada takdir untuk itu. Yang terpenting aku bisa lepas dari orang-orang itu."
Dengan semangat Tasya berlari ke tempat yang dia pikir akan membuat dia berhasil kabur dari semua orang.
"Bos, lari kemana tuh cewek. Susah banget nangkap satu cewek saja," ucap salah satu dari mereka setelah tak bisa menemukan Tasya.
Entah lari kemana dia hingga semuanya tak bisa melihatnya. Benar-benar seperti memiliki ilmu menghilang saja tuh cewek. Gesit amat.
"Cari ke sana!" teriak sang pimpinan mereka.
Mereka kembali berlari ke arah yang di tunjukkan bahkan mereka tak ada niat untuk berpencar dan terus bersama-sama.
🌾🌾🌾🌾🌾
Faisal begitu lemas karena tak bisa menemukan Tasya di manapun. Bahkan dengan bantuan Salwa Faisal mencari juga dengan semua teman-teman Salwa juga.
"Maaf ya, Kak. Sepertinya kita tak bisa menemukan kak Tasya. Entah di mana kak Tasya berada saat ini," ucap Salwa.
Tentu Faisal masih terus mencari karena dia juga sudah menghubungi Hasan di rumah dan belum ada tanda-tanda kedatangan Tasya di sana.
"Tidak apa-apa ini bukan salah kalian. Kakak berterimakasih karena sudah membantu kakak untuk mencari kak Tasya. Apakah kalian lapar sekarang?"
Jelas semua anak-anak itu mengangguk karena memang lapar dan lelah. Mereka terus berputar-putar di seluruh tempat itu pastilah mereka sangat lelah kan?
"Kalau begitu yuk ikut kakak," ajak Faisal.
"Baik, Kak!" seru semuanya dengan semangat.
Semua mengikuti Faisal dan akhirnya masuk ke salah satu warung makan di pinggir jalan, yah karena tempat itu yang paling dekat dengan keberadaan mereka sekarang.
Faisal memesan makanan untuk semua anak-anak yang ikut dengannya dan juga membayar semua tagihannya. Faisal tidak mungkin lama-lama berada di sana karena dia masih harus menemukan Tasya.
"Kakak pulang dulu ya, terima kasih atas bantuan kalian semua," ucap Faisal dengan lembut.
"Sama-sama, Kak. Kami minta maaf ya karena tak bisa menemukan kak Tasya."
"Tidak apa-apa," jawab Faisal.
Semua menyalami Faisal sebelum kepergiannya begitu senang mereka dengan kehadiran Faisal pada mereka. Faisal sangat baik dan selalu saja menjajakan makanan-makanan enak untuk mereka.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," seru semuanya kompak.
Ke mana lagi Faisal harus mencari keberadaan Tasya semua tempat yang biasanya dilalui Tasya semua sudah dilewati namun tetap saja Tasya tidak ada di sana.
Faisal sangat loyo karena dengan ini dia tidak akan bisa mengikuti acara yang dibuat oleh Omanya.
Waktu terus bergulir acara doa pastilah sudah dimulai dan sampai kini Faisal belum juga bisa menemukan keberadaan Tasya, apakah dia akan pulang dan membujuk Oma untuk bisa mengikuti acara atau tetap mencari Tasya hingga ketemu dan bisa mengajaknya ke pesantren untuk memenuhi keinginan?
"Maaf, Oma. Saya sudah berusaha tapi tetap gak bisa membawa Tasya ke pesantren."
Faisal masuk ke dalam mobil melajukannya dengan perlahan hingga akhirnya mulai melesat setelah masuk ke jalan raya.
Faisal sangat pasrah, mau di perbolehkan untuk ikut acara doa ya alhamdulillah kalau misalnya tidak boleh juga tidak masalah yang terpenting dia sudah berusaha. Tapi mau bagaimana lagi, takdir belum mempertemukan mereka.
"Semoga saja di perjalanan pulang bisa bertemu dengan Tasya," masih ada harapan untuk bisa bertemu dengan Tasya.
Arah mereka sama kan? kalau Tasya jalan kaki pastilah Faisal bisa mengejarnya tapi kalau memang takdir berpihak pada mereka.
Sangat kecewa Faisal saat ini, sudah masuk ke pekarangan pesantren tapi sama sekali tak melihat Tasya di jalan raya. Faisal hanya bisa pasrah, dia akan terima semuanya.
Mobil berhenti dan Faisal sekali melirik ke arah paper bag yang ada di sebelahnya. Menyesalkan karena tak bisa menyampaikan baju itu pada Tasya. Jangankan memberikannya melihat orangnya saja tidak.
"Astaga... ternyata mobil bagus gini terasa gerah juga. Pengap."
Tentu Faisal langsung menoleh, dia melongo melihat seorang gadis yang sedang membuka kerudung dan membuat rambut panjangnya tergerai indah. Bahkan ada juga yang menutupi wajahnya.
"Ta_Tasya!" pekik Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....