Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Hal Baru



🌾🌾🌾🌾🌾


"Oma, aku malu. Aku juga tidak pantas berada di sini mana paling depan lagi," bisik Tasya yang semakin erat menggandeng Oma.


Perlahan mereka duduk di tempat yang sudah di tentukan namun Tasya masih saja tak bisa tenang karena merasa tak pantas untuk bisa duduk di tempat yang terhormat itu.


Bagaimana mungkin Tasya yang hanya seorang gadis jalanan, Yah! lebih tepatnya kayak gadis gelandangan dan kini malah duduk di antara orang-orang yang terhormat.


Tasya begitu minder, bagaimana jika ada orang yang mengenalinya dan akan berkomentar macam-macam padanya dan itu jelas akan mempermalukan keluarga Oma, benar begitu kan? itu hanya pendapat Tasya sih. Mungkin karena dia sangat takut.


"Kenapa harus malu, tidak perlu malu. Pantas dan tidaknya kamu di sini bukan mereka-mereka yang menentukan tapi Oma. Dan Oma merasa kamu sangat pantas berada di sini," jawab sang Oma.


"Tapi Oma," semakin akrab saja Tasya dengan Oma bahkan dia sudah berani bergelayut di tangan Oma. Antara sadar atau tidak sih sebenarnya.


Semakin melihat sekeliling Tasya semakin merah pipinya, dia belum pernah berada di tempat seperti ini. Rasanya sangat panas.


Bukan karena rasa gugup saja tapi juga karena kurang percaya diri karena dadanannya yang khusus di lakukan oleh Oma sendiri.


Sebenarnya Tasya sangat luwes dan sangat cantik tapi dia masih tetap tak percaya diri, ini bukan dirinya, Tasya yang biasanya hanya selalu memakai jaket, topi juga celana yang berlubang di bagian kedua lututnya.


"Sudah, tidak ada tapi-tapi. Lebih baik kamu ikuti acara ini dengan baik," ucap Oma menegaskan.


"Tapi Tasya tidak bisa, Oma. Dan apa ini? Bahkan Tasya tak bisa membacanya," Tasya lebih bingung lagi karena di beri buku kecil yang terdapat doa-doa yang akan mereka semua baca sebelum nantinya akan ada tausyiah-tausyiah dari para Kyai.


Tasya hanya membuka dengan mata yang tak berkedip, tangannya bergetar begitu juga seluruh tubuhnya. Semua tulisan Arab lah yang membuatnya seperti itu.


"Oma, Tasya pulang saja ya," lebih baik pulang daripada malu-maluin, benar begitu kan? tapi itu hanya di pikiran Tasya.


"Tidak, bahkan kamu tidak boleh pulang sebelum mendapatkan izin dari Oma." Oma semakin menegaskan.


"Oma," kembali Tasya bergelayut membujuk Oma karena ingin pulang.


"Stts, kalau kamu tidak diam kamu akan menjadi tontonan untuk semua orang-orang. Kalau tidak, kamu harus maju ke depan dan memimpin doa," ancam Oma.


"Hah! mimpin doa! baca saja nggak bisa," Tasya hanya bisa garuk-garuk kepala.


"Maka dari itu, menurut lah. Kalau kamu tidak bisa kamu bisa mendengarkan saja itu lebih baik daripada kamu terus bicara," ternyata tak mudah untuk membuat Tasya diam namun itu seperti menjadi tantangan untuk Oma.


Apakah Oma masih bisa mengendalikan orang? dulu dia akan sangat mudah mengendalikan siapapun apakah sekarang masih bisa?


"Oma," bukannya langsung diam tapi Tasya masih saja bersuara.


Oma tak lagi menjawab dia terus diam karena Tasya tak akan diam jika dia juga terus menjawab.


Meski tak bicara lagi tapi Tasya terus saja bergerak dia tak bisa diam juga terus menoleh. Ingin sekali dia kabur dari sana ini bukan ranahnya dia juga tidak betah jika harus terus berdiam diri.


Acara terus berjalan, doa-doa terus menggema bersama di tempat itu. Semuanya begitu serius, begitu hikmat hanya satu orang saja yang tidak bisa seperti mereka, tentu dia adalah Tasya.


Hingga akhirnya pergerakan tangan Tasya yang terus bertautan itu berhenti saat suara panggilan menggema dari pengeras. Mata Tasya langsung terpaku dalam diam.


"Untuk Ustadz Faisal kami mohon untuk maju ke depan. Waktu dan tempat kami persilahkan," ucapnya.


"Mas Faisal," lirih Tasya. Matanya membulat ke arah orang yang memanggil Faisal entah dimana orang yang di panggil.


Tak jauh jarak mereka berdua tapi karena Tasya begitu sibuk dengan dirinya sendiri dan rasa gugup yang begitu menguasai sampai dia tak melihat Faisal di sana.


Mata Tasya terus membulat dan sekalipun tak berkedip bahkan setelah Faisal benar-benar telah berada di sana dengan duduk kursi yang sudah di siapkan di atas panggung.


Kemeja putih, jas putih, sarung hitam juga pecis berwarna hitam, tak ketinggalan sorban pemberian sang opa yang sama seperti yang ada di foto di kamar Oma.


Faisal benar-benar mirip sekarang dengan sang Opa. Hanya satu yang membedakan, Faisal memeluk Al-Qur'an sementara Opa memegangi tasbih.


Tentu ada rasa was-was pada Oma, matanya kembali menerawang setiap penjuru karena dia begitu takut akan ada musuh lagi yang datang dengan bersembunyi di antara para tamu.


'Ya Allah, jangan biarkan ketakutan ku ini menjadi nyata. Lancarkan lah acara ini sampai selesai,' batin Oma.


Di depan sana Faisal hanya melirik sekali ke arah Tasya dan sang Oma. Jelas Faisal melihat Tasya yang terpaku menatapnya dan sang Oma yang terlihat gelisah.


'Oma kenapa?' batin Faisal.


Senyuman kecil Faisal berikan dan membuat Tasya tersadar. Cepat Tasya memalingkan wajahnya dia malu karena telah mengagumi Faisal.


'Dia benar-benar sangat tampan, bohong kalau tidak ada orang yang kagum dan ingin memilikinya. Eh, apa sih yang kamu katakan, Sya.' batin Tasya.


Padahal mungkin di hatinya ingin mengatakan kalau dia juga sangat tertarik dan ingin bisa menjadi miliknya. Karena bohong kalau dia tidak tertarik dengan pria tampan yang memiliki paket komplit seperti Faisal.


Perlahan Faisal bersuara, mengucapkan salam lalu di sambung dengan melantunkan salah satu surat dalam Al-Qur'an dengan sangat merdu.


Hati seketika bergetar, menemukan sesuatu yang lain yang belum pernah di temukan sebelumnya.


Begitu menghayati Tasya saat mendengarnya, dia tidak mengenal, belum pernah membaca bahkan mempelajari juga belum pernah, tetapi hatinya sudah bergetar.


Bukan hanya karena suara Faisal yang membuat Tasya terlena tapi juga ayat-ayat Al-Qur'an yang begitu memenuhi hatinya saat ini hingga tak terasa menetes lah air mata Tasya.


Air mata apa ini? bahkan Tasya sangat tak mengerti.


Perasaannya begitu campur aduk saat mendengar lantunan ayat demi ayat. Hatinya tergugah, tubuhnya gemetar dengan di iringi emosianal nya yang terus keluar melalui air mata.


"Oma," suara Tasya begitu lirih, dia tersedu saat sudah menoleh ke arah Oma yang dengan diam menghapus air matanya.


"Kenapa, Sayang. Apakah kamu merasakan sesuatu?" tanya Oma.


"A_aku nggak tau, Oma. Ta_tapi..." suara Tasya bahkan tercekat dan tak bisa berlangsung.


Tasya semakin menangis dan langsung memeluk Oma.


Tak pernah Tasya mendengar ayat-ayat Al-Qur'an, dan sekali mendengar hatinya langsung tergugah begitu saja. Sungguh, hidayah Allah itu datang di saat yang tidak bisa di perhitungkan oleh manusia.


Begitu banyak orang yang bisa melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan tartil juga sangat merdu tapi tak bisa merasakannya saat ayat demi ayat itu merasuk ke dalam hatinya.


Tapi ada juga yang tak pernah mempelajari ayat-ayat Al-Qur'an dan sekali mendengar langsung merasuk di hatinya saat ayat-ayat itu di serukan.


Contohnya adalah yang di alami Tasya saat ini, hatinya begitu lembut setelah mendengar kebenaran Allah langsung luluh lantah air matanya.


Gluduk...


"Tasya!" teriak Oma saat tiba-tiba Tasya melepaskan sendiriri pelukannya, dia pingsan begitu saja dan terjatuh di lantai.


Begitu besar pengaruh Al-Qur'an dalam hati Tasya bahkan dia sampai pingsan setelah mendengarnya. Selembut itukah hatinya? padahal sebenarnya Tasya adalah orang yang keras dan tangguh di setiap harinya.


Semua orang langsung berdiri dan juga langsung mendekati, bahkan Faisal yang menutup mata karena begitu menghayati bacaannya dia juga langsung membuka mata dan terdiam setelah melihat Tasya yang sudah ada di lantai.


Ingin Faisal cepat turun dari sana tapi tugasnya belum selesai. Faisal terpaksa tetap berada di atas dan melanjutkannya setelah mendapat kode dari Oma untuk melanjutkan.


Sementara Tasya di bawa ke kamar Oma.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....