
🌾🌾🌾🌾🌾
Begitu bahagia Tasya ketika mendapatkan apa yang dia mau, sebuah permen karet yang berbungkus kertas dengan stiker di dalamnya.
Dia tidak menyangka juga kalau bakal bertemu dengan para teman-temannya yang di ajak oleh Faisal. Mereka berempat kini duduk di emperan pendopo dengan pakaian kesehariannya.
Memang ada beberapa Santi yang memandang aneh, tapi itu tidak masalah karena mereka datang juga tidak membuat masalah. Justru mereka datang dan membuat Tasya bahagia.
Mereka begitu senang, bersenda gurau bahkan tertawa karena keusilan dari Tasya pada mereka.
Semua permen dia buka, di cari stikernya dan di minta di pasang ke wajah para teman-temannya, tentu saja galak tawa akan memenuhi tempat itu.
Tasya juga sudah memaafkan Bimo dengan setulus hati hingga mereka tak ada rasa canggung lagi untuk bersama-sama seperti sekarang ini. Apalagi Faisal juga tidak masalah jika Bimo ikut bergabung meski pernah bersaing, jadi Tasya merasa sangat tenang.
"Sudah lah, Sya. Ini sudah banyak nih stikernya. Coba kamu minta pasang ke wajah suamimu. Masak kami semua penuh begini sementara suamimu satupun tidak ada, kan nggak adil."
Kipli yang mengeluh, wajah mereka berempat begitu penuh dengan stiker karena Tasya, sementara Faisal? Dia begitu mulus tak ada satupun. Jelas saja mereka tak terima.
"Enak aja, mas Faisal harus mulus dong. Nanti kalau di tempel stiker jadi ilang tampannya. Lagian stiker yang pas untuk mas Faisal belum nemu." jawab Tasya.
Dia masih saja mencari, dia hanya senang membuka saja dan hanya satu saja yang benar-benar dia makan. Dia masih mencari stiker yang cocok untuk suaminya, entah yang seperti apa yang cocok.
"Nah, ini dia yang cocok." Wajah Tasya berbinar, dia menemukan stiker yang dia pikir cocok untuk Faisal.
Keempat temannya merasa sangat penasaran, seperti apa kiranya stiker itu apakah ada yang spesial?
Tasya berdiri mendekati Faisal dengan langkah yang pelan namun pasti. Dia juga sudah siap untuk menempelnya.
"Harus banget ya, Sya?" Wajah Faisal menjauh dalam sesaat, dia sangat malas sebenarnya jika harus ikut-ikutan di tempel dengan stiker. Apa kata para anak didiknya?
"Iya dong, Mas. Ini wajib ain," jawab Tasya tak dapat terbantahkan lagi. Dia tetap kekeuh untuk menempelnya dan sekarang sudah siap. Dia benar-benar sudah ada di hadapan Faisal yang memejamkan mata.
Keempat temannya terus melotot ke arah Faisal, penasaran kira-kira gambar apa?
"Beh.. Hahaha!"
Mereka berempat tak dapat menahan tawa ketika melihat gambar apa yang di tempel di pipi kanan Faisal. Gambar hello kitty berwarna pink. Bagaimana mungkin mereka tidak akan tertawa.
"Keren," puji Tasya dengan mundur. Matanya masih melihat wajah Faisal yang terlihat tak berdaya karena ulah dari istrinya itu.
Kalau saja tidak sedang hamil dan mendapatkan ancaman anaknya akan ileran mana mau Faisal menerima seperti itu.
"Benar-benar keren, Sya. Keren banget. Hahaha!" Dadang benar tak mampu menahan tawa, dia terpingkal begitu juga dengan yang lain.
"Mantap mantap! Keren pokoknya. Yang kiri juga dong, Sya. Biar nggak berat sebelah." Bimo kali ini yang mengompori.
Begitu tak berdaya Faisal dia begitu loyo karena hal ini. Apalagi terus diketawain oleh semuanya. Seandainya semua santri lihat pasti mereka juga akan tertawa.
"Coba aku cariin." Kipli langsung menyambar wadah yang berisi permen karet, hanya tinggal beberapa daja yang belum terbuka pasti akan sangat susah mendapatkan yang sama lagi.
"Aku juga sini." Dadang pun mengambil beberapa permen karet.
Mereka berdua begitu antusias membuka, terus menunduk fokus dengan melihat tak berkedip.
"Kok nggak ada ya," hampir putus asa si Dadang karena tak kunjung mendapatkan.
Sementara Tasya, dia masih berdiri memandangi Faisal yang cemberut.
"Mas, pinjem ponselnya dong." ucapnya.
"Untuk apa?" mata Faisal membulat.
"Ya untuk mengabadikannya. Kan sayang kalau tidak di abadikan." Tangan Tasya sudah menengadah begitu saja di hadapan Faisal.
"Please, Mas. Satu saja." Tasya semakin memohon.
Tak tega akhirnya Faisal memberikannya.
Tasya langsung serius untuk menyalakan ponselnya, memilih kamera dan dia benar-benar mengabadikan wajah Faisal yang terdapat stiker hello kitty.
"Ikutan dong." seru Kipli dan langsung beranjak.
"Aku juga!" Dadang tak kalah.
"Aku juga!" Agus pun menyusul.
"Aku juga!" Bimo juga demikian.
Mereka berlima berfoto dengan berbagai gaya, berbagai posisi dan berpindah-pindah. Begitu heboh tempat itu hingga suaranya begitu menggema sampai ke pendopo Ilham dan Dina.
"Senengnya," gumam Dina yang melihat aktivitas mereka lewat jendela.
"Iya, heboh banget ya. Pasti sangat menyenangkan." Ilham berdiri di belakang Dina, memeluknya dari belakang dan melihat kehebohan di pendopo Faisal.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung.....