Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Pergi Ke Panti



🌾🌾🌾🌾🌾


Mobil Faisal sudah berhenti di depan panti saat ini, semua anak-anak langsung menyerbu mereka berdua meninggalkan mainan mereka dan apapun yang tengah mereka semua lakukan. Apalagi Salwa, dia sangat merindukan keduanya.


"Kak!" teriakan Salwa begitu menggema, melengking tinggi seolah di tambah dengan pengeras suara padahal tidak.


Tasya juga Faisal langsung tersenyum mendapatkan sambutan dari anak-anak, mereka menyalami dan juga memeluk mereka satu-persatu secara bergantian. Mereka terlihat sangat bahagia.


Tasya terlebih lagi, dia begitu bahagia karena bisa datang ke sana tanpa harus merasa takut karena tidak izin terlebih dahulu, bahkan sekarang dia datang tidak hanya sendiri tapi bersama Faisal.


"Kak, Salwa kangen," gadis kecil itu merengek dan bergelayut manja memegangi kedua tangan Tasya yang bergelantungan ke arahnya.


"Kakak juga kangen," Tasya berjongkok di hadapan Salwa dan gadis itu langsung memeluknya erat. Begitu besar rasa rindu dari Salwa meski kemarin dia sudah bertemu.


Sementara Faisal dia masih berdiri di samping Tasya dan mengacak rambut Salwa. Sangat menggemaskan anak itu.


"Oh ya, Kak. Kak Ilham bawa cewek loh ke sini," oceh Salwa.


"Cewek, siapa?" Faisal mengernyit, dia tidak tau.


"Itu loh, kakak cantik yang ada di warung waktu itu. Yang nyiram kak Ilham dengan air panas," Salwa begitu menjelaskan.


Tasya juga Faisal saling lempar pandang karena bingung, kenapa harus di bawa ke panti? apakah ada masalah?


"Udah ya, Kak. Salwa mau main lagi, muach!" dengan girang Salwa mencium pipi Tasya sebelum dia berlari pergi.


"Oke," jawab Tasya yang juga merasa sangat bahagia karena mendapatkan kecupan dari Salwa.


Tasya berdiri dia hendak berjalan tapi Faisal masih berhenti.


"Kenapa?" Tasya kembali menoleh, melihat Faisal yang sedikit aneh.


"Aku pengen kayak Salwa juga. Di peluk juga di muach," rengek Faisal seperti anak kecil.


"Apa sih Mas, jangan aneh-aneh deh. Ini banyak anak-anak, mereka bisa tau," mata Tasya melotot melihat Faisal yang mulai iseng lagi.


"Kita nggak akan lihat kok kak!" seruan dari salah satu anak yang tak jauh dari mereka. Anak itu seketika menuntun teman-teman yang lain untuk memalingkan wajah.


Pipi Tasya begitu memerah tapi Faisal malah ketawa. Faisal mendekat, jantung Tasya kembali maraton lagi. Apakah Faisal akan benar-benar melakukannya?


Tapi Faisal tidak benar-benar melakukannya, dia juga tau tempat jika mau melakukan apapun, semua harus di sesuaikan tidak sembarang nyosor di semua tempat.


"Kenapa, nggak jadi?" Tasya mengernyit.


"Di tabung dulu untuk nanti malam. Biar makin banyak," jawab Faisal.


"Hah!" mata Tasya semakin melotot. Suaminya itu seneng banget membuat dia hampir jantungan. Benar-benar parah, tapi kenapa Tasya belum bisa membalasnya? Selalu tak ada kesempatan juga tak ada ide apa yang harus di lakukan.


Keduanya kembali berjalan masuk Tasya dengan perasaan kesalnya sementara Faisal biasa-biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Sya, seneng ya kalau rumah banyak anak seperti ini, ramai anak sangat menyenangkan." ucap Faisal.


"Iya, sangat membahagiakan." Tasya menjawab.


"Kira-kira kapan rumah kita akan ramai seperti ini?"


"Hah!" Tasya terkesiap, langkahnya terhenti dan langsung melihat ke arah Faisal. Nah kan...


Benar saja, ternyata di dalam masih ada Ilham juga Dina tentu ada bu Yulia dan pak Ahmed yang tengah duduk di satu lingkar meja.


Sepertinya Ilham tengah meminta izin supaya Dina bisa tinggal di sana.


"Assalamu'alaikum," sapa Faisal.


Semua menoleh ke arah Faisal dan juga Tasya yang saling bergandengan. Keduanya terlihat semakin memperlihatkan kedekatan mereka meski masih terlihat kaku.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya serentak.


Tasya melepaskan tangannya karena merasa malu dia juga langsung duduk mendekati bu Yulia sementara Faisal duduk di bangku kosong yang ada di dekat Tasya juga.


"Kenapa, apa ada masalah?" Tanya Faisal yang sudah sangat penasaran.


"Begini, Mas. Saya minta izin supaya Dina di perbolehkan tinggal di sini. Boleh kan, Mas?"


"Boleh, tentu sangat boleh. Rumah ini untuk siapapun, bukan begitu kan Pak Ahmed?" Faisal menoleh ke arah pak Ahmed suami dari bu Yulia itu.


"Benar, Nak. Semua bisa tinggal di sini. Rumah ini terbuka untuk siapapun," jawab pak Ahmed dengan sangat ramah.


Sifat yang begitu kebapakan dari pak Ahmed lah yang membuat Faisal sangat yakin dan menyerahkan semua tanggung jawab anak-anak kepadanya.


Bukan pak Ahmed saja, tapi bu Yulia yang juga penuh dengan kasih sayang membuat dia juga sangat percaya kalau anak-anak akan aman akan menjadi lebih baik di bawah didikan mereka berdua.


Mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi, saling melengkapi dan sama-sama bisa di andalkan.


"Ta_tapi, saya tidak akan di mintain uang kan untuk membayar? kalau memang membayar saya minta waktu hingga akhir bulan. Saya akan bayar setelah gajian," jawab Dina yang benar-benar sangat jujur dan juga ada rasa takut.


Dia masih tak percaya dengan apa yang Ilham katakan tadi, dia masih membutuhkan jawaban dari semuanya.


"Tidak, kamu tidak usah membayar. Kamu bisa tinggal di sini. Kamu bisa bantu-bantu ibu saat kamu tidak bekerja." hanya itulah yang bu Yulia ingin. Tapi bukan berarti bu Yulia ingin Dina bekerja dengannya, tidak! tapi hanya sekedar membantu saja.


Sebenarnya itu juga untuk melatih menjadi wanita yang bisa di andalkan dan akan terbiasa setelah menikah nanti. Hanya sebatas mengerjakan pekerjaan rumah dan ikut menjaga anak-anak. Bukankah itu tidak berlebihan kan?


Bahkan semuanya akan di lakukan secara bersama-sama. Bukan hanya Dina saja yang harus membersihkan tapi semua anak-anak, bu Yulia hanya ingin kelak anak-anak yang keluar dari sana sudah mandiri dan bisa melakukan semua hal.


"Ba_baik, Bu." Dina setuju dengan syarat yang di berikan oleh bu Yulia. Itu tidak berat karena itu juga kebiasaannya ketika di kontrakan. Jika dengan membantu menjaga anak-anak itu malah akan semakin membuat dia senang dan tidak akan kesepian lagi.


"Alhamdulillah," seru semuanya dengan sangat lega. Akhirnya Dina setuju.


Ekhem...


Faisal sengaja berdekhem ketika melihat Ilham tidak berkedip saat menatap Dina.


Cepat Ilham memalingkan wajah karena sadar yang di lakukan oleh Faisal itu di peruntukan untuk dirinya.


Benarkah Ilham mulai tertarik dengan gadis yang suka merayu dan agresif seperti Dina?


"Mas butuh minum?" Tasya langsung tanggap tapi dia salah karena Faisal batuk hanya pura-pura bukan beneran.


"Boleh," jawab Faisal. Kapan lagi kan istrinya benar-benar peduli dan memperhatikan dirinya seperti ini.


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung....