
🌾🌾🌾🌾🌾
Bukan hanya Oma saja yang menunggu Tasya di dalam kamarnya melainkan ada seorang gadis cantik yang mungkin usianya tidak terlalu jauh dengan Tasya, dia adalah Aira.
Aira terus di sana, membantu oma jika ada sesuatu yang di inginkan. Sebenarnya Aira juga sangat penasaran dengan Tasya. Dia tak mengenalnya bahkan sepertinya juga baru sekali ini dia datang ke pesantren, tetapi kenapa sudah bisa begitu dekat dengan oma?
"Oma, apakah oma membutuhkan sesuatu?" tanya Aira begitu sopan bahkan Aira juga sempat membungkuk sebentar.
Oma hanya terus duduk di sebelah Tasya yang masih saja belum sadar, entah karena apa dia bisa tiba-tiba pingsan. Apakah benar karena mendengar suara ayat-ayat Al-Qur'an atau ada faktor lainnya, Oma sangat tidak tahu dan ingin segera mencari tau.
Setelah Tasya sadar dia pastilah akan bisa menjelaskan semuanya dan akan bisa mengatakan apa yang menyebabkan dia pingsan.
"Tidak," dengan suara tuanya Oma menjawab, juga dengan sedikit melirik ke arah Aira.
Aira mengangguk dia juga merasa tak harus lama-lama di sana hingga dia pamit kepada oma untuk pergi.
"Saya permisi ya, Oma."
"Iya," kini oma tidak menoleh dan terus melihat wajah Tasya yang terlelap, menggenggam tangannya dan mengelusnya.
Aira hampir saja bertabrakan dengan Faisal saat dia hendak keluar, Faisal nampak buru-buru ingin masuk ke kamar oma itu mungkin dia ingin melihat bagaimana keadaan Tasya.
"Astaghfirullah hal azim!" seru Aira juga Faisal bersamaan dan juga langsung sama-sama mundur.
"Maaf, saya..." ucapan Faisal terhenti karena Aira sudah menyahut lebih dulu.
"Hati-hati, Kak," ucap Aira.
Senyuman kecil Aira tinggalkan sebelum dia benar-benar keluar dari kamar itu sementara Faisal juga membalasnya.
Tak lama mereka saling berhadapan dan Faisal memilih masuk sepertinya da sangat tidak sabar ingin melihat keadaan Tasya.
'Seandainya?' batin Aira dengan singkat. Entah seandainya apa yang dia maksud. Melihat Faisal sudah ada di dalam dan ada di dekat Oma Aira bergegas pergi. Tak lagi dia menginginkan cerita masa lalu kembali lagi karena dia juga sudah mendapat orang lain.
Begitu tergesa-gesa Faisal hingga akhirnya dia sampai di hadapan sang oma, wajahnya sudah langsung mengisyaratkan kekhawatiran yang sangat besar untuk Tasya.
Baru saja dia turun dari panggung dan langsung bergegas untuk menemui Tasya, perasaannya sangat tak enak meski dia sendiri tidak tau karena apa, apakah mungkin di dalam hatinya sudah terselip cinta yang mulau tumbuh untuk Tasya?
"Oma, Tasya belum sadar juga, apakah perlu kita bawa ke rumah sakit saja, Oma. Kita akan bisa tau bagaimana keadaannya kan kalau di rumah sakit?" tanya Faisal.
"Kamu ini, masuk bukannya mengucapkan salam malah langsung nyerocos begitu saja. Kenapa? khawatir boleh tapi jangan lupakan hal-hal kebaikan, Faisal," tegur sang oma.
"Hem, maaf Oma." Faisal meringis meskipun hanya sebentar saja dan setelahnya dia mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum, Oma," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam," Oma tersenyum.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja."
"Bagaimana mungkin oma tau dia baik-baik saja, Oma. Dia saja belum siuman."
"Oma lebih paham daripada kamu, Sal. Gini-gini oma mantan dokter andalan loh. Kamu melupakan itu, Sal?"
Sudah tak bisa berkutik lagi si Faisal kalau sudah begini. Bukan hanya mantan mafia saja omanya juga seorang dokter, dokter yang sangat di segani yang selalu membuat obat-obat sendiri dan selalu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.
"Oh iya, saya lupa. Terus, Kira-kira dia kenapa oma? Kapan dia akan bangun, dia benar-benar baik-baik saja kan?" semakin gelisah Faisal karena Tasya tak kunjung bangun.
"Kenapa, apakah kamu mengkhawatirkannya? Dia pingsan begini saja kamu terlihat khawatir begitu, apakah kamu tidak khawatir saat dia harus tinggal di luar sana dengan tempat tinggal yang tidak jelas dengan ancaman yang bisa saja sangat berbahaya. Bahkan apapun bisa terjadi padanya."
"Sekarang katakan sama oma. Apa yang akan kamu lakukan untuk itu? Kalau kamu khawatir dengannya yang seperti ini seharusnya kamu juga mengkhawatirkan kesehariannya juga yang selalu menantang bahaya."
Ucap Oma begitu panjang lebar.
"Oma, Faisal? Faisal belum tau, Oma."
"Istikharah lah, Oma yakin kamu akan mendapatkan jawabannya."
"I_iya, Oma," Faisal menunduk benar yang di katakan oleh Oma dia harus melakukan itu. Semua harus di pastikan dan jawaban yang pasti hanya ada pada Allah.
"Heeemmm..." Tasya mulai menggeliat, tangannya mulai bergerak juga dengan matanya yang perlahan terbuka.
Matanya memandangi langit-langit jelas sangat asing karena itu memang bukan tempatnya. Tapi tempat oma tapi Tasya tidak tau itu.
"Astaga!" ingin Tasya lompat dari ranjang empuk itu, entah karena tak biasa atau karena merasa tak pantas. Tapi yang jelas Tasya merasa tidak sopan berada di kamar orang lain, apalagi orang yang terhormat seperti oma.
"Eh, kamu mau kemana, Nak?" Oma langsung mencekal nya dan membuat Tasya berhenti bergerak.
"Kamu masih lemah, Nak. Tidur lah di sini dulu, tidak apa-apa," Oma menghentikannya dan kembali meminta Tasya tidur di tempatnya.
"Tapi, Oma. Ini sangat tidak sopan," begitu enggan Tasya untuk kembali lagi. Sekejap dia melihat Oma lalu melirik ke arah Faisal yang juga mengangguk.
"Hem, i_iya Oma." Faisal menunduk. Sekilas hanya melirik Tasya yang terlihat sangat bingung karena tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan.
"Bentar, ini pada ngomongin apa ya saya tidak mengerti. Atau ini pembicaraan keluarga dan sangat penting? kalau begitu saya keluar saja saya tidak mau ikut campur dengan rahasia keluarga," lagi-lagi Tasya ingin keluar.
"Kenapa harus keluar, kalau kami membicarakan tentang rahasia keluarga maka kami yang akan keluar," jawab Oma.
"Sudah, lebih baik kamu istirahat dan jangan banyak bicara. Oma mau keluar dulu. Faisal, kamu di sini sebentar biar Oma panggil adek mu untuk menemani kalian," Oma sudah beranjak dari tempat.
Tentu hal itu membuat Faisal bingung juga Tasya yang melongo. Bukankah itu artinya mereka berdua akan berada di sana berduaan saja? Ya! meskipun hanya sebentar tapi juga sempat berdua. Mereka belum mahram loh.
"Oma, tapi?" Faisal menoleh dan Oma tidak menjawab hanya mengangkat tangannya saja.
Suasana menjadi hening saat setelah kepergian oma dari kamar itu. Faisal ataupun Tasya sama-sama diam dalam rasa canggung.
Faisal menjauh, dia duduk di sofa dengan jantung yang terus deg-degan semakin tak karuan.
Sebenarnya Faisal sangat penasaran kenapa Tasya bisa tiba-tiba pingsan tadi tapi mengingat Tasya yang masih terlihat pucat membuat Faisal urung untuk bertanya.
Masalah itu bisa dia tanyakan kapan pun juga tapi kesehatan Tasya lebih penting untuk Faisal sekarang.
"Hem, istirahat lah. Kalau kamu butuh sesuatu katakan saja padaku," ucap Faisal dengan kaku.
"Aku, aku pengen pulang," suara Tasya benar-benar memohon membuat Faisal langsung mengangkat wajahnya.
"Kenapa, apakah kamu tidak nyaman di sini? apakah kamu tidak ingin berlama-lama di sini?" Faisal mengernyit.
"Bukan seperti itu, tapi aku merasa tidak enak. Sini juga bukan tempat ku kan?" jawab Tasya.
Faisal menunduk, menarik nafas, panjang dan menghembuskan nya perlahan.
"Hem, bagaimana jika tempat ini akan selamanya menjadi tempat mu. Maksudku, tempat ini akan menjadi rumah kamu," sedikit gugup Faisal mengutarakannya.
"Hahaha, kamu jangan ngada-ngada ya Mas. Mana mungkin saya bisa tinggal di sini, saya bukan santri bukan juga keluarga dengan cara apa saya bisa menetap di sini? Lagian saya tidak akan pantas tinggal di sini," seperti sebuah lelucon saja bagi Tasya hingga dia langsung tertawa setelah Faisal mengatakan itu.
"Tentu bisa, dengan..., dengan kamu menikah dengan ku," lepas sudah, hatinya Faisal seketika plong tapi masih merasa bergetar. Apa tadi? apakah seperti itu caranya melamar seorang gadis? Kenapa tidak ada romantis-romantisnya sama sekali?
Uhuk uhuk uhuk....
Tasya langsung tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar kata menikah dari Faisal.
Faisal yang tau itu langsung berlari dan mengambil air putih lalu dia serahkan pada Tasya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Faisal yang lagi-lagi di buat khawatir. Tangannya sudah menyodorkan gelas dan sudah langsung di terima oleh Tasya.
Di minumnya air itu hingga benar-benar habis lalu gelas kembali di serahkan pada Faisal. Tasya sangat syok tadi jadi seperti itulah reaksinya.
"Mas sehat?" Tasya mengangkat wajahnya memandang Faisal yang benar-benar sangat sehat. Bahkan dia juga sangat sadar dan tidak terpengaruh dalam obat apapun.
"Apakah aku terlihat seperti orang sakit?" Faisal malah balik bertanya.
"Ya, saya pikir begitu. Habis mas tiba-tiba ngomong masalah nikah. Jangan membuat ku merasa rendah begini, Mas. Saya ini tidak pantas dengan orang sebaik Mas."
"Mas orang terpelajar, orang bermartabat, orang yang penuh kehormatan sementara aku? aku apa?"
"Lebih baik mas cari saja yang lain yang lebih cantik dan sempurna juga lebih sederajat dengan kamu, Mas," ucap Tasya.
"Mungkin Mas lebih baik memilih gadis itu?" jari Tasya menunjuk ke arah pintu masuk dan terlihatlah seorang wanita yang usainya mungkin juga hampir sama dengannya.
Faisal menoleh, siapa yang di maksud Tasya.
"Dia lebih cantik kan? lebih cocok dengan kamu," ucap Tasya lagi.
Sementara wanita yang sudah mulai mendekat itu hanya tersenyum, sepertinya dia menahan tawa lebih tepatnya.
"Meski di dunia ini hanya ada dia saja wanitanya tidak mungkin aku menikahinya," jawab Faisal.
Tangannya menyambut uluran tangan wanita itu dan setelahnya mereka berdua saling berangkulan.
"Kenapa?" Tasya terlihat sangat bingung.
"Karena dia adalah adikku. Perkenalkan, dia adalah adik perempuan ku, Aisyah," ucap Faisal.
Tasya masih saja melongo.
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....