
🌾🌾🌾🌾🌾
"Mas, selamat ya. Katanya sudah mau jadi ayah juga." ucap Faisal pada Ilham. Keduanya tengah berjalan di lorong pesantren, baru saja mereka selesai mengajar untuk siang ini dan akan kembali ke pendopo mereka masing-masing.
Rasanya tak sabar untuk berjumpa dengan istri mereka yang telang mengandung anaknya. Proses yang begitu indah dan sangat sayang jika di lewatkan.
Apalagi Faisal, dia selalu senang dekat dengan Tasya karena saat dia menyentuh perutnya akan ada respon di dalamnya. Anaknya akan bergerak seolah dia suka mendapatkan sentuhannya.
Terasa begitu menyambut akan apa yang di lakukan oleh sang Abi padanya.
"Iya, Mas. Alhamdulillah. Sudah enam minggu." jawab Ilham.
Hatinya juga berbunga-bunga, bagaimana tidak? sudah beberapa bulan dia menunggu dan akhirnya semua itu telah terwujud sekarang.
"Alhamdulillah, ikut senang, Mas." Faisal tersenyum, dia memang sangat senang dengan kabar ini.
"Oh iya, Mas. Katanya mas Hasan juga sebentar lagi akan meminang ceweknya loh."
"Siapa, kok aku tidak tau," Faisal menghentikan langkah, membuat Ilham juga melakukan hal yang sama.
"Dia santri alumni sini. Ternyata, dia jatuh cinta pada salah satu santri sini tapi kita tidak tau." Ilham tersenyum sendiri.
"Benarkah?" Faisal pun juga heran, dia pikir Hasan akan melamar gadis yang sudah dia tau tapi ternyata tidak. Sungguh, Jodoh tidak ada yang tau.
Di kira si A tapi ternyata malah si B yang di lamar.
"Baru katanya sih, Mas. saya juga belum tau kebenarannya, belum tanya. Mas Hasan lagi sibuk terus dia."
"Alhamdulillah, rezekinya lagi banyak dia." keduanya kembali berjalan. Masih sembari berbincang-bincang mengenai banyak hal Hungaria sampai di depan pendopo mereka dan mereka berpisah.
"Assalamu'alaikum..." sapa Faisal. Ternyata istri mereka berdua juga tengah ngobrol bersama di depan pendopo Faisal dan Tasya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Tasya dan Dina bersamaan.
Melihat Ilham juga sudah pulang Dina langsung bergegas pergi, dia juga tidak mungkin berlama-lama di sana karena ada Faisal. Nantilah bisa lanjut lagi kalau para suami mereka kembali keluar.
"Mas, ayo masuk." ajak Tasya.
"Hem, ngobrol apa, sepertinya seru banget?" tanya Faisal yang sangat kepo. Penasaran saja karena istrinya begitu asik saat bicara.
"Biasa mas, hanya membicarakan kehamilan saja. Tidak lebih."
"Beneran, tidak lagi gosipin suami kan?" Faisal terkekeh sendiri karena pertanyaannya. Biasanya kan para istri akan selalu seperti itu kalau suaminya sedang pergi.
"Suami itu bukan bahan gosip, Mas." Tasya menggeleng dengan dia yang terus bergerak untuk mengambilkan minum untuk Faisal.
"Minumnya, Mas."
Di sodorkan cangkir untuk Faisal, laku Tasya duduk di sebelahnya. Melihat bagaimana suaminya itu meminum teh buatannya yang rasanya juga akan tetap sama seperti biasa. Tapi jika yang membuat adalah istri pasti akan terasa nikmat.
Meski tehnya kurang manis juga tidak akan membuat dia tidak menghabiskannya, jangankan hanya kurang manis, pahit pun akan selalu habis.
"Alhamdulillah, terima kasih. Bagaimana keadaan mu, baik-baik saja kan?" selalu Faisal akan bertanya, memastikan keadaan Tasya dan juga kehamilannya.
"Alhamdulillah, Mas. Baik."
Keduanya tersenyum begitu senang. Kebahagiaan Faisal bertambah ketika tangannya menyentuh perut Tasya dan ternyata kembali bergerak. Mereka berdua tersenyum.
🌾🌾🌾🌾
"Din, kamu masih mual?" tanya Ilham yang sudah duduk di sebelah Dina.
"Sedikit, Mas. Tapi tidak terlalu seperti tadi pagi."
Dina sudah langsung sibuk membuatkan teh untuk Ilham, dia sudah menyiapkan segalanya di meja jadi dia tidak perlu mondar-mandir lagi.
"Alhamdulillah. Terus, kamu mau makan apa sekarang?"
"Belum tau, Dina belum menginginkan sesuatu sih. Mungkin nanti." Dina berpikir sejenak, memang belum ada yang dia mau.
"Kalau kamu ingin sesuatu jangan takut untuk mengatakannya. Langsung bilang saja ya, kalau bisa cari pasti akan langsung mas cariin."
"Iya, Mas." jawab Dina. Tangannya menyodorkan teh buatannya untuk Ilham.
"Terima kasih," ucap Ilham.
"Sama-sama, Mas."
Kebahagiaan begitu besar, pada sebuah rumah tangga yang sebentar lagi akan di karunia seorang bayi mungil dan akan menjadi pelengkap hidup mereka.
Semua lelah, terasa hilang dan terganti dengan kebahagiaan yang sangat besar.
Alhamdulillah...
Hanya selalu puji syukur yang selalu terucap secara lisan atau hanya akan sebatas dalam hati saja. Tak akan pernah lalai dengan kenikmatan yang sudah di dapatkan dan berharap akan mendapatkan hal yang lebih lagi. Amin...
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung...