
🌾🌾🌾🌾🌾
"Eh, maaf maaf," Langkah Ilham terhenti saat dia menabrak seorang yang tengah membawa belanjaan begitu banyak sampai menutupi wajahnya juga.
Beberapa belanjaannya sampai jatuh akibat benturan yang sebenarnya tidak terlalu keras. Tetapi, karena ketidak siapan dan menaruhnya tidak terlalu benar jadi pada berjatuhan.
"Mas, kalau jalan hati-hati dong. Nih kalau rusak pasti aku bakal kena masalah," omelnya.
Dia adalah Dina, gadis yang tidak sengaja menyiram Ilham pakai air panas waktu itu dan sekarang malah giliran Ilham yang menabrak dan membuatnya dalam masalah.
Begitu banyak belanjaan Dina, dia memang sengaja di suruh belanja oleh bosnya. Tapi sayangnya, karena jaraknya memang tidak jauh amat Dina di minta harus jalan kaki.
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Kalau ada kerusakan saya siap untuk ganti rugi," Ilham benar-benar minta maaf karena dia memang tidak sengaja. Tapi dia juga merasa sangat bersalah karena dia yang berjalan tidak benar jadi merugikan orang lain. Padahal dia hanya menoleh sebentar tadi.
"Eh, mas tampan toh," Dina meringis setelah melihat yang menabraknya adalah Ilham. Sepertinya dia menyesal karena telah marah barusan dan melayangkan protes pada Ilham.
"Iya. Hem, maaf ya. Saya benar-benar tidak sengaja," sekali lagi Ilham meminta maaf. Tangannya terus bergerak membantu Dina mengambil belanjaannya yang terjatuh.
"Sudah saya maafin, lahir batin," begitu terpesona Dina pada Ilham bahkan matanya tak berkedip memandangi Ilham yang ada di hadapannya, bahkan mulutnya menganga saking terkesima nya.
"Ada apa, apakah ada yang aneh?" Ilham langsung sadar karena mendapatkan tatapan mata yang begitu berbeda dari Dina. Tatapan penuh rasa tertarik.
Cepat Dina menggeleng karena sadar akan apa yang dia lakukan, wajahnya langsung berpaling dengan pipi yang bersemu merah. Dina sangat malu hingga senyumnya dia sembunyikan.
"Biar saya bantu," perlahan Ilham beranjak dengan beberapa belanjaan Dina dan berniat untuk membantu membawanya. Lagian arah mereka sama, tujuan Ilham tidak jauh dengan tempat Dina bekerja.
"Tidak usah Mas, nanti malah jadi merepotkan," tolak Dina yang tak sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.
'Ya Allah, udah tampan, tidak sombong, baik hati pula. Terima kasih udah bantuin ya, Mas. Sekalian bawain hati ku juga boleh rasanya sungguh berat menahan ketampanan mas,' batin Dina.
Matanya kembali terpaku melihat Ilham yang sudah berdiri Dina pun juga berdiri perlahan tapi tatapannya tak pernah terlepas dari wajah Ilham.
"Ke_kenapa?" biasanya cewek yang akan gugup ketika berhadapan dengan lawan jenis tapi ini malah terbalik, Ilham yang gugup.
"Hehe, mas cakep," celetuk Dina yang tak sadar seratus persen. Entah hanya berapa persen saja yang menetap di kepalanya.
"Hem?" Ilham tersenyum simpul karena pujian dari Dina dia juga langsung memalingkan wajahnya yang jelas memalingkan matanya karena tak mau melihat terlalu lama. Bukan mahram.
"Saya bantuin bawa sampai warung," dengan beberapa barang Ilham mulai berjalan sementara Dina juga berjalan di sampingnya tapi keduanya tetap dalam jarak aman.
Ilham berjalan dengan fokus sama sekali tak menoleh ke arah Dina yang begitu sering menoleh dan begitu memujanya. Bukan hanya kebaikannya saja yang patut di puji tapi juga ketampanannya.
Wajahnya terlihat begitu damai dan begitu dewasa siapapun yang ada di dekatnya pasti juga akan merasa nyaman dan di lindungi. Dan Dina begitu memuji itu.
Perempuan mana yang tidak akan tertarik dengan pria yang seperti itu, bahkan wanita bodoh sekalipun pasti akan tertarik apalagi Dina yang tau bagaimana kualitas seseorang?
"Mas namanya siapa?" tanya Dina memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Hem?" Ilham menoleh dengan cepat.
"Ilham," senyum terukir Indah di wajah Ilham membuat dia semakin tampan, jelas Dina merasa semakin terpana karenanya.
"Kalau kamu beneran Dina?" kini berganti Ilham yang bertanya dan langsung di angguki oleh sang pemilik nama itu sendiri.
"Iya, saya Dina," jawabnya dengan terus melangkah.
Rasa canggung sempat terjadi pada Dina dia belum pernah berjalan dengan seorang laki-laki seperti sekarang ini sebelumnya tapi kali ini dia merasakannya. Ada rasa yang sangat berbeda, hatinya sangat tertarik dengan pria yang ada di sebelahnya.
'Salahkah aku jika memiliki perasaan padanya? dia terlihat sangat baik dan sangat sempurna apakah aku aku pantas jika menaruh rasa dan menjadikan dia sebagai tujuan ku?' batin Dina.
🌾🌾🌾🌾🌾
Rasa hati sudah sangat lega untuk Tasya, setelah dia memberikan jawaban dia begitu plong terasa tak ada beban berat yang begitu berarti. Tapi, ada juga beban yang masih menyelimuti hatinya, biar bagaimana pun dia harus pulang dan memberikan kabar itu pada ayahnya dan meminta izin. Sekarang, apa yang harus Tasya lakukan benarkah dia harus pulang?
Dalam langkahnya dia terus berpikir. Biar bagaimanapun dan seperti apapun ayahnya lah yang harus menjadi wali untuk pernikahannya dia tak bisa menikah tanpa kehadirannya.
"Kalau aku pulang sendiri, ayah pasti akan menganggap aku sebagai pembohong. Dan dia akan kembali memaksa ku untuk menikah dengan bandit tua itu. Bisa saja kan aku bisa pulang tapi tak bisa kembali ke sini lagi karena ayah," gumamnya.
"Ayah sangat kejam, apalagi kalau tau aku pulang sendiri dia pasti bisa menghabisi ku kalau tidak mau melakukan apa yang menjadi keinginannya."
"Tapi, kalau aku mengajak mas Faisal apakah dia akan mau? Terus, kalau ayah minta yang macam-macam bagaimana? Aku tidak mau sampai ayah meminta sesuatu yang akan menjadi beban untuk mas Faisal. Dia terlalu baik dan tidak pantas meladeni ayah," terus Tasya berbicara.
Langkahnya hampir saja sampai di pasar. Meski dia sudah tinggal di tempat yang di sediakan oleh Faisal tapi dia masih merasa ada tanggung jawab untuk memastikan siapapun dan apapun yang ada di pasar semuanya aman.
Tasya memang masih bisa bebas pergi tapi tidak dengan anak-anak. Mereka boleh pergi setelah mereka pulang dari sekolah dan sudah belajar. Faisal benar-benar ingin membiayai semua kebutuhan anak-anak dan ingin mereka mempunyai masa depan yang cerah. Bukan hanya sebagai pengamen jalanan atau penjual koran dan cang ci men.
"Nak Tasya, Nak!"
Angan-angan Tasya di buyarkan oleh kedatangan seorang ibu yang berlari dengan begitu terengah-engah sepertinya dia sedang dalam masalah besar.
Tasya berlari menghampiri dia juga panik karena suara itu terdengar sangat sedih seperti orang yang begitu teraniaya.
"Ada apa, Bu!?" Berhenti Tasya di depan ibu itu dan dia juga membungkuk karena merasa begitu lelah.
"Tolong ibu, Nak. Lapak ibu, lapak ibu ingin di hancurkan," ucapnya dengan tergesa-gesa.
"Siapa yang ingin menghancurkan, Bu?"
"Saya juga tidak tau, Nak. Mereka terlihat begitu marah. Tolong ibu nak. Selamatkan lapak Ibu," begitu ibu itu memohon pada Tasya.
Tanpa bicara Tasya langsung berlari, entah siapa yang berani melakukan itu.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....