Mas Ustadz I Love You

Mas Ustadz I Love You
Haruskah Secepat Ini?



🌾🌾🌾🌾🌾


Begitu takut Tasya saat ini, lebih tepatnya Dia sangat gugup berjalan di samping Oma yang terus menggandeng lengannya. Langkahnya sudah sangat pelan tentu saja karena harus menyamakan langkah kaki dari Oma yang sudah tua dan tidak bisa secepat seperti langkah Tasya yang sebenarnya.


Sesekali Oma menoleh dia tersenyum melihat Tasya yang begitu kaku di sampingnya tetapi itu terlihat menggemaskan bagi Oma.


"Kamu sangat menggemaskan, Tasya," tanpa aba-aba oma langsung mencubit pipi Tasya dengan begitu gemes.


Tak berani menjawab kini Tasya hanya tersenyum kaku, ini sangat tidak biasa bagi Tasya dia tidak pernah begitu dekat dengan orang asing juga orang kaya seperti Oma.


Meski Oma orang baru bagi Tasya tetapi bisa terlihat jelas bahwa Oma dan sekeluarga adalah orang-orang yang baik.


'Sebenarnya aku akan diajak ke mana?' batin Tasya.


Begitu bingung Tasya saat ini dia tidak tahu ke mana Oma akan mengajaknya. Dia hanya bisa mengikuti dengan pasrah.


Dengan paper bag di tangannya Tasya terus melangkah mengikuti Oma, tak berani bicara hanya sesekali saja dia tersenyum dengan mata melirik kecil.


"Kita sudah sampai," kembali Oma melirik ke arah Tasya sekilas saja sembari tangannya menekan handle pintu dan mendorongnya hingga pintu terbuka dengan lebar.


"Ini adalah kamar Oma, ayo masuk," ajak Oma dengan sangat lembut.


Tak dapat dipercaya bahwa begitu banyak tempat begitu banyak ruangan yang bisa untuk Oma mengajak Tasya dia lebih memilih kamar pribadinya yang tentu tidak sembarang orang bisa masuk hanya keluarga inti saja dan beberapa orang yang memang diizinkan.


"Hem, Ke_kenapa kita ke sini?" masih bingung untuk Tasya memanggil Oma. Apakah dengan panggilan Oma sama seperti orang lain atau dengan panggilan lain.


"Panggil saja Oma," ucap Oma yang seakan tahu apa yang tengah Tasya pikirkan.


"I_iya, Om_ma," Tasya tetap sangat gugup.


Melihat hal itu Oma hanya tersenyum dan kembali mengajak Tasya masuk. "Ayo masuk," Oma menarik tangan Tasya hingga akhirnya mereka berdua benar-benar masuk ke dalam kamar yang begitu besar, rapi, indah dipandang juga terlihat sederhana kita Tasya yakin semuanya adalah barang-barang yang mahal.


Tasya di buat terperangah melihat isi kamar Oma. Seulas senyum keluar saat melihat foto pasangan yang masih muda. Laki-laki dengan baju koko berwarna putih, pecis hitam dan sarung hitam juga berkalung sorban dengan tasbih di tangan kanannya.


Juga yang perempuan terlihat cantik dengan gamis brokat berwarna putih juga hijab putih yang berdiri menghadap sang laki-laki yang duduk. Terlihat sangat serasi.


Di lihat dengan sangat jelas dan semakin dekat laki-laki itu bentuk wajahnya juga semuanya sangat tidak asing, sama seperti seseorang yang Tasya kenal.


"Sangat mirip dengan Mas Faisal," lirih Tasya.


Oma mendekat kala mendengar ucapan Tasya dia juga ikut tersenyum sembari ikut melihat foto besar yang terpasang di dinding di hadapan mereka.


"Ya, dia memang sangat mirip dengan Faisal. Karena dia adalah Opa nya Faisal," ucap Oma.


Tasya menoleh melihat sang Oma yang matanya langsung berkaca-kaca ada yang menggenang di dalamnya.


Mungkin kerinduannya begitu besar untuk sang Opa, laki-laki yang bisa membuat dirinya berubah 180% dari sebenarnya. Kalau tidak mengenal Opa Fahmi mungkin Tasya tidak akan menjadi seperti sekarang.


Bahkan dunianya akan masih sama dengan kekerasan. Yang selalu menyelesaikan masalah dengan cara menghancurkan, tapi sebuah keberkahan bisa bertemu dengan Opa meski semuanya di awali dengan Oma yang hanya ingin bersenang-senang saja.


"Ma_maaf. Saya tidak bermaksud membuat Oma sedih. Maaf," begitu menyesal Tasya setelah melihat Oma yang seperti itu. Tasya juga langsung menunduk.


"Kamu tidak salah, mungkin saya hanya terlalu emosional saja ketika mengingatnya."


"Duduklah," kembali Tasya di tarik di depan meja riasnya hingga kini keduanya bisa melihat pantulannya di cermin.


"Oma," Tasya menoleh ke belakang dan sang Oma langsung tersenyum.


"Maaf, apakah bisa lepas dulu hijabnya?" izin Oma.


"Untuk apa, Oma?" Tasya terlihat sangat enggan.


"Percayalah sama Oma. Hem?"


Dengan keraguan Tasya mengangguk dan akhirnya terlepas lah jilbab Tasya oleh tangannya sendiri.


"Kamu juga sangat cantik," imbuhnya lagi, "tapi tetap harus mendapatkan sedikit saja polesan."


"Maksud Oma?" Tasya begitu tak mengerti apa arti polesan karena Tasya memang selalu seperti itu, tak kenal apapun dalam urusan berdandan.


"Biar Oma kasih tau yang namanya polesan," sudah siap Oma untuk memberikan sentuhan tangan ajaibnya di wajah Tasya. Yakin, setelah ini banyak yang tidak akan mengenalinya.


🌾🌾🌾🌾🌾


Di tempat acara akhirnya Faisal bisa bernafas lega karena bisa mengikuti acara yang sudah dipersiapkan jauh hari. Kini dirinya juga sudah duduk di tempat yang sudah disediakan berdampingan dengan para ustadz-ustadz dan juga para sesepuh pesantren termasuk papanya sendiri.


Acara juga sudah dimulai satu persatu acara sudah berjalan sesuai yang direncanakan, ada doa yang selalu terselip dalam setiap acara di dalam pesantren bahwa tidak akan ada lagi musibah-musibah yang akan datang dan melukai mereka semua.


Sesekali Faisal menoleh mencari sang oma yang sampai sekarang belum terlihat begitu juga dengan Tasya entah sedang apa yang mereka lakukan dan di mana mereka sekarang sampai-sampai begitu lama untuk datang ke acara.


"Mas Faisal mencari siapa?" bisik Ilham yang duduk di sebelahnya.


"Hem? bukan siapa-siapa," jawab Faisal tak mengaku.


"Tidak mungkin bukan siapa-siapa tetapi sampai membuat Mas Faisal seperti orang bingung seperti ini. Apakah dia datang?" tanya Ilham yang menjurus ke Tasya.


"Dia datang, tapi sekarang sedang bersama Oma," jawab Faisal.


Ilham tersenyum itu artinya Faisal tengah mencari-cari keberadaan Tasya yang saat ini masih bersama Oma. Entah di mana mereka sekarang Ilham juga sangat penasaran.


Seperti apa wajah Tasya saat mengenakan pakaian tertutup. Biasanya dia berdandan selayaknya anak jalanan bahkan seperti preman pasar pasti akan sangat berbeda setelah mengubah penampilannya yang seperti perempuan Islami.


"Sabar mas, sebentar lagi pasti datang. Sebenarnya saya juga sangat penasaran seperti apa dia. Aku juga sangat penasaran K


kenapa oma begitu dekat dengannya, apa mungkin...?" ucapan Ilham terhenti dengan pertanyaan yang tidak dia selesaikan.


"Mungkin apa?" Faisal yang bertanya karena pertanyaan Ilham yang tidak selesai.


"Bukan apa-apa, lupakan saja." ucap Ilham yang tidak yakin dengan apa yang terlintas di dalam benaknya barusan. lebih tepatnya dia takut salah.


"Mas Faisal, dia datang," ucap Ilham.


Seketika Faisal menoleh ke arah tempat khusus untuk para perempuan ada di sebelah para kaum laki-laki.


Tasya datang bersama Oma dan kali ini bukan Oma yang menggandeng Tasya namun sebaliknya.


Keduanya masih melangkah menuju dua kursi paling depan yang sudah khusus diminta oleh Oma. Yah! kursi untuk dirinya sendiri juga untuk Tasya.


Benar- benar Oma telah mempersiapkan segalanya untuk Tasya bahkan dirinya juga memesan kursi khusus untuk Tasya di tengah-tengah keluarga inti juga para ustadzah.


Faisal terpaku, menatap takjub Tasya yang terlihat begitu cantik dengan balutan gamis berwarna peach juga hijab pashmina yang berwarna Senada.


Faisal begitu terpesona namun itu hanya untuk sekali saja mata memandang karena setelahnya Faisal tak berani lagi menatap dan kini dia menunduk demi untuk menjaga pandangannya.


"Subhanallah," ucap Faisal yang sudah menunduk. Tetap dia mengagumi Tasya meski mata tak berani memandang lagi. Bahkan seulas senyum datang di bibirnya karena begitu mengagumi kecantikan Tasya.


Ilham yang melihat ekspresi dari Faisal juga tersenyum, senang rasanya sahabatnya itu telah tertarik kepada seorang wanita, tetapi sayangnya kenapa hanya seorang gadis jalanan yang begitu barbar?


Bahkan tidak tahu akan semua kewajiban sebagai umat Allah.


"Mas Faisal, sepertinya harus bergerak cepat. Kalau tidak bisa-bisa ke dahuluan dengan orang lain." ucap Ilham dengan berbisik.


Faisal tidak menjawab Dia hanya tersenyum, mungkin yang dikatakan oleh Ilham adalah benar dia harus bergerak cepat, tetapi, Apakah secepat ini?


🌾🌾🌾🌾🌾


Bersambung...