
🌾🌾🌾🌾🌾
Malam begitu dingin namun Tasya merasa sangat gerah. Aneh, tapi itulah yang terjadi padanya.
Begitu susah dan tak nyaman rasanya ketika harus memakai baju sekaligus sarung. Memang lebih hangat sih, tapi rasanya juga gak enak.
Dengan ragu Tasya melepaskan sarungnya dan menyisakan baju daster batik yang hanya berlengan pendek saja, jelas akan mengekspos kulitnya yang sangat putih dan lembut bagai kapas itu.
Untungnya Faisal juga tengah di luar dan dia ada di kamar jadi dia tak ada rasa takut meski sesekali dia akan melihat pintu. Pasti dia akan malu kalau sampai Faisal sewaktu-waktu masuk dan melihatnya.
Mendengar penjelasan Faisal tadi kini dia juga tidak begitu takut jika Faisal melihatnya tapi karena belum terbiasa pastilah akan membuat dia merasa was-was.
Bingung tak ada apapun yang bisa di lakukan, tak ada buku yang bisa di baca tak punya ponsel juga punya pun dia juga belum bisa mengoperasikannya.
Untung ada televisi yang bisa di nyalakan dan bisa menjadi teman bosannya.
Satu chanel Tasya pilih dan tengah menayangkan film yang cukup romantis membuat Tasya benar-benar larut dalam film tersebut hingga dia tak menyadari akan kedatangan Faisal.
"Assalamu'alaikum," sapa Faisal namun gak ada jawaban karena Tasya tengah fokus melihat televisi sembari ngemil snack yang dia bawa.
Faisal mendekat, dia belum jelas melihat bagaimana Tasya namun setelah dekat baru Faisal menyadari.
'Hem..." Faisal menghela nafas panjang melihat Tasya yang berselonjoran di atas sofa. Rasanya membuat Faisal panas dingin dengan cepat kan.
Tidak memakai jilbab, rambut di cepol ke atas dan tentu memperlihatkan lehernya yang begitu mulus. Tangannya yang begitu gemulai namun menyimpan kekuatan yang sangat besar juga kaki yang mulus dan hanya tertutup di batas lutut saja.
Faisal duduk di belakang Tasya, tangannya langsung terangkat dan memijat kedua pundak Tasya.
"Assalamu'alaikum..." ucapnya lagi, mengulang salam yang belum di jawab oleh Tasya.
"Wa_Wa'alaikumsalam..., Ma_mas kapan masuknya?" ingin mengelak namun Tasya merasa sangat takut, ingin menoleh tapi dia sangat malu, ingin mengganti posisi namun sudah terlanjur di lihat Faisal juga mau lari tapi kakinya tiba-tiba terasa gemetar.
Tasya menjadi salah tingkah sendiri sekarang apa yang harus dia lakukan. Dia berhenti makan, begitu susah menelan makanan yang ada di mulutnya juga tak berani melihat wajah Faisal.
"Lihat apa?" tanya Faisal basa-basi. Tangannya masih terus bergerak memberikan pijatan untuk Tasya siapa tau nanti akan mendapatkan imbalan yang memang sudah seharusnya. Tapi Faisal tidak akan memaksa sih seperti biasa.
Siapa yang tidak akan tergoda dengan apa yang ada di hadapannya, perempuan yang sangat halal untuknya dan bisa memberikan apa yang di ingin. Tapi? Benarkah Faisal akan bisa mendapatkannya di malam ini?
"I_itu... Film," jawaban Tasya juga terlihat sangat gugup. Tasya begitu gugup sekarang, jantungnya terus berdegup kencang dan hatinya? Sungguh luar biasa rasanya. Bahkan darahnya juga seperti berdesir panas.
"Bagus ya?" Faisal lebih memilih melihat wajah Tasya dari samping, melihat bagaimana ekspresinya sekarang ini.
Tasya terus terpaku dia terus diam dan hanya netranya saja yang terus bergerak.
'Apakah ini memang sudah saatnya aku memberikan haknya mas Faisal? Cepat atau lambat aku harus memberikannya kan? Kata mama hal yang baik lebih baik juga di segerakan kan?' batin Tasya.
Pikirannya terus berperang dalam angan-angannya. Ingin dia menoleh dan mengatakan akan kesiapannya, tapi benarkah dia sendiri sudah siap?
Tak ada keraguan lagi tentang Faisal, dia sangat baik dan juga tidak pernah memaksa dirinya dalam hal apapun bahkan dalam hal hak yang seharusnya sudah dia berikan sejak awal.
Sentuhan tangan Faisal membuat Tasya memejamkan mata, semakin lembut dan semakin aneh rasanya. Membuat Tasya merasa merinding tapi bukan karena takut.
Nafas yang begitu panjang membuat Faisal tau kalau Tasya tengah menahan sesuatu, dia pasti ingin mengendalikan rasa gugupnya.
Tiba-tiba bibir hangat Faisal mendarat di tengkuk Tasya dan semakin menghadirkan rasa yang begitu aneh tapi juga terasa nikmat.
"M_mas..." Tasya melenguh tapi tetap memejamkan mata dia mulai terbawa rasa yang di buat oleh Faisal.
"Sya, kapan kamu siap?" tanya Faisal sepertinya dia sendiri juga sudah tak bisa menahan akan keinginannya.
"A_aku...," Tasya sangat gugup untuk menjawab. Dia harus siap kan apalagi dia ingin menjadi istri yang baik.
"Ambil lah wudhu, kita shalat dulu ya," ajak Faisal.
"I_iya..." Tasya membuka matanya dia langsung beranjak dan melangkah untuk pergi ke kamar mandi untuk melakukan apa yang di minta oleh Faisal.
Faisal setia menunggu di sofa, menunggu Tasya keluar lagi setelah mengambil wudhu dan mereka akan shalat sunnah lebih dulu sebelum mengawali hubungan mereka yang benar-benar nyata dan semakin mengeratkan hubungan mereka.
Bukan hanya sebatas di buku nikah saja bersatunya mereka tapi cinta mereka juga harus benar-benar bersatu dalam hubungan yang sudah di anjurkan selayaknya suami istri yang lainnya.
🌾🌾🌾🌾🌾
Senyum terus terpancar bahkan tak pernah pudar dari Aisyah, dia merasa geli sendiri membayangkan apa yang sudah dia lakukan untuk abang dan kakak iparnya.
"Ihh, aku nggak bisa bayangin keadaan kakak ipar sekarang. Betapa terkejutnya dia setelah melihat semua pakaian yang aku siapkan. Hahaha, maaf ya kak ipar."
Dan ternyata Aisyah lah pelaku sebenarnya yang telah membereskan pakaian Tasya. Hanya menaruh baju-baju dinas sang istri untuk memanjakan mata suaminya.
"Bang Faisal juga pasti sangat terkejut, oh salah! Dia pasti sangat bahagia karena bisa melihat kecantikan kakak ipar yang sebenarnya. Semoga saja semuanya lancar," gumam Aisyah.
Saking bahagianya Aisyah tak melihat akan kedatangan suaminya, Rico. Tak dia sadari kalau suaminya itu sudah duduk di belakangnya dengan tersenyum, dia juga menggeleng karena mengetahui keisengan istrinya itu.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan untuk membahagiakan suamimu, Sayang," bisik Rico.
"Hah! B_bang Rico sejak kapan di sini?" Aisyah gugup sendiri sekarang dia menoleh dengan rasa malu.
"Sejak tadi. Kamu membuat kakak ipar mu untuk membahagiakan suaminya dengan pakaian dinas yang kamu siapkan. Sekarang..., kamu juga harus memakainya untuk membahagiakan suamimu. Bukankah itu sangat adil?"
"Ta_tapi...?"
"Ayo sayang, lakukan juga untuk suamimu. Bahagiakan suami mu ya," Rico beranjak dia berdiri di hadapan Aisyah dan menariknya untuk berdiri.
Di bawa Aisyah ke lemari dan dia berdiri mematung di sana. Aisyah juga tak bisa berkata-kata lagi ketika Rico sendiri yang membuka lemari dan memilihkan baju yang harus Aisyah pakai.
"Silahkan pakai seragam dinas mu, Sayang."
"Hah! I_itu terlalu terbuka, Bang." Kini Aisyah berani bicara dan melayangkan protes.
"Tidak masalah, bukannya saat melakukan dinasnya malah di buka semua," bisik Rico dengan suara serak-serak nakal bahkan dia juga meniup telinga Aisyah.
'Mati aku...' batin Aisyah..
🌾🌾🌾🌾🌾
Bersambung....